Tafsir Al-Jumu’ah (62) Ayat 3


Oleh: AD


وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


“dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.62:3)


Maksud ayat ini adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul itu, juga kepada orang-orang lain daripada bangsa Arab, seperti bangsa-bangsa eropa, amerika, afrika, persia, india, indonesia, dll dengan kata lain seluruh manusia yang ada didunia sampai hari kiamat.
Supaya lebih jelas lagi, marilah kita kupas secara tata bahasa arab berdasarkan “Wawu Athaf” dalam kata “Wa Akhoriina”. Perlu diketahui huruf wawu dalam kata wa akhoriina adalah Wawu athaf.
“Wa akhoriina minhum lamma jalhaqu bihim wahuwal azizul hakim”.
Antara “Wa” dengan “Akhoriina” secara nahwunya jika dijabarkan dituliskan perkataan “Huwalladzi ba’atsa fi”.
Kata ba’atsa disini adalah fi’il madhi, kata akhoriina adalah Isim jama’ mudzakar salim sedangkan kata akhoriina diathafkan kepada umiyyina.
Dengan demikian bunyi lengkapnya menurut tata bahasa arab/nahwu ayat ketiga ini berbunyi:
“Wa huwalladzi ba’atsa fi akhoriina minhum lamma jalhaqu bihim wahuwal azizul hakim”.
Yang artinya:
“Dan Dia-lah yang telah mengutus kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Perkataan “Hum” dalam kalimat “Minhum” kembali kepada “Akhoriin”. Demikian juga perkataan “Him” dalam kalimat “Bihim” kembali kepada “Akhoriin”.

Bukankah jelas menurut uraian ini, bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad kepada kaum akhoriin yaitu seluruh bangsa atau seluruh umat manusia. Dari uraian ini pula semakin jelas bahwa dalam Al-Qur’an,  Allah tidak mengutus nabi baru kepada kaum akhoriin.

Penjelasan fi’il Madhi dijabarkan pada gambar dibawah ini:

Penjelasan ttg Fi’il Madhi selengkapnya silahkan Klik Disini

Dari gambar diatas membuktikan bahwa kata “Ba’atsa” pada ayat ini adalah fi’il madhi  karena berwazan fa’ala. Dimana wazan daripada fi’il madhi adalah fa’ala.

Ada argumen lain dari pihak Ahmadiyah qadiani bahwa kata “Ba’atasa” adalah Fi’il Muta’addi. Untuk membuktikan ketidakbenaran pendapat Ahmadiyah ini bahwa “Ba’atsa” adalah Fi’il Muta’addi kita bisa melihat gambat dibawah ini:

Sumber : Disini

 

Dari gambar diatas membuktikan bahwa kata “ba’atsa” bukanlah Fi’il Muta’addi karena Fi’il Muta’addi tidak berwazan Fa’ala dan tidak ada pengulangan huruf yang dalam bahasa arab disebut tasydid pada huruf “ain”.

Dalam surat sebelumnya Surat Al-Jumuah ayat 3 (Dalam Tafsir Ahmadiyah Basmalah merupakan ayat pertama) yang terdapat dlm Tafsir Resmi Ahmadiyah telah disebutkan:

“Dia-Lah Yang TELAH mengutusdi tengah-tengah bangsa yang butahuruf seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah 3)

Sumber: (“Al-qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, hal 526, Jilid III, Edisi Pertama, Malik Ghulam Farid, Alih Bahasa: Panitia Penterjemah Tafsir Al-qur’an Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Degan restu: Mirza Tahir Ahmad, , Yayasan Wisma Damai, Jakarta, 1983).

Jika kita perhatikan pada penafsiran ahmadiyah ini ba’atsa diartikan “TELAH” mengutus pada ayat sebelumnya dan itu berarti ba’atsa adalah fi’il madhi dan bukan fi’il muta’addi bedasarkan tafsir resmi ini. Namun pada ayat berikutnya mereka mendustakan penafsiran ba’atsa dengan kata “AKAN”. Mari kita simak penafsiran ahmadiyah ayat berikutnya:

“Dan Dia AKAN membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana”.(QS. Al-jumuah 4).

Sumber: (“Al-qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, hal 527, Jilid III, Edisi Pertama, Malik Ghulam Farid, Alih Bahasa: Panitia Penterjemah Tafsir Al-qur’an Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Degan restu: Mirza Tahir Ahmad, , Yayasan Wisma Damai, Jakarta, 1983).

Pada ayat Al-jumuah ini, pihak ahmadiyah mengartikan ba’atsa yaitu “AKAN” membangkitkan, berbeda dengan penafsiran ayat sebelumnya. Mereka tidak menafsirkan dengan jujur seperti ayat sebelumnya bahwa ba’atsa artinya “TELAH” mengutus. Jika ba’atsa diartikan “AKAN” membangkitkan, itu berarti ba’atsa bukanlah fi’il muta’addi(menurut pendapat salah seorang ahmadi) akan tetapi fi’il mudhari. Karena fi’il mudhari menggunakan kata “AKAN” sedangkan fi’il muta’addi tidak pernah diartikan menggunakan kata “AKAN”. catatan buat Anda bahwa ba’atsa itu bisa juga diartikan “TELAH” mengutus atau “TELAH” membangkitkan.

Semoga penjelasan ini bisa mengungkap kebohongan yang dilakukan oleh Ahmadiyah dalam menafsirkan Al-Qur’an dan bermanfaat bagi Anda semua yang ingin betul-betul mencari kebenaran.
Wassalam



LAMPIRAN TAFSIR AHMADIYAH:

Sumber Lampiran: Disini

 

LAMPIRAN2

BUKU-BUKU AHMADIYAH

 

Sumber: “Kami Orang Islam, hal.67

Sumber: “Imam Mahdi atau Ratu Adil, Saleh A. Nahdi, Hal 26

Sumber Lampiran: Disini

 

LAMPIRAN 3

 


Sumber: Ringkasan Hadis Shahih, Imam Az-Zabidi

Sumber Lampiran: Disini


 

LAMPIRAN4:

Ini Sebuah Bukti dari Ahmadiyah bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai  Nabi Terakhir. Sumber ini diambil  dari Buku Ahmadiyah.

Sumber:

“Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal.204


LAMPIRAN 3

Buku-Buku Ahmadiyah

Sumber: “Jawaban Seruan Kepada Ahmadiyah”, Rukhdiyat Ayyubi Ahmad

Sumber: “Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal 152

 

 

 

Sumber: “MENGHAPUS SUATU KESALAHPAHAMAN (Ek Ghalati Ka Izala)” Oleh: Mirza Ghulam Ahmad Alih bahasa: M. A. Suryawan.

Sumber: http://islamic.us.to

Sumber: “Khabar Suka”, Mahmud Achmad cheema, Hal 18

 

Iklan

47 Tanggapan

  1. Assalamu ‘alaikum mas, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana mas?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin 😀

  2. Boleh Pak Dedhy Kasamuddin.
    Silahkan Pak Dedhy berikan link bapak. Insya Allah saya akan masukkan dalam BLOG ROLL

  3. Link Bapak sudah saya lihat di dashborad. Link bapak sudah dimasukkan dalam BLOG ROLL. Silahkan Bapak check

  4. Assalamu’alaikum,
    Surah Al Jumu’ah ayat 4:
    ”Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.

    Komentar / Tafsir:
    Ajaran Rasulullah saw ditujukan bukan hanya kepada bangsa Arab saja, yang di tengah bangsa itulah Rasulullah saw dibangkitkan, tetapi juga kepada seluruh bangsa-bangsa bukan-Arab. Ajaran Islam juga bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah saw, tetapi juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat. Ayat ini dapat juga berarti bahwa Rasulullah saw akan dibangkitkan pada kaum lain dari antara umat Islam yang belum pernah bergabung dengan para pengikut Rasulullah saw semasa hidup beliau saw. Isyarat di dalam ayat ini terdapat juga di dalam hadits masyhur yang menunjukan kepada kebangkitan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw dalam wujud Imam Mahdi / Masih Mau’ud as di akhir zaman. Abu Hurairah ra meriwayatkan:”Pada suatu hari, kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, ketika Surah Al Jumu’ah diturunkan. Saya bertanya kepada Rasulullah saw: ”Siapakah yang diisyaratkan dalam kalimat – Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka? -, Salman Al Farisi (Salman orang Parsi/Persia) ra sedang duduk diantara kami. Setelah berulang-ulang saya mengajukan pertanyaan itu, barulah Rasulullah saw nampak bereaksi, dan sambil meletakkan tangan beliau saw pada Salman ra, Rasulullah saw bersabda:”Bila iman telah terbang ke Bintang Tsurayya, seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari antara mereka ini pasti akan menemukannya” (HR Bukhari). Hadits Rasulullah saw ini menunjukan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadits lain menyebutkan bahwa kedatangan Al Masih akan terjadi pada saat “ketika tidak tertinggal pada Al Qur’an kecuali kata-katanya, dan tidak tertinggal pada Islam kecuali namanya” yang berarti bahwa “ketika ruh ajaran Islam yang sejati sedang menghilang” (HR Baihaqi). Jadi, Al Qur’an dan kedua hadits tersebut sepakat bahwa ayat ini menunjukan kepada kedatangan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as.

    Surah Al Jumu’ah ayat 5:
    “Inilah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.”

    Komentar / Tafsir:
    Ayat ini mengacu pada karunia Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang bernasib baik yang di antara mereka Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya dalam wujud salah seorang pengikut beliau saw yaitu Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud / Imam Mahdi) as.

    Surah Al Jumu’ah ayat 6:
    “Misal orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah semisal keledai yang memikul kitab-kitab. Sangatlah buruk misal kaum yang mendustakan Tanda-Tanda Allah. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya”

    Kata-kata Penting:
    “Asfaara” (buku-buku) adalah bentuk jamak/plural dari kata “sifrun” yang berasal dari kata “safaara”. Menurut Kamus Bahasa Arab-Inggris Lexicon Lane, “safaara” berarti “sebuah buku”, “sebuah buku besar” atau “sebuah karya tulis”.

    Komentar / Tafsir:
    Ayat ini mengisyaratkan suatu peringatan untuk umat Islam agar tidak menolak Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud / Imam Mahdi) as sebagaimana kaum/orang-orang sebelum mereka yaitu bangsa Yahudi yang menolak Nabi Isa (Al Masih) as dan Nabi Muhammad saw, yang untuk itu Rasulullah saw memerintahkan:”Kalau kalian melihatnya (Imam Mahdi as), bai’at-lah kalian kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju, karena dia adalah Khalifatullah, Al Mahdi” (HR Ibnu Majah, Kitabul Fitan).

    Uraian ini adalah kutipan dari sebagian kecil Tafsir Surah Al Jumu’ah yang dibuat oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muslih Mau’ud) ra, Khalifatul Masih II, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional (Short & Five Volumes Commentary to The Holy Qur’an). Semoga bermanfaat bagi muslimin Indonesia. Wassalam.

  5. Assalamu’alaikum,
    Surah Al Jumu’ah ayat 4:
    ”Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.

    Komentar / Tafsir:
    Ajaran Rasulullah saw ditujukan bukan hanya kepada bangsa Arab saja, yang di tengah bangsa itulah Rasulullah saw dibangkitkan, tetapi juga kepada seluruh bangsa-bangsa bukan-Arab. Ajaran Islam juga bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah saw, tetapi juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat. Ayat ini dapat juga berarti bahwa Rasulullah saw akan dibangkitkan pada kaum lain dari antara umat Islam yang belum pernah bergabung dengan para pengikut Rasulullah saw semasa hidup beliau saw. Isyarat di dalam ayat ini terdapat juga di dalam hadits masyhur yang menunjukan kepada kebangkitan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw dalam wujud Imam Mahdi / Masih Mau’ud as di akhir zaman. Abu Hurairah ra meriwayatkan:”Pada suatu hari, kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, ketika Surah Al Jumu’ah diturunkan. Saya bertanya kepada Rasulullah saw: ”Siapakah yang diisyaratkan dalam kalimat – Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka? -, Salman Al Farisi (Salman orang Parsi/Persia) ra sedang duduk diantara kami. Setelah berulang-ulang saya mengajukan pertanyaan itu, barulah Rasulullah saw nampak bereaksi, dan sambil meletakkan tangan beliau saw pada Salman ra, Rasulullah saw bersabda:”Bila iman telah terbang ke Bintang Tsurayya, seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari antara mereka ini pasti akan menemukannya” (HR Bukhari). Hadits Rasulullah saw ini menunjukan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadits lain menyebutkan bahwa kedatangan Al Masih akan terjadi pada saat “ketika tidak tertinggal pada Al Qur’an kecuali kata-katanya, dan tidak tertinggal pada Islam kecuali namanya” yang berarti bahwa “ketika ruh ajaran Islam yang sejati sedang menghilang” (HR Baihaqi). Jadi, Al Qur’an dan kedua hadits tersebut sepakat bahwa ayat ini menunjukan kepada kedatangan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as.

    Surah Al Jumu’ah ayat 5:
    “Inilah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.”

    Komentar / Tafsir:
    Ayat ini mengacu pada karunia Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang bernasib baik yang di antara mereka Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya dalam wujud salah seorang pengikut beliau saw yaitu Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud / Imam Mahdi) as.

    Surah Al Jumu’ah ayat 6:
    “Misal orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah semisal keledai yang memikul kitab-kitab. Sangatlah buruk misal kaum yang mendustakan Tanda-Tanda Allah. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya”

    Kata-kata Penting:
    “Asfaara” (buku-buku) adalah bentuk jamak/plural dari kata “sifrun” yang berasal dari kata “safaara”. Menurut Kamus Bahasa Arab-Inggris Lexicon Lane, “safaara” berarti “sebuah buku”, “sebuah buku besar” atau “sebuah karya tulis”.

    Komentar / Tafsir:
    Ayat ini mengisyaratkan suatu peringatan untuk umat Islam agar tidak menolak Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud / Imam Mahdi) as sebagaimana kaum/orang-orang sebelum mereka yaitu bangsa Yahudi yang menolak Nabi Isa (Al Masih) as dan Nabi Muhammad saw, yang untuk itu Rasulullah saw memerintahkan:”Kalau kalian melihatnya (Imam Mahdi as), bai’at-lah kalian kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju, karena dia adalah Khalifatullah, Al Mahdi” (HR Ibnu Majah, Kitabul Fitan).

    Uraian ini adalah kutipan dari sebagian kecil Tafsir Surah Al Jumu’ah yang dibuat oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muslih Mau’ud) ra, Khalifatul Masih II, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional (Short & Five Volumes Commentary to The Holy Qur’an). Semoga bermanfaat bagi muslimin Indonesia. Wassalam.

    Panjang-panjang menulis penjelasan tetapi tidak dibuktikan dengan nahwu shorof/tata bahasa arab jadi sia-sia tuch penjelasannnya. Sama juga dengan ngibul. Bingung ya menjawab tata bahasa arabnya. Kalau tidak bisa mendingan tdk perlu ditulis dech daripada hasilnya malu-maluin.

  6. Assalamu’alaikum,
    Al Qur’an itu Khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Allah Ta’ala.”Tiada orang boleh menyentuhnya, kecuali mereka yang telah disucikan” (QS Al Waqi’ah 80). Jadi, “bismillah” telah ditempatkan pada permulaan tiap-tiap Surah untuk memperingatkan orang Islam bahwa, untuk dapat masuk ke dalam Khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam Al Qur’an; dan untuk mendapat faedah darinya, sebelum mendekati dan membacanya, bukan saja harus memiliki hati yang suci, tetapi ia juga harus senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan syaitan yang terkutuk (An-Nahl 99). Kalau masih memiliki kebencian kepada Jemaat Ahmadiyah, meskipun memiliki kefasihan tata-bahasa Arab (nahwu-shorof), akan sulit untuk mendapatkan Khazanah ilmu Ilahi tersebut. Contohnya: Abu Jahal yang canggih berbahasa Arab, hingga ajalnya tetapi tetap saja membenci dan memerangi Rasulullah saw. Wassalam.

  7. Assalamu’alaikum,
    Al Qur’an itu Khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Allah Ta’ala.”Tiada orang boleh menyentuhnya, kecuali mereka yang telah disucikan” (QS Al Waqi’ah 80). Jadi, “bismillah” telah ditempatkan pada permulaan tiap-tiap Surah untuk memperingatkan orang Islam bahwa, untuk dapat masuk ke dalam Khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam Al Qur’an; dan untuk mendapat faedah darinya, sebelum mendekati dan membacanya, bukan saja harus memiliki hati yang suci, tetapi ia juga harus senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan syaitan yang terkutuk (An-Nahl 99).

    Nyatanya samapi hari ini Ahmadiyah masih sesat khan berarti Allah belum diberikan Ilmu khazanah ilahi kepada Ahmadiyah

    Kalau masih memiliki kebencian kepada Jemaat Ahmadiyah, meskipun memiliki kefasihan tata-bahasa Arab (nahwu-shorof), akan sulit untuk mendapatkan Khazanah ilmu Ilahi tersebut.

    Anda sudah bermain-main dgn fitnah terhadap saya. Tidak ada rasa benci sedikitpun dalam hati saya. Kalau Anda tidak mengetahui pribadi saya lebih jangan menyebarkan fitnah. Saya hanya ingin membantu Anda kembali ke jalan yang lurus. Untuk menuju jalan yang lurus Anda juga harus mendalami ilmunya, paling tidak tata bahasa arab. Nahwu Shorof juga termasuk Ilmu.

    Contohnya: Abu Jahal yang canggih berbahasa Arab, hingga ajalnya tetapi tetap saja membenci dan memerangi Rasulullah saw. Wassalam.

    Anda membandingkannya dengan orang yang salah. Abu jahal tidak mempercayai Allah, sedangkan non ahmadi mempercayai Allah. Abu jahal bisa berbahasa Arab tetapi belum tentu dia bisa tata bahasa Arab. Sama halnya Anda bisa berbahasa Indonesia tetapi belum tentu mengerti tata bahasa Indonesia.
    Contohnya Anda sendiri:
    -Anda belum bisa membedakan antara satu atau dengan beberapa
    -Anda belum bisa membedakan antara keturunan persia dengan Bangsa persia
    -Anda belum mengerti arti kata “JIKA”. Karena kata “JIKA” itu adalah sesuatu yang belum pasti. Apa anda setuju kata “JIKA” adalah sesuatu hal yang belum pasti?
    Misalnya:
    “Jika sinar galih lulus sekolah akan diadakan Syukuran”. Apa arti kalimat ini menurut Anda? Tolong Anda simpulkan.

  8. Ini untuk perbandingan dengan apa yang pernah Anda tulis. Ini dari buku2 Ahmadiyah:

    Imam Mahdi atau Ratu Adil : Saleh A. Nahdi hal.26

    Kami Orang Islam, Jemaat Ahmadiyah Indonesia hal.26

    Kenapa berbeda dengan dengan apa yang Anda tulis selama ini, siapakah yang telah berdusta selama ini, Khalifah Anda, Saleh A.Nahdi, Jemaat Ahmadiyah Indonesia ataukah Anda? Saya berharap dibutuhkan suatu kejujuran dalam menyampaikan sesuatu. Tidak baik jika dalam diskusi ini dibumbui dengan kata “DUSTA”, apalagi ini bulan Ramadhan.

    Ini dari Ringkasan Shahih Al-Bukhari oleh Imam Az-Zabidi

    Pertanyaan buat Anda?
    1. Berbedakah Antara keturunan persia dengan Bangsa Persia
    2. Samakah antara satu dengan beberapa?
    3. Mana dalil pembuktian pendakwaan Ghulam Ahmad koq sampai detik ini belum disampaikan? GPL ya?

    Mohon dalam menyampaikan Akidah Ahmadiyah tidak dibumbui dengan kata “DUSTA”….Ok

  9. Assalamu’alaikum,
    Alhamdulillah, kalau Netral betul-betul tidak memiliki rasa benci sedikitpun kepada Jemaat Ahmadiyah, maka cocok dengan motto Jemaat Ahmadiyah:”LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE”. Cinta untuk semua, tidak ada kebencian untuk siapapun.

    Mari kita bicarakan Tafsir Al Jumu’ah ini di Kampus Mubarak, dan saya akan tidak sabar menunggu Netral di sana. Tentukan sendiri oleh Netral waktunya, kapan saja.

    Marilah kita bertukar pikiran dengan cara sebaik-baiknya, sambil berbuka puasa bersama juga boleh, karena Allah Ta’ala mengajarkan kepada umat Nabi Muhammad saw: “Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan Hikmah*) dan nasihat yang baik, dan bertukar-pikiranlah dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya, Tuhan engkau Dia lebih mengetahui siapa yang telah SESAT dari jalan-Nya; dan Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl 126). Selain itu, di dalam Surah yang sedang kita diskusikan juga tertulis bahwa Rasulullah saw mengajarkan kepada kita Kitab dan Hikmah*), juga dalam Surah Yaasin 3:”Demi Al Qur’an yang penuh Hikmah*”.

    *) Menurut Arabic-English Lexicon Lane: Hikmah berarti: (1) pengetahuan atau ilmu; (2) kesetimbangan atau keadilan; (3) kelemah-lembutan atau kemurahan hati; (4) keteguhan; (5) sesuatu ucapan atau percakapan yang serasi atau cocok dengan kebenaran dan sesuai pula dengan tuntutan keadaan; (6) anugerah nubuatan; dan (7) apa yang menghalangi atau mencegah seseorang dari perbuatan tercela. Baiklah Sdr. Netral, marilah kita diskusikan hal ini dengan Hikmah. Wassalam.

  10. Assalamu’alaikum,
    Alhamdulillah, kalau Netral betul-betul tidak memiliki rasa benci sedikitpun kepada Jemaat Ahmadiyah, maka cocok dengan motto Jemaat Ahmadiyah:”LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE”. Cinta untuk semua, tidak ada kebencian untuk siapapun.

    Mari kita bicarakan Tafsir Al Jumu’ah ini di Kampus Mubarak, dan saya akan tidak sabar menunggu Netral di sana. Tentukan sendiri oleh Netral waktunya, kapan saja.

    Marilah kita bertukar pikiran dengan cara sebaik-baiknya, sambil berbuka puasa bersama juga boleh, karena Allah Ta’ala mengajarkan kepada umat Nabi Muhammad saw: “Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan Hikmah*) dan nasihat yang baik, dan bertukar-pikiranlah dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya, Tuhan engkau Dia lebih mengetahui siapa yang telah SESAT dari jalan-Nya; dan Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl 126). Selain itu, di dalam Surah yang sedang kita diskusikan juga tertulis bahwa Rasulullah saw mengajarkan kepada kita Kitab dan Hikmah*), juga dalam Surah Yaasin 3:”Demi Al Qur’an yang penuh Hikmah*”.

    *) Menurut Arabic-English Lexicon Lane: Hikmah berarti: (1) pengetahuan atau ilmu; (2) kesetimbangan atau keadilan; (3) kelemah-lembutan atau kemurahan hati; (4) keteguhan; (5) sesuatu ucapan atau percakapan yang serasi atau cocok dengan kebenaran dan sesuai pula dengan tuntutan keadaan; (6) anugerah nubuatan; dan (7) apa yang menghalangi atau mencegah seseorang dari perbuatan tercela. Baiklah Sdr. Netral, marilah kita diskusikan hal ini dengan Hikmah. Wassalam.

    Wa alaikum salam…..
    Terima Kasih atas undangannya. Saya yakin jawaban dari kampus mubarok akan tetap sama seperti Anda seperti halnya beberapa penjelasan di buku-buku Ahmadiyah. Jadi akan sia- Saya tdk yakin dari pihak Ahmadiyah mengerti tata bahasa arab/nahwu shorof sama seperti halnya Anda yang hanya memberikan jawaban dari hasil contekan doktrin-doktrin Ahmadiyah yang ada di buku. Walaupun mereka mengerti tata bahasa arab, saya tidak yakin pihak ahmadiyah akan memberikan penjelasan yang sejujur-jujurnya. Karena Otak dan mata Anda sudah tertutup dari jalan kebenaran. Hanya hati Anda yang bisa Anda gunankan untuk mengungkap kebenaran.

  11. Marilah kita bertukar pikiran dengan cara sebaik-baiknya, sambil berbuka puasa bersama juga boleh, karena Allah Ta’ala mengajarkan kepada umat Nabi Muhammad saw: “Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan Hikmah*) dan nasihat yang baik, dan bertukar-pikiranlah dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya, Tuhan engkau Dia lebih mengetahui siapa yang telah SESAT dari jalan-Nya; dan Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl 126). Selain itu, di dalam Surah yang sedang kita diskusikan juga tertulis bahwa Rasulullah saw mengajarkan kepada kita Kitab dan Hikmah*), juga dalam Surah Yaasin 3:”Demi Al Qur’an yang penuh Hikmah*”.

    Definisi sesat: tidak melalui jalan yg benar; salah jalan: malu bertanya — di jalan; mati –; 2 ki salah (keliru) benar; berbuat yg tidak senonoh; menyimpang dr kebenaran (tt agama dsb)

    Dari definis sesat tersebut pencuri, penjahat, pembunuh bisa kita kategorikan sesat karena menyimpang dari kebenaran. Apakah kita menunggu sampai mendapat Mandat dari Allah terlebih dahulu untuk menghukum mereka yg bersalah? Menunggu sampai kiamatkah? berarti orang yeng menghukum seorang penjahat, pencuri, perampok telah melakukan kesalahan karena Allah yang lebih mengetahui sesatnya seseorang. Bahkan orang yang kafir pun bisa katakan sebagai orang yang menyimpang dari kebenaran.

    Bagaimana menentukan sesatnya seseorang? kita bisa mengetahuinya melalui Al-Qur’an pak.

    Terkadang Ahmadi melontarkan sesuatu hal tetapi hal tersebut bertentangan dengan apa yang dilakukan Ahmadiyah.
    Contohnya:
    Ghulam Ahmad berkata demikian:
    Terdapat pula suatu kaum sesat lagi kotor

    “Pada tanggal 14 Desember 1905 ada dua orang yang bai’at.Salah satu di antaranya bertanya: “Apakah boleh shalat di belakang orang non-Ahmadi?” Hz. Masih Mau’ud a.s. menjelaskan: Orang-orang itu menyebut saya kafir. Jika saya ini bukan kafir, tentu kekufuran itu berbalik ke arah mereka. Orang yang menyebut seorang muslim sebagai kafir, berarti orang yang berkata itu sendiri kafir. Oleh karena itu shalat di belakang mereka tidak dibenarkan. Lalu, orang-orang yang diam-diam saja di antara mereka, mereka pun sebenarnya termasuk di antara orang-orang itu. Di belakang mereka pun shalat tidak dibenarkan. Sebab, di dalam kalbu mereka menganut suatu keyakinan yang bertentangan, yang secara zahir [lahiriah] tidak sama dengan kita.(Sumber: “Bukan Sekedar Hitam Putih, M.A.Suryawan.

    Larangan sholat dibelakang non Ahmadi dikarenakan fakta dibawah ini:

    Dalam kondisi di mana seseorang menerima Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rasulullah dan Al-Qur’an sebagai Kalamullah, namun ia mengingkari Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan), maka keingkarannya itu bukanlah suatu ke-kafir-an yang dapat membuatnya langsung menjadi non-Muslim. Karena Masih Mau’ud adalah nabi ummati, maka mengingkari beliau berarti membuat seseorang menjadi kafir (ingkar) terhadap nabi ummati. Sebagai anggota di dalam umat Rasulullah s.a.w., orang itu tetap disebut muslim, akan tetapi dia menjadi kafir dalam hal mengingkari Masih Mau’u. (Sumber: “Bukan Sekedar Hitam Putih, M.A.Suryawan)

    Ini sudah hukum yang diterapkan Ahmadiyah karena alsan KAFIR.
    Apakah Anda melakukannya pula? Silakan berkata jujur?

    Kalau ayat yg Anda kutip tsersebut dicross check dengan Apa yang yang diperbuat Ahmadiyah, apa yang dilakukan Ahmadiyah sangat bertentangan sekali. Kita jangan hanya bisa menulis saja. Apa yang disampaikan harus dilakukan pula dengan perbuatan yang nyata.

  12. Sebuah petunjuk buat Anda ttg Surat Al-jumuah ini:
    Contoh:
    Sinar Galih berdarmawisata ke Jakarta dan Bandung.

    Dari contoh tersebut diambil kesimpulan:
    1.Sinar Galih berdarmawisata ke Malang
    2.Sinar Galih berdrmawisata ke Bandung
    3.Tidak Ada orang lain dalam kalimat tsb selain Sinar Galih yang berdarmawisata ke Bandung.

    Pola dari contoh ini sama dengan pola yang terdapat dalam Surat Al-Jumuah tersebut. Ingat huruf Wawu dari ayat tersebut adalah Wawu Athaf. Silahkan Anda googling apa yang dimaksud dengan “Athaf”.

  13. Dalam kondisi di mana seseorang menerima Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rasulullah dan Al-Qur’an sebagai Kalamullah, namun ia mengingkari Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan), maka keingkarannya itu bukanlah suatu ke-kafir-an yang dapat membuatnya langsung menjadi non-Muslim. Karena Masih Mau’ud adalah nabi ummati, maka mengingkari beliau berarti membuat seseorang menjadi kafir (ingkar) terhadap nabi ummati. Sebagai anggota di dalam umat Rasulullah s.a.w., orang itu tetap disebut muslim, akan tetapi dia menjadi kafir dalam hal mengingkari Masih Mau’ud.(Sumber: “Bukan Sekedar Hitam Putih, M.A.Suryawan)

    “Pada tanggal 14 Desember 1905 ada dua orang yang bai’at.Salah satu di antaranya bertanya: “Apakah boleh shalat di belakang orang non-Ahmadi?” Hz. Masih Mau’ud a.s. menjelaskan: Orang-orang itu menyebut saya kafir. Jika saya ini bukan kafir, tentu kekufuran itu berbalik ke arah mereka. Orang yang menyebut seorang muslim sebagai kafir, berarti orang yang berkata itu sendiri kafir. Oleh karena itu shalat di belakang mereka tidak dibenarkan. Lalu, orang-orang yang diam-diam saja di antara mereka, mereka pun sebenarnya termasuk di antara orang-orang itu. Di belakang mereka pun shalat tidak dibenarkan. Sebab, di dalam kalbu mereka menganut suatu keyakinan yang bertentangan, yang secara zahir [lahiriah] tidak sama dengan kita.(Sumber: “Bukan Sekedar Hitam Putih, M.A.Suryawan.

    INI BUKTI BAHWA AHMADIYAH MENGKAFIRKAN SELAIN NON AHMADI

  14. Assalamu’alaikum,
    Netral menulis:
    Jadi akan sia- Saya tdk yakin dari pihak Ahmadiyah mengerti tata bahasa arab/nahwu shorof sama seperti halnya Anda yang hanya memberikan jawaban dari hasil contekan doktrin-doktrin Ahmadiyah yang ada di buku. Walaupun mereka mengerti tata bahasa arab, saya tidak yakin pihak ahmadiyah akan memberikan penjelasan yang sejujur-jujurnya.

    Sebaiknya buktikan dulu dengan baik-baik datang ke Kampus Mubarak, karena anggota Jemaat Ahmadiyah mah selain mengerti tata bahasa Arab/nahwu shorof juga memiliki ilmu mantiq dan balaghah serta berdasarkan dalil-dalil dari seorang yang “mutakharun” yaitu Imam Mahdi & Masih Mau’ud as, Hakim yang Adil, Nabi & Rasul Ghairi Tasyri’i & Ghairi Mustakil yang mempunyai akses untuk memahami Al Qur’an lebih dalam sehingga memperoleh Khazanah Ilmu Ilahi yang luas. Sayangnya ditulis dalam Bahasa Urdu, sehingga belum semuanya diterjemahkan. Kami diajarkan untuk menjadi “Ibad-ur-Rahman” (Al Furqan 64) dan diajarkan untuk menerima tamu dengan baik sampai tiga hari lamanya. SILAHKAN.

    Netral menulis:
    Definisi sesat: tidak melalui jalan yg benar; salah jalan: malu bertanya — di jalan; mati –; 2 ki salah (keliru) benar; berbuat yg tidak senonoh; menyimpang dr kebenaran (tt agama dsb).

    Katanya yang lebih afdhal definisi dari Al Qur’an, saya setuju kalau definisi-nya dari Al Qur’an. You are WELCOME.

    Netral menulis:
    Ghulam Ahmad berkata demikian:
    Terdapat pula suatu kaum sesat lagi kotor

    Wah itu mah hanya menyebutkan suatu kaum. Tidak menuduh seseorang atau satu institusi tertentu, jadi masih memasuki etika yang baik. Coba bandingkan dengan “Saya yakin Ahmadiyah sesat” atau “Ahmadiyah di luar Islam, Sesat dan Menyesatkan”, bukankah hal itu masih mengandung kebencian?

    So, if you have no hatred against Ahmadiyah, you are pleased WELCOME to KAMPUS MUBARAK. Wassalam.

  15. Assalamu’alaikum,
    Netral menulis:
    Jadi akan sia- Saya tdk yakin dari pihak Ahmadiyah mengerti tata bahasa arab/nahwu shorof sama seperti halnya Anda yang hanya memberikan jawaban dari hasil contekan doktrin-doktrin Ahmadiyah yang ada di buku. Walaupun mereka mengerti tata bahasa arab, saya tidak yakin pihak ahmadiyah akan memberikan penjelasan yang sejujur-jujurnya.

    Sebaiknya buktikan dulu dengan baik-baik datang ke Kampus Mubarak, karena anggota Jemaat Ahmadiyah mah selain mengerti tata bahasa Arab/nahwu shorof juga memiliki ilmu mantiq dan balaghah serta berdasarkan dalil-dalil dari seorang yang “mutakharun” yaitu Imam Mahdi & Masih Mau’ud as, Hakim yang Adil, Nabi & Rasul Ghairi Tasyri’i & Ghairi Mustakil yang mempunyai akses untuk memahami Al Qur’an lebih dalam sehingga memperoleh Khazanah Ilmu Ilahi yang luas. Sayangnya ditulis dalam Bahasa Urdu, sehingga belum semuanya diterjemahkan. Kami diajarkan untuk menjadi “Ibad-ur-Rahman” (Al Furqan 64) dan diajarkan untuk menerima tamu dengan baik sampai tiga hari lamanya. SILAHKAN.

    Netral menulis:
    Definisi sesat: tidak melalui jalan yg benar; salah jalan: malu bertanya — di jalan; mati –; 2 ki salah (keliru) benar; berbuat yg tidak senonoh; menyimpang dr kebenaran (tt agama dsb).

    Katanya yang lebih afdhal definisi dari Al Qur’an, saya setuju kalau definisi-nya dari Al Qur’an. You are WELCOME.

    Netral menulis:
    Ghulam Ahmad berkata demikian:
    Terdapat pula suatu kaum sesat lagi kotor

    Wah itu mah hanya menyebutkan suatu kaum. Tidak menuduh seseorang atau satu institusi tertentu, jadi masih memasuki etika yang baik. Coba bandingkan dengan “Saya yakin Ahmadiyah sesat” atau “Ahmadiyah di luar Islam, Sesat dan Menyesatkan”, bukankah hal itu masih mengandung kebencian?

    So, if you have no hatred against Ahmadiyah, you are pleased WELCOME to KAMPUS MUBARAK. Wassalam.

    haaa….haaa kalau Ahmadiyah mengerti nahwu shorof koq menjelaskan Wawu athaf saja koq melenceng dari pelajaran nahwu shorof. Saya memberikan bukti buku-buku Ahmadiyah untuk membuktikan kepada Anda dan para pembaca bahwa ada niat yg tidak baik dari pihak Ahmadiyah dengan mendustaka sesuatu. Anda lihat dari buku satu yang dengan buku yang lainnya. kutipannya terdapat perbedaan. Ditambah lagi saya buktikan ringkasan hadits bukhari, apa yang Anda tulis sangat bertentangan 😀
    Jadi mana bukti pendkawaan Ghulam Ahmad? koq mentok gitu penjelasannya 😀

  16. Netral menulis:
    Ghulam Ahmad berkata demikian:
    Terdapat pula suatu kaum sesat lagi kotor

    Wah itu mah hanya menyebutkan suatu kaum. Tidak menuduh seseorang atau satu institusi tertentu, jadi masih memasuki etika yang baik. Coba bandingkan dengan “Saya yakin Ahmadiyah sesat” atau “Ahmadiyah di luar Islam, Sesat dan Menyesatkan”, bukankah hal itu masih mengandung kebencian?

    Memang tidak menuduh seseorang atau satu institusi tertentu. Tetapi kata KAUM itu meluputi sesuatu hal yang lebih luas lagi dan lebih dari seorang. Kalau Anda lihat kata selanjutnya “Yang mengingkari orang-orang yang kudus itu” Anda bisa menyimpulkan yang dimaksud non ahmadi atau bukan?

    Maka dari itu, kalau dikasih bukti itu tolong dibaca agar jawabannya nyambung 😀

    Apapun bukti yang Anda berikan, sudah dipatahkan oleh Nabi Anda sendiri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang terkahir. Koq bisa ya doktrin makan tuan 😀

  17. Orang buruk dan kotor

    Seorang tolol – karena kebodohannya

    Ratusan ribu orang tolol meninggalkan agama mereka.

    (Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.82)

    Inilah contoh ucapan seseorang yang diyakini oleh Ahmadiyah sebagai Nabi 😀

  18. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Tafsir Surah Al Jumu’ah ayat 2 s/d 6

    يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِىْ السَّمٰوٰتِ وَمَا فِىْ الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ‏
    “Menyanjung Allah segala yang ada di seluruh langit dan segala yang ada di bumi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS Al jumu’ah: 2)

    Penjelasan:
    Keampat sifat Ilahi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa & Maha Bijaksana, itu bertalian dengan keempat tugas Rasulullah saw yang tercantum di dalam ayat berikutnya.

    هُوَ الَّذِىْ بَعَثَ فِىْ الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلاً مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِىْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
    “Dia-lah (Allah) Yang telah membangkitkan ditengah-tengah bangsa yang buta huruf*) seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah**), walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata; (QS Al Jumu’ah: 3).

    Penjelasan:
    Ayat ini jelas tertuju kepada Nabi Muhammad Rasulullah saw yang dibangkitkan ditengah-tengah bangsa “Ummi”, dan di dalam Surah Al A’raf 158 beliau saw juga disebut “Nabi Ummi”. “Ummi” artinya, yang menjadi kepunyaan atau mempunyai pertalian dengan ibu, yakni, “maksum” (tak berdosa) seperti bayi yang masih menyusu dari ibunya; orang yang tidak mempunyai kitab wahyu, khususnya orang Arab; orang yang tidak pandai membaca dan menulis (buta huruf); orang yang berasal dari Mekkah yang dikenal sebagai “Ummul Qura”, yakni induk kota-kota. Jika kata “ummi” diambil pengertian “buta huruf”, maka ayat ini akan berarti bahwa walaupun Rasulullah saw tidak menerima pendidikan apa pun dan sama sekali buta aksara, namun Tuhan melimpahkan kepada beliau saw pengetahuan demikian tingginya sehingga dapat memberikan “nur” (cahaya) dan bimbingan bahkan kepada mereka yang dianggap paling maju dalam ilmu pengetahuan dan penalaran. Beberapa pujangga Kristen telah berlagak seolah-olah meragukan kenyataan bahwa Rasulullah saw tidak dapat membaca dan menulis. Wherry dalam karyanya, “Commentary of the Quran” mengatakan, “Mungkinkah ia yang telah dididik di satu rumah beserta Ali, yang dapat membaca dan menulis, ia sendiri tidak menerima pelajaran seperti itu? Dapatkah ia menjalankan usaha perniagaan yang penting selama bertahun-tahun tanpa memiliki pengetahuan membaca dan menulis? Bahwa ia dapat membaca dan menulis di masa kemudian adalah pasti. Riwayat menceritakan kepada kita bahwa ia berkata kepada Mu’awiyah, salah seorang jurutulisnya, “Tulislah huruf ba yang lurus, bagilah huruf sin yang tepat, dan sebagainya, dan bahwa pada saat-saat terakhir ia menerima alat-alat tulis. Menggunakan jurutulis tidak mengandung arti tidak mempunyai pengetahuan seni menulis, sebab menggunakan jurutulis semacam itu sudah biasa pada masa itu, bahkan di antara kebanyakan kaum terpelajar sekalipun.” Kesimpulan bahwa karena Rasulullah saw “telah dididik di satu rumah beserta Ali, yang dapat membaca dan menulis tentunya telah belajar membaca dan menulis juga,” merupakan alasan yang lemah sekali. Hal itu hanya membuktikan bahwa tuan Wherry yang terhormat itu, tidak mengetahui kenyataan-kenyataan tentang dasar kehidupan Rasulullah saw. Sayyidina Ali ra dan Rasulullah saw tidak mungkin pernah menerima didikan dan dibesarkan bersama-sama, karena antara keduanya ada perbedaan usia yang jauh sekali. Rasulullah saw kira-kira dua puluh sembilan tahun lebih tua dari Sayyidina Ali ra. Jangan bicara ihwal Rasulullah saw dan Sayyidina Ali ra dididik dan dibesarkan bersama-sama, sebab hal demikian jelas tidak mungkin karena adanya perbedaan besar dalam keduanya. Justru Sayyidina Ali ra yang mendapat didikan di rumah Rasulullah saw di bawah asuhan dan didikan Rasulullah saw sendiri (Hisyam). Abu Thalib, yang membesarkan Rasulullah saw, adalah orang yang kurang mampu. Beliau tidak paham akan nilai ilmu dan pengetahuan; begitu pula memiliki ilmu pada zaman itu, tidak dianggap sesuatu yang berharga dan menguntungkan. Oleh karena itu, Rasulullah saw tetap tidak dapat membaca dan menulis dalam lingkungan keluarga beliau. Tetapi, Sayyidina Ali ra dibesarkan di rumah Rasulullah saw sendiri. Pernikahan Rasulullah saw dengan Siti Khadijah ra, seorang wanita/janda kaya, telah memberi sarana-sarana yang cukup besar ke tangan beliau saw. Rasulullah saw juga menyadari, betapa berharganya nilai pendidikan itu. Maka, di bawah asuhan yang baik dan pengaruh mulia beliau saw, Sayyidina Ali ra, menurut ukuran pada waktu itu, dengan sendirinya tumbuh menjadi seorang pemuda yang berpendidikan baik.

    Keberatan yang kedua dari Wherry adalah, seandainya Rasulullah saw buta aksara dan tidak dapat membaca dan menulis, niscaya beliau tidak akan dapat membuktikan diri sebagai seorang usahawan yang berhasil, sebagaimana pada hakikatnya demikian, adalah karena salah tanggapan tentang seorang usahawan Arab yang baik dan berhasil di masa Rasulullah saw. Wherry pasti tidak akan mengajukan keberatan demikian, jika ia mengetahui bahwa di Asia, sekalipun di abad sekarang ini, ada usahawan-usahawan yang sangat berhasil walaupun tidak mendapat pendidikan dasar juga. Di Mekkah, di masa Rasulullah saw pendidikan tidak begitu dipentingkan. Pada waktu itu, terdapat hanya sedikit saja orang yang pandai membaca dan menulis, tetapi banyak sekali orang yang menjalankan usaha dengan berhasil dan maju. Pendidikan pada waktu itu di negeri Arab, tidak dianggap sebagai syarat mutlak untuk menjadi usahawan yang baik. Lagi pula kenyataan bahwa Siti Khadijah ra telah memberikan kepada Rasulullah seorang budak, bernama Maisarah, yang dapat membaca dan menulis dan yang senantiasa menyertai dalam perjalanan niaga beliau saw yang sama sekali menggugurkan keberatan Wherry. Riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah saw sekali peristiwa, telah meminta kepada Mu’awiyah ra supaya menuliskan secara tepat huruf ba dan sin, nampaknya tidak dapat dipercaya. Di masa Khalifah Abbasiyah, banyak sekali hadits-hadits dibuat-buat yang tidak menguntungkan posisi keluarga Bani Umayah. Hadits tersebut bertujuan, hendak menampilkan citra buruk tentang Mu’awiyah ra, seorang anggota terkemuka dari keluarga Bani Umayah, sebagai orang yang sangat sederhana pendidikannya, sehingga tidak dapat menulis huruf-huruf yang begitu sederhana seperti ba dan sin sekalipun. Akan tetapi, sekalipun terbukti bahwa riwayat ini dapat dipercaya, hal itu tidak menunjukkan bahwa Rasulullah saw dapat membaca dan menulis; sebab, beliau telah terbiasa mengimlakan Al Qur’an, sehingga tidak mustahil bagi beliau saw untuk mengenali bentuk umum huruf-huruf dan memberikan petunjuk mengenai kata yang salah, dalam cara penulisannya. Kenyataan bahwa Rasulullah saw memesan pena dan kertas, pada saat-saat terakhir kehidupan beliau saw, juga tidak mendukung dugaan Wherry. Satu kenyataan sejarah yang terbukti kebenarannya ialah, manakala sesuatu ayat diwahyukan, Rasulullah saw memesan pena dan kertas, lalu mengimlakan kepada seorang “katib’ (jurutulis), apa yang telah diwahyukan kepada beliau saw. Oleh karena itu, kenyataan tentang memesan pena dan kertas saja, tidak menjadi bukti bahwa Rasulullah saw dapat membaca dan menulis. Begitu pula kata-kata yang dimaksudkan Wherry untuk menguatkan dalilnya yaitu “bacalah dengan nama Tuhan-mu” tidak membuktikan sesuatu. Kata Arab iqra’ (bacalah) yang dipergunakan dalam Surah Al Alaq: 2, tidak hanya berarti membaca suatu tulisan, melainkan juga mengulangi dan memperdengarkan kembali apa yang kita dengar dari orang lain. Lagi pula dari hadits tersebut telah terbukti bahwa di saat wahyu pertama turun, malaikat Jibril as mengucapkan kata “iqra’” sesungguhnya tiada tulisan dikemukakan di hadapan Rasulullah saw supaya dibaca oleh beliau. Beliau hanya diminta mengulangi dengan lisan, apa yang telah dibacakan oleh malaikat kepada beliau saw.

    Selanjutnya tuduhan dari beberapa pujangga Kristen bahwa anggapan tentang Rasulullah saw tak dapat membaca atau menulis, asalnya dari salah pengertian mengenai pengakuan beliau saw yang berulang kali bahwa beliau saw adalah “Nabi Ummi”, adalah aneh lagi lemah landasannya. Mengherankan sekali, bahwa mereka yang hidup siang-malam bertahun-tahun lamanya dengan beliau dan setiap hari melihat beliau membaca dan menulis, tidak dapat mengetahui apakah beliau saw buta aksara atau tidak, dan tersesat pada anggapan itu, hanya oleh karena pengakuan beliau saw sendiri yang berulang-ulang bahwa beliau saw buta aksara. Penggunaan jurutulis oleh beliau saw, tidaklah bertentangan dengan pengetahuan beliau saw tentang seni tulis, sebab penggunaan jurutulis semacam itu biasa pada masa itu, bahkan di kalangan yang sangat terpelajar sekalipun, menunjukkan bahwa Wherry tidak paham akan sejarah Tanah Arab dan Agama Islam. Hakikatnya ialah bahwa di masa Rasulullah saw tidak terdapat ulama-ulama atau orang-orang terpelajar di antara orang-orang Arab, dalam arti kata yang dipahami umum sekarang; begitu pula mereka tidak biasa mempunyai panitera-panitera yang dipekerjakan oleh seorang Arab dahulu. Sekalian para ulama, tanpa kecuali, bersepakat bahwa Rasulullah saw tidak dapat membaca dan menulis, sebelum wahyu diturunkan kepada Rasulullah saw. Al Qur’an menerangkan dengan sangat tegas mengenai hal itu bahwa Rasulullah saw tidak pandai membaca, sekurang-kurangnya sampai saat beliau mendakwakan diri menjadi utusan Allah (QS Al Ankabut: 49). Akan tetapi, beliau telah dapat mengeja beberapa kata, menjelang akhir hayat beliau saw. Gambaran tentang perlakuan bangsa Yahudi yang dianggap biasa terhadap bangsa “Ummi” ini dijelaskan dalam ayat suci Al Qur’an berikut:
    وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَاْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖۤ اِلَيْكَ‌ۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَاْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖۤ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَآٮِٕمًا‌ؕ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِىْ الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ
    “Dan, di antara para Ahli-kitab ada orang yang jika engkau mengamanatkan kepadanya setumpuk harta, niscaya akan dikembalikannya kepada engkau; dan, di antara mereka ada pula orang yang jika engkau mengamanatkan kepadanya satu dinar, tidak akan dikembalikannya kepada engkau, kecuali jika engkau tetap berdiri menagih atasnya. Hal demikian itu disebabkan mereka berkata, ‘Tak ada tuntutan atas kami mengenai orang-orang ‘ummi’*)’, Dan mereka berkata dusta terhadap Allah pada hal mereka mengetahui” (QS Ali Imran: 76).

    *) Di zaman Raulullah saw, pikiran itu telah memasyarakat di kalangan kaum Yahudi bahwa tidak berdosa merampok harta dan kekayaan orang Arab (non–Yahudi), karena mereka menganut agama yang palsu. Mungkin gagasan itu berasal dari hukum bunga uang dalam agama Yahudi yang membuat perbedaan menyolok antara orang Yahudi dan non-Yahudi, berkenaan dengan pemberian dan penerimaan bunga (Bible, Keluaran 22:25; Lewi 25:36, 37 & Ulangan 23:20).

    وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ‌ؕ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ‏
    “Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (QS Al Jumu’ah: 4).

    Penjelasan:
    Ajaran Rasulullah saw ditujukan bukan hanya kepada bangsa Arab saja, yang di tengah bangsa itulah Rasulullah saw dibangkitkan, tetapi juga kepada seluruh bangsa-bangsa bukan-Arab. Ajaran Islam juga bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah saw, tetapi juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat. Ayat ini dapat juga berarti bahwa Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya pada kaum lain dari antara umat Islam yang belum pernah bergabung dengan para pengikut Rasulullah saw semasa hidup beliau saw. Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wa-akharina” (ada wau athaf sebelum kata “akharina”) dan semua perawi hadits sepakat bahwa kata “akharina” harus di athafkan kepada “ummiyyina”, sehingga di dalam Tafsir Fatahul Bayan dikatakan begini:”Apalagi menurut ilmu nahwu, bahwa walaupun bagaimana kita menta’wilkan atau menafsirkan, kita juga harus meng-athaf-kan kata “akharina” kepada “ummiyyina”, dan kemudian kita lihat bahwa disini ada lafaz “ba’atsa”, dan “ba’atsa” itu fi’il mutaaddi yang berkehendak kepada maf’ul, yaitu Rasulullah saw. Jadi susunan kalimat dalam ayat ini secara nahwu adalah:”Allah membangkitkan di tengah-tengah kaum ‘ummiyyina’ seorang rasul, Muhammad saw, dari antara mereka, dan Allah akan membangkitkan pula seorang rasul di tengah-tengah kaum “akharina” dari antara mereka.” Isyarat di dalam ayat ini terdapat di dalam hadits masyhur yang menunjukan kepada kebangkitan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw dalam wujud Imam Mahdi/Masih Mau’ud as di akhir zaman. Abu Hurairah ra meriwayatkan:”Pada suatu hari, kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, ketika Surah Al Jumu’ah diturunkan. Saya bertanya kepada Rasulullah saw: ”Siapakah yang diisyaratkan dalam kalimat – Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka? -, Salman Al Farisi (Salman orang Parsi/Persia) ra sedang duduk diantara kami. Setelah saya mengajukan ulang pertanyaan itu sebanyak tiga kali, barulah Rasulullah saw bereaksi, dan sambil meletakkan tangan beliau saw pada Salman ra, Rasulullah saw bersabda:”Bila iman telah terbang ke Bintang Tsurayya, seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari antara mereka ini pasti akan menemukannya” (HR Bukhari). Semua perawi hadits seperti Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasai’ dan Ibnu Jarir bahkan kaum Syi’ah pun sepakat bahwa hadits ini benar. Hadits Rasulullah saw ini menunjukan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadits lain menyebutkan bahwa kedatangan Al Masih akan terjadi pada saat “ketika tidak tertinggal pada Al Qur’an kecuali kata-katanya, dan tidak tertinggal pada Islam kecuali namanya” yang berarti bahwa “ketika ruh ajaran Islam yang sejati sedang menghilang” (HR Baihaqi). Jadi, Al Qur’an dan kedua hadits tersebut sepakat bahwa ayat ini menunjukan kepada kedatangan Rasulullah saw untuk yang kedua kalinya dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as. Di dalam hadits tersebut terdapat kata “seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia”. Bahwa “seorang lelaki” mengisyaratkan kepada pangkat “Imam Mahdi” (Pemimpin Ruhani yang mendapat petunjuk Ilahi) yang Allah anugerahkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, sedangkan “beberapa orang lelaki” mengisyaratkan kepada para penerus beliau as atau Khalifatul Masih mulai dari yang ke-II hingga yang sekarang ke-V yang merupakan keturunan bangsa Persia. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra yang juga disebut Muslih Mau’ud (Pembaharu yang dijanjikan) ra, di dalam suatu Khutbah Jum’at beliau pernah bersabda:”aku adalah Mahdi dan Khalifatul Masih II.” Kata mahdi berkonotasi orang yang mendapat petunjuk Ilahi dan memberi petunjuk, dan para Khalifatul Masih, selain mendapat petunjuk Ilahi juga menjadi Imam yang memberi petunjuk kepada anggota Jemaat Islam Ahmadiyah, jadi para Khalifatul Masih juga berkonotasi imam mahdi, tetapi bukan dalam kepangkatan seperti yang dianugerahkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as. Kata imam mahdi (dalam bentuk jamak) terdapat juga di dalam Al Qur’an:
    وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِىْ بٰرَكْنَا فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ‏
    وَوَهَبْنَا لَهٗۤ اِسْحٰقَؕ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً‌ ؕ وَّكُلاًّ جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ‏
    وَجَعَلْنٰهُمْ اَٮِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَآءَ الزَّكٰوةِ‌ۚ وَكَانُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ ۙ‌ۚ‏
    “Dan, telah Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati di dalamnya untuk seluruh umat manusia. Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan seorang cucu, Ya’kub, dan semua, Kami jadikan orang-orang shaleh. Dan Kami jadikan mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka untuk berbuat kebaikan-kebaikan, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS Al Anbiya 72-74).
    Kata “aai’matayyahduuna” adalah bentuk jamak dari kata “imam mahdi”. Jadi nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Ishak as dan Nabi Ya’kub as juga disebut oleh Allah Ta’ala sebagaI imam mahdi di dalam ayat ini.

    ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ‌ؕ وَاللّٰهُ ذُوْ الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ‏
    “Inilah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Jumu’ah: 5)

    Penjelasan:
    Ayat ini mengacu pada karunia Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang bernasib baik yang di antara mereka Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya dalam wujud salah seorang pengikut beliau saw, Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud /Imam Mahdi) as. Dan, kalau Allah Ta’ala sudah berkehendak, Allah katakan jadi maka jadilah.

    مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوْا التَّوْرٰٮةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا‌ؕ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِىْ الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ‏
    “Misal orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah semisal keledai yang memikul kitab-kitab. Sangatlah buruk misal kaum yang mendustakan Tanda-Tanda Allah. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya” (QS Al Jumu’ah: 6)

    Kata-kata Penting:
    “Asfaara” (buku-buku) adalah bentuk jamak/plural dari kata “sifrun” yang berasal dari kata “safaara”. Menurut Kamus Bahasa Arab-Inggris Lexicon Lane, “safaara” berarti “sebuah buku”, “sebuah buku besar” atau “sebuah karya tulis”.

    Penjelasan:
    Ayat ini mengisyaratkan suatu peringatan untuk umat Islam agar tidak menolak Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud / Imam Mahdi) as sebagaimana kaum/orang-orang sebelum mereka yaitu bangsa Yahudi yang menolak Nabi Isa (Al Masih) as dan Nabi Muhammad saw, yang untuk itu Rasulullah saw memerintahkan:”Kalau kalian melihatnya (Imam Mahdi as), maka bai’at-lah kalian kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju, karena dia adalah Khalifatullah, Al Mahdi” (HR Ibnu Majah, Kitabul Fitan). Hadits ini sangat serasi dengan firman Allah Ta’ala:
    وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِ‌ؕ
    “Dan, tidak Kami utus seorang rasul melainkan supaya ia dita’ati*) dengan izin Allah” (QS An-Nisa 65)
    *) Kadangkala dicoba menarik kesimpulan dari kata-kata ini bahwa sungguhpun seorang nabi harus dita’ati oleh kaumnya yang kepada mereka beliau menyampaikan amanatnya, tapi beliau sendiri tidak menampakkan kesetiaan kepada nabi lain. Ini jelas satu kesimpulan yang keliru. Kenyataan bahwa seorang nabi Allah harus dita’ati oleh orang-orang lain, tidak menghalangi kemungkinan bagi dirinya sendiri tunduk kepada dan menjadi pengikut nabi lain. Harus as itu seorang nabi yang ikut kepada Musa as (QS Thaha: 94).

    Uraian ini adalah kutipan yang dielaborasi dari sebagian kecil Tafsir Surah Al Jumu’ah yang dibuat oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muslih Mau’ud) ra, Khalifatul Masih II, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional (Short & Five Volumes Commentary to The Holy Qur’an). Semoga bermanfaat bagi muslimin Indonesia terutama yang berfitrah baik agar mendapat Hidayah dan Taufik dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya untuk bai’at. Wassalam.

  19. Mentok sampai segitu saja pak. Sia-sia hanya berteori tanpa memberikan tata bahasa arabnya ayat ini meskipun memberikan ayat pendukung sekalipun yang tidak bisa mematahkan penjelasan nahwu shorof di blog ini. Katanya Ahmadiyah mengajarkan nahwu shorof, balagah. mana buktinya? Nahwu shorof yang begitu simpel saja, koq ga bisa dijawab. 😀
    Koq masih kalah dengan penjelasan tata bahasa arab pada blog ini 😀

    “Dan, tidak Kami utus seorang rasul melainkan supaya ia dita’ati*) dengan izin Allah” (QS An-Nisa 65)
    *) Kadangkala dicoba menarik kesimpulan dari kata-kata ini bahwa sungguhpun seorang nabi harus dita’ati oleh kaumnya yang kepada mereka beliau menyampaikan amanatnya, tapi beliau sendiri tidak menampakkan kesetiaan kepada nabi lain. Ini jelas satu kesimpulan yang keliru. Kenyataan bahwa seorang nabi Allah harus dita’ati oleh orang-orang lain, tidak menghalangi kemungkinan bagi dirinya sendiri tunduk kepada dan menjadi pengikut nabi lain. Harus as itu seorang nabi yang ikut kepada Musa as (QS Thaha: 94).

    Uraian ini adalah kutipan yang dielaborasi dari sebagian kecil Tafsir Surah Al Jumu’ah yang dibuat oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Muslih Mau’ud) ra, Khalifatul Masih II, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional (Short & Five Volumes Commentary to The Holy Qur’an). Semoga bermanfaat bagi muslimin Indonesia terutama yang berfitrah baik agar mendapat Hidayah dan Taufik dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya untuk bai’at. Wassalam.

    Jangan GE ER dulu. Ayat tidak diperuntukkan Nabi Palsu seperti Ghulam Ahmad. Ayat ini hanya diperuntukkan Rasul yang benar-benar diutus oleh Allah. Nabi yang diutus syaiton seperti Ghulam Ahmad koq ditaati. Sorry aja ya

  20. Bung Admin, saya memberi saran untuk melampirkan bukti buku da’watul amir ini dari ahmadiyah di awal tulisan blog ini

  21. Maaf Bung Admin, buktinya dibawah:

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

  22. Ayat ini mengisyaratkan suatu peringatan untuk umat Islam agar tidak menolak Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud / Imam Mahdi) as sebagaimana kaum/orang-orang sebelum mereka yaitu bangsa Yahudi yang menolak Nabi Isa (Al Masih) as dan Nabi Muhammad saw, yang untuk itu Rasulullah saw memerintahkan:”Kalau kalian melihatnya (Imam Mahdi as), maka bai’at-lah kalian kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju, karena dia adalah Khalifatullah, Al Mahdi” (HR Ibnu Majah, Kitabul Fitan).

    Masih saja mengutip hadits munkar 😀
    Hadits yang sudah basi masih saja diulang-ulang. Ditanyakan Ayat yang membenarkan Allah memiliki khalifah saja langsung terdiam seribu bahasa. Itupun mentok hanya pada Isa Bani Israil dan Imam Mahdi… echaaa dechh 😀
    Sama juga “doktrin makan tuan” yang kesekian kali karena pendakwaan ghulam Ahmad pendakwaan ghulam Ahmad lebih dari itu 😀 Tulisannya mengskak mat Nabinya sendiri 😀

    Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.(QS. 62:4)

    Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa diutusnya Rasul kepada manusia, untuk membersihkan mereka dari kemusyrikan dan sifat-sifat kebiadaban, adalah merupakan nikmat besar dan karunia dari Allah SWT yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dari hamba-hamba-Nya yang telah dipilih-Nya, karena kebersihan hati mereka dan kesediaan menerimanya.

    Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.(QS. 62:5)

    Pada ayat ini Allah SWT menyatakan kemurkaan-Nya kepada orang-orang Yahudi yang telah diturunkan kepada mereka kitab Taurat untuk diamalkan, tetapi mereka tidak melaksanakan isinya. Mereka itu tidak ada bedanya dengan keledai yang memikul kitab yang banyak tetapi tidak mengetahui apa yang dipikulnya itu. Bahkan mereka lebih bodoh lagi dari keledai, karena keledai itu memang tidak mempunyai akal untuk memahaminya sedangkan mereka itu mempunyai akal tetapi tidak dipergunakan; apalagi akalnya itu dipergunakan untuk menyelewengkan Taurat dengan mengurangi, menambah atau merubahnya atau menakwilkannya kepada arti yang mereka inginkan. Keadaan mereka itu digambarkan pula oleh Allah dalam ayat ini, sebagai berikut:

    أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هو الغافلون
    Artinya:
    Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S Al A’raf: 179)
    Alangkah buruknya perumpamaan yang diberikan kepada mereka. itu tidak lain, karena mereka itu mendustakan ayat-ayat Allah yang dibawa oleh Rasul mereka. Allah SWT tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim terhadap dirinya sendiri, yang bergelimang dosa sehingga matanya tidak dapat melihat cahaya kebenaran; hatinya merana tidak dapat merasakan hal-hal yang benar, bahkan dia berada dalam kegelapan yang menyebabkannya tidak dapat melihat jalan sampai kepada sasaran.

  23. Bung Admin, saya memberi saran untuk melampirkan bukti buku da’watul amir ini dari ahmadiyah di awal tulisan blog ini

    Maaf Bung Admin, buktinya dibawah:

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Permintaan Saudara sdh Sy kabulkan.

  24. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    SAYA BELUM MELIHAT IMAM, HARI & NETRAL (PAKAR NAHWU & SOROF) MENJAWAB PENJELASAN DIBAWAH.
    MUNGKIN KALAU HANYA MENGANDALKAN ILMU NAHWU & SOROF SAJA TIDAK CUKUP, KARENA DI DALAMNYA TERKANDUNG KHAZANAH ILMU ILAHI YANG BISA DIAKSES DENGAN “YU’MINUUNA BIL GHAIB” (BERIMAN KEPADA YANG GHAIB):

    “Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (QS Al Jumu’ah: 4).

    Penjelasan:
    Ajaran Rasulullah saw ditujukan bukan hanya kepada bangsa Arab saja, yang di tengah bangsa itulah Rasulullah saw dibangkitkan, tetapi juga kepada seluruh bangsa-bangsa bukan-Arab. Ajaran Islam juga bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah saw, tetapi juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat. Ayat ini dapat juga berarti bahwa Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya pada kaum lain dari antara umat Islam yang belum pernah bergabung dengan para pengikut Rasulullah saw semasa hidup beliau saw. Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wa-akharina” (ada wau athaf sebelum kata “akharina”) dan semua perawi hadits sepakat bahwa kata “akharina” harus di athafkan kepada “ummiyyina”, sehingga di dalam Tafsir Fatahul Bayan dikatakan begini:”Apalagi menurut ilmu nahwu, bahwa walaupun bagaimana kita menta’wilkan atau menafsirkan, kita juga harus meng-athaf-kan kata “akharina” kepada “ummiyyina”, dan kemudian kita lihat bahwa disini ada lafaz “ba’atsa”, dan “ba’atsa” itu fi’il mutaaddi yang berkehendak kepada maf’ul, yaitu Rasulullah saw. Jadi susunan kalimat dalam ayat ini secara nahwu adalah:”Allah membangkitkan di tengah-tengah kaum ‘ummiyyina’ seorang rasul, Muhammad saw, dari antara mereka, dan Allah akan membangkitkan pula seorang rasul di tengah-tengah kaum “akharina” dari antara mereka.” Isyarat di dalam ayat ini terdapat di dalam hadits masyhur yang menunjukan kepada kebangkitan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw dalam wujud Imam Mahdi/Masih Mau’ud as di akhir zaman. Abu Hurairah ra meriwayatkan:”Pada suatu hari, kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, ketika Surah Al Jumu’ah diturunkan. Saya bertanya kepada Rasulullah saw: ”Siapakah yang diisyaratkan dalam kalimat – Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka? -, Salman Al Farisi (Salman orang Parsi/Persia) ra sedang duduk diantara kami. Setelah saya mengajukan ulang pertanyaan itu sebanyak tiga kali, barulah Rasulullah saw bereaksi, dan sambil meletakkan tangan beliau saw pada Salman ra, Rasulullah saw bersabda:”Bila iman telah terbang ke Bintang Tsurayya, seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari antara mereka ini pasti akan menemukannya” (HR Bukhari). Semua perawi hadits seperti Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasai’ dan Ibnu Jarir bahkan kaum Syi’ah pun sepakat bahwa hadits ini benar. Hadits Rasulullah saw ini menunjukan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadits lain menyebutkan bahwa kedatangan Al Masih akan terjadi pada saat “ketika tidak tertinggal pada Al Qur’an kecuali kata-katanya, dan tidak tertinggal pada Islam kecuali namanya” yang berarti bahwa “ketika ruh ajaran Islam yang sejati sedang menghilang” (HR Baihaqi). Jadi, Al Qur’an dan kedua hadits tersebut sepakat bahwa ayat ini menunjukan kepada kedatangan Rasulullah saw untuk yang kedua kalinya dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as. Di dalam hadits tersebut terdapat kata “seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia”. Bahwa “seorang lelaki” mengisyaratkan kepada pangkat “Imam Mahdi” (Pemimpin Ruhani yang mendapat petunjuk Ilahi) yang Allah anugerahkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, sedangkan “beberapa orang lelaki” mengisyaratkan kepada para penerus beliau as atau Khalifatul Masih mulai dari yang ke-II hingga yang sekarang ke-V yang merupakan keturunan bangsa Persia. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra yang juga disebut Muslih Mau’ud (Pembaharu yang dijanjikan) ra, di dalam suatu Khutbah Jum’at beliau pernah bersabda:”aku adalah Mahdi dan Khalifatul Masih II.” Kata mahdi berkonotasi orang yang mendapat petunjuk Ilahi dan memberi petunjuk, dan para Khalifatul Masih, selain mendapat petunjuk Ilahi juga menjadi Imam yang memberi petunjuk kepada anggota Jemaat Islam Ahmadiyah, jadi para Khalifatul Masih juga berkonotasi imam mahdi, tetapi bukan dalam kepangkatan seperti yang dianugerahkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as. Kata imam mahdi (dalam bentuk jamak) terdapat juga di dalam Al Qur’an:
    وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِىْ بٰرَكْنَا فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ‏
    وَوَهَبْنَا لَهٗۤ اِسْحٰقَؕ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً‌ ؕ وَّكُلاًّ جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ‏
    وَجَعَلْنٰهُمْ اَٮِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَآءَ الزَّكٰوةِ‌ۚ وَكَانُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ ۙ‌ۚ‏
    “Dan, telah Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati di dalamnya untuk seluruh umat manusia. Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan seorang cucu, Ya’kub, dan semua, Kami jadikan orang-orang shaleh. Dan Kami jadikan mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka untuk berbuat kebaikan-kebaikan, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS Al Anbiya 72-74).
    Kata “aai’matayyahduuna” adalah bentuk jamak dari kata “imam mahdi”. Jadi nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Ishak as dan Nabi Ya’kub as juga disebut oleh Allah Ta’ala sebagaI imam mahdi di dalam ayat ini.

    ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ‌ؕ وَاللّٰهُ ذُوْ الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ‏
    “Inilah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Jumu’ah: 5)

    Penjelasan:
    Ayat ini mengacu pada karunia Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang bernasib baik yang di antara mereka Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya dalam wujud salah seorang pengikut beliau saw, Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud /Imam Mahdi) as. Dan, kalau Allah Ta’ala sudah berkehendak, Allah katakan jadi maka jadilah.
    Wassalam,

  25. Assalamu’alaikum,
    SAYA BELUM MELIHAT IMAM, HARI & NETRAL (PAKAR NAHWU & SOROF) MENJAWAB PENJELASAN DIBAWAH.
    MUNGKIN KALAU HANYA MENGANDALKAN ILMU NAHWU & SOROF SAJA TIDAK CUKUP, KARENA DI DALAMNYA TERKANDUNG KHAZANAH ILMU ILAHI YANG BISA DIAKSES DENGAN “YU’MINUUNA BIL GHAIB” (BERIMAN KEPADA YANG GHAIB):

    Rahasia ghaib dari syaitan khan 😀
    sudah jelas-jelas penjelasan nahwu shorofnya di awal blog 😀

    “Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (QS Al Jumu’ah: 4).

    Penjelasan:
    Ajaran Rasulullah saw ditujukan bukan hanya kepada bangsa Arab saja, yang di tengah bangsa itulah Rasulullah saw dibangkitkan, tetapi juga kepada seluruh bangsa-bangsa bukan-Arab. Ajaran Islam juga bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah saw, tetapi juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat. Ayat ini dapat juga berarti bahwa Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya pada kaum lain dari antara umat Islam yang belum pernah bergabung dengan para pengikut Rasulullah saw semasa hidup beliau saw. Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wa-akharina” (ada wau athaf sebelum kata “akharina”) dan semua perawi hadits sepakat bahwa kata “akharina” harus di athafkan kepada “ummiyyina”, sehingga di dalam Tafsir Fatahul Bayan dikatakan begini:”Apalagi menurut ilmu nahwu, bahwa walaupun bagaimana kita menta’wilkan atau menafsirkan, kita juga harus meng-athaf-kan kata “akharina” kepada “ummiyyina”, dan kemudian kita lihat bahwa disini ada lafaz “ba’atsa”, dan “ba’atsa” itu fi’il mutaaddi yang berkehendak kepada maf’ul, yaitu Rasulullah saw. Jadi susunan kalimat dalam ayat ini secara nahwu adalah:”Allah membangkitkan di tengah-tengah kaum ‘ummiyyina’ seorang rasul, Muhammad saw, dari antara mereka, dan Allah akan membangkitkan pula seorang rasul di tengah-tengah kaum “akharina” dari antara mereka.” Isyarat di dalam ayat ini terdapat di dalam hadits masyhur yang menunjukan kepada kebangkitan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw dalam wujud Imam Mahdi/Masih Mau’ud as di akhir zaman. Abu Hurairah ra meriwayatkan:”Pada suatu hari, kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, ketika Surah Al Jumu’ah diturunkan. Saya bertanya kepada Rasulullah saw: ”Siapakah yang diisyaratkan dalam kalimat – Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka? -, Salman Al Farisi (Salman orang Parsi/Persia) ra sedang duduk diantara kami. Setelah saya mengajukan ulang pertanyaan itu sebanyak tiga kali, barulah Rasulullah saw bereaksi, dan sambil meletakkan tangan beliau saw pada Salman ra, Rasulullah saw bersabda:”Bila iman telah terbang ke Bintang Tsurayya, seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari antara mereka ini pasti akan menemukannya” (HR Bukhari). Semua perawi hadits seperti Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasai’ dan Ibnu Jarir bahkan kaum Syi’ah pun sepakat bahwa hadits ini benar. Hadits Rasulullah saw ini menunjukan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan bangsa Parsi/Persia. Hadits lain menyebutkan bahwa kedatangan Al Masih akan terjadi pada saat “ketika tidak tertinggal pada Al Qur’an kecuali kata-katanya, dan tidak tertinggal pada Islam kecuali namanya” yang berarti bahwa “ketika ruh ajaran Islam yang sejati sedang menghilang” (HR Baihaqi). Jadi, Al Qur’an dan kedua hadits tersebut sepakat bahwa ayat ini menunjukan kepada kedatangan Rasulullah saw untuk yang kedua kalinya dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as. Di dalam hadits tersebut terdapat kata “seorang lelaki atau beberapa orang lelaki dari keturunan bangsa Parsi/Persia”. Bahwa “seorang lelaki” mengisyaratkan kepada pangkat “Imam Mahdi” (Pemimpin Ruhani yang mendapat petunjuk Ilahi) yang Allah anugerahkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, sedangkan “beberapa orang lelaki” mengisyaratkan kepada para penerus beliau as atau Khalifatul Masih mulai dari yang ke-II hingga yang sekarang ke-V yang merupakan keturunan bangsa Persia. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra yang juga disebut Muslih Mau’ud (Pembaharu yang dijanjikan) ra, di dalam suatu Khutbah Jum’at beliau pernah bersabda:”aku adalah Mahdi dan Khalifatul Masih II.” Kata mahdi berkonotasi orang yang mendapat petunjuk Ilahi dan memberi petunjuk, dan para Khalifatul Masih, selain mendapat petunjuk Ilahi juga menjadi Imam yang memberi petunjuk kepada anggota Jemaat Islam Ahmadiyah, jadi para Khalifatul Masih juga berkonotasi imam mahdi, tetapi bukan dalam kepangkatan seperti yang dianugerahkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as. Kata imam mahdi (dalam bentuk jamak) terdapat juga di dalam Al Qur’an:

    وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِىْ بٰرَكْنَا فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ‏
    وَوَهَبْنَا لَهٗۤ اِسْحٰقَؕ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً‌ ؕ وَّكُلاًّ جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ‏
    وَجَعَلْنٰهُمْ اَٮِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَآءَ الزَّكٰوةِ‌ۚ وَكَانُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ ۙ‌ۚ‏
    “Dan, telah Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati di dalamnya untuk seluruh umat manusia. Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan seorang cucu, Ya’kub, dan semua, Kami jadikan orang-orang shaleh. Dan Kami jadikan mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka untuk berbuat kebaikan-kebaikan, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS Al Anbiya 72-74).
    Kata “aai’matayyahduuna” adalah bentuk jamak dari kata “imam mahdi”. Jadi nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Ishak as dan Nabi Ya’kub as juga disebut oleh Allah Ta’ala sebagaI imam mahdi di dalam ayat ini.

    ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ‌ؕ وَاللّٰهُ ذُوْ الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ‏
    “Inilah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Jumu’ah: 5)

    Penjelasan:
    Ayat ini mengacu pada karunia Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang bernasib baik yang di antara mereka Rasulullah saw akan dibangkitkan untuk yang kedua kalinya dalam wujud salah seorang pengikut beliau saw, Al Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud /Imam Mahdi) as. Dan, kalau Allah Ta’ala sudah berkehendak, Allah katakan jadi maka jadilah.
    Wassalam,

    Waduh setelah Imam Mahdi dan Isa as kemudian kedatangan Rasulullah SAW yang kedua kalinya… Makin Ga nyambung saja. Jadi kesimpulan berdasarkan yang Anda tulis Mahdi dan Isa adalah Rasulullah SAW 😀
    Jadi Isa nanti memiliki sifat2 seperti Rasulullah SAW. Coba dech sebutkan sifat2 Isa dan Rasulllah. Monggo dijawab 😀
    Haditsnya saja menyebut “seseorang atau beberapa”
    Juga di buku ahmadiyah lainnya disebut BANGSA PERSIA dan bukan keturunan persia. Bahkan saya sudah memberikan referensi KITAB BUKHARI kepada Anda. Tidak menyebutkan keturunan tuch 😀
    Yang lebih lucunya Anda termasuk Ahmadiyah bermain-main dengan kalimat “JIKA” yang merupakan sesuatu yang belum pasti. Belum pasti saja sudah GE ER Duluan. Jadi modal Ahmadiyah cuma GE ER doang 😀

    Katakanlah, Jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (QS.43:81)

    Jika pengertian “JIKA” sesuai dengan yang Anda kutip berarti Tuhan mempunyai Anak dong. Na’udzubillahi min dzalik…

    ”Apalagi menurut ilmu nahwu, bahwa walaupun bagaimana kita menta’wilkan atau menafsirkan, kita juga harus meng-athaf-kan kata “akharina” kepada “ummiyyina”, dan kemudian kita lihat bahwa disini ada lafaz “ba’atsa”, dan “ba’atsa” itu fi’il mutaaddi yang berkehendak kepada maf’ul, yaitu Rasulullah saw.

    haaa…haaaa…betul-betul menggelikan bahwa ba’atsa adalah fi’il muta’addi. Coba periksa dech wazan dari muta’addi 😀
    Sudah jelas-jelas ba’atsa adalah fi’il madhi. Wajar dech jawabannya ngaco karena menimba ilmu dari orang yang ngaco juga 😀
    Jadi wazannya fi’il muta’addi itu apa pak?

  26. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.(QS. 21:71)

    Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT melengkapkan rahmat-Nya kepada Ibrahim as. Allah SWT telah menyelamatkannya dari kobaran api. Dalam sejarah diterangkan bahwa Allah SWT telah menyelamatkannya dari kejahatan penduduk kota Ur di Mesopotamia Selatan, yaitu negeri asalnya, lalu ia hijrah ke negeri Harram, kemudian ke Palestina di daerah Syam.
    Dalam ayat ini disebutkan bahwa negeri Syam itu adalah negeri yang telah diberi Allah keberkatan yang banyak untuk semua manusia. Maksudnya ialah negeri tersebut amat subur, banyak air dan tumbuh-tumbuhannya, sehingga memberikan banyak manfaat bagi penduduknya. Selain itu, negeri tersebut juga merupakan tempat lahir dari banyak Nabi-nabi yang membawa sinar petunjuk bagi umat manusia. Juga Baitulmakdis terletak di Palestina yang termasuk daerah Syam itu, adalah kiblat pertama bagi umat Islam.
    Dalam ayat ini juga diterangkan bahwa Nabi Lut juga berhijrah bersama-sama ke negeri Syam itu. Menurut keterangan sejarah Nabi Lut adalah anak saudara lelaki Ibrahim as.

    Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yaqub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.(QS. 21:72)

    Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada Ibrahim as sebagai tambahan atas nikmat-Nya yang telah lalu, yaitu bahwa Allah telah menganugerahkannya dua orang putra, yaitu Ishak dan Yakub, artinya Ishak, sebagai anak kandung Ibrahim, sedang Yakub adalah putra dari Ishak, jadi sebagai cucu Ibrahim. Di samping itu Ibrahim juga mempunyai seorang putra lainnya, yaitu Ismail, dari Siti Hajar. Dan Allah SWT telah menjadikan kesemuanya, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub sebagai orang-orang yang saleh.

    Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,(QS. 21:73)

    Allah SWT menyebutkan dalam ayat ini tambahan karunia-Nya kepada Ibrahim, selain karunia yang telah diterangkan pada ayat yang lalu, yaitu bahwa keturunan Ibrahim itu tidak hanya merupakan orang-orang yang saleh, bahkan juga menjadi imam atau pemimpin umat yang mengajak orang untuk menerima dan melaksanakan agama Allah, dan mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan bermanfaat, berdasarkan perintah dan izin Allah.
    Nabi Ibrahim as, yang diberi gelar “Khalilullah” (teman akrab Tuhan) juga merupakan bapak dari beberapa Nabi karena banyak di antara Nabi-nabi yang datang sesudahnya adalah dari keturunannya, sampai dengan Nabi dan Rasul yang terakhir, yaitu Muhammad termasuk cucu-cucu Ibrahim as melalui Nabi Ismail.
    Karena beberapa di antara keturunan Ibrahim itu dipilih Allah menjadi Nabi-Nya, maka mereka memperoleh wahyu Allah yang berisi ajaran-ajaran dan petunjuk ke arah bermacam-macam kebaikan, terutama menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
    Di samping itu Allah SWT juga mewahyukan kepada mereka agar mendirikan salat dan membayarkan zakat. Kedua macam ibadah ini disebutkan Allah secara khusus, sebab ibadah salat memiliki keistimewaan sebagai ibadah jasmaniah yang amat mulia, sedang zakat mempunyai keistimewaan sebagai ibadah harta yang paling utama, lebih-lebih bila diingat bahwa harta benda sangat penting kedudukannya dalam kehidupan manusia.
    Kedua macam ibadah ini, walaupun harus dilengkapi dengan ibadah-ibadat lainnya, namun ia telah mencerminkan dua sifat utama pada diri manusia yaitu: taat kepada Allah, dan kasih sayang kepada sesama manusia. Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim itu adalah orang-orang yang beribadat kepada Allah semata-mata dengan penuh rasa khusyuk dan tawadu’.

  27. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Netral menulis:
    Rahasia ghaib dari syaitan khan :

    SUBHANALLAH ASTAGHFIRULLAH inikah umat Yang Mulia Nabi Besar Muhammad (Khataman-Nabiyyin) saw?

    Netral menulis:
    Waduh setelah Imam Mahdi dan Isa as kemudian kedatangan Rasulullah SAW yang kedua kalinya… Makin Ga nyambung saja. Jadi kesimpulan berdasarkan yang Anda tulis Mahdi dan Isa adalah Rasulullah SAW :
    Jadi Isa nanti memiliki sifat2 seperti Rasulullah SAW. Coba dech sebutkan sifat2 Isa dan Rasulllah. Monggo dijawab :
    Haditsnya saja menyebut “seseorang atau beberapa”
    Juga di buku ahmadiyah lainnya disebut BANGSA PERSIA dan bukan keturunan persia. Bahkan saya sudah memberikan referensi KITAB BUKHARI kepada Anda. Tidak menyebutkan keturunan tuch :
    Yang lebih lucunya Anda termasuk Ahmadiyah bermain-main dengan kalimat “JIKA” yang merupakan sesuatu yang belum pasti. Belum pasti saja sudah GE ER Duluan. Jadi modal Ahmadiyah cuma GE ER doang:

    MENGENAI KESAMAAN SIFAT IMAM MAHDI AS DAN ISA AL MASIH AS AKAN SAYA JAWAB DI SURAT AZ-ZUKHRUF BIAR ADA KONTEKSNYA. TETAPI MASALAH BANGSA / KETURUNAN AKAN DIFAHAMI KALAU ANDA BERIMAN KEPADA YANG GHAIB, DISINI HARUS DIBACA “SUKU”.

    MENGENAI SURAT AL AMBIYA YANG SAYA RUJUK TIDAK USAH DIBAHAS PANJANG-PANJANG KARENA INTINYA KEPADA NABI-NABI TERDAHULU ALLAH JUGA MENYEBUT IMAM-IMAM MAHDI. JADI IMAM MAHDI = KATA LAIN DARI NABI/RASUL = KHALIFATULLAH, KECUALI KHALIFATUL MASIH, WALAUPUN SECARA FUNGSIONAL SEBAGAI IMAM MAHDI, TETAPI HANYA KHALIFATUNNABI / KHALIFATURRASUL SAJA.

    Wassalam.

  28. SUBHANALLAH ASTAGHFIRULLAH inikah umat Yang Mulia Nabi Besar Muhammad (Khataman-Nabiyyin) saw?

    hee…heee apa iya? Ghulam ahmad itu memangnya bukannya seorang pemimpin umat bagi Ahmadiyah? pangkatnya Nabi lagi. Apa ada Rasulullah SAW menyebut ada Nabi baru sesudah Rasulullah SAW ? tidak ada khan ? Apakah ada di Al-Qur’an yang bisa membenarkan pendakwaan ghulam Ahmad, tidak ada khan? jadi itu wahyu darimana lagi kalau bukan dari syaitan seperti banyak orang yang ngaku sebagai nabi. 😀

    MENGENAI KESAMAAN SIFAT IMAM MAHDI AS DAN ISA AL MASIH AS AKAN SAYA JAWAB DI SURAT AZ-ZUKHRUF BIAR ADA KONTEKSNYA. TETAPI MASALAH BANGSA / KETURUNAN AKAN DIFAHAMI KALAU ANDA BERIMAN KEPADA YANG GHAIB, DISINI HARUS DIBACA “SUKU”.

    MENGENAI SURAT AL AMBIYA YANG SAYA RUJUK TIDAK USAH DIBAHAS PANJANG-PANJANG KARENA INTINYA KEPADA NABI-NABI TERDAHULU ALLAH JUGA MENYEBUT IMAM-IMAM MAHDI. JADI IMAM MAHDI = KATA LAIN DARI NABI/RASUL = KHALIFATULLAH, KECUALI KHALIFATUL MASIH, WALAUPUN SECARA FUNGSIONAL SEBAGAI IMAM MAHDI, TETAPI HANYA KHALIFATUNNABI / KHALIFATURRASUL SAJA.

    Wassalam.

    hiii….hiiii sudah kepepet. Meskipun kamu cross cek dengan surat az-zukhruf tidak bakalan nyambung. Anbiya tuch ga ada nyebut soal mahdi bahkan khalifah Allah.
    ga ada juga tuch di Al-qur’an baik hadits menyebut mahdi di Al-Qur’an adalah KHALIFATUNNABI / . KHALIFATURRASUL SAJA. D
    Ya saya maklum lah dengan Ahmadiyah karena Istimewa sekali dalam mendustakan Ayat-ayat Allah 😀

  29. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,

    Netral menulis:
    Ghulam ahmad itu memangnya bukannya seorang pemimpin umat bagi Ahmadiyah? pangkatnya Nabi lagi. Apa ada Rasulullah SAW menyebut ada Nabi baru sesudah Rasulullah SAW ? tidak ada khan ? Apakah ada di Al-Qur’an yang bisa membenarkan pendakwaan ghulam Ahmad, tidak ada khan? jadi itu wahyu darimana lagi kalau bukan dari syaitan seperti banyak orang yang ngaku sebagai nabi.

    Sinar Galih menjawab:
    Ya memang benar, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad seorang pendiri dan memimpin Jemaat Ahmadiyah, dan pangkat beliau as adalah Imam Mahdi, Masih Mau’ud as, Nabi/Rasul Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil seperti yang beliau as akui di dalam bukunya yang berjumlah lebih dari 80 jilid, dan salah satunya Ek Galati Ka Izalah (Memperbaiki Kesalahan). Di dalam Al Qur’an (khusus-nya Al Jumu’ah 4 dan Az-Zukhruf 58) adalah sebagian dari bukti-bukti bahwa beliau as sebagai Imam Mahdi & Masih Mau’ud as. Sembilan ayat-ayat suci Al Qur’an yang Netral jawab secara out-of-context membuktikan bahwa Pintu Kenabian Ghairi Tasyri’i wa Ghairi Mustaqil Masih Terbuka Lebar bagi umat Islam termasuk Netral, dengan syarat ta’at kepada Allah & Rasul-Nya saw. Hanya orang-orang yang beriman kepada yang ghaib dan bersih hatinya saja yang memiliki akses untuk memahami hal in. Kalau mau tahu Ilmu Ghaib, belajar kepada orang-orang terdahulu seperti:
    (1) Abu Bakar Siddiq ra yang langsung bai’at kepada Rasulullah saw tanpa minta penjelasan terlebih dulu.
    (2) Sayyidina Bilal (orang Hitam yang tidak pandai nahwu dan sorof bahasa Arab).

    Tetapi jangan belajar kepada Abu Jahal atau Abu Thalib (yang bahasa Arab mereka termasuk nahwu sorof mereka lebih canggih dibandingkan dengan Netral) yang hingga ajal menjemput Abu Jahal tetap menentang, sedangkan Abu Thalib tidak mau bai’at. Padahal keduanya paman Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw.

    Kalau Allah Yang Maha Kuasa sudah memberi mandat kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as untuk mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi/Masih Mau’ud, Nabi Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil, Netral tidak usah panik dan sewot, takut dia dusta lalu mengatakan “wahyu dari syaitan”, Netral juga jangan dulu mendustakan, tetapi pelajari dulu dengan seksama sambil meminta pertolongan, perlindungan dan petunjuk dari Allah-ur-Rabbul-‘walamin wa Rahman-ir-Rahim, karena firman-Nya:”…Dan, sekiranya ia seorang pendusta, maka untuk dialah dosa atas kedustaannya itu, dan jika ia benar, maka akan ditimpakan kepadamu sebagian dari apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS Al Mu’min, 40:29).

    Netral menulis:
    Meskipun kamu cross cek dengan surat az-zukhruf tidak bakalan nyambung. Anbiya tuch ga ada nyebut soal mahdi bahkan khalifah Allah, ga ada juga tuch di Al-qur’an baik hadits menyebut mahdi di Al-Qur’an adalah KHALIFATUNNABI/KHALIFATURRASUL SAJA. D
    Ya saya maklum lah dengan Ahmadiyah karena Istimewa sekali dalam mendustakan Ayat-ayat Allah.

    Sinar Galih menjawab:
    Katanya jago bahasa Arab, bentuk jamak dari kata “mahdi” saja Netral tidak paham, apalagi dalam hadits-hadits (Sihah Sittah) tentang kedatangan Imam Mahdi & Nabi Isa as berkali-kali Rasulullah saw mengatakan Mahdi, Nabiyullah atau Khalifatullah (Netral pasti menjawab MANA BUKTINYA?) Kalau punya buku Kami Orang Islam, baca saja dengan teliti. Bukankah Netral sendiri mendustakan ayat-ayat Allah?

    Netral (Pakar Nahwu & Sorof Bahasa Arab) tidak tahu kata Khalifat-ur-Rasul atau Khalifat-un-Nabi? Kebangetan.
    Khalifah Rasyidah atau Khulafa-ur-Rasyiddin seperti Abu Bakar Siddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra adalah contoh Khalifat-un-Nabi atau Khalifat-ur-Rasul, coba deh lihat di Kamus arti kata Khalifah itu apa? Kalau sudah paham sudah akui saja, jangan seperti orang-orang Yahudi yang suka BERBANTAH-BANTAH (DEBAT KUSIR) ya nak. Wassalam.

  30. Ya memang benar, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad seorang pendiri dan memimpin Jemaat Ahmadiyah, dan pangkat beliau as adalah Imam Mahdi, Masih Mau’ud as, Nabi/Rasul Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil seperti yang beliau as akui di dalam bukunya yang berjumlah lebih dari 80 jilid, dan salah satunya Ek Galati Ka Izalah (Memperbaiki Kesalahan). Di dalam Al Qur’an (khusus-nya Al Jumu’ah 4 dan Az-Zukhruf 58) adalah sebagian dari bukti-bukti bahwa beliau as sebagai Imam Mahdi & Masih Mau’ud as. Sembilan ayat-ayat suci Al Qur’an yang Netral jawab secara out-of-context membuktikan bahwa Pintu Kenabian Ghairi Tasyri’i wa Ghairi Mustaqil Masih Terbuka Lebar bagi umat Islam termasuk Netral, dengan syarat ta’at kepada Allah & Rasul-Nya saw. Hanya orang-orang yang beriman kepada yang ghaib dan bersih hatinya saja yang memiliki akses untuk memahami hal in. Kalau mau tahu Ilmu Ghaib, belajar kepada orang-orang terdahulu seperti:
    (1) Abu Bakar Siddiq ra yang langsung bai’at kepada Rasulullah saw tanpa minta penjelasan terlebih dulu.
    (2) Sayyidina Bilal (orang Hitam yang tidak pandai nahwu dan sorof bahasa Arab).

    Tetapi jangan belajar kepada Abu Jahal atau Abu Thalib (yang bahasa Arab mereka termasuk nahwu sorof mereka lebih canggih dibandingkan dengan Netral) yang hingga ajal menjemput Abu Jahal tetap menentang, sedangkan Abu Thalib tidak mau bai’at. Padahal keduanya paman Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw.

    Kalau Allah Yang Maha Kuasa sudah memberi mandat kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as untuk mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi/Masih Mau’ud, Nabi Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil, Netral tidak usah panik dan sewot, takut dia dusta lalu mengatakan “wahyu dari syaitan”, Netral juga jangan dulu mendustakan, tetapi pelajari dulu dengan seksama sambil meminta pertolongan, perlindungan dan petunjuk dari Allah-ur-Rabbul-’walamin wa Rahman-ir-Rahim, karena firman-Nya:”…Dan, sekiranya ia seorang pendusta, maka untuk dialah dosa atas kedustaannya itu, dan jika ia benar, maka akan ditimpakan kepadamu sebagian dari apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS Al Mu’min, 40:29).

    Apapun pengakuannya sudah bertentangan dengan Al-Qur’an.
    Lihat lampiran buku-buku ahmadiyah di awal tulisan, apakah pendakwaan yang Anda tulis sesuai dengan tertulis di buku Ahmadiyah tsb 😀
    Gitu aja koq repot 😀

    Katanya jago bahasa Arab, bentuk jamak dari kata “mahdi” saja Netral tidak paham, apalagi dalam hadits-hadits (Sihah Sittah) tentang kedatangan Imam Mahdi & Nabi Isa as berkali-kali Rasulullah saw mengatakan Mahdi, Nabiyullah atau Khalifatullah (Netral pasti menjawab MANA BUKTINYA?) Kalau punya buku Kami Orang Islam, baca saja dengan teliti. Bukankah Netral sendiri mendustakan ayat-ayat Allah?

    Netral (Pakar Nahwu & Sorof Bahasa Arab) tidak tahu kata Khalifat-ur-Rasul atau Khalifat-un-Nabi? Kebangetan.
    Khalifah Rasyidah atau Khulafa-ur-Rasyiddin seperti Abu Bakar Siddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra adalah contoh Khalifat-un-Nabi atau Khalifat-ur-Rasul, coba deh lihat di Kamus arti kata Khalifah itu apa? Kalau sudah paham sudah akui saja, jangan seperti orang-orang Yahudi yang suka BERBANTAH-BANTAH (DEBAT KUSIR) ya nak. Wassalam.

    haaa….haaa ya itu-itu lagi. Saya sich sudah tahu soal tahu kata Khalifat-ur-Rasul atau Khalifat-un-Nabi? Yang menggelikan mana ada dalam Al-Qur’an disebutkan ttg Mahdi/isa adalah Khalifat-ur-Rasul atau Khalifat-un-Nabi? Nah justru yang disodorkan malah Khalifatullah 😀 Silahkan dech cari ayatnya 😀 Hadits munkar begituan masih dijadikan acuan. Tidak pernah ketemu ayat tentang khalifah Allah saja masih memberi hadits munkar begituan 😀 Para sahabat saja mana pernah mengatakan adanya Nabi baru sesudah Rasulullah SAW 😀

    Dalam bahasa Arab, kata Imam berarti “pemimpin”, sedangkan Mahdi berarti “orang yang mendapat petunjuk”.

    Secara harfiah al-Mahdi berarti “orang yang terbimbing dengan benar/orang yang terdidik dengan benar”. Dalam bentuknya yang kongkrit dan umum, al-Mahdi sebenarnya Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan Allah, serta mengikuti sunnatullrasul dengan taqwa. Jadi, apa yang disebut al-Mahdi secara umum sebenarnya adalah Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan-Nya sebagai Pewaris Pengetahuan Tauhid melalui washilah Nabi Muhammad SAW sebagai gurunya

    Kata al-Mahdi adalah ism maf’ul dari [kata-kata Arab] seperti: [kata-kata Arab]. Kata ini bisa berarti, Allah telah memberitahukan, menunjukkan atau menjelaskan jalan kepadanya. Dengan demikian, orang yang telah mendapat petunjuk itu disebut al-Mahdi. Dalam hubungan ini ada pula yang berpendapat bahwa sigat kata al-Mahdi itu adalah maf’ul (dalam bentuk mabni lil-majhul dari [kata-kata Arab] dan kata al-Mahdi berarti orang yang diberi petunjuk Allah. Hanya saja kata tersebut, dalam bentuknya seperti itu, bermakna fa’il, yakni orang yang terpilih untuk memberi petunjuk kepada manusia.

    Kesimpulan tentang AL Mahdi :
    1. Al Mahdi : adalah orang yang terbimbing/terdidik/mendapat petunjuk.
    2. AL Mahdi : Mengandung arti Umat (Jamak).
    3. Al Mahdi bisa siapa saja, tidak ada batasan personal.
    4. Suatu jamaah yang memilki sifat-sifat yang sesuai dengan AL Mahdi

    haa…haaa Jadi mana tuch ada ayat menyebut soal Mahdi ????? 😀
    Ga nyambung tuch apa yang Anda tulis dengan pendakwaan ghulam ahmad 😀
    Lihat lampiran buku-buku ahmadiyah di awal tulisan, apakah pendakwaan yang Anda tulis sesuai dengan tertulis di buku Ahmadiyah tsb 😀

  31. lihat diatas ya, sampai Ghulam Ahmad mengaku sebagai (Khalifatullah) Wakil Tuhan 😀 Naudzubillahi Min Dzalik
    Baca lampiran buku2 ahmadiyah (MENGHAPUS SUATU KESALAHPAHAMAN (Ek Ghalati Ka Izala)” 😀

    Jadi Ghulam Ahmad itu Khalifatullah (Wakil Tuhan)? 😀
    Kata Anda Khalifat-ur-Rasul atau Khalifat-un-Nabi? Kenyataannya Khalifatullah (Wakil Tuhan)? Koq masih saja mengumbar kebohongan?

  32. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,

    SAYA ULANGI YAH. kalau hanya mengandalkan Nahwu Sorof semata, tidak akan bisa memperoleh Khazanah Ilmu Ilahi. Bahkan dengan mengandalkan Nahwu Sorof membuat Netral takabur, sombong dan tinggi hati. Coba saja perhatikan, tulisan-tulisan Netral di blog ini, para pembaca juga tahu dan menilai bahwa tulisan-tulisan Netral itu penuh dengan ketakaburan, kesombongan dan ketinggian hati. Sama sekali tidak mencerminkan sebagai umat Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw, juga bertentangan dengan perintah Allah agar umat Islam selalu menjadi hamba-Allah sejati yang senantiasa merendahkan diri “Ibad-ur-Rahman” (QS Al Furqan: 64). Coba saja kesimpulan Syaikh tentang Bismillah sebagai ayat pertama saja sudah keliru, apalagi memahami ayat-ayat berikutnya. Syaikh atau Netral boleh saja pakar dalam Nahwu dan Sorof, tetapi bukan alasan untuk menjadi takabur, sombong dan tinggi-hati karena Allah dan Rasul-Nya tidak mengajarkan tidak mencontohkan hal itu, karena kesombongan itu dicontohkan oleh iblis ketika diperintahkan Allah untuk sujud kepada Allah bersama Adam, karena Adam adalah Nabi/Rasul/Khalifatullah.

    Begitu pula, dengan kedatangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, kita juga diperintahkan Allah untuk sujud kepada-Nya bersama Imam Mahdi/Masih Mau’ud karena beliau as adalah Nabi/Rasul/Khalifatullah.

    Ada lagi ayat-ayat suci Al Qur’an yang mengisyaratkan Pintu Kenabian/Kerasulan Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil Masih Terbuka:

    حٰمٓ (2) وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۛ (3) اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ‌ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ (4) فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ‏ (5) اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَا‌ؕ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ‌ (6) رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (7)ۙ‏
    “Tuhan Maha Terpuji, Maha Mulia (2), Demi Kitab Yang menjelaskan (3), Sesungguhnya, Kami menurunkannya dalam suatu malam yang diberkati; Sesungguhnya, Kami selalu memberi peringatan (4), Di dalamnya diputuskan semua perkara yang bijaksana (5), Dengan perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya, Kami selalu mengutus rasul-rasul (6), Suatu rahmat dari Tuhan engkau. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui (7). (QS Ad-Dukhan 44: 2-7)

    Ini adalah firman Allah Yang Maha Esa, Maha Terpuji, Maha Mulia, Maha Mendengar, Maha Mengetahui: “Dengan perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya, Kami selalu mengutus rasul-rasul”. Silahkan bantah dan dustakan deh oleh Netral dengan Nahwu Sorof kalau mau mengikuti iblis yang menolak Adam as zaman ini! Wassalam.

  33. Assalamu’alaikum,

    SAYA ULANGI YAH. kalau hanya mengandalkan Nahwu Sorof semata, tidak akan bisa memperoleh Khazanah Ilmu Ilahi. Bahkan dengan mengandalkan Nahwu Sorof membuat Netral takabur, sombong dan tinggi hati. Coba saja perhatikan, tulisan-tulisan Netral di blog ini, para pembaca juga tahu dan menilai bahwa tulisan-tulisan Netral itu penuh dengan ketakaburan, kesombongan dan ketinggian hati. Sama sekali tidak mencerminkan sebagai umat Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw, juga bertentangan dengan perintah Allah agar umat Islam selalu menjadi hamba-Allah sejati yang senantiasa merendahkan diri “Ibad-ur-Rahman” (QS Al Furqan: 64). Coba saja kesimpulan Syaikh tentang Bismillah sebagai ayat pertama saja sudah keliru, apalagi memahami ayat-ayat berikutnya. Syaikh atau Netral boleh saja pakar dalam Nahwu dan Sorof, tetapi bukan alasan untuk menjadi takabur, sombong dan tinggi-hati karena Allah dan Rasul-Nya tidak mengajarkan tidak mencontohkan hal itu, karena kesombongan itu dicontohkan oleh iblis ketika diperintahkan Allah untuk sujud kepada Allah bersama Adam, karena Adam adalah Nabi/Rasul/Khalifatullah.

    Lucu Ahmadiyah dalam prakteknya mengikuti non Ahmadi 😀
    Jadi tafsir orang-orang terdahulu itu basmalah pada ayat yang keberapa? Gitu aja koq repot. silahkan saja anda cari.

    Begitu pula, dengan kedatangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, kita juga diperintahkan Allah untuk sujud kepada-Nya bersama Imam Mahdi/Masih Mau’ud karena beliau as adalah Nabi/Rasul/Khalifatullah.

    ckckckckc MGA itu khalifatullah/wakil tuhan ya….. Allah itu punya wakil? ckckkckckc….Naudzubillahi min dzalik. Lebih percaya manusia daripada Allah….ckckckkckcck kasihan banget nich orang sampai MGA seperti dipertuhankan pengikutnya karena pengakuannya dianggap pasti benar tanpa di check and recheck dengan Al-Qur’an

    Ada lagi ayat-ayat suci Al Qur’an yang mengisyaratkan Pintu Kenabian/Kerasulan Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil Masih Terbuka:

    حٰمٓ (2) وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۛ (3) اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ‌ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ (4) فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ‏ (5) اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَا‌ؕ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ‌ (6) رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (7)ۙ‏
    “Tuhan Maha Terpuji, Maha Mulia (2), Demi Kitab Yang menjelaskan (3), Sesungguhnya, Kami menurunkannya dalam suatu malam yang diberkati; Sesungguhnya, Kami selalu memberi peringatan (4), Di dalamnya diputuskan semua perkara yang bijaksana (5), Dengan perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya, Kami selalu mengutus rasul-rasul (6), Suatu rahmat dari Tuhan engkau. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui (7). (QS Ad-Dukhan 44: 2-7)

    Ini adalah firman Allah Yang Maha Esa, Maha Terpuji, Maha Mulia, Maha Mendengar, Maha Mengetahui: “Dengan perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya, Kami selalu mengutus rasul-rasul”. Silahkan bantah dan dustakan deh oleh Netral dengan Nahwu Sorof kalau mau mengikuti iblis yang menolak Adam as zaman ini! Wassalam.

    haaa…haaa pakai nahwu shorof. Memangnya kamu sudah mengulas ayat ini dengan nahwu shorof. Ditanyain wazan fi’il Muta’addi saja ga tau….capeee dech. Maklum jawaban Fi’il Muta’addi itu memang jawaban doktrin Ahmadiyah. 😀
    Sampai Arti al-qur’an ayat 6 versi ahmadiyah saja didustakan pengertiannya… ckckkckckc
    Ini berikan ayat itu yang benar artinya:

    Demi Kitab (al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.(QS. 44:2-3)

    Allah SWT yang Maha Kuasa menjelaskan bahwa Dia telah menurunkan Alquran pada suatu malam yang penuh berkah yaitu malam yang dikenal dengan sebutan “Lailatu1kadar”, malam yang lebih baik dari seribu bulan sebagaimana firman Allah SWT:

    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)
    Artinya:
    Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Q.S. Al Qadar: 1-3)
    Peristiwa turunnya Alquran itu terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana firman Allah SWT:

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
    Artinya:
    Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran. (Q.S. Al Baqarah: 185)
    Ayat 3 ini ditutup dengan penjelasan bahwa Allah SWT menurunkan Alquran untuk memberi tahukan kepada manusia tentang hal-hal yang bermanfaat untuk diamalkan dan hal-hal yang akan mencelakakan mereka, supaya mereka menjauhinya, untuk menjadi hujah bagi Allah atas hamba Nya.

    Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,(QS. 44:4)
    Allah SWT menerangkan bahwa pada malam tersebut yaitu “Lailatulkadar” itulah, dijelaskan segala perkara. yang berhubungan dengan kehidupan makhluk hidup, mati, rezeki, nasib baik, nasib buruk dan sebagainya. Semuanya itu merupakan ketentuan dari Allah SWT yang penuh hikmah sesuai dengan kebijaksanaan Nya. Ayat 5 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah SWT telah mengutus Rasul Nya kepada manusia dari golongan mereka sendiri, membersihkan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka Alkitab, Alhikmah; agar menjadi hujah bagi Allah atas hamba Nya dan menjadi alasan untuk menghukum mereka apabila mereka itu berbuat dosa, menentang Rasul yang diutus kepada mereka, menolak petunjuk yang dibawa oleh Rasul itu dari Allah SWT dan tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah dan tidak menerima siksaan Allah itu, sebagaimana firman Nya:

    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
    Artinya:
    Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul (Q.S. Al Isra’: 15)
    Dan firman Nya:

    رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
    Artinya:
    (Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu.

    (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul,(QS. 44:5)

    Allah SWT menerangkan bahwa pada malam tersebut yaitu “Lailatulkadar” itulah, dijelaskan segala perkara. yang berhubungan dengan kehidupan makhluk hidup, mati, rezeki, nasib baik, nasib buruk dan sebagainya. Semuanya itu merupakan ketentuan dari Allah SWT yang penuh hikmah sesuai dengan kebijaksanaan Nya. Ayat 5 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah SWT telah mengutus Rasul Nya kepada manusia dari golongan mereka sendiri, membersihkan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka Alkitab, Alhikmah; agar menjadi hujah bagi Allah atas hamba Nya dan menjadi alasan untuk menghukum mereka apabila mereka itu berbuat dosa, menentang Rasul yang diutus kepada mereka, menolak petunjuk yang dibawa oleh Rasul itu dari Allah SWT dan tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah dan tidak menerima siksaan Allah itu, sebagaimana firman Nya:

    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
    Artinya:
    Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul (Q.S. Al Isra’: 15)
    Dan firman Nya:

    رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
    Artinya:
    (Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu.

    sebagai rahmat dari Rabbmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,(QS. 44:6)

    Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa hikmah dan latar belakang pengutusan Rasul itu merupakan satu rahmat dari pada Nya bagi alam semesta sebagaimana firman Nya:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107)
    Artinya:
    Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiya: 107)
    Sebagian dari ahli tafsir, berpendapat bahwa rahmat itu adalah latar belakang diturunkan Nya Alquran, karena dengan mengikuti isi dan petunjuk Alquran, manusia dapat mengatur dengan baik urusan dunia dan akhirat Nya, memperbaiki cara hidupnya sehingga nampaklah pada mereka itu berkat hidup dalam masyarakat mereka. Firman Allah SWT:

    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا (82)
    Artinya:
    Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al Isra’: 82)
    Allah SWT itu Maha Mendengar, mendengar semua yang dikatakan manusia. Maha Mengetahui segala hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi mereka.

    hahahahhaaa….mana ada ayat tersebut menyebut kedatangan Rasul/Nabi,. baca tuch ayat ke 5 arti yang sebenarnya.
    Baca dech lampiran buku-buku Ahmadiyah diatas, koq tidak sesuai dengan pendakwaan ghulam Ahmad. Bahkan sudah dibantah pula oleh buku Ahmadiyah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir 😀

  34. Untuk Sdr.Sinar Galih

    Ada topik ttg Ahmadiyah sangat menarik yang mungkin Sdr bisa menjawabnya pada topik yang dimuat di link dibawah:

    http://addariny.wordpress.com/2009/07/09/sejarah-keramat-sang-mirza-ghulam-ahmad/

    http://addariny.wordpress.com/2009/06/19/tadzkiroh-dan-akidah-yang-dikandungnya/

  35. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,

    Bani menulis:
    Untuk Sdr.Sinar Galih

    Ada topik ttg Ahmadiyah sangat menarik yang mungkin Sdr bisa menjawabnya pada topik yang dimuat di link dibawah:

    http://addariny.wordpress.com/2009/07/09/sejarah-keramat-sang-mirza-ghulam-ahmad/

    http://addariny.wordpress.com/2009/06/19/tadzkiroh-dan-akidah-yang-dikandungnya/

    Sinar Galih merespon:
    Kalau ingin melihat kebenaran harus dari sumbernya yang benar bukan dari orang-orang yang membenci kebenaran. Contohnya, saya ingin tahu Curriculu Vitae Bani, tapi saya nanya kepada orang yang membenci Bani. Apa yang akan terjadi? Pasti informasi tentang Bani yang keliru bukan. Coba Bani browse websire resmi Jemaat Ahmadiyah ini:
    http://www.alislam.org/

    Wassalam.

  36. QUOTE BANI:

    Ada topik ttg Ahmadiyah sangat menarik yang mungkin Sdr bisa menjawabnya pada topik yang dimuat di link dibawah:

    http://addariny.wordpress.com/2009/07/09/sejarah-keramat-sang-mirza-ghulam-ahmad/

    http://addariny.wordpress.com/2009/06/19/tadzkiroh-dan-akidah-yang-dikandungnya/

    Topik yang bagus sekali Pak. Bani……Terima Kasih infonya.
    Paling mentok tadzkirah yang disodori disitu dibilang palsu 😀

    Kalau ingin melihat kebenaran harus dari sumbernya yang benar bukan dari orang-orang yang membenci kebenaran. Contohnya, saya ingin tahu Curriculu Vitae Bani, tapi saya nanya kepada orang yang membenci Bani. Apa yang akan terjadi? Pasti informasi tentang Bani yang keliru bukan. Coba Bani browse websire resmi Jemaat Ahmadiyah ini:
    http://www.alislam.org/

    Diajak di blog lain saja sudah keder…. Apa tidak menguasai ttg Tadzkirah? Apa malu kedok MGA sebagai nabi palsu terbongkar oleh isi tadzkirah tersebut ? bilang saja kalau takut DIPERMALUKAN 😀 Gitu aja koq repot. Nanti jkalau mentok juga bilangnya palsu. Buktikan saja dulu apakah tadzkirah itu palsu atau tidak? 😀
    Orang begini cuma gertak sambal saja Pak Bani 😀

  37. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Netral menulis:
    Diajak di blog lain saja sudah keder…. Apa tidak menguasai ttg Tadzkirah? Apa malu kedok MGA sebagai nabi palsu terbongkar oleh isi tadzkirah tersebut ? bilang saja kalau takut DIPERMALUKAN : Gitu aja koq repot. Nanti jkalau mentok juga bilangnya palsu. Buktikan saja dulu apakah tadzkirah itu palsu atau tidak? :
    Orang begini cuma gertak sambal saja Pak Bani

    Sinar Galih merespon:
    Beginikah ungkapan orang yang mengaku umat Islam yang ta’at kepada Allah & Rasul-Nya? Tolong, jangan mempermalukan Rasulullah saw, karena terlalu banyak orang-orang yang mengaku Islam tetapi tindakan dan ucapannya tidak mengikuti Uswatun Hasanah Rasulullah saw. Bahkan banyak umat Islam yang melakukan Bom Bunuh Diri dan jadi Teroris yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama apapun termasuk Islam, akibatnya ada ISLAMPHOBIA dan ada Gereja yang berencana membakar Al Qur’an pada 11 September. Saya khawatir blog ini dibaca oleh non-Islam, lalu berkomentar “Kok sesama Islam diskusinya kaya gini yah”.
    Wassalam.

  38. Beginikah ungkapan orang yang mengaku umat Islam yang ta’at kepada Allah & Rasul-Nya? Tolong, jangan mempermalukan Rasulullah saw, karena terlalu banyak orang-orang yang mengaku Islam tetapi tindakan dan ucapannya tidak mengikuti Uswatun Hasanah Rasulullah saw. Bahkan banyak umat Islam yang melakukan Bom Bunuh Diri dan jadi Teroris yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama apapun termasuk Islam, akibatnya ada ISLAMPHOBIA dan ada Gereja yang berencana membakar Al Qur’an pada 11 September. Saya khawatir blog ini dibaca oleh non-Islam, lalu berkomentar “Kok sesama Islam diskusinya kaya gini yah”.
    Wassalam.

    Wa alaikum salam
    Ga nyambung alasannya. Bilang saja tidak menguasai tadzkirah dan takut sesatnya wahyu MGA terbongkar . 😀
    Nyali koq langsung ciut gitu diundang diskusi oleh Pak.Bani. Bilang saja MALU gitu loh 😀
    wassalam

  39. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.islam.cn/Chinese.htm mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

  40. Kesimpulan hasil diskusi dengan pihak Ahmadi:

    1. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti berupa Al-Qur’an maupun hadits bahwa Ghulam Ahmad adalah Manusia seperti Isa, Muhammad, Krisna, Masiodarbahmi, budha, dll. Bukti pendakwaan ghulam Ahmad bisa dilihat di buku ahmadiyah “Menjawab seruan Ahmadiyah”.

    2. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti bahwa ada lagi Nabi baru sesudah Nabi Muhammad SAW baik di Al-Qur’an maupun hadits.

    3. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti di Al-Qur’an bahwa Ghulam Ahmad adalah khalifatullah/wakil tuhan menurut pengakuan Ghulam Ahmad di bukunya “Menghapus Suatu Kesalahpahaman(Ek Ghalati Ka Izala)”. Pengakuan khalifatullah/wakil tuhan adalah pengakuan orang yang sesat karena Allah tidak memiliki Wakil. Para Nabi sampai Nabi terakhir Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah mengaku dirinya adalah Wakil Tuhan.

    4. Pihak Ahmadi memberikan argumen yang lemah dalam membantah penjelasan dari pihak non ahmadi terutama dalam mengartikan khaatama Annabiyyin dengan Cincin/Meterai/Stempel Para Nabi karena para sahabat tidak pernah mengartikan khaatama Annabiyin dengan Cincin Para Nabi tetapi penutup para Nabi. Para sahabat adalah sebaik-baik generasi yang tidak bisa dibandingkan dengan Mirza Ghulam Ahmad yang sesat. Pengertian Penutup Para Nabi dikuatkan oleh ayat-ayat Al-Qu’ran diantaranya Surat Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65. Bahkan Bangsa Arab maupun non Ahmadi tidak mengenal Rasulullah SAW sebagai Cincin para Nabi karena Rasulullah SAW bukanlah sebuah Cincin/Materai/Stempel karena Cincin yang dipergunakan Rasulullah hanya sebagai alat untuk mengecap surat-suratnya.

    5. Ajaran Ahmadiyah telah dipatahkan oleh tulisan Nabi dan khalifah Ahmadiyah di dalam buku Da’watul Amir

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Pada kalimat tersebut tidak tertulis sedikitpun ada kata syariat. Apabila dalam kata tersebut terdapat kata syariat berarti Nabi Ahmad yang akan datang akan membawa syariat dan ini akan bertentangan dengan pengakuan MGA bahwa dirinya adalah Nabi yang tidak membawa syariat. DOKTRIN MAKAN TUAN 😀

  41. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.ahmadiyya.no/ mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

    Wa alaikumus salam Wr Wb

    Mohon Maaf lahir dan batin

    Wassalam

  42. @ saudara seiman insan, sebelumnya salam kenal. Blog anda sangat informatif untuk meluruskan aqidah umat dari kesesatan ahmadiyah..
    Mohon tanggapan saudara kalimat dibawah ini tentang Al Jumu’ah:3 dari pihak ahmadiyah. Karena anda pintar tata bahasa arab. Mohon kiranya berbagi ilmu dengan al faqir

    “Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wa-akharina” (ada wau athaf sebelum kata “akharina”) dan semua perawi hadits sepakat bahwa kata “akharina” harus di athafkan kepada “ummiyyina”, sehingga di dalam Tafsir Fath-ul-Bayan dikatakan begini:”Apalagi menurut ilmu nahwu, bahwa walaupun bagaimana kita menta’wilkan atau menafsirkan, kita juga harus meng-athaf-kan kata “akharina” kepada “ummiyyina”, dan kemudian kita lihat bahwa disini ada lafaz “ba’atsa”, dan “ba’atsa” itu fi’il muta’addi yang berkehendak kepada maf’ul, yaitu Rasulullah saw. Jadi susunan kalimat dalam ayat ini secara nahwu adalah:”Allah membangkitkan di tengah-tengah kaum ‘ummiyyina’ seorang rasul, Muhammad saw, dari antara mereka, dan Allah akan membangkitkan pula seorang rasul di tengah-tengah kaum “akharina” dari antara mereka.” Isyarat di dalam ayat ini terdapat di dalam hadits masyhur yang menunjukan kepada kebangkitan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw (The Second Advent of The Holy Prophet of Islam pbuh) dalam wujud Imam Mahdi/Masih Mau’ud as di akhir zaman.”

    Allah yubarik fika

  43. Ass Wr Wb

    saya bantu sedikit Pak.Insan

    Buat Sdr.Bintang
    Semua tulisan sudah dijelaskan oleh Pak.Insan dengan sejelas-jelasnya. Memang kata Wau disitu adalah huruf athaf dan ahmadiyah berpendapat sama ttg hal ini. Untuk melihat ba’tasa adalah fi’il madhi atau fi’il muta’addi, kita harus tahu wazannya terlebih dahulu. saya setuju pendapat dari pak Insan bahwa ba’atsa adalah fi’il madhi karena ba’atsa berwazan fa’ala. Hal yang salah jika ba’atsa adalah fi’il muta’addi karena jika ba’atsa adalah fi’il muta’addi pasti ada huruf tasydid pada huruf “ain”.(screenshootnya sudah ditampilan Pak.Insan).

    1. Contoh dari wau athaf:

    1. Bintang pergi bertamasya ke jakarta dan bogor.

    Contoh ini kalau dijabarkan:
    Bintang pergi bertamasya ke jakarta dan Bintang pergi bertamasya ke bogor.

    2.Ini berbeda dengan contoh dibawah ini (Contoh bukan wau athaf):

    2. Bintang pergi bertamasya ke jakarta dan Amir pergi bertamasya ke bogor.

    Contoh ini kalau dijabarkan:
    1.Bintang pergi bertamasya ke jakarta
    2 Amir pergi bertamasya ke bogor.

    Ada dua pribadi yang berbeda dalam contoh ini.

    Jika penafsiran Al-Jumu’ah tersebut disesuaikan dengan kedua contoh tersebut tentunya penafsiran ahmadiyah memiliki pola yang sama dengan contoh yang Kedua yaitu:

    Bintang pergi bertamasya ke jakarta dan Amir pergi bertamasya ke bogor.

    Karena Ahmadiyah berpendapat dalam surat Al-Jumu’ah tersebut akan datang Nabi Lain Setelah Nabi Muhammad Berdasarkan Surat Al-Jumu’ah yang ditafsirkan dengan salah oleh Ahmadiyah karena yang Menafsirkan dari pihak ahmadiyah kemungkinan tidak mengerti tata bahasa arab ayat tersebut.

    Sedangkan surat Al-jumuah tsb memiliki pola kalimat yang berbeda dengan contoh kedua. Tetapi memiliki pola kalimat seperti contoh pertama.

    Jika penafsiran Al-Jumu’ah tsb mengikuti penafsiran ahmadiyah berarti huruf wau tersebut bukanlah wau athaf tetapi kata sambung biasa. Jadi pendapat ahmadiyah sangat bertentangan dengan pendapatnya sendiri bahwa huruf wau tersebut adalah wau athaf dan memberikan penjelasan mereka tidak sesuai dengan wau athaf. Jika ahmadiyah berpendapat wau athaf, seharusnya penafsirannya mengikuti pola kalimat seperti contoh No.1.

    ”Allah membangkitkan di tengah-tengah kaum ‘ummiyyina’ seorang rasul, Muhammad saw, dari antara mereka, dan Allah akan membangkitkan pula seorang rasul di tengah-tengah kaum “akharina” dari antara mereka.” Isyarat di dalam ayat ini terdapat di dalam hadits masyhur yang menunjukan kepada kebangkitan untuk yang kedua kalinya Rasulullah saw (The Second Advent of The Holy Prophet of Islam pbuh) dalam wujud Imam Mahdi/Masih Mau’ud as di akhir zaman.”

    Inilah dustanya ahmadiyah….
    Tidak mungkin kata ba’atasa diartikan “AKAN MEMBANGKITKAN” tetapi “ TELAH MEMBANGKITKAN. Jika ba’atsa diartikan “AKAN MEMBANGKITKAN” berarti ini bukan fi’il muta’addi akan tetapi fi’il mudhari. Karena fi’il mudhari menggunakan kata “AKAN”. Fi’il mudhari sendiri memiliki wazan yaf’ulu dan berbeda jauh dengan ba’atsa yang berwazan fa’ala. Sedangkan Fi’il muta’addi tidak menggunakan kata “AKAN”.
    Jadi penjelasannya tidak ada seorang rasul baru lagi yang diutus kepada kaum akharin tetapi Rasulullah SAW ah yang diutus kepada kaum akharin karena adanya Wau Athaf yang otomatis mengikuti Rasul pada ayat sebelumnya yaitu Rasulullah SAW. Tidak ada isyarat sedikitpun yang menunjukkan kedatangan mahdi ataupun Isa bin maryam menggunakan ayat ini. Ini hanya bentuk kedustaan yang dilakukan oleh ahmadiyah sehingga orang yang tidak mengerti nahwu shorof menerima penafsiran ahmadiyah.
    Cobalah anda pikir, Mungkinkah ada suatu aliran yang mengklaim bahwa aliran mereka adalah aliran yang benar tetapi menggunakan cara-cara yang bertentangan dgn Al-Qur’an dgn mendustakan ayat-ayat Allah? Tidak mungkin lah. Aliran yang benar pasti tidak sedikitpun mendustakan ayat ayat Allah. Jangan pula percaya kepada ahmadi-ahmadi yang mengklaim bahwa mereka mengerti ttg nahwu shorof. Kalau mereka tahu dan mengerti nahwu shorof, pasti mereka akan keluar dari ahmadiyah.

    Semoga penjelasan ini bisa bermanfaat buat anda.

    Wassalam

  44. Alaikumsalam,

    Terima kasih banyak pak hari,
    jazzakallah

  45. Alaikumsalam,
    Terima kasih banyak pak hari,
    jazzakallah

    Wa alaikumussalam

    Sama-sama Sdr.Bintang

    Wassalam

  46. Assalamualaikum…

    @ sdr hari, ihsan,

    Masih ada yang mengganggu saya mengenai perbedaan atau persamaan nabi dan rasul, karena dari kecil saya diajarkan bahwa nabi dapat wahyu tetapi tidak wajib menyampaikan sedangkan rasul wajib menyampaikan. Setelah saya baca beberapa pendapat, ada yang menarik, misalnya:
    1. Setiap nabi adalah rasul dan seorang manusia
    2. Setiap rasul belum tentu nabi, karena Allah menyebut Malaikat, Jin, dan manusia sebagai rasul
    3. Mengapa dalam al ahzab:40 ditulis khatamaan nabiyyin bukan khatamaan rasuulun?

    Apakah di blog ini atau ada rujukan lain yang bisa saya pelajari?

    mudah-mudahan saudara berkenan menjawab pertanyaan saya..

    Allah yuwaffiq ila ahsani thoriq
    amin

  47. assalamualaikum…

    Menurut saya Tentang ahmadiyah ini…

    Cukup hanya dengan mengucapkan Dua KALIMAT SYAHADAT dan meresapi arti DAN maknanya. Maka anda akan mengakui KESESATAN ahmadiyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: