Bahaya Dusta

kaligrafi01“Adakah orang beriman yang penakut?” tanya seseorang pada Rasulullah.
Nabi menjawab, “Ya, ada.”
Kemudian ditanya lagi, “Ada orang beriman yang bakhil?”
Jawab nabi, “Ya, ada.”

Dia bertanya lagi, “Adakah orang beriman yang pendusta?”
Kali ini Rasulullah menjawab, “Tidak!”

Ada dua simpul pemikiran dari dialog itu. Pertama, Islam masih menoleransi orang beriman bersifat penakut atau bakhil (kikir), walau Islam amat mengecam kedua sifat itu. Kedua, Islam sama sekali tidak menoleransi orang yang beriman itu pendusta. Mafhum mukhalafah hadis itu memberikan makna jelas bahwa jika seseorang mengaku atau disebut beriman, tapi memiliki sifat pendusta, maka sebenarnya dia bukan lagi orang beriman.

Dia adalah munafik dan lebih jahat dari kafir. Apalagi ada hadis lain riwayat Bukhari dan Muslim bahwa salah satu ciri orang munafik itu adalah bila ia berkata (membuat pernyataan, memberi komentar) berdusta.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, dalam bukunya al-Fawaid, menjelaskan bahwa dusta merusak persepsi tentang sesuatu atau orang dari kondisi sebenarnya di mata seseorang. Dusta juga merusak si penerima persepsi tadi ketika ia menginformasikan kepada orang lain. Dusta menggambarkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Dan yang ada menjadi tidak ada. Dusta mengubah yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar. Yang baik menjadi buruk dan yang buruk jadi baik.

Kondisi negatif yang dibuat oleh dusta akan terus berkembang sesuai dengan peralihan informasi dari satu pihak ke pihak berikutnya. Akhirnya segala risiko negatif yang menjadi konsekuensinya harus ditanggung oleh si korban kedustaan, termasuk sanksi hukum, sementara dalam waktu yang sama, dusta itu meniadakan kebaikan yang ada pada sesuatu atau orang tersebut.

Karena itulah dikatakan bahwa dusta itu adalah asas kefujuran (maksiat dan dosa) sebagaimana dikatakan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya dusta itu mengantarkan orang pada perbuatan maksiat dan dosa, lalu maksiat dan dosa itu mengantarkannya ke neraka.”

Kini, apa jadinya suatu bangsa, jika yang menjadi pendusta itu adalah orang “baik” di mata masyarakat, seperti guru, kiai, penegak hukum, hakim, kepala pemerintahan?


Iklan

4 Tanggapan

  1. bagaimana klo terlanjur berdusta?

  2. Minta maaf kepada Allah

  3. Apa diperkenankan berdusta untuk kebaikan?

  4. Adakah Allah pernah membenarkan berdusta untuk kebaikan? buktikan devi isman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: