Slogan Ahmadiyah “Love for all, hatred for none”, Terbuktikah kebenarannya?

calatesmSeringkali kita melihat di berbagai milis Semboyan Ahmadiyah “Love for all, hatred for none” (Cinta kepada semua, tak ada benci kepada siapapun). Apakah semboyan tsb dilaksanakan oleh mereka sepenuhnya? Hanya Allah yg Maha Mengetahui.

Namanya juga slogan dan siapapun bisa membuat slogan apapun. Yang kita lihat itu faktanya, apakah perbuatan yang dilakukan sesuai dengan slogan tersebut atau tidak. Sama halnya Israel yang mempunyai slogan (kalau tidak salah) “mecintai perdamaian dan memerangi terorisme”, namun kenyataannya tidak sesuai dengan fakta yg sebenarnya. Kita lihat bahwa Isarel tidak mencintai perdamaian dan mereka sendiri justru bisa disebut teroris sebagaimana apa yang mereka lakukan terhadap Negara Palestina.
Dalam buku “Tasawuf, pluralisme & pemurtadan” karya H.Hartono Ahmad jaiz, pada bab “Ahmadiyah sesat menyesatkan malah disambut”. Pada saat jalsah salanah di parung yang menghadirkan Khalifah ahmadiyah Thahir Ahmad. Apa yang dilakukan ahmadiyah tidak sesuai dengan apa yang tertulis dalam slogan tersebut “Love for all, hatred for none” (Cinta kepada semua, tak ada benci kepada siapapun).

Begini jalan ceritanya…….

“MASUK KE SARANG AHMADIYAH DAN DITANGKAP”

Sebelum diadakan konferensi pers, LPPI dan Ahmad Hariyadi merencanakan untuk melihat langsung bagaimana keadaan kegiatan Ahmadiyah se-Indonesia di sarangnya, yaitu Kampus Al-Mubarak di Parung Bogor Jawa Barat. Tekad menghadiri upacara Ahmadiyah itu dicanangkan setelah Ahmad Hariyadi yang pernah ditolak ketika ia melabrak Thahir Ahmad ke London ternyata ditolak pula ketika ia masuk ke Hotel Regent di Kuningan Jakarta, Juni 2000, untuk menghadiri dialog antar pakar yang diselenggarakan Ahmadiyah dengan menggunakan forum bernama IFIS yang diketuai M Dawam Rahardjo seorang tokoh ICMI dan Muhammadiyah. Meskipun demikian, Ahmad Hariyadi bertemu dengan bekas-bekas temannya dulu di Ahmadiyah, dan ada semacam perjanjian untuk bisa bertemu lagi. Dari pertemuannya dengan bekas-bekas sesama jama’ah itulah Ahmad Hariyadi bersama 5 orang berangkat ke sarang Ahmadiyah di Parung, Sabtu sore, 1 Juli 2000.
Setelah shalat maghrib di Masjid yang tak jauh dari kompleks Ahmadiyah, rombongan Ahmad Hariyadi sampai di kompleks Ahmadiyah di Parung Bogor yang keadaannya sangat ramai dengan mobil yang berderet di sepanjang pinggir jalan, dan ada tempat parkir khusus yang luas agak jauh dari sarangnya. Ketika mobil rombongan Ahmad Hariyadi diparkir di tempat parkir, dan diteliti nomornya oleh petugas Ahmadiyah, dirasa agak kejauhan untuk jalan ke sarang Ahmadiyah, maka mobil dikeluarkan lagi dan mencari tempat parkir yang dekat dengan sarang Ahmadiyah. Lalu Ahmad Hariyadi dan 4 rekannya (tanpa menyertakan sopir) masuk ke pintu gerbang dan dipersilakan oleh penjaganya. Atas pertolongan Allah, 5 orang itu bisa masuk walau tanpa tanda apa-apa, sedang aslinya penjagaan di pintu gerbang itu tampaknya ketat. Rombongan pun berkeliling melihat-lihat keadaan. Di sarang Ahmadiyah itu tampaknya dibuat barak khemah/ tenda di beberapa tempat, sangat luas. Haryadi memperkirakan barak-barak tenda itu mampu menampung 30.000 orang. Rombongan Ahmad Hariyadi pun saat itu potret-potret bersama di lokasi sarang Ahmadiyah.
Ketika merasa haus, rombongan Ahmad Hariyadi beli minum di salah satu tempat penjualan, karena di dalam kompleks itu siangnya ada pameran yang menjajakan aneka produk Ahmadiyah. Di situ Ahmad Hariyadi bertemu teman lamanya yang tampak sudah tua, matanya yang satu bijil (cacat tak sempurna melihat). Orang Ahmadiyah yang matanya cacat itu berkata sengit terhadap Ahmad Hariyadi, mempersoalkan kenapa bisa masuk. Jawab Ahmad Hariyadi: “Itu di spanduk-spanduk kan sudah ditulis, “MENCINTAI SEMUANYA, TAK SEORANGPUN YG DIBENCI”, jadi kami ya masuk.” Lelaki bijil itu dengan keras mengatakan: “Kamu tidak mencintai kami, mana bisa kami mencintai kamu. Untuk semuanya itu kan yang mencintai kami!”
Perdebatan kecil itu ditinggalkan, dan rombongan Ahmad Hariyadi masuk ke ruang penerangan da’wah Ahmadiyah. Di sana ada pameran buku-buku Ahmadiyah, siaran televisi Ahmadiyah, dan kliping-klipung koran yang dipampang berderet-deret. Ahmad Hariyadi pun ketemu temannya, sedang rekan-rekan Ahmad Hariyadi melihat-lihat buku, ada pula yang beli. “Di situ ada beberapa wartawan,” kata juru penerangan. Rombongan Ahmad Hariyadi ini lagi asyik-asyiknya di stand penerangan, tiba-tiba serombongan pemuda keamanan Ahmadiyah berjumlah 25-an orang datang dan menangkap Ahmad Hariyadi.
“Selamat malam! Anda Bapak Ahmad Hariyadi, kan?! Saya petugas keamanan di sini! Saya polisi masih aktif. Anda saya amankan! Daripada nanti akan terjadi yang tidak diinginkan, anda kami amankan! Ayo datang ke pos keamanan!” kata ketua keamanan yang disebut keamanan senior, Kolonel Polisi Wiwid.
“Bapak tahu kalau saya Ahmad Hariyadi dari mana?”
“Dari laporan para anak buah. Pokoknya ayo sekarang ke pos keamanan!”
Ahmad Hariyadi bersama 4 orang digiring ke pos, diiringi para petugas keamanan Ahmadiyah yang tampaknya makin banyak. Sampai di pos keamanan Ahmadiyah, keadaan makin ramai, rombongan yang ditangkap ini dikerumuni dan diintip oleh ratusan orang Ahmadiyah. Keadaannya jadi sumpek, halaman dan sekitar pos itu penuh orang. Lalu polisi itu menginterogasi. Mula-mula dengan nada tegas sekali. Tetapi setelah dijelaskan bahwa Ahmad Hariyadi ada janji dengan teman-temannya orang Ahmadiyah, maka kemudian anggota keamanan disebar untuk mencari orang-orang yang ingin ditemui Ahmad Hariyadi. Satu persatu pun mereka datang, dan berbicara-bicara dengan Ahmad Hariyadi.
Di pos keamanan Ahmadiyah yang dilengkapi dengan aneka perangkat komunikasi termasuk walki tolki itu 5 orang yang ditangkap Ahmadiyah ini disuruh menulis data diri masing-masing dan tujuan masuk ke kawasan itu. 5 Orang itu adalah: Ahmad Hariyadi mantan da’i Ahmadiyah, Hartono Ahmad Jaiz dari LPPI/ Dewan Da’wah, Farid Ahmad Okbah dari LPPI/ Al-Irsyad, dan dua pemuda Persis dari Bekasi.
Ahmad Hariyadi pun membagi-bagikan dokumen surat-surat tentang mubahalahnya dengan Thahir Ahmad. Satu persatu teman-teman Ahmad Hariyadi diberi dokumen yang sudah disiapkan, 50 eksemplar. Polisi ketua keamanan pun diberi dokumen itu.
Masing-masing yang ditangkap ini berbicara-bicara dengan orang-orang yang datang ke pos atau petugas di pos itu sambil menunggu orang-orang yang akan ditemui Ahmad Hariyadi. Da’i-da’i Ahmadiyah yang kadang sok berbahasa Inggeris terpaksa kalah dalil ketika berbantahan menghadapi 5 orang yang ditangkap ini di pos itu ketika mempermasalhkan tentang ajaran Ahmadiyah. Ada juga yang mengakui terus terang bahwa acara-acara yang diselenggarakan Dawam Raharjo bersama Ahmadiyah itu didanai/ dibiayai oleh Ahmadiyah. Dana itu diperoleh dari Jama’ah, karena setiap jama’ah dipungut iuran seperenambelas dari hasil kekayaan masing-masing perbulan.
Setelah pembicaraan di pos itu berlangsung 2,5 jam di malam itu, kira-kira jam 10 malam 4 orang yang ditangkap itu minta pamit pulang ke Jakarta. Sedang Ahmad Hariyadi masih bertahan di sarang Ahmadiyah, dan bertekad untuk menemui Khalifah Ahmadiyah Thahir Ahmad esok pagi, Ahad 2 Juli 2000. Namun rupanya suasana di sarang Ahmadiyah itu makin ramai, karena dokumen mubahalah yang Ahmad Hariyadi bawa dan sebarkan itu beredar luas di sarang Ahmadiyah itu. Terjadilah ketegangan bahwa ini akan mengacaukan suasana. Ahmad Hariyadi harus diperkarakan, menurut banyak orang Ahmadiyah itu. Tetapi ketua keamanan yang polisi itu mengatakan, kalau mau diperkarakan, itu masalahnya apa? Orang dia ini masuk baik-baik, mau menemui teman-temannya, jadi kalau mau diperkarakan itu pasalnya apa? Dan slebaran yang ia sampaikan itu mestinya ya dibaca dulu baik-baik, apa isinya, ucap ketua keamanan yang mengaku masuk Ahmadiyah sudah 10 bulan ini.
Ketegangan pun makin tampak memanas, bahkan polisi yang ketua keamanan itu dituduh oleh jemaat Ahmadiyah sebagai orangnya Ahmad Hariyadi. Akhirnya satu jam setelah kepergian 4 orang yang sudah kembali ke Jakarta tersebut, Ahmad Hariyadi “dipaksa” pulang oleh jema’t Ahmadiyah. Tengah malam itu Ahmad Hariyadi diantarkan oleh polisi dan pihak keamanan itu ke terminal Bogor untuk pulang ke Garut. Dari terminal bus Bogor ke Garut itu ditempuh perjalanan bus selama sekitar 6 jam. Jadi Ahmad Hariyadi tidak bisa pula melabrak Thahir Ahmad secara berhadapan muka, walau sudah sampai di sarang Ahmadiyah di Parung.

Iklan

12 Tanggapan

  1. hmmm… emang hebat pengikut Ahmadiyah itu, kalo Ahmad Hariyadi musuh FPI dan masuk ke sarang FPI, dah pasti keluar tinggal nama, paling ngga babak belur lah… salut salut buat slogan LOVE FOR ALL HATRED FOR NONEnya!!

  2. Dear Readers,

    Here I present the verdicts and views on the issue of over a dozen celebrities of Islam, who represent all time periods starting from contemporaries of Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, to the time of Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, peace be upon him, founder of the Ahmadiyya Movement in Islam. None of these people belonged to the said movement, since the latter did not even exist then. Yet, the opinions they held, are contrary to present non-Ahmadiyya views. Take a look at the following names, and see if any bells ring in your minds — regarding their status in the Muslim world in their being great scholars of authority and also, note their respective time periods:

    1. Ummul Mo’mineen, Hazrat Ayesha Siddeeqa R.A., (death year 58 A.H.) (the Prophet Muhammad’s (pbuh) blessed consort)
    2. Imam Raaghib Al Isfahani (RA) (died 502 A.H.)
    3. Hazrat Syyed Abdul Qaadir Jilaani, AR (died 562 A.H.)

    (This scholar was also Mujaddid of the 6th century)

    4. Hazrat Mohiyyuddin Ibni ‘Arabi, AR (died 638 A.H.)
    5. Hazrat Maulana Jalaaluddin Roomi (died 672 A.H.)
    6. Hazrat Syed Abdul Karim Jilaani, AR (died 767 A.H.)

    7. Imam Abdul Wahhab She’raani AR (died 976 A.H.)
    8. Imam Muhammad Tahir, AR (died 986 A.H.)
    9. Al Imam Ali Qaari AR (died 1014 A.H.)
    10. Hazrat Shah Waliyullah Muhaddith of Delhi, AR (died 1176 A.H.)
    11. Hazrat Maulvi Abdul Haye of Lakhnow, AR (died 1304 A.H.)
    12. Hazrat Maulvi Muhammad Qaasim of Nanauta, AR (died 1307 A.H.)

    (founder of the Deoband school)

    13. Nawab Siddeeq Hasan of Bhopal, AR (died 1307 A.H.)

    These towering figures in Islam have given their verdict about how Muslims should interpret “Khatam-an-Nabiyyeen” (Seal of the Prophets). All of them believed in the continuation of prophethood.

    Hazrat Ayesha Al Siddeeqah (ra)

    First of all, Hazrat Ayesha Al Siddeeqah’s verdict:

    “QOOLOO INNAHU KHATAMUL ANBIYAA’I WA LAA TAQOOLOO LAA NABIYYA BA’DAHU”

    (Takmilah Majma’ul Bihaar, p. 85)

    “Say he is ’seal of prophets’ but do NOT say ‘there is no prophet after him’”

    It appears that she knew that the statement could easily be misconstrued, and to the effect, presented her valued clarification.

    Imam Raaghib Al Isfahaani

    Our second hero, the saint Imam Raaghib Al Isfahaani, Rehmatullah Alaih wrote:

    “Prophethood is of two kinds, general and special. The special prophethood, viz: the law-bearing prophethood is now unattainable; but the general prophethood continues to be attainable.”

    (Bahr al Muheet, vol. 3, p. 28)

    The “general” kind of prophethood is also the one that Ahmadi Muslims believe continues, and not the law-bearing one.

    Hazrat Sayyed Abdul Qaadir Jilaani

    The founder of the “Qadiriyya” school, Hazrat Sayyed Abdul Qaadir Jilaani (R.A.) wrote:

    “These attributes are found in the Holy Prophet in the highest abundance, peace and blessings of Allah be upon him. That is the reason why he is called Khataman Nabiyyeen.”

    (Tuhfa Mursala Shareef: p. 5)

    This, indeed is the exact same view that Ahmadi Muslims hold, about the expression of Khataman Nabiyyeen, yet, they are singled out by a lot of modern day Muslims as non-Muslims. Why not expel Hazrat Jilaani from Islam first, since he held this view first?

    Hazrat Mohiyyuddin Ibni Arabi

    Hazrat Mohiyyuddin Ibni Arabi (Rehmatullah Alaihi) wrote:

    “’ISAA ALIHIS SALAAMU YANZILU FEENA HAKAMAN MIN GHAIRI TASHREE’IN WA HUWA NABIYYUN BILAA SHAKKIN”

    (Fatoohati Makkiyyah, vol. 1, p. 570)

    “Jesus, may peace be upon him, will descend upon us as a Hakam, without a law and will be a prophet without any doubt.”

    Then he writes:

    “That prophethood which ended with the advent of the Prophet (pbuh), is only law-bearing prophethood and not the status of prophethood. Thus now there will be no law that cancels the law of the Prophet (pbuh) or that adds to its commandments”

    (Fatoohaati Makkiyyah, vol. 2, p. 3)

    Then he writes:

    “FAMARTAFA’ATIL NUBUWWATU BIL KULLIYYATI LIHAAZA QULNAA INNA MA-ARTAFA’TU NUBUWWATAT TASHREE’I FA HAAZA MA’ANI ‘LAA NABIYYA BA’DAHU”

    “Thus prophethood has not been totally abolished. This is why we have said that only law-bearing prophethood has been abolished and this is what is the meaning of (the Hadith) ‘there is no prophet after him’ “

    Hazrat Maulana Room

    The great saint, Hazrat Maulana Room (Rehmatullah Alaihi) writes:

    “Make such plans to perform righteousness in the way of God that you attain prophethood within the Ummat (religious community)”

    Hazrat Sayyed Abdul Kareem Jilani

    Hazrat Sayyed Abdul Kareem Jilani, the renowned mystic of the 8th century of Hijra wrote:

    “Hazrat Muhammad, peace and blessings on him, is the Khataman Nabiyyeen because he attained the highest perfection which no prophet ever did”

    (Al Insaanul Kaamil: vol. 1, Ch 36. Pg 69)

    Clearly, the controversial expression “khataman nabiyyeen” according to him, was not based on the Prophet’s (pbuh) being last.

    Hazrat Imam Abdul Wahhab She’raani

    Hazrat Imam Abdul Wahhab She’raani (Alaihir Rehmah) wrote:

    “FA INNA MUTLAQAN NUBUWWATI LAM TARTAFI’ WA INNAMARTAFA’AT NUBUWWATUL TASHREE’I”

    (Al Yawaaqeetu Wal Jawaahir: pg 27, argument # 3)

    “Thus, without doubt, …… prophethood has not been abolished and it is only law-bearing prophethood that is abolished”

    Hazrat Imam Muhammad Tahir

    Hazrat Imam Muhammad Tahir, commenting on Hadhrat Ayesha’s (ra) statement: say he is Khataman Nabiyyeen but do not say there is not prophet after him:

    “HAZA NAAZIRUN ILAA NUZOOLI ‘ISAA WA HAZA AIZAN LAA YUNAA FEE HADEETH LA NABIYYA BA’DEE LI ANNAHU ARAADA LAA NABIYYA YANSAKHU SHAR’AHU”

    (Takmilah Majma’ul Bihaar, pg 85)

    “This saying is based on the fact that Jesus is going to descend (as prophet) and it is not against the Hadith ‘there is no prophet after me’ because the Prophet (pbuh) meant ‘there will not be any prophet who would cancel his law.”

    Hazrat Imam Ali Qaari

    Hazrat Imam Ali Qaari (Alaihir Rahmah), an Imam of the Hanafi school and a renowned interpreter of Hadeeth, wrote:

    “That there is no revelation after the Holy Prophet (pbuh) is false; there is no truth in it. Yes! in the Hadith are the words ‘La Nabiyya Ba’di’ which, according to scholars, means that there will not be such a prophet in the future who brings such a law that abrogates that of the Holy Prophet (pbuh).”

    (Al Ishaa’at Fil Sharaatis Saa’ah, pg 226)

    Hazrat Shah Waliullah

    Hazrat Shah Waliullah Muhaddith of Delhi (Alaihir Rahmah), the Mujaddid of the 12th century and given the title of “Khatamal Muhadditheen” by some writers was of the following view:

    “KHUTIMA BIHIN NABIYYOONA AI LAA YURJADU MAN YA’MURUHULLAHU SUBHAANAHU BITTASHREE’I ‘ALANNAASI”

    (Tafheemati Ilaahiyyah, Tafheem # 53)

    “The ending of prophets at the advent of the Holy Prophet means that after him, there can be no such person as would be given a law by the Almighty Allah and sent to the people.”

    Hazrat Maulvi Abdul Haye

    Hazrat Maulvi Abdul Haye of Lacknow writes:

    “After the Holy Prophet (pbuh) or during his time, for a prophet to appear is not improbable”

    (Daafi’ul Wasaawis Fee Athar Ibn Abbaas, New Edition, pg 16)

    Maulvi Muhammad Qaasim

    Maulvi Muhammad Qaasim of Nanauta (Rehmatullah Alaih) who was the founder of the Deoband Seminary, an organization now viewed with respect by anti-Ahmadiyya organizations, also believed in the views such as the ones I am presenting here. He stated:

    “According to the layman, the Messenger of Allah, peace and blessings on him, being Khatam is supposed to have appeared after all the other prophets. But men of understanding and the wise know it very well that being the first or the last, chronologically, does not carry any weight. How could, therefore, the words of the Holy Quran ‘But he is the messenger of Allah and the Seal of Prophets (33.41)’ mean to glorify him? But I know very well that none from among the Muslims would be prepared to agree with the common men”

    (Tahzeer-ul-Naas: pg 3)

    Nawab Siddique Hasan Khan

    Also, among recent scholars, Nawab Siddique Hasan Khan of Bhopal, who was the leader of the Ahle Hadith in India wrote:

    “The Hadith ‘La Wahya Ba’da Mautee’ is baseless, although ‘La Nabiyya Ba’adee’ is quite correct, which, according to people with knowledge, means that ‘there shall be no prophet after me who shall be raised with a new code of Law which shall abrogate my law’.”

    (Iqtarabus Saa’at: pg 162)

    This list is by no means exhaustive but representative and even so, partially. I shall leave you with a joint statement agreed upon by two scholars, Hazrat Imam Muhammad bin Abdul Baqee and Ibni ‘Asakar, which has impressed me so much with the beauty of their words that I present it to you as a closing statment, and I think what they said could not have been said better. As background knowledge, let me mention that one meaning of “Khatam” is finger-ring:

    “The meanings of KHATAMAN NABIYYEEN are that the Holy Prophet, in his physical and spiritual build, is the most charming and lovable personality, peace be upon him. This is because the glory and the spiritual magnitude of all the prophets is manifested through him and he can be likened to the beautiful ring worn for adornment.”

    (Zarqani Sharah Mwahabul Luddunia: vol. 3, pg 163 and Sehlul Huda wal Irshad: pg 55)

    I have seen a lot of the actual books of these scholars with my own eyes — where? — in the office of a friend of my father, Dost Muhammad Shahid, who is the official historian of the Ahmadiyya Movement in Islam. I wonder if I shall ever see him again because I heard that he is imprisoned in Pakistan, in offense of having written verses of the Holy Quran. If an Ahmadi Muslim does this in Pakistan, or just “poses as a Muslim”, he/she is liable to imprisonment.

    I think I have made my case pretty fairly. I have written this series of articles not with the intention to “show off” that my understanding of the subject is better than any one else’s; it could be worse. I have tried to restrict myself to brief comments, giving most of the length to quotations. The treasure of knowledge given to us by these great scholars is our common heritage. At the time they made their invaluable contributions to knowledge, there was no Ahmadi or non-Ahmadi Muslim. I expect that readers will try to keep all hatred, malices, dislikes, prejudices and veils on hearts aside while doing the reading. Clearly, there is a wealth of information on the subject of finality or continuity of prophethood, which ever is the case. The purposes of this series has been to advance scholarship, uncover some less talked-about issues, reduce distance between people opposed to each others’ views and begin a new round of discussion which, I hope, would be free of flames, like these articles of mine have been.

    Peace be upon one who follows guidance.

    Regards To Readers,

    Copied from “On finality of Prophethood” by Rasheed A. Khan, Boston, Massachusettes, U.S.A. – Material © 1995-98 Ahmadiyya Muslim Community

  3. Para Sahabat adalah sebaik-baik umat dan berbagai riwayat yg diriwayatkan oleh para sahabat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir dan setelah Rasulullah SAW tidak ada lagi Nabi. Bagaimana mungkin kita pervaya thd orang yg mempunyai keyakinan “wahdatul wujud” seperti Ibnu Arabi. Silahkan cari literatur-literatur nama-nama yg dikutip “sun of the west” mengatakan ada lagi Nabi Baru setelah Rasulullah SAW.

  4. Dari kutipan tulisan Anda itu, pantas benar bila Hariadi diamankan oleh pihal Ahmadiyah. Karena ia datang tidak meperkenalkan diri dan tiba-tiba sudah ada didalam pagar Kampus Mubarak itu. Kalau anda bermaksud megnatakan bahwa apa yang dilakukan Hariadi itu tindakan yang Islami banget ya silakan saja. Itu hak anda. Tapi di dalam Al Qur’an diperintahkan agar seorang tamu itu memberi salam terlebih dahulu kepada pemilik rumah. Dan bila kebertamuannya ditolak oleh pemilik rumah, iapun tidak boleh kecewa apalagi marah dan menuduh secara membabi buta bahwa teman-temannya itu tidak love for all hatred for none.

  5. Apa yang dilakukan Ahmadi tetap saja tidak sesuai dengan slogan mereka “Love for all, hatred for none” (Cinta kepada semua, tak ada benci kepada siapapun). Bapak coba baca lagi tulisan tsb dgn cermat.

  6. Assalamualaikum Wr Wb

    Pak Admin, mungkin apa yg saya tulis ini tidak nyambung dengan topik yg dibahas. Saya mengirim postingan ini hanya meminta tolong pak admin, sudi kiranya memberi tempat khusus (thread khusus) untuk melanjutkan diskusi saya di http://www.denagis.wordpress.com
    Ada suatu hal yg menyebabkan saya ingin memberikan komentar jawaban pada forumlain dikarenakan kurang fairnya admin denagis dalam memoderasi jawaban saya & non ahmadi lainnya, salah satunya mereject jawaban yg menyudutkan ahmadiyah.
    Saya ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada pak admin sekiranya menerima permintaan saya ini

    Wassalam

    INSAN:
    Insya Allah akan saya buatkan

  7. @amatou01,
    Dari kutipan tulisan Anda itu, pantas benar bila Hariadi diamankan oleh pihal Ahmadiyah. Karena ia datang tidak meperkenalkan diri dan tiba-tiba sudah ada didalam pagar Kampus Mubarak itu. Kalau anda bermaksud megnatakan bahwa apa yang dilakukan Hariadi itu tindakan yang Islami banget ya silakan saja. Itu hak anda. Tapi di dalam Al Qur’an diperintahkan agar seorang tamu itu memberi salam terlebih dahulu kepada pemilik rumah. Dan bila kebertamuannya ditolak oleh pemilik rumah, iapun tidak boleh kecewa apalagi marah dan menuduh secara membabi buta bahwa teman-temannya itu tidak love for all hatred for none.

    Setuju pak Amatou,
    Tindakan seorang Islam ya selaraskan dengan ajaran Al-Quran.

  8. Quote:
    Tindakan seorang Islam ya selaraskan dengan ajaran Al-Quran.

    jawab:
    katanya “tak ada benci kepada siapapun”. Apakah sikap membenci sudah selaras dengan slogan tsb dan ajaran Al-Qur’an?

  9. Salam
    ahmadiyah itu nyatanya masih exist ya? maunya apa siy, bukannya dari segi ajarannya jelas-jelas sudah menyimpang? CMIW, masih setuju klo gerakan sektarian begini di bubarkan saja.

  10. Buat Semuanya

    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Bagi yg menginginkan tulisannya dimuat dalam “thread/topikk” di forum ini. Anda bisa mengirimkan email ke alamat email saya muhammad1ns4n@yahoo.com
    Namun tidak semua tulisan yg masuk pasti diterima karena saya akan memilihnya yg saya anggap pantas untuk tampil dalam forum ini. Harap jangan kecewa bila tulisan anda tidak dimuat. Nama si penulis akan saya cantumkan berupa intial atau someone.

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: