Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Penutup Pintu Kenabian

0525

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ

“Tetapi dia adalah Rasulullah.”

Jumhur ahli qira`ah membaca لَكِنْ dengan takhfif tanpa tasydid, dan me-nashab-kan رَسُولَ sebagai khabar كَانَ yang di-taqdir-kan. Atau di-’athaf-kan kepada أَبَا أَحَدٍ. Sedangkan Abu ‘Amr dalam sebuah riwayat membaca dengan tasydid لَكِنَّ dan me-nashab-kan رَسُولَ sebagai isim-nya, sedangkan khabar-nya terhapus (mahdzuf). (Tafsir Fathul Qadir, Asy-Syaukani rahimahullahu)

وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Dan penutup nabi-nabi.”

Ada dua bacaan dalam membaca lafadz ini:

Pertama: خَاتِمَ dengan huruf ta` yang di-kasrah, dan ini bacaan mayoritas qurra`. Menurut bacaan ini, maknanya adalah penutup para nabi.

Kedua: خَاتَمَ dengan huruf ta` yang di-fathah, dan ini qira`ah yang dinukilkan dari Al-Hasan rahimahullahu dan qira`ah ‘Ashim rahimahullahu. Menurut bacaan ini, maknanya adalah akhir para nabi. (Lihat Tafsir Ath-Thabari)

Penjelasan Makna Ayat

Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan tatkala menjelaskan makna ayat ini: “Wahai manusia, Muhammad bukanlah bapak Zaid bin Haritsah. Bukan pula bapak dari salah seorang di antara kalian, yang tidak dilahirkan oleh Muhammad, sehingga diharamkan atasnya untuk menikahi istri Zaid setelah berpisah dengannya. Namun beliau adalah Rasul Allah dan penutup para nabi, yang menutup pintu kenabian dan mengakhirinya, sehingga tidak lagi terbuka bagi siapapun setelahnya hingga hari kiamat. Dan Allah Maha Mengetahui segala amalan dan ucapan kalian serta yang lainnya. Allah Maha berilmu, tidak ada yang tersamarkan atasnya sesuatu apapun.” (Tafsir Ath-Thabari)

Al-Allamah As-Sa’di rahimahullahu berkata:

“Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah bapak salah seorang dari laki-laki di antara kalian, wahai umat. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memutus hubungan nasab Zaid bin Haritsah darinya, karena perkara ini. Tatkala peniadaan tersebut bersifat umum pada seluruh keadaan, maka jika dipahami secara zahir pada lafadznya, bermakna: bukan bapak dalam hal nasab dan bukan pula bapak angkat. Dan telah ditetapkan pula sebelumnya bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bapak bagi seluruh kaum mukminin, sedangkan istri-istri beliau adalah ibu-ibu bagi mereka. Maka untuk mengeluarkannya dari jenis ini, dengan larangan sebelumnya yang bersifat umum, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Namun Dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi”, yaitu kedudukan beliau adalah kedudukan orang yang ditaati dan diikuti, yang dijadikan sebagai pembimbing, yang diimani, yang wajib mendahulukan kecintaan kepadanya di atas kecintaan terhadap siapapun, yang senantiasa menasihati kaum mukminin. Karena kebaikan dan nasihatnya, beliau seakan-akan bagaikan seorang bapak bagi mereka. “Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalah-Nya, siapa yang berhak mendapatkan keutamaannya dan siapa yang tidak berhak.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk dikatakan (kepada Zaid bi Haritsah) setelah (turun ayat) ini ‘Zaid bin Muhammad’. Beliau bukan ayahnya walaupun telah mengangkatnya menjadi anak, sebab beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempunyai satu anak laki-laki pun yang mencapai usia baligh. Beliau memiliki anak bernama Qasim, Thayyib, dan Thahir, dari Khadijah, namun mereka meninggal di masa kecil. Beliau juga dikaruniai Ibrahim dari Mariyah Al-Qibthiyyah, yang juga meninggal di masa masih menyusui. Dari Khadijah, beliau dikaruniai empat anak wanita: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah radhiyallahu ‘anhum. Tiga orang meninggal semasa beliau masih hidup, adapun Fathimah meninggal enam bulan setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Qatadah rahimahullahu berkata tentang ayat ini: “(Ayat ini) turun berkenaan tentang Zaid, bahwa dia bukanlah anak beliau.” Juga diriwayatkan dari ‘Ali bin Husain. (Tafsir Ath-Thabari)

Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah Penutup Para Nabi

Ibnu Katsir rahimahullahu: “Ayat ini merupakan nash bahwa tidak ada Nabi setelah beliau. Jika tidak ada nabi setelah beliau, maka lebih utama dan lebih patut untuk tidak ada rasul setelahnya. Sebab kedudukan rasul lebih khusus dari kedudukan nabi, sebab setiap rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya. Tentang hal ini telah datang hadits-hadits yang mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sekelompok sahabat g. “ (Tafsir Ibnu Katsir)

Di antara hadits yang menjelaskan bahwa beliau adalah penutup para nabi dan rasul adalah:

1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ قَصْرٍ أُحْسِنَ بُنْيَانُهُ وَتُرِكَ مِنْهُ مَوْضِعُ لَبِنَةٍ فَطَافَ بِهِ نُظَّارٌ فَتَعَجَّبُوا مِنْ حُسْنِ بُنْيَانِهِ إِِلَّا مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ لاَ يَعِيبُونَ غَيْرَهَا فَكُنْتُ أَنَا مَوْضِعَ تِلْكَ اللَّبِنَةِ خُتِمَ بِيَ الرُّسُلُ

“Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi adalah seperti sebuah istana yang bangunannya indah dan ditinggalkan satu tempat batu bata. Maka orang-orang pun berkeliling melihatnya, lalu mereka kagum terhadap keindahan bangunannya kecuali tempat batu bata tersebut. Mereka tidak mencela selain itu. Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, telah ditutup para rasul dengan diutusnya aku.” (HR. Ibnu Hibban no. 6406 dengan sanad yang shahih. Juga diriwayatkan dari hadits Ubai bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Ahmad, 5/136, At-Tirmidzi: 3613, Adh-Dhiya` Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah: 1191)

2. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ

“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada Rasul setelahku dan tidak pula nabi.” (HR. At-Tirmidzi no. 2272, Ahmad, 3/267, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)

3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فُضِّلْتُ عَلىَ الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ؛ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

“Aku lebih diutamakan atas para nabi dengan enam perkara: (1) aku diberi jawami’ul kalim (kalimat ringkas namun mengandung faedah yang banyak), (2) aku ditolong dengan rasa takut musuh (dari jarak perjalanan sebulan), (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, (4) dijadikan bumi ini bagiku sebagai alat bersuci dan tempat shalat, (5) aku diutus kepada seluruh makhluk, (6) dan telah ditutup para nabi dengan diutusnya aku.” (HR. Muslim no. 523)

4. Juga berdasarkan hadits Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

“Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (yang menghapus) yang kekafiran dihapuskan melalui (perantaraan) aku, aku adalah Al-Hasyir yang mana manusia dikumpulkan (setelah tegaknya hari kiamat) setelah diutusnya aku, dan aku adalah al-‘aqib (penutup) yang tidak ada nabi setelahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3339 dan Muslim no. 2354)

Nash-nash ini menunjukkan bahwa siapa saja yang mengaku sebagai nabi setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dipastikan bahwa dia adalah seorang pendusta dan dajjal yang menyesatkan umat ini. Walaupun dia berusaha menipu umat dengan mendatangkan keluarbiasaan, seperti terbang di udara atau berjalan di atas air. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللهِ

“Tidak tegak hari kiamat hingga dimunculkan para dajjal dan pendusta yang berjumlah kurang lebih tiga puluh yang seluruhnya mengaku bahwa dia adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 3413, Muslim no. 2923)

Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullahu berkata: “Setiap pengakuan kenabian setelah beliau adalah penyimpangan dan mengikuti hawa nafsu.”

Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullahu menjelaskan ucapan Abu Ja’far tersebut: “Berdasarkan (hadits) yang shahih bahwa beliau adalah penutup para nabi, diketahuilah bahwa siapa saja yang mengaku nabi setelahnya maka dia pendusta. Jika ada yang mengatakan: ‘Jika ada seseorang mengaku sebagai nabi dengan mendatangkan berbagai mukjizat yang luar biasa dan hujjah-hujjah yang benar, maka bagaimana mungkin didustakan?’

Maka kami mengatakan: ‘Ini tidak bisa terbayangkan wujudnya. Dan ini termasuk memberi anggapan sesuatu yang mustahil. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala mengabarkan bahwa beliau adalah penutup para nabi, adalah hal yang mustahil bila ada seseorang datang dan mengaku sebagai nabi lalu tidak tampak padanya tanda-tanda kedustaan pada pengakuannya’.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, 1/167)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Bapak Pembimbing Manusia

Ayat di atas tidaklah meniadakan keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bapak pembimbing umat manusia. Sebab yang ditiadakan dalam ayat tersebut adalah bapak dalam hal nasab keturunan. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ

“Sesungguhnya aku terhadap kalian kedudukannya sebagai ayah, aku mengajari kalian.” (HR. Abu Dawud no. 8, Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 1/173)

An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan beberapa penafsiran hadits ini:

Pertama: Ini adalah ucapan keakraban dan kasih sayang kepada yang diajak berdialog agar mereka tidak malu untuk bertanya kepada beliau dalam perkara agama yang mereka butuhkan, terkhusus yang menyangkut masalah aurat dan yang semisalnya. Maka beliau mengatakan: “Aku sebagai bapak, maka janganlah kalian malu kepadaku terhadap sesuatu, sebagaimana kalian tidak malu kepada bapak kalian sendiri.”

Makna ini yang paling dikuatkan oleh An-Nawawi rahimahullahu.

Kedua: Adalah kewajiban bagiku untuk mendidik kalian dan mengajari kalian perkara agama kalian, sebagaimana seorang ayah melakukan itu.

Ketiga: yaitu semangat dalam memberi kemaslahatan kepada kalian dan rasa kasih sayang kepada kalian. (Lihat Al-Majmu’, An-Nawawi, 2/128)

Dan mungkin pula kita mengatakan bahwa ketiga makna tersebut di atas adalah benar. Wallahu a’lam.

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang bolehnya menyebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bapak kaum mukminin. Sebagian ulama ada yang membolehkan untuk mengatakan: “Rasulullah adalah bapak kita”, namun sebagian ulama tidak membolehkannya, dan cukup mengatakan “Beliau seperti bapak kita”, atau “Beliau kedudukannya seperti bapak kita.” Pendapat kedua ini lebih baik dan lebih berhati-hati, dan ini yang dipilih oleh Ibnush Shalah rahimahullahu. (Lihat Fatawa Ibnush Shalah, 1/187)

LAMPIRAN TAFSIR AHMADIYAH:

Sumber Lampiran : Disini

Iklan

10 Tanggapan

  1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Tafsir Surah Al Ahzab: 41
    مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰـكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيْمًا‏
    “Muhammad bukanlah bapak salah seorang diantara lelaki kalian, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Meterai Nabi-Nabi*), dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

    Penjelasan:
    “Khatam” berasal dari kata “khatama” yang berarti: ia memeterai, mencap, mensahkan atau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah: ia mencapai ujung benda itu; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat diatasnya, atau dengan sebuah meterai jenis apa pun. “Khatam” berarti juga sebentuk cincin stempel; sebuah segel, atau meterai dan sebuah tanda; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak (cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan; terbaik atau yang sempurna. Kata-kata “khatim”, “khatm” dan “khatam” hampir sama artinya (Arabic-English Lexicon oleh E.W. Lane, Al-Mufradat fi Ghara’ib-ul-Qur’an oleh Shaikh Abu’l Qasim Husain ibnu Muhammad ar-Raghib, dan Fat-hul-Bayan oleh Abu’th Thayyib Siddiq ibnu Hasan). Maka, kata “khataman nabiyyin” akan berarti “meterai nabi-nabi”; “yang terbaik dan yang sempurna dari antara nabi-nabi”; “hiasan dan perhiasan nabi-nabi”. Arti kedua ialah nabi terakhir (yang membawa syari’at).

    Di Mekkah, pada waktu semua putera Rasulullah saw telah meninggal dunia semasa masih kanak-kanak, musuh-musuh mengejek beliau saw dengan “abtar” (yang tidak mempunyai anak lelaki), yang berarti karena ketidakadaan ahliwaris lelaki itu untuk menggantikan beliau saw, jemaat beliau saw cepat atau lambat akan menemui kesudahan [Al-Bahrul-Muhith oleh Atsir al-Din Abu ‘Abdullah Muhammad ibnu Yusuf dari Granada (Spanyol) alias Abu Hayyan]. Sebagai jawaban terhadap ejekan orang-orang kafir, secara tegas dinyatakan dalam Surah Al-Kautsar, bahwa bukan Rasulullah saw melainkan musuh-musuh beliaulah yang tidak akan berketurunan:
    اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ‏
    “Sesungguhnya, musuh engkau, dialah yang “abtar” (tanpa keturunan)”. (QS Al Kautsar: 4)
    Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat ini musuh-musuh Rasulullah saw telah disebut dengan kata-kata tegas bahwa mereka itu “abtar” (tidak mempunyai keturunan lelaki), sedangkan menurut kenyataan sejarah, semua putera Rasulullah saw, baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah ayat ini turun, telah wafat dan beliau tidak meninggalkan seorang pun putera. Hal itu menunjukkan, bahwa kata “abtar” di sini hanya berarti: orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putera-putera ruhani) dan bukan putera-putera seperti biasa dikatakan orang, yaitu yang ada pertalian darah. Pada hakikatnya, hal ini merupakan rencana Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Rasulullah saw tidak akan meninggalkan anak lelaki seorang pun, oleh karena beliau telah ditakdirkan menjadi ayah ruhani berjuta-juta putera ruhani, sepanjang masa sampai akhir zaman – putera-putera yang akan jauh lebih setia, patuh, ta’at dan penuh cinta daripada putera-putera jasmani ayah mana pun. Jadi, bukan Rasulullah saw melainkan musuh-musuh beliau saw lah yang mati tanpa keturunan, sebab dengan masuknya putera-putera mereka ke dalam pangkuan Islam, mereka itu telah menjadi putera-putera ruhani Rasulullah saw, dan mereka itu merasa malu dan merasa hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah yang melahirkan mereka sendiri yang menolak Rasulullah saw.

    Sesudah Surah Al-Kautsar diturunkan, tentu saja terdapat anggapan di kalangan kaum Muslimin di zaman permulaan bahwa Rasulullah saw akan dianugerahi anak lelaki yang akan hidup sampai dewasa. Ayat yang sedang dibahas ini menghilangkan salah paham itu, sebab ayat ini menyatakan bahwa Rasulullah saw, baik sekarang maupun dahulu ataupun di masa yang akan datang bukan atau tidak pernah akan menjadi bapak seorang lelaki dewasa (“rijal” berarti pemuda). Dalam ayat ini nampak seolah-olah bertentangan dengan Surah Al-Kautsar, yang di dalamnya bukan Rasulullah saw, melainkan musuh-musuh beliau saw yang diancam dengan tidak akan berketurunan, tetapi sebenarnya berusaha menghilangkan keragu-raguan dan prasangka-prasangka terhadap timbulnya arti yang kelihatannya bertentangan itu. Ayat ini mengatakan bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad saw adalah Rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau adalah bapak ruhani seluruh umat manusia dan beliau juga “Khataman Nabiyyin”, yang maksudnya bahwa beliau saw adalah bapak ruhani seluruh nabi. Oleh karena itu, apabila beliau bapak ruhani semua orang mukmin dan semua nabi, betapa tidak beliau dapat disebut “abtar” atau tidak berketurunan. Bila ungkapan ini diambil dalam arti bahwa beliau itu nabi yang terakhir, dan bahwa tiada nabi akan datang lagi sesudah beliau saw, maka ayat ini akan nampak sumbang dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan alih-alih menyanggah ejekan orang-orang kafir, malah mendukung dan menguatkan olok-olok mereka bahwa Rasulullah saw tidak berketurunan. Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata “khatam” seperti dikatakan di atas, maka ungkapan “Khataman Nabiyyin” dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti: (1) Rasulullah saw adalah meterai nabi-nabi, yaitu, tiada nabi dapat dianggap benar, kalau kenabiannya tidak bermeteraikan Rasulullah saw. Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh Rasulullah saw dan juga tiada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau saw, kecuali dengan menjadi pengikut beliau saw yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya saw (QS An-Nisa: 70). (2) Rasulullah saw adalah yang terbaik, termulia, dan paling afdhal atau sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau saw adalah sumber hiasan bagi mereka (Zurqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah). (3) Rasulullah saw adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari’at. Penafsiran ini telah diterima oleh para orang-orang berfitrah baik, ulama-ulama suci dan waliullah terkemuka seperti Muhyiddin ibnu ‘Arabi, Syah Waliullah Muhaddas Dhelwi, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alif Tsani Sarhindi, dan banyak lagi. Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, ‘tiada nabi dapat datang sesudah Rasulullah saw yang dapat memansukhkan (membatalkan) “millah” beliau saw atau yang akan datang dari luar umat beliau saw (Futuhat Makkiyyah oleh Muhyiddin ibnu al’Arabi, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir). Sitti Aisyah ra, isteri Rasulullah saw yang amat berbakat, menurut riwayat pernah menyampaikan pesan: ”Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah) saw adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada lagi nabi sesudah beliau saw” (Ad-Durrul Mantsur oleh Al Imam Hafidz Jalaluddin ‘Abdur Rahman As-Suyuthi, Mujjadid abad ke-9). (4) Rasulullah saw adalah nabi yang terakhir (Akhirul Ambiya) hanya dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan beliau saw, adalah lazim dipakai. Lebih-lebih Al Qur’an dengan jelas menyatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Rasulullah saw wafat (QS Al A’raf: 36). Rasulullah saw sendiri jelas mempunyai tanggapan tentang berlanjutnya kenabian sesudah beliau saw. Menurut riwayat, beliau pernah bersabda: ”Sekiranya Ibrahim (putera beliau saw) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (HR Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz), dan, “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi datang” (Kanzul ‘Ummal, Alauddin Alhindi).

    Uraian ini adalah kutipan yang dielaborasi dari sebagian kecil Tafsir Surah Al Ahzab yang dibuat oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muslih Mau’ud) ra, Khalifatul Masih II, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional. Semoga bermanfaat bagi muslimin Indonesia terutama yang berfitrah baik agar mendapat Hidayah dan Taufik dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya untuk bai’at. Wassalam.

  2. Pengakuan yang jujur bahwa khaatam dalam Al-qur’an ini berasal dari kata khatama dan kata khatama ini bisa Anda temukan dalam Al-Qur’an, silahkan Anda periksa diayat-ayat berikut:

    As-syura 25
    yaasin 65
    A-jatsiyah 24
    At-Tathfif 25
    Al-baqarah 7

    http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=64

    Silahkan pengertian Anda, Anda cross cek dengan ayat2 tersebut. Apa sudahkah pas dengan pengertian pada ayat-ayat tsb?

    “Sesungguhnya, musuh engkau, dialah yang “abtar” (tanpa keturunan)”. (QS Al Kautsar: 4)
    Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat ini musuh-musuh Rasulullah saw telah disebut dengan kata-kata tegas bahwa mereka itu “abtar” (tidak mempunyai keturunan lelaki), sedangkan menurut kenyataan sejarah, semua putera Rasulullah saw, baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah ayat ini turun, telah wafat dan beliau tidak meninggalkan seorang pun putera. Hal itu menunjukkan, bahwa kata “abtar” di sini hanya berarti: orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putera-putera ruhani) dan bukan putera-putera seperti biasa dikatakan orang, yaitu yang ada pertalian darah. Pada hakikatnya, hal ini merupakan rencana Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Rasulullah saw tidak akan meninggalkan anak lelaki seorang pun, oleh karena beliau telah ditakdirkan menjadi ayah ruhani berjuta-juta putera ruhani, sepanjang masa sampai akhir zaman – putera-putera yang akan jauh lebih setia, patuh, ta’at dan penuh cinta daripada putera-putera jasmani ayah mana pun. Jadi, bukan Rasulullah saw melainkan musuh-musuh beliau saw lah yang mati tanpa keturunan, sebab dengan masuknya putera-putera mereka ke dalam pangkuan Islam, mereka itu telah menjadi putera-putera ruhani Rasulullah saw, dan mereka itu merasa malu dan merasa hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah yang melahirkan mereka sendiri yang menolak Rasulullah saw.

    Sesudah Surah Al-Kautsar diturunkan, tentu saja terdapat anggapan di kalangan kaum Muslimin di zaman permulaan bahwa Rasulullah saw akan dianugerahi anak lelaki yang akan hidup sampai dewasa. Ayat yang sedang dibahas ini menghilangkan salah paham itu, sebab ayat ini menyatakan bahwa Rasulullah saw, baik sekarang maupun dahulu ataupun di masa yang akan datang bukan atau tidak pernah akan menjadi bapak seorang lelaki dewasa (“rijal” berarti pemuda). Dalam ayat ini nampak seolah-olah bertentangan dengan Surah Al-Kautsar, yang di dalamnya bukan Rasulullah saw, melainkan musuh-musuh beliau saw yang diancam dengan tidak akan berketurunan, tetapi sebenarnya berusaha menghilangkan keragu-raguan dan prasangka-prasangka terhadap timbulnya arti yang kelihatannya bertentangan itu. Ayat ini mengatakan bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad saw adalah Rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau adalah bapak ruhani seluruh umat manusia dan beliau juga “Khataman Nabiyyin”, yang maksudnya bahwa beliau saw adalah bapak ruhani seluruh nabi. Oleh karena itu, apabila beliau bapak ruhani semua orang mukmin dan semua nabi, betapa tidak beliau dapat disebut “abtar” atau tidak berketurunan. Bila ungkapan ini diambil dalam arti bahwa beliau itu nabi yang terakhir, dan bahwa tiada nabi akan datang lagi sesudah beliau saw, maka ayat ini akan nampak sumbang dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan alih-alih menyanggah ejekan orang-orang kafir, malah mendukung dan menguatkan olok-olok mereka bahwa Rasulullah saw tidak berketurunan.

    Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.(QS. 108:3)

    Sesudah Allah menghibur dan menggembirakan Rasul-Nya serta memerintahkan supaya mensyukuri anugerah-anugerah-Nya dan sebagai kesempurnaan nikmat-Nya, maka Allah menjadikan musuh-musuh Nabi itu hina dan tidak percaya. Siapa saja yang membenci dan mencaci Nabi akan hilang pengaruhnya dan tidak ada kebahagiaan baginya di dunia dan di akhirat.
    Adapun Nabi dan pengikut-pengikutnya sebutan dan basil perjuangannya akan tetap jaya sampai Hari Kiamat.
    Orang-orang yang mencaci Nabi, bukanlah mereka tidak senang kepada pribadi Nabi, tetapi yang mereka benci dan tidak senang adalah petunjuk dan hikmah yang dibawa beliau, karena beliau mencela kebodohan mereka dan mencaci berhala-berhala yang mereka sembah serta mengajak mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala-berhala itu.
    Sungguh Allah telah menepati janji-Nya dengan menghinakan dan menjatuhkan martabat orang-orang yang mencaci Nabi, sehingga nama mereka hanya diingat ketika membicarakan orang-orang jahat dan kejahatannya. Adapun kedudukan Nabi SAW. dan orang-orang yang menerima petunjuk beliau serta nama harum mereka diangkat setinggi-tingginya oleh Allah sepanjang masa.

    Ga nyambung tuch Ayat khaataman nabiyyin 😀

    Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata “khatam” seperti dikatakan di atas, maka ungkapan “Khataman Nabiyyin” dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti: (1) Rasulullah saw adalah meterai nabi-nabi, yaitu, tiada nabi dapat dianggap benar, kalau kenabiannya tidak bermeteraikan Rasulullah saw. Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh Rasulullah saw dan juga tiada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau saw, kecuali dengan menjadi pengikut beliau saw yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya saw (QS An-Nisa: 70). (2) Rasulullah saw adalah yang terbaik, termulia, dan paling afdhal atau sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau saw adalah sumber hiasan bagi mereka (Zurqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah). (3) Rasulullah saw adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari’at. Penafsiran ini telah diterima oleh para orang-orang berfitrah baik, ulama-ulama suci dan waliullah terkemuka seperti Muhyiddin ibnu ‘Arabi, Syah Waliullah Muhaddas Dhelwi, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alif Tsani Sarhindi, dan banyak lagi. Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, ‘tiada nabi dapat datang sesudah Rasulullah saw yang dapat memansukhkan (membatalkan) “millah” beliau saw atau yang akan datang dari luar umat beliau saw (Futuhat Makkiyyah oleh Muhyiddin ibnu al’Arabi, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir). Sitti Aisyah ra, isteri Rasulullah saw yang amat berbakat, menurut riwayat pernah menyampaikan pesan: ”Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah) saw adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada lagi nabi sesudah beliau saw” (Ad-Durrul Mantsur oleh Al Imam Hafidz Jalaluddin ‘Abdur Rahman As-Suyuthi, Mujjadid abad ke-9). (4) Rasulullah saw adalah nabi yang terakhir (Akhirul Ambiya) hanya dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan beliau saw, adalah lazim dipakai. Lebih-lebih Al Qur’an dengan jelas menyatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Rasulullah saw wafat (QS Al A’raf: 36). Rasulullah saw sendiri jelas mempunyai tanggapan tentang berlanjutnya kenabian sesudah beliau saw. Menurut riwayat, beliau pernah bersabda: ”Sekiranya Ibrahim (putera beliau saw) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (HR Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz), dan, “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi datang” (Kanzul ‘Ummal, Alauddin Alhindi).

    Uraian ini adalah kutipan yang dielaborasi dari sebagian kecil Tafsir Surah Al Ahzab yang dibuat oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muslih Mau’ud) ra, Khalifatul Masih II, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional. Semoga bermanfaat bagi muslimin Indonesia terutama yang berfitrah baik agar mendapat Hidayah dan Taufik dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya untuk bai’at. Wassalam.

    Koq jadi ga yakin gitu sampai pengertiannya ada beberapa kemungkinan 😀
    Silahkan Anda di Hadits, Nabi Muhammad itu sebuah benda yang bernama cincin/stempe/meterai atau bukan.
    Masih juga Menganggap Rasulullah SAW adalah sebuah benda …ckckckck…Naudzubillahi min dzalik.

    (4) Rasulullah saw adalah nabi yang terakhir (Akhirul Ambiya) hanya dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan beliau saw, adalah lazim dipakai. Lebih-lebih Al Qur’an dengan jelas menyatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Rasulullah saw wafat (QS Al A’raf: 36).

    Betul tuch kalau artinya Nabi yang terakhir……
    Apa yang terkahir itu pasti bagus dan sempurna pak? 😀
    Sudah jelas khan tafsir Ahmadiyah menyebut Nabi muhammad adalah Nabi terakhir dan semua orang tahu kalau terakhir sudah pasti tidak ada nabi yang berikutnya. 😀

    Sitti Aisyah ra, isteri Rasulullah saw yang amat berbakat, menurut riwayat pernah menyampaikan pesan: ”Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah) saw adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada lagi nabi sesudah beliau saw” (Ad-Durrul Mantsur oleh Al Imam Hafidz Jalaluddin ‘Abdur Rahman As-Suyuthi, Mujjadid abad ke-9).

    Bantahannya Ada tuch di blog ini. Sampai bawa2 surat Annisa 69 yang ga nyambung dengan datangnya kenabian 😀

    ”Sekiranya Ibrahim (putera beliau saw) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (HR Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz), dan, “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi datang” (Kanzul ‘Ummal, Alauddin Alhindi).

    Justru dengan ini menunjukkan tidak ada Nabi lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Kalau ada lagi Nabi sesudah Nabi Muhammad SAW tentunya Ibrahim putra Rasulullah akan hidup dan menjadi Nabi dan bukannya Ghulam Ahmad 😀
    Begitupula Abu bakar tentunya akan menjadi nabi dan bukan ghulam ahmad. Namun kenyataannya Abu bakar tidak mendakwakan sebagai Nabi.
    Jadi kesimpulannnya tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad SAW 😀
    Makanya berdalil ttg kedatangan Nabi itu dengan dalil yang pasti-pasti aja jangan menggunakan kalilamt “JIKA”. Karena jika itu sesuatu hal yang belum pasti 😀

  3. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Topik yang sedang kita diskusikan adalah kata “khatam” yang menurut Kamus Terkemuka mengandung empat arti:
    (1) Meterai
    (2) Cincin/Perhiasan
    (3) Yang terbaik, afdhal atau sempurna
    (4) Penutup

    Saya memilih yang ke (1), (2) dan (3), sedangkan Netral memilih yang ke (4), silahkan saja, saya tidak memaksa. Saya juga boleh memilih yang (4) tapi dalam artian nabi yang membawa syari’at, sedangkan yang tidak membawa syari’at masih terbuka lebar-lebar. Hal ini dikuatkan oleh sembilan ayat suci Al Qur’an yang sudah saya sampaikan ditambah QS Al Jumu’ah: 4 dan Az-Zukhruf 58. Dalam hal Nabi Muhammad saw diumpamakan dengan benda seperti meterai atau cincin/perhiasan, kita memahaminya secara METAFORA agar rasa hormat kita kepada Nabi Muhammad saw sama dengan arti yang ke (3).

    Untuk pilihan arti yang ke (4), Rasulullah saw pernah bersabda:”Aku dibangkitkan sebagai Nabi Pembuka dan Nabi Penutup” (Al Jamiush-Shagir).

    Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib ra bahwa Rasulullah saw itu adalah Pembuka Nabi Ummati (Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil) yaitu jenis kenabian yang sebelumnya tertutup, yaitu Nabi yang dipilih Allah karena keta’atan kepada Allah & Rasulullah saw (QS An-Nisa 70 contohnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as). Rasulullah saw juga menyatakan sebagai Penutup Nabi Tasri’i wa Mustaqil, yaitu jenis kenabian sebelum beliau saw yang membawa syari’at baru atau agama baru (contohnya: Adam as, Nuh as, Ibrahim as, Musa as dan Nabi Muhammad saw) dan jenis kenabian yang Mustaqil yaitu yang terpisah dari Nabi Tasyri’-nya meskipun dia sendiri tidak membawa syari’at (contohnya: Idris as, Yunus as, Ismail as, Luth as dan ribuan nabi-nabi Bani Israil).

    Ucapan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dalam buku “Ek Ghalati Ka Izalah” (Memperbaiki Suatu Kesalahan) mungkin akan memberikan pemahaman untuk Netral:
    “Dan kapan pun atau di mana pun aku telah mengingkari panggilan “nabi” atau “rasul”, maka artinya tidak lain adalah bahwa aku bukanlah nabi atau rasul yang mustaqil, yang membawa syari’at atau nabi yang berdiri sendiri. Melainkan aku menerima karunia-karunia kerohanian dari Nabi Muhammad Rasulullah saw, karena aku menta’ati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw”

    “Aku tidak mengaku mejadi Nabi dan Rasul seperti yang mereka pikirkan, (maksudnya, menurut pemahaman orang-orang di luar Jemaat Ahmadiyah). Tapi, harus diketahui bahwa aku adalah Nabi dan Rasul seperti yang aku terangkan”

    “Aku ini bagaikan setitik debu yang menempel pada sepatu Nabi Muhammad Rasulullah saw”.

    Wassalam.

  4. Hal ini dikuatkan oleh sembilan ayat suci Al Qur’an yang sudah saya sampaikan ditambah QS Al Jumu’ah: 4 dan Az-Zukhruf 58

    Alaaaahhh menjawab kedua ayat ini saja sudah nyerah pakai berdusta segala 😀

    Assalamu’alaikum,
    Topik yang sedang kita diskusikan adalah kata “khatam” yang menurut Kamus Terkemuka mengandung empat arti:
    (1) Meterai
    (2) Cincin/Perhiasan
    (3) Yang terbaik, afdhal atau sempurna
    (4) Penutup

    Setuju hanya point 1,2, dan 4 karena point 3 tidak ada pengertian khaatam adalah yang terbaik, afdhal atau sempurna ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadits 😀
    Itu hanya rekayasa Ahmadiyah saja.

    Saya memilih yang ke (1), (2) dan (3), sedangkan Netral memilih yang ke (4), silahkan saja, saya tidak memaksa. Saya juga boleh memilih yang (4) tapi dalam artian nabi yang membawa syari’at, sedangkan yang tidak membawa syari’at masih terbuka lebar-lebar. Hal ini dikuatkan oleh sembilan ayat suci Al Qur’an yang sudah saya sampaikan ditambah QS Al Jumu’ah: 4 dan Az-Zukhruf 58. Dalam hal Nabi Muhammad saw diumpamakan dengan benda seperti meterai atau cincin/perhiasan, kita memahaminya secara METAFORA agar rasa hormat kita kepada Nabi Muhammad saw sama dengan arti yang ke (3).

    Memang benar saya memilih point yang ke empat dan Al-Nabiyyin disitu tidak menyebutkan secara khusus adalah Nabi yang membawa syariat tetapi itu bersifat umum yaitu baik yangmembawa syariat maupun yang tidak membawa syariat.
    Ada 16 kali di Al-Qur’an menyebut Al-Nabiyyin dan kesemuanya menggunakan Alif Lam ta’rif seperti dalam surat Al-Ahzab. Jika Anda mengartkan Al-nabiyyin di Al-ahzab dengan Nabi yang membawa syari’at, berarti di ayat di Al-Qur’an lainnya yang menggunakan Al-Nabiyyin harus Anda artikan pula Nabi yang membawa syari’at. Silahkan Anda periksa tafsir resmi Anda, kalau diartikan Nabi yang membawa syariat 😀
    Perlu di ketahui mengartikan sesuatu harus dilihat konteks kalimatnya. Jika khaatam pada konteks kalimat di Al-Ahzab anda berikan pengertian benda seperti cincin, stempel akan sangat bertenatangan sekali karena Rasulullah SAW bukanlah sebuah benda seperti cincin, materai ataupun stempel. Silahkan saja Anda hina Rasulullah SAW dengan pengertian Anda ini dengan menyamakan Rasulullah SAW adalah sebuah benda. Nanti juga Anda dapat ganjarannya di akhirat.

    kita memahaminya secara METAFORA agar rasa hormat kita kepada Nabi Muhammad saw sama dengan arti yang ke (3)

    Jawaban orang yang kepepet 😀

    Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib ra bahwa Rasulullah saw itu adalah Pembuka Nabi Ummati (Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil) yaitu jenis kenabian yang sebelumnya tertutup, yaitu Nabi yang dipilih Allah karena keta’atan kepada Allah & Rasulullah saw (QS An-Nisa 70 contohnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as). Rasulullah saw juga menyatakan sebagai Penutup Nabi Tasri’i wa Mustaqil, yaitu jenis kenabian sebelum beliau saw yang membawa syari’at baru atau agama baru (contohnya: Adam as, Nuh as, Ibrahim as, Musa as dan Nabi Muhammad saw) dan jenis kenabian yang Mustaqil yaitu yang terpisah dari Nabi Tasyri’-nya meskipun dia sendiri tidak membawa syari’at (contohnya: Idris as, Yunus as, Ismail as, Luth as dan ribuan nabi-nabi Bani Israil).

    Alaaah masih saja bermain-main dengan hal2 yang penuh kedustaan.

    Ucapan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dalam buku “Ek Ghalati Ka Izalah” (Memperbaiki Suatu Kesalahan) mungkin akan memberikan pemahaman untuk Netral:
    “Dan kapan pun atau di mana pun aku telah mengingkari panggilan “nabi” atau “rasul”, maka artinya tidak lain adalah bahwa aku bukanlah nabi atau rasul yang mustaqil, yang membawa syari’at atau nabi yang berdiri sendiri. Melainkan aku menerima karunia-karunia kerohanian dari Nabi Muhammad Rasulullah saw, karena aku menta’ati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw”

    Apapun pengakuan ghulam ahmad jika bertantangan Al-Qur’an tidak ada gunanya. Namanya juga pengakuan untuk apa dipercaya. Lebih baik percaya kepada Allah daripada percaya kepada manusia yang membuat Anda secara tidak sadar bisa mempertuhankan MGA karena tanpa memandang Al-Qur’an.
    Baca saja buku yang Anda sebut ini yang sudah diterjemahkan M.A.Suryawan, dia mengaku pula sebagai Nabi Muhammad 😀

    “Aku tidak mengaku mejadi Nabi dan Rasul seperti yang mereka pikirkan, (maksudnya, menurut pemahaman orang-orang di luar Jemaat Ahmadiyah). Tapi, harus diketahui bahwa aku adalah Nabi dan Rasul seperti yang aku terangkan”

    “Aku ini bagaikan setitik debu yang menempel pada sepatu Nabi Muhammad Rasulullah saw”.

    Wassalam.

    Maaf saya bkn orang yang silau oleh kata-kata manis seseorang.

  5. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Netral menulis:
    Alaaaahhh menjawab kedua ayat ini saja sudah nyerah pakai berdusta segala.

    Setuju hanya point 1,2, dan 4 karena point 3 tidak ada pengertian khaatam adalah yang terbaik, afdhal atau sempurna ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadits :
    Itu hanya rekayasa Ahmadiyah saja.

    Alaaah masih saja bermain-main dengan hal2 yang penuh kedustaan.

    Maaf saya bkn orang yang silau oleh kata-kata manis seseorang.

    Sinar Galih merespon:
    Ungkapan diatas datangnya dari seorang yang IGNORANCE, karena kepepet terus nuduh orang lain kepepet, kaya maling teriak maling.

    Sedangkan yang dibantahnya adalah (1) Kamus Terkemuka Bahasa Arab, (2) ucapan Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw, dan (3) ucapan Imam Mahdi as yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah saw.

    Netral menulis lagi:
    Apapun pengakuan ghulam ahmad jika bertantangan Al-Qur’an tidak ada gunanya. Namanya juga pengakuan untuk apa dipercaya. Lebih baik percaya kepada Allah daripada percaya kepada manusia yang membuat Anda secara tidak sadar bisa mempertuhankan MGA karena tanpa memandang Al-Qur’an.
    Baca saja buku yang Anda sebut ini yang sudah diterjemahkan M.A.Suryawan, dia mengaku pula sebagai Nabi Muhammad.

    Sinar Galih merespon:
    Ungkapan diatas adalah out of context yang sering dilakukan oleh orang-orang yang suka DEBAT KUSIR. Padahal yang sedang didiskusikan adalah kata “khatam” dalam “Khataman-Nabiyyin”. Kalau masih ngantuk tidur aja dulu ya nak. Tapi kalau susah tidur, karena susah menjawab dengan benar, silahkan baca tulisan saya dibawah ini:

    Setelah menguraikan Tafsir Surah Al Ahzab diatas yang juga menjelaskan arti kata “khatam” berdasarkan Kamus Bahasa Arab Terkemuka, lebih lanjut saya ingin menjelaskan arti kata “khatam” sebagai berikut:
    (1) Menurut lughat (logat) bahasa Arab, kata “khatam” digunakan dalam kalimat “maa yukhtamu bihi” yaitu “suatu barang yang digunakan untuk mencap/mematerai” atau “alat untuk mencap/mematerai”.
    (2) Menurut penelitian yang sangat akurat, kata “khatam” bila diidhafatkan (digandengkan) dengan kata jamak (misalnya: mufassirin, muhajjirin, nabiyyin, asy-syu’ara, al fuqaha) mengikutinya/dibelakangnya maka artinya adalah “sempurna, paling afdhal atau paling baik”. Berikut ini contoh-contoh dalam Hadits atau gelar-gelar yang diberikan kepada para Waliullah:
    (a) Sabda Nabi Muhammad saw kepada Ibnu Abbas ra (paman beliau saw):
    اِطْمَءِنَّ يَاعَمِّ فَاءِنَّكَ خَاتَمُ الْمُهَاجِرِيْنَ فىِ الْهِجْرَةِ كَمَااَنَاخَاتَمُ النَّبِيِّنَ فِى الْنُّبُوَّةِ
    “Senanglah hatimu, wahai pamanku! Sesungguhnya engkau adalah khatamal muhajjirin (orang-orang yang berhijrah ke Madinah), sebagaimana aku adalah khataman nabiyyin dalam kenabian” (Kanzul ‘Ummal, Jilid II, hal. 178).

    Apakah dalam kalimat Hadits ini, Ibnu Abbas ra dapat diartikan sebagai “muhajjir” ke Madinah yang terakhir? Tentu tidak, karena yang berhijrah ke Madinah sampai sekarang pun masih berlangsung. Jadi kata “khatam” itu diucapkan oleh Rasulullah saw kepada sang paman hanya untuk menyatakan bahwa Ibnu Abbas ra adalah seorang yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan “muhajjirin” lainnya.
    (b) Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abu Thalib ra:
    اَنَاخَاتَمُ الْآَنْبِيَاءِ وَاَنْتَ يَا عَلِيُّ خَا تَمُ الْاَوْلِيَاءِ
    “Aku adalah “khataman-nabiyyin” dan engkau, wahai Ali, adalah “khatamul auliya” (Tafsir Safi, di bawah ayat khataman nabiyyin).
    Benarkah Ali bin Abu Thalib ra adalah Waliyullah yang terakhir? Tentu tidak, karena setelah beliau ra, masih banyak Waliyullah lain seperti Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi rh, mujadiddin yang Allah Ta’ala bangkitkan setiap abad, bahkan di Pulau Jawa pun ada para wali yang dikenal dengan Wali Songo.
    (c) Abu Tamam at-Thai, pengarang Al-Himasah, disebut oleh Hasan bin Wahab juga sebagai khatamusy-syu’ara (Wafiyyatul ‘Ayan libni Khalqan, Jilid I, hal. 123).
    (3) Kata “khatam” yang berarti “cincin” atau “perhiasan” terdapat juga di dalam kalimat-kalimat yang termuat dalam buku-buku Tafsir Al Qur’an:
    (a) Tafsir Fath-ul-Bayan, Jilid VII, hal. 286 menyatakan:
    صَاَركَالْخَا تَمِ لَهُمُ الَّذِىْ يَخْتَمُوْنَ بِهِ وَيَتَزَيَّنُوْنَ بِكَوْنِهِ مِنْهُمْ
    “Adalah ia, Muhammad saw, itu seperti cincin bagi mereka, para nabi ams, dan mereka ams berperhiasan dengannya karena beliau saw adalah salah seorang dari golongan mereka ams”
    (b) Dalam Majma’ul Bahrain tertulis:
    اَلْخَا تَمُ بِمَعْنَى الزِّيْنَةُ مَأْخُوْذٌمِنَ الْخَاتَمِ الَّذِىْ هُوَزِيْنَةٌلِلاَبِسِهِ
    “Khatam berarti perhiasan, berasal dari khatam (cincin) yang menjadi perhiasan bagi para pemakainya”.
    Beberapa contoh dari penggunaan kata “khatam” tersebut yang dikutip dari hadits, tafsir dan mukhawarah (pemakaian bahasa sehari-hari oleh ahli bahasa Arab) sesungguhnya sudah cukup untuk membantu memahami arti kata “Khataman-Nabiyyin” yang benar. Namun, ada orang-orang yang, karena tidak mau melihat atau mengakui kebenaran Tafsir yang dibuat Jemaat Ahmadiyah, mengada-ada bahwa hadits-hadits yang digunakan Jemaat Ahmadiyah adalah mungkar dan dhaif. Padahal penggunakan kata “khatam” di dalam bahasa sehari-hari oleh ahli bahasa Arab (mukhawarah) tidak perlu menilai apakah hadits-hadits tersebut mungkar atau dhaif. Lagi pula hadits-hadits yang dipakai Jemaat Ahmadiyah berkenaan dengan kedatangan Imam Mahdi dan Nabi Isa as adalah mutawatir (tidak diragukan lagi keshahihannya). Namun, apabila penentang ‘keukeuh’ dengan pendapatnya bahwa katakanlah ditemukan hadits yang dipakai oleh Jemaat Ahmadiyah itu dhaif atau mungkar, maka jawabannya adalah; apabila hadits itu cocok atau sesuai dengan Al Qur’an dan kenyataan, maka hadits itu harus diterima. Analoginya adalah sebagai berikut:
    Di dalam suatu peristiwa di sebuah Kabupaten A, seorang tukang sapu di sebuah Kecamatan B, setelah mendapat informasi dari temannya yang ngintip Buku Jadwal Tamu di Kantor Kelurahan C, mengatakan bahwa Bupati akan datang di Kantor Kelurahan C pada hari Minggu, 29 Agustus 2010, jam 10.00 pagi. Sementara itu, Bapak Camat B mengatakan bahwa sesungguhnya Bupati akan datang di Kantor Kelurahan C pada hari Senin, 30 Agustus 2010, jam 10.00 pagi. Namun, pada kenyataannya, Bupati datang di Kantor Kelurahan C pada hari Minggu, 29 Agustus 2010, pagi jam 10.00 pagi. Dari ilustrasi tersebut timbul pemikiran begini:
    (1) Siapa perawi yang dhaif, tukang sapu atau Bapak Camat B? Tentunya tukang sapu kan.
    (2) Fakta membuktikan Bupati datang di Kantor Kelurahan C sesuai dengan yang dirawikan oleh tukan sapu tadi.
    (3) Data valid yang dijadikan rujukan atau pegangan oleh si tukang sapu Kecamatan B adalah Buku Jadwal Tamu yang diintip oleh temannya di Kantor Kelurahan C.
    Dari ilustrasi analogi semacam itu, maka diharapkan umat Islam Indonesia khususnya dapat memahami bahwa Hadits Dhaif/Mungkar apabila cocok atau sesuai dengan Al Qur’an dan kenyataan, harus diterima kebenarannya. Wassalam.

  6. Sinar Galih merespon:
    Ungkapan diatas datangnya dari seorang yang IGNORANCE, karena kepepet terus nuduh orang lain kepepet, kaya maling teriak maling.

    Sedangkan yang dibantahnya adalah (1) Kamus Terkemuka Bahasa Arab, (2) ucapan Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw, dan (3) ucapan Imam Mahdi as yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah saw.

    Ungkapan diatas adalah out of context yang sering dilakukan oleh orang-orang yang suka DEBAT KUSIR. Padahal yang sedang didiskusikan adalah kata “khatam” dalam “Khataman-Nabiyyin”. Kalau masih ngantuk tidur aja dulu ya nak. Tapi kalau susah tidur, karena susah menjawab dengan benar, silahkan baca tulisan saya dibawah ini:

    Setelah menguraikan Tafsir Surah Al Ahzab diatas yang juga menjelaskan arti kata “khatam” berdasarkan Kamus Bahasa Arab Terkemuka, lebih lanjut saya ingin menjelaskan arti kata “khatam” sebagai berikut:
    (1) Menurut lughat (logat) bahasa Arab, kata “khatam” digunakan dalam kalimat “maa yukhtamu bihi” yaitu “suatu barang yang digunakan untuk mencap/mematerai” atau “alat untuk mencap/mematerai”.
    (2) Menurut penelitian yang sangat akurat, kata “khatam” bila diidhafatkan (digandengkan) dengan kata jamak (misalnya: mufassirin, muhajjirin, nabiyyin, asy-syu’ara, al fuqaha) mengikutinya/dibelakangnya maka artinya adalah “sempurna, paling afdhal atau paling baik”. Berikut ini contoh-contoh dalam Hadits atau gelar-gelar yang diberikan kepada para Waliullah:
    (a) Sabda Nabi Muhammad saw kepada Ibnu Abbas ra (paman beliau saw):
    اِطْمَءِنَّ يَاعَمِّ فَاءِنَّكَ خَاتَمُ الْمُهَاجِرِيْنَ فىِ الْهِجْرَةِ كَمَااَنَاخَاتَمُ النَّبِيِّنَ فِى الْنُّبُوَّةِ
    “Senanglah hatimu, wahai pamanku! Sesungguhnya engkau adalah khatamal muhajjirin (orang-orang yang berhijrah ke Madinah), sebagaimana aku adalah khataman nabiyyin dalam kenabian” (Kanzul ‘Ummal, Jilid II, hal. 178).

    Apakah dalam kalimat Hadits ini, Ibnu Abbas ra dapat diartikan sebagai “muhajjir” ke Madinah yang terakhir? Tentu tidak, karena yang berhijrah ke Madinah sampai sekarang pun masih berlangsung. Jadi kata “khatam” itu diucapkan oleh Rasulullah saw kepada sang paman hanya untuk menyatakan bahwa Ibnu Abbas ra adalah seorang yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan “muhajjirin” lainnya.
    (b) Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abu Thalib ra:
    اَنَاخَاتَمُ الْآَنْبِيَاءِ وَاَنْتَ يَا عَلِيُّ خَا تَمُ الْاَوْلِيَاءِ
    “Aku adalah “khataman-nabiyyin” dan engkau, wahai Ali, adalah “khatamul auliya” (Tafsir Safi, di bawah ayat khataman nabiyyin).
    Benarkah Ali bin Abu Thalib ra adalah Waliyullah yang terakhir? Tentu tidak, karena setelah beliau ra, masih banyak Waliyullah lain seperti Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi rh, mujadiddin yang Allah Ta’ala bangkitkan setiap abad, bahkan di Pulau Jawa pun ada para wali yang dikenal dengan Wali Songo.
    (c) Abu Tamam at-Thai, pengarang Al-Himasah, disebut oleh Hasan bin Wahab juga sebagai khatamusy-syu’ara (Wafiyyatul ‘Ayan libni Khalqan, Jilid I, hal. 123).
    (3) Kata “khatam” yang berarti “cincin” atau “perhiasan” terdapat juga di dalam kalimat-kalimat yang termuat dalam buku-buku Tafsir Al Qur’an:
    (a) Tafsir Fath-ul-Bayan, Jilid VII, hal. 286 menyatakan:
    صَاَركَالْخَا تَمِ لَهُمُ الَّذِىْ يَخْتَمُوْنَ بِهِ وَيَتَزَيَّنُوْنَ بِكَوْنِهِ مِنْهُمْ
    “Adalah ia, Muhammad saw, itu seperti cincin bagi mereka, para nabi ams, dan mereka ams berperhiasan dengannya karena beliau saw adalah salah seorang dari golongan mereka ams”
    (b) Dalam Majma’ul Bahrain tertulis:
    اَلْخَا تَمُ بِمَعْنَى الزِّيْنَةُ مَأْخُوْذٌمِنَ الْخَاتَمِ الَّذِىْ هُوَزِيْنَةٌلِلاَبِسِهِ
    “Khatam berarti perhiasan, berasal dari khatam (cincin) yang menjadi perhiasan bagi para pemakainya”.
    Beberapa contoh dari penggunaan kata “khatam” tersebut yang dikutip dari hadits, tafsir dan mukhawarah (pemakaian bahasa sehari-hari oleh ahli bahasa Arab) sesungguhnya sudah cukup untuk membantu memahami arti kata “Khataman-Nabiyyin” yang benar. Namun, ada orang-orang yang, karena tidak mau melihat atau mengakui kebenaran Tafsir yang dibuat Jemaat Ahmadiyah, mengada-ada bahwa hadits-hadits yang digunakan Jemaat Ahmadiyah adalah mungkar dan dhaif. Padahal penggunakan kata “khatam” di dalam bahasa sehari-hari oleh ahli bahasa Arab (mukhawarah) tidak perlu menilai apakah hadits-hadits tersebut mungkar atau dhaif. Lagi pula hadits-hadits yang dipakai Jemaat Ahmadiyah berkenaan dengan kedatangan Imam Mahdi dan Nabi Isa as adalah mutawatir (tidak diragukan lagi keshahihannya). Namun, apabila penentang ‘keukeuh’ dengan pendapatnya bahwa katakanlah ditemukan hadits yang dipakai oleh Jemaat Ahmadiyah itu dhaif atau mungkar, maka jawabannya adalah; apabila hadits itu cocok atau sesuai dengan Al Qur’an dan kenyataan, maka hadits itu harus diterima. Analoginya adalah sebagai berikut:
    Di dalam suatu peristiwa di sebuah Kabupaten A, seorang tukang sapu di sebuah Kecamatan B, setelah mendapat informasi dari temannya yang ngintip Buku Jadwal Tamu di Kantor Kelurahan C, mengatakan bahwa Bupati akan datang di Kantor Kelurahan C pada hari Minggu, 29 Agustus 2010, jam 10.00 pagi. Sementara itu, Bapak Camat B mengatakan bahwa sesungguhnya Bupati akan datang di Kantor Kelurahan C pada hari Senin, 30 Agustus 2010, jam 10.00 pagi. Namun, pada kenyataannya, Bupati datang di Kantor Kelurahan C pada hari Minggu, 29 Agustus 2010, pagi jam 10.00 pagi. Dari ilustrasi tersebut timbul pemikiran begini:
    (1) Siapa perawi yang dhaif, tukang sapu atau Bapak Camat B? Tentunya tukang sapu kan.
    (2) Fakta membuktikan Bupati datang di Kantor Kelurahan C sesuai dengan yang dirawikan oleh tukan sapu tadi.
    (3) Data valid yang dijadikan rujukan atau pegangan oleh si tukang sapu Kecamatan B adalah Buku Jadwal Tamu yang diintip oleh temannya di Kantor Kelurahan C.
    Dari ilustrasi analogi semacam itu, maka diharapkan umat Islam Indonesia khususnya dapat memahami bahwa Hadits Dhaif/Mungkar apabila cocok atau sesuai dengan Al Qur’an dan kenyataan, harus diterima kebenarannya. Wassalam.

    hiiii…hiiii lama2 membosankan juga karena Anda selalu membawakan dalil-dalil usang yang sudah pernah dijawab diblog2. Yang kreatif dikit dong dalam memberikan dalil dengan memberikan dalil terbaru. Lampiran diatas saja sudah mematahkan dalil Ahmadiyah 😀 MALU YA MEMBACA LAMPIRAN DIATAS 😀
    Tulisan Anda banyak nyotek di buku-buku ahmadiyah salah satunya “analisa khataman nabiyyin”.
    Semua yang kamu tulis semua ada jawabannya di blog ini baik dan http://islamic.us.to terutama di http://z8.invisionfree.com/islamic/index.php?showtopic=49 Sampai mengamalkan hadits maudhu segala 😀
    Sampai menyebut Rasulullah SAW adalah sebuah cincin, stempel, meterai segala. Memangnya Anda mengenal Rasulullah SAW itu sebuah benda Cincin, stempel & meterai. Jawaban yang malu-maluin karena sudah kepepet. Bahkan mengartikan cincin, dll dengan sempurna, paling bijak, paling afdhol 😀 Memangnya cincin (Sebuah benda) itu paling sempurna, paling bijak dan paling baik dibandingkan manusia. Naudzubillahi min dzalik. Maklum sudah kepepet. Apapun untuk mendustakan ayat Al-Qur’an ga masalah asal pengikutnya senang 😀
    Saya tanya kepada Anda, Idhafhat itu apa? syarat-syarat idhafat itu apa? khaatama pada Al-ahzab tsb isim apa?
    Jangan lupa perihal khaatam di al-ahzab penjelasannya sudah dijelaskan pula oleh tafsir resmi ahmadiyah dan Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Terkahir sudah dikuatkan oleh Nabi Anda sendiri di da’watul Amir. MALUU YA TERBONGKAR KEDOKNYA 😀
    Lihat lampiran dong.. Asal kata khaatama ada di Al-Qur’an pada ayat lainnya. MALU YA MEMBAHAS HAL ITU? 😀

    Kacian dech

  7. hiiii….hiiii Sinar Galih saking malunya berusaha mengalihkan pembicaraan hal lain karena Ghulam Ahmad mengakui Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir:

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    MALUUU YAAAA 😀
    Nanti lihat saja membahas lainnya untuk menghilangkan rasa malu 😀

  8. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Sinar Galih merespon:
    Ungkapan diatas datangnya dari seorang yang IGNORANCE, karena kepepet terus nuduh orang lain kepepet, kaya maling teriak maling.

    Sedangkan yang dibantahnya adalah (1) Kamus Terkemuka Bahasa Arab, (2) ucapan Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw, dan (3) ucapan Imam Mahdi as yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah saw.

    Netral tidak merespon:
    Karena Ignorance tidak punya jawaban kecuali tidak mau ta’at kepada Allah & Rasulullah saw dan tidak percaya kepada Kamus Arab Terkemuka. Jadi pengakuan Netral sebagai orang beriman hanya slogan belaka. Netral mengaku mendahulukan Al Qur’an & Hadits, juga slogan belaka. Ketidak percayaan terhadap Kamus Arab Terkemuka juga mengindikasikan bahwa Netral Ignorance.
    Silahkan ta’ati saja ulama-ulama mereka dan bertakaburlah dengan hanya bisa Nahwu Sorof.

    Netral mengutip yang ini berulang-ulang di thread lain juga:
    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Sinar Galih merespon:
    Saya sudah menjawab dengan jelas dan tegas. Saya tidak mau mempedulikan apa yang Netral sebut “DOKTRIN MAKAN TUAN” ini, karena saya tidak mau masuk ke dalam DEBAT KUSIR, dan ini membuktikan Netal tidak memiliki hujjah yang bisa mematahkan dalil-dalil dari Jemaat Ahmadiyah.
    Wassalam.

  9. Kesimpulan hasil diskusi dengan pihak Ahmadi:

    1. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti berupa Al-Qur’an maupun hadits bahwa Ghulam Ahmad adalah Manusia seperti Isa, Muhammad, Krisna, Masiodarbahmi, budha, dll. Bukti pendakwaan ghulam Ahmad bisa dilihat di buku ahmadiyah “Menjawab seruan Ahmadiyah”.

    2. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti bahwa ada lagi Nabi baru sesudah Nabi Muhammad SAW baik di Al-Qur’an maupun hadits.

    3. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti di Al-Qur’an bahwa Ghulam Ahmad adalah khalifatullah/wakil tuhan menurut pengakuan Ghulam Ahmad di bukunya “Menghapus Suatu Kesalahpahaman(Ek Ghalati Ka Izala)”. Pengakuan khalifatullah/wakil tuhan adalah pengakuan orang yang sesat karena Allah tidak memiliki Wakil. Para Nabi sampai Nabi terakhir Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah mengaku dirinya adalah Wakil Tuhan.

    4. Pihak Ahmadi memberikan argumen yang lemah dalam membantah penjelasan dari pihak non ahmadi terutama dalam mengartikan khaatama Annabiyyin dengan Cincin/Meterai/Stempel Para Nabi karena para sahabat tidak pernah mengartikan khaatama Annabiyin dengan Cincin Para Nabi tetapi penutup para Nabi. Para sahabat adalah sebaik-baik generasi yang tidak bisa dibandingkan dengan Mirza Ghulam Ahmad yang sesat. Pengertian Penutup Para Nabi dikuatkan oleh ayat-ayat Al-Qu’ran diantaranya Surat Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65. Bahkan Bangsa Arab maupun non Ahmadi tidak mengenal Rasulullah SAW sebagai Cincin para Nabi karena Rasulullah SAW bukanlah sebuah Cincin/Materai/Stempel karena Cincin yang dipergunakan Rasulullah hanya sebagai alat untuk mengecap surat-suratnya.

    5. Ajaran Ahmadiyah telah dipatahkan oleh tulisan Nabi dan khalifah Ahmadiyah di dalam buku Da’watul Amir

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Pada kalimat tersebut tidak tertulis sedikitpun ada kata syariat. Apabila dalam kata tersebut terdapat kata syariat berarti Nabi Ahmad yang akan datang akan membawa syariat dan ini akan bertentangan dengan pengakuan MGA bahwa dirinya adalah Nabi yang tidak membawa syariat. DOKTRIN MAKAN TUAN 😀

  10. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.ahmadiyya.no/ mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

    Wa alaikumus salam Wr Wb

    Mohon Maaf lahir dan batin

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: