Tafsir QS.Al A’raaf (7):35

light-of-god-anim

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS.7:35)

Kata “Imma” dalam Surat Al-‘Araf 35 merupakan gabungan dari “In Syarthiyah”  dan “Maa Zaidah”. In Syarthiyah membutuhkan klausa syarat dan klausa jaza. Kalimat “Ya’tiyannakum rusulun minkum” merupakan klausa syarat sedangkan kalimat famanittaqaa wa’ashlaha” merupakan klausa jaza. Dua ayat tersebut melazimkan antara klausa syarat dan klausa jaza.
Kata “Immaa” dalam ayat tidak menjadi bukti bahwa klausa syarat dan klausa syarat berkaitan dengan masa mendatang karena tujuan asli ayat semacam ini adalah menerangkan kelaziman antara klausa syarat dan klausa jaza bukan berhubungan dengan waktu. Dengan kata lain, fi’il (kata kerja) dalam hal ini menyimpang dari waktu. Artinya, tidak menunjukkan masa dulu, saat ini dan akan datang, seperti dalam ayat ini bertujuan menyatakan sunatullah telah berlaku dalam hal ini. Sesiapa yang mentaati para nabi dan utusan serta berjaga diri dari keharaman dan dosa sekaligus berpikir tentang amal dan niatnya akan selamat.
Orang-orang seperti ini tidak akan merasakan kesedihan dan ketakutan di hari kiamat. Yang demikian adalah perilaku Allah terhadap seluruh umat baik umat terdahulu, saat ini, maupun yang akan datang. Kalimat seperti ini tidak terkait dengan masa kini atatu masa mendatang. Akan tetapi, ayat ini hanya ingin menjelaskan tentang hukum pasti yang tidak terkait dengan zaman.
Dengan kata lain, ayat ini tidak dalam menjelaskan kedatangan para nabi setelah Rasulullah SAW. Jika tidak demikian, mengapa ayat tsb menggunakan “konjungsi hubungan syarat” yang menunjukkan adanya keraguan. Jika ayat menjelaskan tentang kedatangan Nabi setelah Rasulullah SAW, seharusnya dijelaskan secara pasti tanpa keraguan. Oleh karena itu, tujuan utama dari ayat tersebut adalah menerangkan kelaziman antara klausa yang akan terjadi di setiap zaman.
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh berikut. Dalam sebuah kelas, seorang guru berkata pada muridnya,”Apa yang saya katakan ini tidak saya tujukan pada orang tertentu. Siapa saja yang bersungguh-sungguh, belajar dengan baik, mengerjakan tugas-tugas dengan teratur, maka ia akan lulus ujian. Siapa saja yang bermalas-malasan dan tidak perduli pada tugas, maka ia tidak akan lulus.” Apa arti kalimat tersebut ?… jelas anda akan menyatakan bahwa makna kalimat tersebut adalah adanya kelaziman antara usaha sungguh-sungguh dan kelulusan. Begitu pula antara bermalas-malasan dan ketidak lulusan. Semua itu tidak terkait dengan masa ataupun tempat tertentu.
Tidak ada seorangpun yang menyatakan bahwa makna kalimat tersebut adalah di masa mendatang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan lulus sementara dimasa dahulu tidak demikian atau menyatakan bahwa disekolah ini, siapa saja yang belajar sungguh-sungguh akan lulus sementara di sekolah lain tidak. Bahkan sebaliknya, Semua orang akan memahami bahwa makna kalimat tersebut adalah belajar dengan baik disetiap masa dan tempat berhubungan erat dengan kelulusan dan ujian.
Karena masalah kadatangan para nabi merupakan masalah penting, tidak dibenarkan memberitahukan hal itu dengan keraguan seperti masalah-masalah penting lainnya dijelaskan dengan penuh kepastian dan penguatan.
Contoh, berkaitan dengan hari kebangkitan, Al-Qur’an menjelaskan…
Surat Saba’ ayat 3 :
Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”,

Perhatikan ayat diatas. Bagaimana Allah SWT mengabarkan tentang adanya hari kiamat dengan kepastian dan penegasan.
Ringkasnya Surat Al-‘Araf ayat 35 ingin menjelaskan kemajuan dan kebahagiaan yang abadi bagi orang-orang yang mengikuti dan menaati nabinya serta menapaki jalan yang dia telah tentukan bagi mereka dan tidak menentukan jalan sendiri. Kondisi ini berlaku pada zaman siapa? Apakah hanya berlaku pada Zaman Nabi Muhammad SAW atau sesudah beliau? Ataukah berlaku pada masa nabi-nabi sebelum beliau? Semua tidak dijelaskan dalam ayat. Bahkan ayat tidak menjelaskan akan adanya nabi-nabi lain setelah Nabi Muhammad SAW yang jika masyarakat mengikuti mereka, akan tergolong orang-orang yang selamat.
Ayat yang serupa dengan ayat Al-‘Araf 35 dari sisi penggunaan fi’il mudhari yang berpaling dari sisi waktu yaitu tidak ditujukan untuk masa sekarang atau mendatang adalah Surat Al-Ahzab 38-39:
“Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan”.

Perhatikan kalimat “Alladziina yuballighuuna risaalaatillaahi” “Mereka yang menyampaikan risalah Allah…” Kendatipun dalam bentuk fi’il mudhari, tetapi tidak memiliki arti untuk saat ini atau saat mendatang. Dengan bukti bahwa kalimat tersebut menjadi sifat kalimat sebelumnya dalam bentuk lampau, yaitu “Alladziina khalau min qoblu” “Orang-orang sebelumnya”. Jika fi’il mudhari untuk masa sekarang dan masa mendatang, tidak sesuai dengan bentuk kalimat yang disifati. Dengan demikian, jelaslah bahwa bentuk fi’il mudhari dalam ayat ini tidak menunjukkan kurun waktu tertentu. Tujuan dari ayat ini adalah para nabi terdahulu telah diutus untuk bertabligh tanpa maksud menentukan masa mereka.

Jadi Kata “Imma merupakan kata gabungan dari In Syarthiyah(Konjungsi hubungan syarat) dan Maa Zaidah. Oleh karena itu Maa Zaidah menafikan fungsi kepastian adanya Klausa syarat (Klausa sematan) dan Klausa Jaza (Klausa utama). Nun Taukid Tsaqilah pada fi’il “ya’tiyannakum” menjadi syarat. Kata kerja tersebut tidak lagi menunjukkan waktu sekarang atau akan datang sebagaimana dalam ayat “Siapa yang bertakwa dan memperbaiki diri” dan telah berpaling dari fungsi yang menunjukkan waktu. Singkatnya kata kerja yang terdapat dalam ayat, seperti ya’tiyannakum, yaqushshuun, ittaqo, ishlaha, yahdzuuna, tidak menunjukkan waktu tertentu. Seluruh ayat secara umum menunjukkan sesuatu yang terus menerus berlangsung disetiap masa dan setiap bangsa. Hal ini kedatangan para nabi dan para utusan Allah adalah untuk memberi petunjuk pada masyarakat.
Aneh kalau beragumentasi menggunakan ayat ini bahwa akan datang rasul-rasul sesudah Muhammad SAW.
Apakah mereka akan berargumentasi berlandaskan pada kata “ya’tiyannakum” yang merupakan fi’il mudhari tidak menunjukkan waktu tertentu?
Lalu, bagaimana menyimpulkan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW?

Iklan

2 Tanggapan

  1. Saya setuju dengan apa yang dijelaskan karena dalam Surat Al-A’raaf ayat 35 tersebut terdapat “In Syarthiyah” dan hal ini bukan suatu keharusan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
    قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ

    “Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)”. (QS.43:81)

    Apakah ayat ini menunjukan suatu keharusan bahwa Allah mempunyai mempunyai anak?
    Naudzubillahi min dzalik

  2. Harap dicatat Qs.43:81 munggunakan kata “In Syarthiyah”/Jika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: