Tafsir An Nisaa'(4):69

0568Oleh: AD

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS.4:69)

Sebab turunnya ayat ini menurut riwayat At Tabari dan Ibnu Mardawaih dari ‘Aisyah ra. “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw dan berkata: “Ya Rasulullah sesungguhnya saya lebih mencintaimu dari diri saya dan anak saya. Apabila saya berada di rumah, saya selalu teringat padamu: sehingga saya tidak sabar dan terus datang untuk melihatmu. Dan apabila saya teringat tentang kematian saya dan kematianmu, maka tahulah (sadarlah) saya. bahwa engkau apabila masuk surga berada di tempat yang tinggi bersama-sama para Nabi, sedang saya apabila masuk surga, saya takut tidak akan melihatmu lagi. Mendengar itu Rasulullah diam tidak menjawab, dan kemudian turunlah ayat ini”.
Pada ayat ini Allah mengajak dan mendorong setiap orang, supaya taat kepada Nya dan kepada Rasul Nya dengan menjanjikan secara pasti. akan membalas ketaatan dengan pahala yang sangat besar, yaitu bukan saja sekadar masuk surga, tetapi akan ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan, yaitu Nabi-nabi, para siddiqin, para syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang yang saleh.
Berdasarkan ayat ini para ahli tafsir secara garis besarnya membagi orang-orang yang memperoleh anugerah Allah yang paling besar di dalam surga kepada empat macam yaitu:
1. Para Rasul dan Nabi-nabi, yaitu mereka yang menerima wahyu dari Allah SWT.
2. Para siddiqin, yaitu orang-orang yang teguh keimanannya kepada kebenaran Nabi dan Rasul.
3. Para syuhada dibagi pula urutannya sebagai berikut:
a. Orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah dan mati terbunuh di dalam peperangan melawan orang-orang kafir
b. Orang-orang yang menghabiskan usianya berjuang di jalan Allah dengan harta; dan dengan segala macam jalan yang dapat dilaksanakannya.
c. Orang-orang beriman yang mati ditimpa musibah yang mendadak atau teraniaya, seperti mati bersalin, tenggelam di lautan, terbunuh dengan aniaya. Bagian (a) disebut syahid dunia dan akhirat yang lebih tinggi pahalanya dari bagian (b) dan (c) yang keduanya hanya dinamakan syahid akhirat. Dan ada satu bagian lagi yang disebut namanya syahid dunia, yaitu orang-orang yang mati berperang melawan kafir, hanya untuk mencari keuntungan duniawi, seperti untuk mendapatkan harta rampasan, untuk mencari nama dan sebagainya. Syahid yang serupa ini tidak dimasukkan pembagian syahid di atas, karena syahid dunia tersebut tidak termaksud sama sekali dalam kedua ayat ini.
4. Orang-orang saleh, yaitu orang-orang yang selalu berbuat amal baik yang bermanfaat untuk umum, termasuk dirinya dan keluarganya baik untuk kebahagiaan hidup duniawi maupun untuk kebahagiaan hidup ukhrawi yang sesuai dengan ajaran Allah.
Orang-orang yang benar-benar taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang tersebut dalam ayat ini akan dapat masuk surga dan ditempatkan bersama-sama dengan semua golongan yang empat itu.

Thabrani dan Ibnu Murdawaih mengetengahkan dengan sanad yang tak ada jeleknya dari Aisyah, katanya, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu katanya, ‘Wahai Rasulullah! Anda lebih saya cintai dari diri saya, dan lebih saya kasihi dari anak saya. Mungkin suatu saat saya sedang berada di rumah, lalu teringat kepada Anda, maka hati saya tak sabar hingga saya datang dan sempat melihat wajah Anda. Dan jika saya ingat akan kematian saya dan kematian Anda, saya pun maklum bahwa tempat Anda ditinggikan bersama para nabi, saya khawatir jika saya masuk surga tidak akan sempat melihat Anda lagi.’ Nabi saw. tidak menjawab sedikit pun hingga turunlah Jibril membawa ayat ini, ‘Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan kepada rasul…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 69) Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Masruq, bahwa para sahabat Nabi saw. mengatakan, “Wahai Rasulullah! Tidak sepatutnya kami berpisah dengan Anda, karena sekiranya Anda wafat, maka Anda akan dinaikkan di atas kami hingga kami tidak sempat melihat Anda lagi. Maka Allah pun menurunkan, ‘Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 69) Dan diriwayatkan dari Ikrimah, katanya, “Seorang anak muda datang kepada Nabi saw. lalu katanya, ‘Wahai Nabi Allah! Di dunia ini sesekali kami dapat juga melihat Anda, tetapi di hari kiamat kami tak dapat melihat Anda lagi karena Anda berada dalam surga pada tingkat yang tinggi.’ Maka Allah pun menurunkan ayat ini. Lalu sabda Rasulullah saw. kepadanya, ‘Kamu insya Allah berada bersama saya di dalam surga.'” Ibnu Jarir mengetengahkan pula yang sama dengan itu dari mursal Said bin Jubair, Masruq, Rabi’, Qatadah dan As-Saddiy.

Anggapan yg salah:
Ada yg beranggapan bahwa ayat ini adalah dalil yang menunjukan adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan anggapan mereka jika ayat ini tidak menunjukkan adanya nabi berarti tidak ada kesempatan pula untuk kaum muhammad akan menjadi syuhada, sidiq, syahid, shaleh.

BANTAHAN:
Pertama:
Bagaimana mereka mereka mengartikan ayat-ayat dibawah ini:

Al-Baqarah ayat 153:
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.

Surat An Nahl ayat 128:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”

Surat Al Anfaal ayat 46:
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.

Apakah itu mau kita pahami “Allah” itu menjadi orang-orang yang bertaqwa?

Apakah itu mau kita pahami “Allah” itu termasuk orang-orang yang bertaqwa?

Apakah itu mau kita pahami “Orang-orang yang sabar” itu menjadiAllah?
Apakah itu mau kita pahami “Orang-orang yang sabar” itu termasuk Allah?

Coba kita pikirkan dengan seksama, “bersama-sama” tentulah tidak bisa diartikan berarti “menjadi” atau “termasuk”.
Apakah mau anda pahami bahwa jika saya (laki-laki) sedang “bersama-sama” dengan ibu-ibu apakah mau dipahami “saya (laki-laki)” itu berubah menjadi “ibu-ibu”? atau “termasuk ibu-ibu”? tentulah tidak demikian adanya.

Maha Suci Allah, tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya.

Kedua:
“Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul- Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka (syuhada’)….”(Al-Hadid:18-19)

Juga dalam firman Allah,
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh”. (Al-Ankabut: 9)

Dalam ayat itu Allah tidak menyebutkan “para nabi” karena kenabian adalah sesuatu yang tidak bisa diusahakan atau diupayakan. Jika tidak, maka tidak hanya Ghulam Ahmad saja yang menjadi nabi, tetapi masing-masing orang yang mengikuti Allah dan Rasul-Nya akan menjadi nabi tanpa pengkhususan.

Apabila setiap orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi/termasuk seorang nabi, tentunya para sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang akan menjadi nabi karena belum dan tidak akan ada seorang lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang mulia dari mereka. Urutan setelah mereka dalam ketinggian ketaatan adalah para Tabi’in lalu para pengikut mereka. Namun demikian tak seorangpun dari mereka yang mengklaim bahwa diri mereka adalah telah menjadi Nabi. Sebagaimana tak seorangpun dari para imam bahwa mereka telah menjadi nabi. Dengan demikian Allah menyebutkan orang-orang mukmin yang hakiki dengan gelar ash-shiddiqin, Asy-syuhada dan Ash-shalihin dalam firmannya.

Ketiga:

“Seorang pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada” (At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ad-Daruquthni dan At-Tibrizi)

Apakah arti hadits ini pedagang yang jujur dan terpercaya menjadi nabi? Berapa banyak orang dari kalangan para pedagang yang telah menjadi nabi dengan cara jujur dan amanah?

Keempat:
Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS.4:69)
Siapakah yang dimaksud “teman yang sebaik-baiknya”, jika “Ma’a” itu diartikan “Menjadi” & “Termasuk”? Mungkinkah yang dimaksud “teman yang sebaik-baiknya” itu adalah Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh jika kata “Ma’a” diartikan “Menjadi” atau “Termasuk”? Jelas tidak mungkin!
Bisakah anda yang berkeyakinan adanya nabi baru berdasarkan ayat ini bisa menjawabnya?

Iklan

10 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum,

    “Pada ayat ini Allah mengajak dan mendorong setiap orang, supaya taat kepada Nya dan kepada Rasul Nya dengan menjanjikan secara pasti. akan membalas ketaatan dengan pahala yang sangat besar, yaitu bukan saja sekadar masuk surga, tetapi akan ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan, yaitu Nabi-nabi, para siddiqin, para syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang yang saleh.”

    Saya akan setuju kalau kata-kata diatas ada sedikit perubahan sebagai berikut:

    “Pada ayat ini Allah mengajak dan mendorong setiap orang, supaya taat kepada Nya dan kepada Rasul Nya dengan menjanjikan secara pasti. akan membalas ketaatan dengan pahala yang sangat besar, yaitu bukan saja sekadar masuk surga, tetapi akan ditempatkan sebagai orang-orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan, yaitu nabi-nabi, para siddiqin, para syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang yang saleh.” Inilah Syirathal Mustaqim atau Jalan Lurus itu.

    Hal ini saya sarankan karena kalau hanya “bersama-sama”, akan berarti tidak jadi nabi-nabi, tidak jadi shiddiq-shiddiq, tidak jadi syahid-syahid dan tidak jadi shaleh-shaleh, dan dengan sendirinya tidak akan masuk surga pula.

    Contoh: Saya pergi ke pasar bersama-sama dengan camat-camat yang ada di Kabupaten Sukabumi yang akan melakukan operasi pasar pada bulan Ramadhan ini. Apakah saya termasuk seorang camat? Tentu tidak.

    Bukan umat Islam sudah memiliki orang-orang shiddiq seperti Abu Bakar Shiddiq ra dan Khulafa-ur-Rasyiddin yang lainnya? sudah ribuan bahkan jutaan para syuhada dan shalihin? Mengapa nabi-nabi yang ta’at kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah saw dikecualikan? Apakah kita tidak malu dibandingkan dengan Bani Israil/Yahudi yang kepada mereka Allah Ta’ala pernah menganugerahkan ribuan nabi/rasul? Padahal scope mereka hanya kaum Bani Israil / Yahudi saja, sedang Rasulullah saw scope-nya lebih luas yaitu untuk seluruh umat manusia.
    Wassalam.

  2. Jawaban Anda masih kalah jauh tuch dengan jawaban yang ada diblog ini. Ayat ini memang tidak mengindikasikan Adanya nabi lagi sesudah Rasulullah. Hanya orang2 yang sesat saja yang menggunakan ayat ini sebagai datangnya nabi lagi sesudah Nabi Muhammad meskipun jawaban orang yang sesat tsb tidak nyambung sama sekali dengan arti ayat ini maupun asbaabun nuzul ayat ini. Jadi masih belum bisa membuktikan pendakwaan Ghulam Ahmad 😀

    Percuma dech….khan sudah dinafikan kedatangan nabi lagi oleh Nabi Anda sendiri :

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Jadi Apapun bukti yang Anda berikan, sudah dipatahkan oleh Nabi Anda sendiri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang terkahir

    Ceritanya doktrin makan tuan 😀

  3. Sesat banget nich orang sampai mengatur Allah untuk diturunkannya nabi. Allah maha berkehendak pak. Jika Allah tdk menghendaki turunnya nabi, itu hak Allah. Baru kali ini saya mendengar ada ciptaan Allah mengatur Allah utk diturunkannya nabi. Contoh kalimat anda “min/termasuk”, coba kamu masukkan katanya kedalam surat Al-baqarah 153 & An Nahl 128. Disitu terdapat kata Ma’a. Jelaskan maksud ayat tsb jika kata Ma’a anda beri arti ‘termasuk’. Tidak perlu repot2 anda memberikan contoh. Ayat dijawab ayat itu metode berdiskusi yg benar.

  4. Mengapa nabi-nabi yang ta’at kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah saw dikecualikan?

    Iniliah contoh orang yang mengatur Allah. Wajar kalau Pak Hari berkata Ahmadiyah sesat. Allah saja mau diatur oleh ciptaannya dalam menurunkan Nabi. Orang ini sudah cinta mati kepada orang yang mengaku nabi tanpa mau tau tahu pendakwaan nabi tsb bertentangan Al-Qur’an. Al-Qur’an saja tidak dijadikan acuan… :mrgreen:

  5. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Saya sarankan kepada kalian untuk menggunakan bahasa yang santun dan penuh kasih-sayang dalam diskusi ini, seperti yang dicontohkan Tuhan kita Allahu Rahman-ir-Rahim.

    Begitu pula komentar saya terhadap topik ini juga hanya merupakan saran saja, karena saya sangat menta’ati firman Allah Ta’ala:”Tidak ada paksaan dalam agama” (QS Al Baqarah 257). Tidak ada niatan saya untuk mengatur Allah, yang ada hanya saran untuk mengubah terjemahannya agar pemahamannya benar menurut Allah dan Rasul-Nya.

    Netral menulis:
    Percuma dech….khan sudah dinafikan kedatangan nabi lagi oleh Nabi Anda sendiri :

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“
    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Sinar Galih menjawab:
    Kalau bicara dengan Jemaat Ahmadiyah, maka kata “terakhir” berkaitan dengan “kenabian”, artinya kenabian yang membawa syari’at, karena setelah Nabi Muhammad saw, pintu kenabian yang tidak membawa syari’at atau yang hanya memperkuat syari’at Islam masih terbuka lebar.

    “Allah akan senantiasa memilih rasul-rasul dari malaikat dan manusia” (QS Al Hajj: 76). “Dan tiadalah Allah akan memberikan kabar-kabar gaib kepada setiap kamu, tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya dari antara rasul-rasul-Nya” (QS Ali Imran: 180). “Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia memberikan pangkat rasul itu” (QS Al An’aam: 125).
    Wassalam,

  6. Assalamu’alaikum,
    Saya sarankan kepada kalian untuk menggunakan bahasa yang santun dan penuh kasih-sayang dalam diskusi ini, seperti yang dicontohkan Tuhan kita Allahu Rahman-ir-Rahim.

    Begitu pula komentar saya terhadap topik ini juga hanya merupakan saran saja, karena saya sangat menta’ati firman Allah Ta’ala:”Tidak ada paksaan dalam agama” (QS Al Baqarah 257). Tidak ada niatan saya untuk mengatur Allah, yang ada hanya saran untuk mengubah terjemahannya agar pemahamannya benar menurut Allah dan Rasul-Nya.

    Wa alaikum salam….
    Saya tidak pernah memaksa Anda dalam keyakinan Anda…..Al-qur’an tidak akan bisa berubah dan itu hak Allah. Bukan hak Anda mengatur turunnya Nabi.

    Sinar Galih menjawab:
    Kalau bicara dengan Jemaat Ahmadiyah, maka kata “terakhir” berkaitan dengan “kenabian”, artinya kenabian yang membawa syari’at, karena setelah Nabi Muhammad saw, pintu kenabian yang tidak membawa syari’at atau yang hanya memperkuat syari’at Islam masih terbuka lebar.

    Buka mata Anda lebar2…
    Dalam buku tersebut tertulis terakhir Ahmad (Muhammad SAW). Nama Ahmad khan yang biasa Ahmadiyah jadikan dalil kedatangannabi baru yg terdapat dalam surat Ash-shaff. Dengan buku ini pula membuktikan Nama Ahmad adalah nama Raslullah SAW juga.

    “Allah akan senantiasa memilih rasul-rasul dari malaikat dan manusia” (QS Al Hajj: 76). “Dan tiadalah Allah akan memberikan kabar-kabar gaib kepada setiap kamu, tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya dari antara rasul-rasul-Nya” (QS Ali Imran: 180). “Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia memberikan pangkat rasul itu” (QS Al An’aam: 125).
    Wassalam,

    Belum terbukti adanya nabi lagi dengan ayat-ayat ini karena ada qarinah Rasulullah adalah nabi terakhir yg terdapat dalam surat Al-Ahzab dan dikuatkan dengan hadits laa nabiyya ba’di

  7. Mana bukti dalil pendakwaan Ghulam Ahmad pak koq lama banget? 😀

  8. diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Pak Sinar Galih, Orang yang berkata dan menulis buku ini pangkatnya jauh diatas Anda. Meskipun Anda berkelit dengan berdusta tetap sia-sia karena sudah Ada bukti dari saya berupa buku ini.

  9. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.ahmadiyya.be/start.asp mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

  10. http://laskarislam.indonesianforum.net/t92p105-ahmadiyah-qadian
    sayah persilahkeun kaum qadianism untuk berpartisipasi disana..
    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: