Apakah Nabi Isa masih hidup ataukah telah wafat?

8515-001-14-1064Sebagian besar Umat Islam mempercayai bahwa Nabi Isa masih hidup di langit sedangkan sebagiannya mempercayai Nabi Isa telah wafat. Bagaimana dengan anda? Apakah Masih hidup ataukah sudah wafat? Tolong berikan opini atau pendapat anda.

Iklan

14 Tanggapan

  1. Isa telah wafat berdasarkan Al-qur’an.

  2. Nabi Isa belum mati, ia diangkat ke langit sewaktu hendak disalib. Allah telah merubah wajah orang yang akan disalib tersebut menyerupai nabi Isa. Orang yang disalib itu telah menentang Nabi Isa sebelumnya. Nabi Isa masih ada. Dia disisi Allah saat ini. Dia akan kembali ke bumi di akhir zaman dan meruntuhkan kaum kafir. Demi nyawaku, Allah menguasai bumi, langit berserta yang ada diantaranya, dan Dia memiliki Kekuasaan dan Ilmu yang amat sangat atas segala sesuatu. Dan kita dibumi hanya ditugaskan untuk menyembah/bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.

  3. Pendapat anda (yg punya blog) ???

  4. saya hanya sebagai penonton saja dan memoderasi jawaban peserta diskusi

  5. loh kok penonton? utarakan saja pendapat anda dulu, jangan ragu2 Apakah Masih hidup ataukah sudah wafat ??? Tolong berikan opini atau pendapat anda biar diskusinya hidup

  6. Tidak usah memaksa tikpad. Bagaimana kalau anda diskusi dgn saya agar lebih hidup. Silahkan ada jelaskan keyakinan anda ttg isa. Kalau saya tdk salah anda seorang ahmadi (saya lihat di denagis). Bagaimana kalau anda single fight dgn saya.

  7. Menarik sekali jika ahmadi ada disini. Saya Ingin tahu sampai sejauh mana kemampuan mereka beradu argumen ttg Isa. Jika JT ingin single fight..mangga

  8. Jadi seru jika tantangan JT benar2 ditanggapi oleh tikpad. Apa tikpad yg ahmadi sanggup memberikan dalil ttg isa yg menguatkan MGA? Rasanya mungkin tdk sanggup. Satu pertanyaan kecil dr saya bt ahmadi, sifat2 isa apa saja yg dimiliki MGA sehingga dirinya mengaku adalah Isa (sifat2 nya seperti Isa)? Silahkan sdr.tikpad & R.A. Daeng Mattiro menjawabnya.

  9. Bang randy, saya yakin pertanyaan anda yg ditujukan kpd ahmadi tdk mampu mereka dikarenakan buku contekan ahmadi (buku2 ahmadiyah) tdk ditemui jawaban pertanyaan bang randy. Mereka(ahmadi) bisanya cuma nyontek saja & hanya mengandalkan pemikiran2 dedengkot2 ahmadiyah yg termuat dim buku2 mereka.

  10. Rasanya ahmadi tdk mungkin mampu utk mempertahan keyakinannya bhw ghulam ahmad seorang isa

  11. Oke tikpad & R.A Daeng mattiro, anggap saja pertanyaan Randy sbg awal diskusi kita.

  12. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.islam-ahmedia.org/ mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

  13. بِسْــمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
    Berdasarkan ayat suci Al Qur’an dibawah ini, mayoritas umat Islam meyakini bahwa Nabi Isa as telah diangkat ke langit dan sampai sekarang masih hidup di sana; benarkah?
    وَّقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِ‌ۚ وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰـكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ‌ؕ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِىْ شَكٍّ مِّنْهُ‌ؕ مَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ‌ۚ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًاۢۙ‏
    بَل رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيْهِ‌ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
    “Dan ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib (a), akan tetapi ia disamarkan (b) kepada mereka (seperti telah mati di atas salib); Dan, sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mempunyai pengetahuan (yang pasti) tentang ini melainkan menuruti dugaan, dan mereka tidak membunuhnya (c) dengan yakin; Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya (d) dan Allah itu Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa 158-159).

    Penjelasan:
    (a) “Ma shalabuu hu” artinya, mereka tidak menyebabkan kematian dia pada tiang salib, sebab “shalab” itu cara membunuh yang terkenal. Orang berkata “Shalaba al lishsha”, yakni ia membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib. Ayat itu tidak mengingkari kenyataan bahwa Nabi Isa as dipakukan ke tiang salib, tetapi menyangkal beliau as mati di atas tiang salib itu.
    (b) Kata-kata “syubbiha lahum” artinya, Nabi Isa as ditampakkan kepada orang-orang Yahudi seperti orang yang mati disalib; atau hal kematian Nabi Isa as menjadi samara tau menjadi teka-teki kepada mereka. “Syubbiha ‘alaihi al-amru” artinya hal itu dibuat kalang-kabut, samara tau teka-teki kepadanya (Arabic-English Lexicon oleh E. W. Lane).
    (c) Ungkapan, “maa qataluu-hu yaqinan”, artinya, (i) mereka tidak membunuh dia dengan nyata; (ii) mereka tidak mengubah (dugaan mereka) jadi keyakinan yakni, pengetahuan mereka tentang kematian Nabi Isa as pada tiang salib tidak demikian pastinya sampai tidak ada suatu celah keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa mereka benar-benar telah membunuh beliau as. Dalam hal ini kata penggantu “hu” dalam “qataluu-hu” menunjuk kepada kata benda “zhann” (dugaan). Orang-orang Arab berkata “qatala asy-syai’a khubran”, yakni ia memperoleh pengetahuan sepenuhnya dan pasti mengenai hal itu supaya meniadakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu (Arabic-English Lexicon oleh E. W. Lane, Lisanul’Arab oleh Imam Abu’l Fadhl-Jama’l-ud-Din Muhammad Ibnu Mukarram & Al Mufradat fi Ghara’ib-ul-Qur’an oleh Shaikh Abu’l Qasim Husain ibnu Muhammad ar-Raghib). Bahwa Nabi Isa as tidak wafat pada tiang salib tapi wafat secara wajar, telas Nampak dari Al Qur’an. Fakta-fakta berikut, sebagaimana dikisahkan dalam Injil sendiri, memberi dukungan yang kuat kepada keterangan Al Qur’an itu.
    (1) Karena Nabi Isa as itu seorang Nabi Allah, beliau as tidak mungkin mati pada kayu salib, sebab menurut Bible, ‘orang yang (mati) tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah’ (Kitab Ulangan 21:23).
    (2) Nabi Isa as telah berdoa kepada Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya, ‘biarkanlah kiranya cawan (kematian di atas salib) ini lepas dariku’ (Markus 14:36, Matius 26:29, Lukas 22:42); dan doa beliau as telah terkabul (Iberani 5:7).
    (3) Nabi Isa as telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus as yang telah masuk ke dalam perut ikan hiu dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40), beliau as akan tinggal dalam “perut bumi” selama tiga hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
    (4) Nabi Isa as telah menubuatkan pula bahwa beliau as akan pergi mencari kesepuluh suku bangsa Israil yang hilang (Yahya 10:16). Bahkan orang-orang Yahudi di masa Nabi Isa as pun mempercayai bahwa suku-suku bangsa Israil yang hilang itu telah terpencar ke berbagai negeri (Yahya 7:34-35).
    (5) Nabi Isa as telah terpancang pada tiang salib hanya selama kira-kira tiga jam (Yahya 19;14) dan sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal, beliau as tidak mungkin wafat dalam waktu yang sependek itu.
    (6) Segera sesduah beliau as diturunkan dari tiang salib, pinggang beliau as ditusuk dan darah serta air keluar darinya. Hal demikian merupakan tanda medis yang pasti bahwa beliau masih hidup (Yahya 19:34).
    (7) Orang-orang Yahudi sendiri merasa tidak yakin tentang kematian Nabi Isa as sebab mereka telah meminta kepada Pilatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya ‘supaya jangan murid-muridnya datang mencuri dia, serta mengatakan kepada kaum, bahwa ia sudah bangkit dari antara orang mati’ (Matius 27:64).
    (8) Tak didapatkan dalam semua Injil satu pernyataan pun tertulis dari seorang saksi bahwa Nabi Isa as telah wafat ketika beliau as diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula, tak seorang pun dari antara murid beliau as hadir di tempat kejadian penyaliban. Rupanya kejadian yang sebenarnya adalah disebabkan oleh impian istrinya agar “Jangan berbuat sesuatu apapun ke atas orang yang benar itu! (Matius 27:19), maka Pilatus telah percaya bahwa Nabi Isa as tidak bersalah, dan karenanya telah bersekongkol dengan Yusuf Arimatea – seorang tokoh dari perkumpulan Essenes, tempata Nabi Isa as sendiri pernah menjadi anggotanya, sebelum beliau diatas sebagai nabi – untuk menolong jiwa beliau. Sidang pemeriksaan perkara Nabi Isa as berlangsung pada hari Jum’at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur waktu dengan perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari Sabat, saat orang-orang terhukum tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib sesudah matahari terbenam. Ketika pada akhirnya Pilatus merasa terpaksa menghukum Nabi Isa as, ia memberikan keputusannya hanya tiga jam sebelum terbenamnya matahari, dengan demikian meyakinkan dirinya bahwa tak ada orang yang normal kesehatannya tinggal di atas tiang salib dalam waktu yang sesingkat itu dapat mati. Selain itu Pilatus telah sudi mengusahakan agar Nabi Isa as diberi anggur atau cuka dicampur dengan rempah-rempah “mur” (myrrh) untuk mengurangi rasa sakitnya. Setelah tiga jam tergantung, beliau as diturunkan dari tiang salib dalam keadaan pingsan (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada beliau as), Pilatus dengan senang hati mengabulkan permintaan Yusuf Arimatea dan menyerahkan badan beliau as kepadanya. Berbeda dengan nasib kedua penjahat yang disalib bersama-sama Nabi Isa as, tulang-tulang beliau as tidak dipatahkan dan Yusuf Arimatea telah meletakkan beliau as di suatu rongga yang ruangnya luas, digali di bagian samping bukit padas. Ketika itu tidak ada ilmu pemeriksaan mayat (medical autopsy), tidak ada percobaan stethoscopis, tidak diadakan pemeriksaan dari segi hokum dengan pertolongan kesaksian dari mereka yang terakhir bersama beliau (“Mystical Life of Yesus” oleh H. Spencer Lewis).
    (9) Marham Isa (salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan dipakai untuk mengobati luka-luka Nabi Isa as, dan beliau diurus serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan Nicodemus yang juga seorang yang sangat terpelajar dan anggota yang amat terhormat dari Ikatan Persaudaraan Essenes.
    (10) Setelah luka-luka beliau as sembuh, Nabi Isa as meninggalkan kuburan itu dan menemui beberapa orang murid beliau as dan bersantap bersama mereka, lalu menempuh perjalanan jauh dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
    (11) “The Crucifixion by an Eye Witness”, sebuah buku yang untuk pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang ditulis – tujuh tahun sesudah peristiwa penyaliban – oleh seorang warga Essenes di Yerusalem kepada seorang anggota perkumpulan itu di Iskandaria, memberi dukungan yang kuat kepada pendapat bahwa Nabi Isa as telah diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup. Buku itu menceriterakan secara rinci semua kejadian yang menjurus kepada peristiwa salib, pemandangan di bukit Golgota, tempat terjadinya penyaliban dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian. Dua pendapat yang berbeda tersebar di tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan wafat Nabi Isa as karena penyaliban. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercatat dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kit abaca, “Yang sudah kamu ini bunuh dan menggantungkan dia pada kayu itu.” Al Qur’an membantah kedua pendapat ini dengan mengatakan, ‘mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib.” Pertama Al Qur’an menolak pembunuhan Nabi Isa as dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan jalan menggantungkan pada salib. Al Qur’an tidak menolak bahwa Nabi Isa as digantung pada tiang salib; Al Qur’an hanya menyangkal bahwa wafat Nabi Isa as di atas tiang salib.
    (d) Orang-orang Yahudi dengan gembira mengumandangkan telah membunuh Nabi Isa as di atas tiang salib, dan dengan demikian telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau as sebagai Nabi Allah itu tidak benar. Ayat itu bersama-sama ayat yang sebelumnya mengandung sangkalan yang keras terhadap tuduhan itu dan membersihkan beliau as dari noda yang didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran derajat rohani beliau as dan bahwa beliau as telah mendapat kehormatan di hadirat Allah. Dalam ayat itu samasekali tidak ada sebutan mengenai kenaikan beliau as ke langit dengan badan/jasmaninya. Ayat itu hanya mengatakan bahwa Allah Ta’ala menaikkan beliau as ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan rohani, sebab tidak ada tempat kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Tuhan.

    Jadi, dengan penjelasan diatas, kita tidak dapat meyakini bahwa Nabi Isa as (dan jasadnya) diangkat ke langit dan sampai sekarang masih hidup di sana. Apalagi ayat-ayat suci Al Qur’an berikut ini membuktikan bahwa Nabi Isa as sudah wafat;
    Pertama:
    مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَاۤ اَمَرْتَنِىْ بِهٖۤ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّىْ وَرَبَّكُمْ‌ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ‌ۚ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِىْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ‌ؕ وَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيْدٌ‏
    “Tidak pernah aku mengatakan kepada mereka selain apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu, ‘Beribadahlah kepada Allah, Tuhan-ku dan Tuhan-mu.’ Dan aku menjadi saksti atas mereka selama aku berada di antara mereka, akan tetapi, setelah Engkau mewafatkan aku maka Engkau-lah Yang menjadi Pengawas atas mereka dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.” (QS Al Maidah 5:118).

    Dalam ayat ini Nabi Isa as menjawab pertanyaan Allah Ta’ala bahwa beliau as selalu berusaha agar para pengikutnya tidak sampai menyembah tuhan lain kecuali Allah Ta’ala. Selanjutnya beliau as dengan jelas bersabda:”Tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, (aku tidak tahu apa-apa yang mereka lakukan, termasuk apa-apa yang mereka sembah, karena aku sudah wafat.)” Kata “tawaffa” dalam ayat ini artinya “mati”, sebagaimana kit abaca dalam Al Qur’an:
    وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِ‌ۚ‏
    “Dan, wafatkanlah kami termasuk golongan orang-orang shaleh” (QS Ali Imran 3:194).

    Apabila kata “tawaffa” itu fail/subyeknya Allah dan maf’ul/obyeknya makhluk yang bernyawa, maka artinya selalu “mati/kematian”. Dengan demikian, maka ayat ini mengisyaratkan bahwa Nabi Isa as sudah wafat.

    Kedua:
    اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰىۤ اِنِّىْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَىَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ‌‌ۚ ثُمَّ اِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ‏
    “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mematikan engkau (secara wajar) dan akan meninggikan derajat engkau di sisi-Ku dari (tuduhan) orang-orang yang ingkar dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang yang ingkar hingga Hari Kiamat; kemudian kepada Aku-lah kamu kembali, lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisihkan.” (QS Ali Imran 3:56)

    Berkenaan dengan ayat ini ada sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas ra yang mengatakan:
    فِىْ قَوْلِهِ (اِنِّى مُتَوَفِّيْكَ) يَقُوْلُ:اِنِّى مُمِيْتُكَ
    “Tentang firman Allah ‘Inni mutawaffika’ Ibnu Abbas ra berkata “Inni mumiituka – sungguh Aku akan mematikan engkau.” (Addurul Mantsur fi Tafsiril Ma’tsur, Jalajuddin Assuyutthi, Darul Fikr, 1983, Jilid II, hal.224).
    Di sini jelas Ibnu Abbas ra mengartikan kata “mutawaffika” sebagai “mumiituka – sesungguhnya Aku akan mematikan engkau.” Kemudian tentang kata “raafi’uka – Aku mengangkat engkau” terdapat keterangan sebagai berikut:
    اِذَاتَوَاضَعَ الْعَبْدُ رَفَعَهُ الله ُاِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ
    “Apabila seorang abdi merendahkan hatinya, Allah meninggikan derajatnya sampai langit ke tujuh.” (Kanzul ‘Ummal, Alauddin Alhindi, Muassasatur Risalah, Beirut, 1989, Jilid III, hal. 110, hadits no.5820 yang diriwayatkan oleh Alkharaaithi dalam Makaarimul Akhlaknya).

    Jadi, maksud ayat ini menurut tertib urutan kata adalah, ‘Sesungguhnya, Allah mematikan Nabi Isa as secara wajar, lalu meninggikan derajat beliau as di sisi Allah dan membersihkan nama baik beliau as dari tuduhan orang-orang ingkar dan akan menjadikan pengikut beliau as mengungguli orang-orang ingkar hingga Hari Kiamat.’. Kesimpulannya Nabi Isa as sudah wafat.

    Ketiga:
    مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌ‌ۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُؕ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ‌ ؕ كَانَا يَاْكُلٰنِ الطَّعَامَ‌ؕ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ‏
    “Al Masih Ibnu Maryam itu, lain tidak, kecuali seorang rasul, sesungguhnya telah berlalu (meninggal) rasul-rasul sebelumnya. Dan ibunya adalah seorang yang benar. Mereka berdua biasa makan makanan.” (QS Al Maidah 5:76).
    وَمَا جَعَلْنٰهُمْ جَسَدًا لَّا يَاْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوْا خٰلِدِيْنَ‏
    “Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.” (QS Al Anbiya 21:9).

    Hukum alam berlaku bagi manusia termasuk para nabi. Dua ayat diatas membuktikan bahwa para nabi (termasuk Nabi Isa as) terkena hukum alam yaitu mereka biasa dan harus memakan makanan. Jika tidak, maka akan wafat/meninggal. Ketika Nabi Isa as masih hidup beliau as biasa memakan makanan, dan karena sekarang beliau as tidak memakan makanan, maka berarti Nabi Isa as sudah wafat/meninggal.

    Keempat:
    وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌ ۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ‌ؕ اَفَا۟يِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ‌ؕ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔـا‌ؕ وَسَيَجْزِىْ اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ‏
    “Dan, Muhammad itu, lain tidak kecuali seorang rasul. Sesungguhnya telah berlalu (meninggal) rasul-rasul sebelumnya. Jadi, jika ia mati atau terbunuh, akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan, barang-siapa berpaling atas tumitnya, maka ia tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun. Dan, Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran 3:145). Di tempat lain Allah Ta’ala berfirman:
    تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ‌ۚ
    “Itulah suatu umat yang telah berlalu” (QS Al Baqarah 2:142)
    Di dalam Kamus Bahasa Arab, ada keterangan tentang kata “berlalu”:
    خَلاَ فُلاَ نٌ اِذَا مَاتَ
    “Si fulan telah berlalu, apabila sudah mati” (Lisaanul ‘Arab, Ibnu Manzhur, Darul Fikr, 1990, Jilid XIV, hal. 242). Jadi maksud ayat tersebut sudah jelas bahwa semua rasul yang datang sebelum Nabi Muhammad saw sudah wafat. Maka menurut ayat ini Nabi Isa as sudah wafat.

    Kelima:
    قَالَ فِيْهَا تَحْيَوْنَ وَفِيْهَا تَمُوْتُوْنَ وَمِنْهَا تُخْرَجُوْنَ‏
    “Dia berfirman,’Di situ (bumi) lah kamu sekalian akan hidup dan di situ (bumi) lah kamu akan mati, dan darinya (bumi) kamu akan dikeluarkan.” (QS Al A’raf 7:26)

    Menurut Sunnah Allah Ta’ala yang tertera dalam ayat ini adalah bahwa manusia (termasuk para nabi) hidup dan mati di dunia ini juga. Dengan demikian, manusia (termasuk para nabi) tidak dapat hidup di luar bumi tanpa udara dari bumi ini. Oleh karena itu Nabi Isa as sudah wafat.

    Keenam:
    وَجَعَلَنِىْ مُبَارَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُ وَاَوْصٰنِىْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا‌ۖ‏
    “Dan, Dia telah menjadikanku diberkati di mana pun aku berada, dan telah memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup.” (QS Maryam 19:32).

    Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Isa as agar selama beliau hidup harus mendirikan shalat dan membayar zakat. Karena beliau as tidak lagi membayar zakat, maka ayat ini membuktikan bahwa Nabi Isa as sudah wafat.

    Ketujuh:
    وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُـلْدَ‌ؕ اَفَا۟ئِن مِّتَّ فَهُمُ الْخٰـلِدُوْنَ‏
    “Dan, Kami tidak pernah menjadikan seorang manusia sebelum engkau hidup kekal. Maka jika engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal?” (QS Al Anbiya 21:35).

    Sebagaimana kita ketahui, Nabi Muhammad saw sudah wafat. Maka berdasarkan ayat ini, tidak mungkin bagi orang/nabi lain untuk dapat hidup kekal, termasuk Nabi Isa as sudah wafat.

    Keyakinan – mayoritas umat/ulama Islam – bahwa Nabi Isa as diangkat ke langit dan sampai sekarang masih hidup di sana adalah didasarkan pada QS An-Nisa 4:158-159, sementara, keyakinan mereka bahwa Nabi Isa as akan turun lagi dari langit adalah didasarkan pada hadits (sabda Rasulullah saw) berikut ini:
    كَيْفَ اَنْتُمْ اِذَا نَزَلَ اِبْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَاِمَامُكُمْ مِنْكُمْ
    “Bagaimana sikap kalian apabila telah turun Ibnu Maryam dari dalam kalangan kalian dan menjadi imam dari antara kalian” (Shahihul Bukhari, Abu Abdillah Al Bukhari, Darul Ihya, Mesir, Juz. II, al. 256, bab Nazulu Isa Ibnu Maryam).

    Penjelasan:
    Di dalam hadits tersebut tidak ada kata langit, dan arti kata “nazala” bukanlah “turun dari langit.” Contoh lain kata “turun” yang dapat kita bandingkan dengan jelas dalam Al Qur’an adalah:
    وَاَنْزَلْنَا الْحَـدِيْدَ
    “Dan, Kami turunkan besi” (QS Al Hadid 57:26)
    Pada umumnya orang-orang tahu bahwa besi tidak diturunkan dari langit, tetapi digali melalui penambangan dari dalam tanah. Jadi kata “nazala” tidaklah berate ‘turun dari langit”. Dengan demikian, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan alasan bahwa Nabi Isa as akan turun dari langit. Hadits-hadits berikut membuktikan bahwa Nabi Isa as sudah wafat.
    Pertama:
    Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Fatimah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
    اَنَّ عِيْسَاى اِبْنُ مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِاأَتَ سَنَةٍ
    “Sesungguhnya Isa Ibnu Maryam usianya seratus dua puluh tahun.” (Kanzul’Ummal, Alaudin Alhindi, Muassasatur Risalah, Beirut, 1989, Jilid XI, hal. 479).
    Kedua:
    لَوْكَانَ مُوْسَاى وَ عِيسَاى حَيَّيْنِ لَمَّاوَسِعَهُمَااِلاَّاتِّبَاعِيْ
    “Jika Musa dan Isa masih hidup, mereka harus mengikuti aku” (Alyawaaqit Waljawaahir, Abdul Wahab Sya’rani, Alharamain, Singapura, hal. 22, bab ke 32).
    جَزَاكُمُاللهِ اَحْسَنُ الْجَزَ
    وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

  14. Hanya orang yang lemah akal yang mengatakan Isa telah wafat tetapi mengatakan hadits-hadits ttg kedatangan Isa adalah Hadits shahih.
    Logika orang yang berakal adalah jika mengatakan Isa telah wafat berarti hadist-hadits kedatangan Isa adalah hadits maudhu’. 😀

    “Dan, Kami turunkan besi” (QS Al Hadid 57:26)
    Pada umumnya orang-orang tahu bahwa besi tidak diturunkan dari langit, tetapi digali melalui penambangan dari dalam tanah. Jadi kata “nazala” tidaklah berate ‘turun dari langit”. Dengan demikian, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan alasan bahwa Nabi Isa as akan turun dari langit. Hadits-hadits berikut membuktikan bahwa Nabi Isa as sudah wafat.

    Inilah contoh orang yang mengutip ayat dan memberi penjelasan tetapi tidak mengikuti ayat dan penjelasan yang dia tulis.
    Jika Anda mengartikan besi bukan benda seperti besi, kenapa Anda menyimpulkan Isa bin Maryam adalah Manusia seperti Isa. Apa yang tulis ini bertentangan donk dengan keyakinan Anda. Seharusnya hadits-hadits yang Anda kutip Anda artikan Isa bani israil dan bukan Manusia seperti Isa ssesuai penjelasan dan ayat yg anda kutip bahwa Anda mengartikan Hanya orang yang lemah akal yang mengatakan Isa telah wafat tetapi mengatakan hadits-hadits ttg kedatangan Isa adalah Hadits shahih.
    Logika orang yang berakal adalah jika mengatakan Isa telah wafat berarti hadist-hadits kedatangan Isa adalah hadits maudhu’.

    “Dan, Kami turunkan besi” (QS Al Hadid 57:26)
    Pada umumnya orang-orang tahu bahwa besi tidak diturunkan dari langit, tetapi digali melalui penambangan dari dalam tanah. Jadi kata “nazala” tidaklah berate ‘turun dari langit”. Dengan demikian, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan alasan bahwa Nabi Isa as akan turun dari langit. Hadits-hadits berikut membuktikan bahwa Nabi Isa as sudah wafat.

    Inilah contoh orang yang mengutip ayat dan memberi penjelasan tetapi tidak mengikuti ayat dan penjelasan yang dia tulis.
    Jika Anda mengartikan besi bukan benda seperti besi, kenapa Anda menyimpulkan Isa bin Maryam adalah Manusia seperti Isa. Apa yang tulis ini bertentangan dong dengan keyakinan Anda. Seharusnya hadits-hadits yang Anda kutip Anda artikan Isa bani israil dan bukan Manusia seperti Isa sesuai penjelasan dan ayat yg anda kutip dengan mengartikan Besi tetap dengan kata Besi dan bukan Benda seperti Besi 😀
    Doktrin makan tuan 😀

    Logika orang yang berakal adalah jika mengatakan Isa telah wafat berarti hadist-hadits kedatangan Isa adalah hadits maudhu’. 😀

    Apa Anda tidak pernah tahu jika Nabi Anda pernah berkeyakinan bahwa Isa masih hidup di langit dan kemudian berubah keyakinan menjadi Isa telah wafat? Apakah mungkin memberikan ilmu yang salah ketika Nabi Anda berkeyakinan Isa masih hidup di langit.? Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa yang memberikan wahyu kepada ghulam ahmad adalah syaitan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: