Maksud hadits “Perumpamaan Batu Bata Terakhir”

56b7df1eOleh: CT

“Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebuah rumah, diperindah dang diperbagusnya kecuali tempat untuk sebuah batu bata disudut rumah itu. Maka orang-orangpun mengelilingi rumah itu dan mengaguminya, dan berkata: Mengapa engkau belum memasang batu bata itu? Nabipun berkata: Sayalah batu bata terakhir itu, sayalah penutup para nabi.(Ibn Hajar al-’Asqalani, Fath al-Bari bi Sharh al-Bukhari, Juz VII (Misr:Mustafa al-Babi al-Halabi, 1959, hal.370) .

Menurut anggapan orang-orang ahmadiyah, hadits ini tidak menunjukkan bahwa sesudah Rasulullah SAW tidak akan datang Nabi lagi. Hadits ini hanyalah menerangkan perumpamaan antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi-Nabi sebelumnya. Sedangkan maksud hadits tsb adalah bahwa nabi-nabi sebelum beliau serta syariat mereka ibarat satu bangunan rumah yang belum sempurna. Setelah datang Rasulullah SAW maka sempurnalah kekurangan nabi-nabi itu. Nabi-nabi beserta syariat mereka. Setelah datang Nabi Muhammad SAW baru ada syariat yang sempurna untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang zaman.
Jika ditelaah komentar Ahmadiyah tentang hadits tsb benar-benar salah.

Pertama:
Mereka melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa hadits tsb tidak menunjuk kepada pengertian bahwa sesudah Rasulullah SAW tidak akan datang nabi lagi. Padahal hadits tersebut dengan jelas menunjuk kepada makna itu.


Kedua:
Disisi lain mereka mengakui bahwa perumpamaan bangunan dalam hadits tsb adalah syariat. Jika mereka berpendapat demikian, jelas disini mereka telah melakukan kesalahan karena pada hadits tsb terdapat kata “Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebuah rumah”. Jika bangunan rumah itu adalah syariat berarti mereka tanpa sengaja mengakui bahwa nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW semuanya membawa syariat sedangkan yang kita ketahui ahmadiyah berkeyakinan nabi-nabi Bani Israil selain Nabi Musa tidak satupun diantara mereka yang membawa syariat baru. Bahkan lebih daripada itu, mereka beranggapan bahwa dalam perjalanan sejarah, Allah telah mengutus beribu-ribu nabi yang tidak membawa syariat di kalangan Bani Israil. Allah SWT mengutus mereka hanya dengan membawa tugas untuk menegakkan atau menguatkan syariat Nabi Musa (Kitab Taurat).
Barangkali mereka lupa bahwa dalam memahami hadits tersebut diatas mereka mengacu pada suatu landasan yang telah mereka letakkan sendiri yaitu suatu kerangka dasar yang membagi dua jenis nabi yaitu yang membawa syariat dan yang tidak membawa syariat. Disini akhirnya mereka tersandung oleh batu dasar yang mereka pasang sendiri, sebab batu dasar tersebut sengaja direkayasa oleh mereka bukan diambil dari sumber yang bisa dipertanggung jawabkan yaitu Al-Qur’an dan Hadits yang shahih.

21 Tanggapan

  1. Oh gitu toh! Saya bisa memahami apa yang menjadi penafsiran Ahmadiyah tersebut.

  2. Ceritanya doktrin makan tuan.

  3. Penafsiran doang itu mah. No problem.

  4. Daeng Mattiro, anda bisa memahami perbuatan dusta ahmadiyah tsb? Hukum dusta halalkah bagi anda? Apakah ajaran ahmdiyah menghalalkan dusta? Allah memberi ganjaran di akhirat kelak bagi siapa saja yg berdusta.

  5. Jadi dusta anda anggap no problem?

  6. @Rahmat-hubbi fi`l-Laah. Mohon maafkan saya–FOA.

    Yg saya pahami adalah penafsiran menurut Ahmadiyah. Berbeda dengan penafsiran Anda adalah tidak masalah bagi saya.CMIIW.

    :^)~

  7. Hadist ini menjadi bukti bahwa hadits laa nabiyya ba’di menafikan semua jenis nabi baik yg membawa syari’at maupun yg tidak membawa syariat

  8. Ikh.JT Sahib. Perbedaan penafsiran-lah yang saya angap ‘no problem’.

  9. Anda tdk mempermasalahkan sebuah kebohongan yg dilakukan Ahmadiyah? Berarti anda menutup mana apa yg dilakukan Ahmadiyah tsb. Apa sebuah kebohongan dibenarkan oleh Allah?

  10. Perbedaan yg mengarah dusta utk mendukung adanya nabi baru anda anggap no problem?

  11. @Ikh.Rahmat Sahib.

    ‘Nukilan hadits yang CT Sahib kutip itu, mazmun-nya berisi tentang “Perumpamaan Batu Bata Terakhir” atawa “hadits laa nabiyya ba’di”?

  12. Setidaknya kaum muslimin sudah tahu bahwa salah seorang ahmadi menganggap dusta suatu hal yg no problem

  13. @Ikh.JT & Rahmat Shb. ‘Afwaan.

    Perbedaan tafsir bukan merupakan suatu kebohongan maupun dusta selama Ahmadiyah berpegang teguh pada penafsiran itu sebagai klaim kebenaran Ahmadiyah.

  14. @Ikh.Yugo Shb.
    Perbedaan tafsir bukan merupakan suatu kebohongan maupun dusta selama Ahmadiyah berpegang teguh pada penafsiran itu sebagai klaim kebenaran Ahmadiyah.

  15. Hadits ini mengenai perumpamaan Rasullah sbg batu bata terakhir yg dimaksudkan adalah nabi terakhir & pengertian ini sesuai dgn khaataman nabiyyin & laa nabiyya ba’di. Berpikirlah yg logis

  16. Bukankah dalil tsb dijadikan dalil kebenaran ahmadiyah ?

  17. Sdr kita yg ahmadi ini pengetahuan ttg ahmadiyah masih minim.

  18. Sebelumnya menolak dusta,Tdk terasa bentuk dusta telah dijawab oleh dirinya sendiri

  19. jika kita mau bubarkan ahmadiyah berarti kita juga harus bubarkan agama non islam.mengapa kita tidak bisa menerima kekurangan ahmadiyah ? ( jika itu suatu kekurangan ) Apakah kalian yg anti ahmadiyah sudah beragama dgn benar? sudah tidak berbuat dosa ? mengapa kita tdk bisa memaklumi ahmadiyah? JIKA KALIAN SUDAH TDK BERBUAT DOSA BOLEHLAH KALIAN MEMBUBARKAN AHMADIYAH.selama kita masih berdosa kita hanya boleh menghakimi menurut hukum negara.Apakah pandangan islam kalian sudah benar ?? Apakah kalian kira nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya menyembelih & makan daging ?? apa perintah Tuhan yg terpenting ?? KASIHILAH SESAMAMU SEPERTI KITA MENGASIHI DIRI SENDIRI !! camkan itu , sampaikan pada anak cucu kita…tahukah kalian bhw Allah mengasihi orang berdosa juga?? krn kita semua adalah puteranya. Jika adik kandungmu berdosa apakah kamu akan memukulnya?? sadarlah kawanku…

  20. saya mengundang kawan semua ke blog ku:debatkontroversi.blogspot.com

  21. Tidak ada sangkut pautnya antara islam dgn agama lain. Yang ikut diskusi disini sebagian besar tdk pernah menyebut & berniat membubarkan ahmadiyah. Ini cara mereka berdakwah dlm membela Allah & Rasulullah. Sudah benarkah cara anda membela ahmadiyah? Anda lebih ahmadiyah daripada membela Allah & Rasulullah. Adakah peserta disini melakukan kekerasan? Anda salah alamat bung.

Tinggalkan Balasan