Gelar Khaatam yang diberikan oleh Manusia

6f7e2622

Oleh: TN

Bagi penganut ahmadiyah bahwa arti khaatam bukanlah penutup dengan alasan bahwa gelar yang disandang oleh manusia seperti Imam Suyuthi mendapat gelar “khaatam-ul-muhadditsin”, Abu tamam, seorang penyair muslim kenamaan diberi gelar oleh pengagumnya sebagai “khaatam-usy-syu’araa” dan masih banyak lagi orang-orang yang terkenal lainnya diberi gelar oleh pengagumnya dengan mengaggunakan insial “khaatam”. Jika khaatam yang ada pada gelar-gelar itu diartikan dengan penutup, menurut ahmadiyah akan menjadi janggal serta bertentangan dengan kenyataan. Menurut ahmadiyah, Apakah setelah Imam Suyuthi tidak ada lagi ahli Hadits di dunia ini? Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi?  Dari kenyataan ini orang-orang ahmadiyah qadiani mengatakan kata khaatam tidak bisa diartikan dengan penutup.

Perlu dipahami bahwa suatu istilah yang lazim dipinjam untuk dikenakan kepada wujud lain, istilah tsb tidak bisa diartikan secara harfiah dan persis seperti pengertian yang berlaku bagi shahibul-istilah karena istilah khaatam yang dipinjam dan dikenakan untuk wujud lain seperti yang dikemukakan oleh orang-orang Ahmadiyah Qadiani tersebut diatas itu tidak bisa diartikan dengan arti yang sama seperti istilah khaatam yang disandang oleh Nabi Muhammad SAW meskipun mempunyai pengertian penutup, sebab sifat khaatam(penutup) yang ada pada Nabi Muhammad SAW itu sifatnya tidak terbatas sampai hari kiamat. Karena beliau SAW sendiri telah menjelaskannya melalui hadits. Sedangkan istilah khaatam(penutup) yang ada pada wujud-wujud lainnya sifatnya terbatas, selama belum ada yang lain melebihi daripadanya. Disamping itu tidak tersirat sedikitpun dalam benak orang yang memberikan gelar itu, bahwa kata “khaatam” yang mereka kenakan mempunyai arti sama dengan istilah “khaatam” yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.

Seharusnya Ahmadiyah qadiani tidak gegabah dalam mencerna maksud dan artinya.  Sebab yang demikian akibatnya dapat merusak atau bahkan menghancurkan pengertian ajaran agama, terutama yang menyangkut masalah-masalah aqidah.

3 Tanggapan

  1. ulasan yang bagus… memang istilah sangat mungkin untuk diselewengkan artinya… apalagi setelah berlalunya waktu… itulah akibatnya jika kita memahami ayat ataupun hadits tanpa melalui pemahaman para ulama salaf… karena mereka adala orang yang paling tahu tentang masalah agama, sudah seharusnya kita merujuk ke tafsir-tafsir mereka… dan menolak semua penafsiran yang bertolak belakang dengan pendapat mereka…
    terima kasih atas artikel-nya… kunjungan balik sangat diharapkan… salam kenal…. wassalam…

  2. Salam kenal juga dari saya

  3. pertanyaan yang selalu menggoda hatiku….
    Mengapa mereka dulu membunuh khalifah?? Bukankah mereka ada di jamannya, mestinya bisa tahu persis, bahwa membunuh sesama muslim itu tidak boleh, apa lagi khalifah.

    Didesaku banyak petani, mereka menanam padi yang bermanfaat bagi banyak orang…..
    Dikotaku banyak orang menebar benci dengan pawai-pawai, bahkan ceramah yang menghalalkan darah….
    Ya Allooh maafkan….

Tinggalkan Balasan