Kenabian Terakhir berdasarkan Tafsir

f30c633f

Oleh: TN

Dalam kitab-kitab yang mu’tamad, arti “khataman Nabiyyin” adalah:

  1. Dalam Tafsir Khazen, pada jilid V, halaman 218 arti “khataman Nabiyyin” ialah: Kenabian telah tertutup, tak ada lagi nabi sesudah beliau”.
  2. Dalam Tafsir Nasaffi pada jilid III, halaman 2 artinya:”akhir Nabi, tiada seorang juga lagi Nabi sesudah beliau”.
  3. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, pada jilid III, halaman 493 artinya:”Nabi tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW, begitu juga Rasul tidak ada lagi”.
  4. Dalam Tafsit Jalalain yang dicetak bersama Tafsir Shawi pada jilid III, halaman 263 artiinya ayat itu adalah:”dengan Nabi Muhammad SAW disudahi Nabi-nabi”.
  5. Dalam Tafsir al Qasimi pada jilid XIII, halaman 4867diterangkan “khataman Nabiyyin” boleh juga dibaca khatiman Nabiyyin, yang artinya:”Disudahi Nabi-nabi dengan Nabi Muhammad SAW”.
  6. Dalam Tafsir Baidhawi pada jilid ke II, halaman 196 arti ayat itu adalah:”Nabi Muhammad itu Nabi paling akhir yang penutup Nabi-Nabi”.
  7. Dalam Tafsir Thabari, pada jilid ke XXII halaman 16, artinya “khaataman Nabiyyin” ialah Nabi Penutup, tidak dibuka lagi pangkat kenabian sampai hari kiamat”.
  8. Dalam Tafsir Jamal Jalalein, pada jilid ke III, halaman ke 4, arti “khataman Nabiyyin” ialah: Tidak ada anak laki-laki yang ditinggalkannya yang akan jadi Nabi, dan Tuhan mengetahui tiap-tiap sesuatu tentang Nabi dan bahwa Nabi tidak ada sesudah beliau”.
  9. Dalam Tafsir Lubabut Ta’wil jilid ke II halaman 505:”Allah Menutup  dengan beliau pangkat kenabian, maka tak ada kenabian dibelakangnya dan juga tidak bersama-sama dengan dia”.
  10. Dalam Tafsir Durarul Mantsur, Jilid ke VII, pagina 204:”khataman Nabiyyin”=akhir Nabi-Nabi
  11. Dalam Tafsir Nisaburi, Juz XXII, halaman 15:”diantara yang diberitahu oleh Nabi, bahwasanya Nabi tidak ada sesudah Muhammad”.
  12. Dalam Tafsir Fakhrul Razi Jilid ke VI halaman 518:”Ilmu Tuhan mengetahui bahwa Nabi tidak ada lagi sesudah beliau”.
  13. Dalam Tafsir Abi Su’ud, jilid ke VII, halaman 449:”Nabi Muhammad Nabi paling akhir”
  14. Dalam Tafsir Bahrul Muhith, jilid ke VII, halaman 236: “Diriwayatkan dari Nabi bahwasanya Nabi tidak ada sesudahnya”

(Sumber: “40 Masalah Agama”, K.H.Siradjuddin Abbas, Jilid II hal.69, Pustaka Tarbiyah Jakarta).

LAMPIRAN

TAFSIR AHMADIYAH:

Sumber Lampiran : Disini

LAMPIRAN 2

BUKU-BUKU AHmADIYAH

Sumber: “Jawaban Seruan Kepada Ahmadiyah”, Rukhdiyat Ayyubi Ahmad

Sumber: “Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal 152

Sumber: “MENGHAPUS SUATU KESALAHPAHAMAN (Ek Ghalati Ka Izala)” Oleh: Mirza Ghulam Ahmad Alih bahasa: M. A. Suryawan.


Sumber: “Khabar Suka”, Mahmud Achmad cheema, Hal 18

Sumber: http://islamic.us.to

Iklan

99 Tanggapan

  1. assalamualaikum…
    wah lengkap dgn sumberx pula..
    salam kenal ^^

  2. Wa ‘alaikum salam Sdr.Pitaxxx, Salam Kenal balik.

  3. Sangat lengkap. Thanks

  4. hi..salam kenal.perbedaan tafsir jgn jadi perpecahan atau kebencian.jika kita membenci org atau kelompok krn beda tafsir itu tanda jiwa kita belum maju .–>debatkontroversi.blogspot.com

  5. Percayakah Nabi Isa akan Turun? Apakah hadisnya palsu?

  6. Ahmadiyah pasti Islam, kalau ragu nanya aja sama yang utus HMGA. Nanya sama Allah swt atau sama setan la’natullah alih.

  7. Ahmadiyah mengakui kersalan Rasulullah saw sebagai penutup Syariat. Dan Imam Mahdi sebagaI Mazhab mereka. Kalau mau selamat dunia akhirat bergabunglah bersama Imam Mahdi.

  8. Kalau dilihat We Abe, Inodi & kaparasaeaku adalah orang yang sama.

    Percayakah Nabi Isa akan Turun? Apakah hadisnya palsu?

    MGA mengaku sebagai Isa atau manusia seperti Isa ya? Pertanyaannya saja sudah menyudutkan Ghulam Ahmad. Apalagi Ghulam Ahmad mengaku sebagai Khrisna. Apa ada ya di Al-Qur’an dan Hadist akan kedatangan Khrisna di akhir zaman. Orang yang pintar pasti sudah tahu jawabannya.

    Ahmadiyah pasti Islam, kalau ragu nanya aja sama yang utus HMGA. Nanya sama Allah swt atau sama setan la’natullah alih.

    Nanya saja dech kepada Allah melalui Sholat Istikharah untuk meminta petunjuk, Apakah pendakwaan Ghulam Ahmad itu sudah benar dan sesuai dengan Al-Qur’an serta hadits. Dari Al-qur’an saja sudah terjawab kalau pendakwaannya itu menyimpang. Jelas Nabi palsu.dech. Sering-sering membaca Al-qur’an ya dan jangan mengutamakan membaca buku-buku doktrin Ahmadiyah.

    Ahmadiyah mengakui kersalan Rasulullah saw sebagai penutup Syariat.

    Tapi Ahmadiyah tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir.

    Dan Imam Mahdi sebagaI Mazhab mereka. Kalau mau selamat dunia akhirat bergabunglah bersama Imam Mahdi

    Sorry aja dech kalau menjadi pengikut Nabi Palsu…. Mendingan menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW yang diakui sebagai Nabi terakhir. Lebih taat kepada Nabi Muhammad dech daripada taat kepada si Mirza

  9. Assalamu’alaikum,
    Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-3 di Surabaya pada tanggal 12 Rabiuts-Tsani 1347HQ/28 September 1928M No.46 Nabi Isa Akan Turun Kembali ke Dunia Sebagai Nabi & Rasul:
    Soal:
    Bagaimana pendapat Muktamar tentang Nabi Isa as setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Dan apakah mazhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?

    Jawab:
    Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa as itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw dan hal itu, tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa as hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw. Sedangkan mazhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).

    Keterangan, dalam kitab Syarah AR-Raudh Juz III:
    Allah berfirman (al-Ahzab:40):”….akan tetapi Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi” firman Allah tersebut tidak bertentangan dengan (hadits) yang menjelaskan tentang turunnya Nabi Isa as di akhir zaman, karena ia tidak datang dengan ajaran yang menghapuskan ajaran Nabi Muhammad saw, namun justru akan menetapkannya dan mengamalkannya.

    Beliau ditanya mudah-mudahan Allah memberi manfaat terhadap ilmu beliau, dengan statemen: Para ulama sepakat bahwa Nabi Isa as akan melaksanakan hukum berdasarkan syariat kita (Islam), maka bagaimanakah cara pelaksanaan hukumnya apakah berdasarkan salah satu mazhab dari mazhab-mazhab yang ada ataukah berdasarkan ijtihad? Jawabnya adalah, bahwa Nabi Isa as itu tersucikan dari ikut menjadi muqallid terhadap imam-imam mujtahid, bahkan ia lebih utama untuk berijtihad sendiri.

    Maka lihatlah wahai saudaraku apa yang ada di bawah pohon dan cabangnya, rantingnya serta buahnya, anda akan mendapatkan semuanya bercabang dari inti syariat,…. sampai keluarnya Imam Mahdi as yang akan membatalkan amalan yang berdasarkan taklid pada mazhab-mazhab yang ada pada masanya seperti telah dijelaskan oleh para ahli kasyaf,…. sampai kemudian Nabi Isa as turun, maka bergantilah hukum ke yang lainnya dan bahwasannya ia mendapatkan wahyu untuk melaksanakan syariat Muhammad saw melalui lisan jibril as.

    Penjelasan diatas bisa diperoleh dalam buku Solusi Problematika Aktual Hukum Islam (Ahkamul Fuqaha) Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU 1926-1999M), Cetakan Ke-2 yang diterbitkan bersama oleh Lajnah Ta’lid Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dengan Diantama (Lembaga Studi dan Pengembangan Pesantren Surabaya), halaman 50-51.

    Apakah karena berpendapat bahwa akan ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad saw yaitu Nabi Isa as yang mengikuti Syariat Nabi Muhammad saw, NU juga termasuk yang sesat?
    Wassalam.

  10. Di indonesia Ormas Islam bukan NU saja. Itu hak pribadi NU. Justru yang lebih parah adalah Ahmadi yang tidak mau tahu bahwa pendakwaan Ghulam Ahmad bertentangan dengan Al-Qur’an tetapi masih saja beriman kepada Ghulam Ahmad. Anehhh???

  11. Assalamu’alaikum,
    Hak pribadi NU untuk berpendapat bahwa Nabi Isa as akan datang setelah Nabi Muhammad saw yang akan menjalankan syari’at Islam. Sedangkan Jemaat Ahmadiyah, sama sekali tidak berhak untuk berpendapat sama dengan NU? Sudahkah anda mendapatkan mandat dari Allah Ta’ala untuk itu?

    Allah Ta’ala menganugerahkan nikmat-Nya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as karena kecintaan dan keta’atan beliau kepada-Nya dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw (QS An-Nisa 70) yaitu Nabi Tabi’/Umat Nabi Muhammad saw yang tidak membawa syariat, melainkan melaksanakan syari’at Nabi Muhammad saw, yaitu Islam/Al Qur’an. Allah Ta’ala juga mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi (QS Al Jumuah 4) dan Masih Mau’ud (Az Zukhruf 58) dan memberi mandat kepada HMGA as untuk menerima bai’at dari semua manusia dengan seizin Allah. “Itulah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia besar” (QS Al Jumu’ah 5), “Inilah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa 71).

  12. Assalamu’alaikum,
    Hak pribadi NU untuk berpendapat bahwa Nabi Isa as akan datang setelah Nabi Muhammad saw yang akan menjalankan syari’at Islam. Sedangkan Jemaat Ahmadiyah, sama sekali tidak berhak untuk berpendapat sama dengan NU? Sudahkah anda mendapatkan mandat dari Allah Ta’ala untuk itu?

    Menggelikan sekali…Anda sendiri yang membawa-bawa perihal pendapat NU. Bukan berarti saya juga mengikuti apa yang disampikan oleh NU

    Sudahkah anda mendapatkan mandat dari Allah Ta’ala untuk itu?

    Anda sudah merasa sombong…Memangnya Orang yang mendakwakan sebagai Nabi sudah pasti mendapat mandat dari Allah? Ataukah mandat itu didapat dari syaitan?

    Allah Ta’ala menganugerahkan nikmat-Nya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as karena kecintaan dan keta’atan beliau kepada-Nya dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw (QS An-Nisa 70) yaitu Nabi Tabi’/Umat Nabi Muhammad saw yang tidak membawa syariat, melainkan melaksanakan syari’at Nabi Muhammad saw, yaitu Islam/Al Qur’an. Allah Ta’ala juga mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi (QS Al Jumuah 4) dan Masih Mau’ud (Az Zukhruf 58) dan memberi mandat kepada HMGA as untuk menerima bai’at dari semua manusia dengan seizin Allah. “Itulah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia besar” (QS Al Jumu’ah 5), “Inilah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa 71).

    Jawab:
    Surat An-nisa tersebut rasanya ada penjelasannya di blog ini. Jawaban dari saya simple saja, sudahkah Anda menemukan ayat-ayat yang menguatkan pendakwaan Ghulam Ahmad? Kenapa banyak berkhayal Pak?
    Makin menggelikan di buku ahmadiyah “Da’watuul Amir” Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir. Ini buktinya http://i35.tinypic.com/qnpl35.jpg

  13. Allah Ta’ala menganugerahkan nikmat-Nya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as karena kecintaan dan keta’atan beliau kepada-Nya dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw (QS An-Nisa 70) yaitu Nabi Tabi’/Umat Nabi Muhammad saw yang tidak membawa syariat, melainkan melaksanakan syari’at Nabi Muhammad saw, yaitu Islam/Al Qur’an. Allah Ta’ala juga mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi (QS Al Jumuah 4) dan Masih Mau’ud (Az Zukhruf 58) dan memberi mandat kepada HMGA as untuk menerima bai’at dari semua manusia dengan seizin Allah. “Itulah karunia Allah; Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia besar” (QS Al Jumu’ah 5), “Inilah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa 71).

    Sungguh Menggelikan lagi ya para pembaca, saudara kita sinar galih menulis ini hanya mengakui Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi. Masih Mau’ud saja. Tetapi belum mengakui Ghulam Ahmad adalah khrisna, Masiodarbahmi, dll? Apa Anda mengakui juga Ghulam Ahmad sebagai Muhammad?
    Jadi kalau tidak mengakui selain yang Anda sebutkan itu kenapa Anda beriman kepada Ghulam Ahmad 😀 ?

  14. Assalamu’alaikum,
    Mandat Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad saw yang diutus-Nya untuk seluruh manusia: “Tidaklah Aku mengutus engkau, melainkan untuk seluruh manusia” (QS As-Saba 29).

    Mandat Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad saw untuk menerima bai’at:”Sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepada engkau sebenarnya mereka bai’at kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar bai’atnya, maka ia memutuskan-nya untuk kerugian dirinya sendiri; dan barangsiapa menyempurnakan apa yang dia telah bai’atkan kepada Allah, maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar.” (QS Al Fath 11).

    Mandat Allah Ta’ala kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as:”Buatlah bahtera itu (Jemaat Ahmadiyah) dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Barangsiapa yang bai’at kepada engkau, mereka sesungguhnya bai’at kepada Allah, Tangan Allah ada di atas tangan mereka.” (Bahtera Nur hal iii).

    Perintah Nabi Muhammad saw kepada pengikut beliau saw untuk bai’at kepada Imam Mahdi as:”Apabila kalian melihat beliau (Imam Mahdi as), maka kalian bai’at kepada beliau, walaupun kalian harus merangkak di atas salju, karena beliau adalah Khalifah Allah, Al Mahdi” (Sunan Ibnu Majah, Darul Fikr, Jld. II, hal 1367, hadits no.4084). Wassalam.

  15. Mandat Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad saw yang diutus-Nya untuk seluruh manusia: “Tidaklah Aku mengutus engkau, melainkan untuk seluruh manusia” (QS As-Saba 29)

    Betul

    Mandat Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad saw untuk menerima bai’at:”Sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepada engkau sebenarnya mereka bai’at kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar bai’atnya, maka ia memutuskan-nya untuk kerugian dirinya sendiri; dan barangsiapa menyempurnakan apa yang dia telah bai’atkan kepada Allah, maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar.” (QS Al Fath 11)

    Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. Karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.
    Jadi surat Al-Fath ayat 10 menceritakan peristiwa Baitur Ridhwan , yaitu berbai’atnya para sahabat kepada Nabi SAW dalam tekad memperjuangkan nasib usman yang menurut perkiraan mereka ditawan orang-orang Quraisy. Kejadian ini terjadi di Hudaibiyah taktala rombongan Rasulullah SAW yang hendak melakukan umroh ke Makkah ditahan orang-orang quraisy. Jadi kalau dihubung-hubungan Bai’at thd Ghulam Ahmad tidak nyambung sama sekali.

    Mandat Allah Ta’ala kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as:”Buatlah bahtera itu (Jemaat Ahmadiyah) dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Barangsiapa yang bai’at kepada engkau, mereka sesungguhnya bai’at kepada Allah, Tangan Allah ada di atas tangan mereka.” (Bahtera Nur hal iii)

    😀 itu Mandat dari Syaitan…Lagipula itu buku adalah buku Ahmadiyah

    Perintah Nabi Muhammad saw kepada pengikut beliau saw untuk bai’at kepada Imam Mahdi as:”Apabila kalian melihat beliau (Imam Mahdi as), maka kalian bai’at kepada beliau, walaupun kalian harus merangkak di atas salju, karena beliau adalah Khalifah Allah, Al Mahdi” (Sunan Ibnu Majah, Darul Fikr, Jld. II, hal 1367, hadits no.4084). Wassalam.

    wahhh…wahhh Hadits munkar ya yang dipakai.

    Hadits ini munkar. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah 518, dan Al-Hakim IV/463-464 dari sanad Khalid al-Hidza dari Abi Qalabah. Adapun Ahmad dan al-Hakim telah mengeluarkannya dengan sanad dari Ali bin Zaid. Kemudian Imam ahmad menyatakan lemahnya hadits tersebut. Juga Ibnul Jauzi menempatkannya dalam deretan hadits-hadits maudhu’. Adz-Dzahabi berkata,”Aku lihat hadits ini adalah munkar.”
    Sebenarnya hadits tersebut benar maknanya, namun yang benar adalah tanpa tambahan kalimat “karena ia merupakan Khalifah Allah”. Tambahan inilah yang dimaksud oleh Adz-Dzahabi sebagai munkar, karena dalam syariat memang tidak dibenarkan berkata manusia sebagai Khalifah Allah. Karena itu, Ibnu Taimiyah telah menjelaskan panjang lebar dalam kitabnya al-fatawa al-qubra II/416, dengan berkata,”Sungguh banyak orang yang menyangka secara salah seperti Ibnu Arabi bahwa yang dimaksud dengan khalifah adalah Khalifah Allah, yakni sebagai wakil Allah. Allah tidaklah mempunyai wakil. Karena itu, Abu Bakar dengan tegas membantah ketika ditanya dengan kalimat,”Wahai Khalifatullah”. Dengan segera ia menjawab,”Aku bukanlah Khalifah Allah, akan tetapi Khalifah Rasulullah SAW. Cukuplah itu.”
    Akhirnya, Ibnu Taimiyah mengakhiri fatwanya itu dengan berkata,”Barangsiapa yang menjadikan-Nya mempunyai Khalifah, orang itu berarti telah menyekutukan-Nya, yakni musyrik.”

    Sumber:
    (“Silsilah hadits dha’if dan maudhu’ “ oleh: Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal.92, jilid 1, Hadits no.85)

    Ini linknya agar Anda semakin pintar dan tidak bertaqlid buta thd doktrin Ahmadiyah..

    https://muhammadinsan.wordpress.com/2009/05/01/hadits-dhaif-dan-maudhu/

    KESIMPULANNYA:
    Sinar Galih sampai detik belum bisa menguatkan pendkwaan Ghulam Ahmad yang bermacam-macam. Saya yakin hanya sinar galih hanya mentok berbicara masalah Isa dan Mahdi saja 😀
    Saya yakin Ahmadiyah sesat 😀

  16. Assalamu’alaikum,
    Tenang saja, jawaban atas apa yang Netral simpulkan akan diperolah setelah memahami dulu bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as adalah memang benar-benar Imam Mahdi, Masih Mau’ud, Nabi & Rasul Ghairi Tasyri wa Ghairi Mustaqil. Oleh karena itu saya sarankan tolong deh delete dulu bahasa-bahasa “porno” seperti “Saya yakin ahmadiyah sesat”. Kata “porno” jangan dikomentari yah, hanya mutasyabihat saja. Oh ya, hadits dhaif dan maudhu sudah saya respon di rujukan. Wassalam.

  17. Assalamu’alaikum,
    Kenabian Setalah Nabi Muhammad saw Menurut Al Qur’an
    Nubuwwat (Kenabian) dan Muluk (Kerajaan) adalah nikmat Allah yang senantiasa dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih dan diridhai-Nya. Mereka yang terpilih ini dinamakan nabi/rasul yang diberi-Nya tugas untuk memperbaiki kehidupan ruhani manusia hingga mereka dapat menjalin perhubungan dengan Sang Pencipta, Tuhan Al Khaliq (Yang Maha Pencipta) dan Ar-Rabbul‘alamin (Yang Maha Memelihara alam semesta), dan dinamakan raja yang diberi-Nya tugas untuk memperbaiki kehidupan jasmani/duniawi manusia untuk menopang kehidupan ruhani mereka. Kedua nikmat Allah ini pernah dianugerahkan kepada Bani Israil sebagaimana firman-Nya:”Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya (Bani Israil), wahai kaumku, ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika Dia menjadikan diantara kamu nabi-nabi dan menjadikan kamu raja-raja” (QS Al Maidah 21).

    Sudah menjadi kebiasaan Allah Ta’ala (Sunnatullah), apabila kesesatan dan kebathilan telah merajalela, atau apabila kegelapan dan keburukan di dunia telah sampai pada puncaknya, Dia mengutus nabi-Nya untuk mengubah kegelapan menjadi cahaya yang terang benderang dan mengubah keburukan menjadi kebaikan. Allah Ta’ala berfirman: ”Dan, sesungguhnya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang dahulu. Dan sesungguhnya telah Kami utus para pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka” (QS Ash-Shafat 72-73). Sunnatullah ini dari dulu sampai sekarang dan untuk masa mendatang tidak pernah dan tidak akan pernah berubah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:”Maka sekali-kali tidak akan engkau dapatkan sesuatu perubahan dalam Sunnatullah; dan tidak pula sekali-kali engkau akan dapatkan sesuatu pergantian dalam Sunnatullah.” (QS Al Fathir 44).

    Namun sangat disayangkan, Sunnatullah ini khususnya pada saat permulaan Allah mengutus nabi-Nya kebiasaan hamba-hamba Allah (Sunnat-ul-Ibaad) selalu menolak atau mencemoohkannya, sebegaimana firman Allah Ta’ala: ”Ah, sayang hamba-hamba-Ku ! Tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.” (QS Yaasin 31), “Dan, tidak pernah datang kepada mereka seorang nabi, melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” (QS Az Zukhruf 8). Tetapi, pada saat nabi/rasul itu wafat, orang-orang yang tadinya menolak itu sadar lalu beriman kepadanya, dan karena kecintaan mereka yang berlebihan, mereka menolak menerima nabi lain yang akan diutus-Nya, sebagaimaan firman Allah: ”Sesudah beliau, Allah tidak akan pernah lagi mengangkat siapa pun yang akan menjadi rasul” (Al Mu’min 35), dan “Allah tidak akan membangkitkan lagi seorang (nabi/rasul) pun.” (QS Al Jin 8).

    Begitu pula yang terjadi di kalangan umat Islam saat ini, hanya karena kecintaan yang berlebihan kepada Nabi Muhammad saw dan perbedaan pendapat dalam ayat suci “khataman-nabiyyiin” serta hadits “laa nabiya ba’di”, timbul satu pemahaman bahwa setelah Nabi Muhammad saw, tidak akan ada lagi nabi, baik yang membawa syari’at ataupun yang tidak membawa syari’at. Memang kita percaya dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan diridhai Allah, berlaku untuk segala bangsa dan sepanjang masa, serta tidak akan berobah-obah sampai akhir zaman (Hari Kiamat). Akan tetapi hal ini, tidak menjamin umat Islam akan tetap bersatu dalam Jemaat dan tidak bercerai-berai, sebagaimana Allah melarangnya (QS Ali Imran 104). Justru sebaliknya, Rasulullah saw pernah bersabda bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan selamat, sedangkan sisanya akan berada dalam api. Mereka pun tidak bisa menjamin bahwa setelah kewafatan Nabi Muhammad saw, tidak akan ada lagi keburukan dan kesesatan. Bahkan sebaliknya, Rasulullah saw telah mengingatkan: ”Akan ada suatu masa ketika kejujuran akan menghilang, kebohongan dan kepalsuan akan merajalela, Islam tinggal namanya dan Al Qur’an tinggal tulisannya” (HR Baihaqi).

    Namun demikian, Allah telah berfirman:”Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang pernah dilahirkan untuk (keselamatan) umat manusia.” (QS Ali Imran 111), maka akan ada suatu golongan dalam Islam yang senantiasa berada dalam kebenaran dan memahami karakteristik Sunnatullah dan Sunnat-ul-Ibaad yang senantiasa bertolak belakang. Allah Ta’ala akan mengutus nabi-Nya yang tidak membawa syariat baru, tidak merobah Al Qur’an dan seutuhnya akan tunduk kepada aturan syariat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad saw serta akan mengikuti Sunnah Rasulullah saw dalam memperkuat dan mengembalikan kejayaan Islam yang kedua kalinya, ketika beberapa golongan Islam lain sedang mabuk dalam keduniawian dan bahkan ada sebagian lagi yang berperilaku sama sekali jauh dari ajaran Islam. Satu golongan Islam yang memiliki pemahaman tersebut, walaupun dinyatakan kafir, di luar Islam, sesat dan menyesatkan oleh beberapa golongan Islam lain, tetapi tetap saja maju bahkan berkembang pesat dan dinamis menyebar ke lima benua di seluruh dunia, berkat perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasulullah saw pun menyertai mereka.

    Kesimpulan:
    (1) Sunnatullah, dari dulu sampai sekarang dan untuk masa mendatang, tidak pernah dan tidak akan pernah berubah, yaitu mengutus nabi-Nya ketika kegelapan dan keburukan sudah merajalela, termasuk setelah Nabi Muhammad saw.
    (2) Begitu pula Sunnat-ul-Ibaad, walaupun bertolak belakang dengan Sunnatullah, tetapi tetap tidak akan berubah, yaitu hamba-hamba Allah senantiasa mencemoohkan dan memperolok-olokan nabi/rasul-Nya.
    (3) Akan ada satu golongan yang senantiasa berada di jalan kebenaran yang mendapat perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala dan mendapat syafa’at Rasulullah saw.
    Wassalam,

  18. Assalamu’alaikum,
    Tenang saja, jawaban atas apa yang Netral simpulkan akan diperolah setelah memahami dulu bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as adalah memang benar-benar Imam Mahdi, Masih Mau’ud, Nabi & Rasul Ghairi Tasyri wa Ghairi Mustaqil. Oleh karena itu saya sarankan tolong deh delete dulu bahasa-bahasa “porno” seperti “Saya yakin ahmadiyah sesat”. Kata “porno” jangan dikomentari yah, hanya mutasyabihat saja. Oh ya, hadits dhaif dan maudhu sudah saya respon di rujukan. Wassalam.

    haaaa…hahaha Dalil saya bukan pengakuan seseorang tetapi Al-qur’an, Kalau Al-Qur’an tidak menyebutkan Ada nabi baru lagi dan tidak membenarkan pendakwaan Ghulam Ahmad untuk apa saya menambahi yang tidak pernah ada menjadi ada. Maka dari itu, keyakinan saya itu Ahmadiyah adalah aliran sesat. Bila Anda anggap kata sesat adalah kalimat porno, kenapa Anda mengerjakan hal yang porno dengan menolak sholat di belakang Ahamdiyah, karena ada himbauan dari Nabi Anda bahwa non Ahmadi adalah “KAFIR”. Kenapa pula Anda tidak protes ke Ahmadiyah dengan dengan kalimat “KAFIR” tsb yang bisa dikatakan porno juga? sampai buku MA. Suryawan kala itu pernah dijual bebas di Gramedia. Sebaiknya jangan hanya bisa berkata saja tetapi Anda harus mempratekkannya apa yang menurut Anda kurang pantas. Termasuk Ghulam Ahmad juga menyatakan SESAT pula. Kenapa Anda tdk protes?

  19. Assalamu’alaikum,
    Kenabian Setalah Nabi Muhammad saw Menurut Al Qur’an
    Nubuwwat (Kenabian) dan Muluk (Kerajaan) adalah nikmat Allah yang senantiasa dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih dan diridhai-Nya. Mereka yang terpilih ini dinamakan nabi/rasul yang diberi-Nya tugas untuk memperbaiki kehidupan ruhani manusia hingga mereka dapat menjalin perhubungan dengan Sang Pencipta, Tuhan Al Khaliq (Yang Maha Pencipta) dan Ar-Rabbul‘alamin (Yang Maha Memelihara alam semesta), dan dinamakan raja yang diberi-Nya tugas untuk memperbaiki kehidupan jasmani/duniawi manusia untuk menopang kehidupan ruhani mereka. Kedua nikmat Allah ini pernah dianugerahkan kepada Bani Israil sebagaimana firman-Nya:”Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya (Bani Israil), wahai kaumku, ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika Dia menjadikan diantara kamu nabi-nabi dan menjadikan kamu raja-raja” (QS Al Maidah 21).

    Sudah menjadi kebiasaan Allah Ta’ala (Sunnatullah), apabila kesesatan dan kebathilan telah merajalela, atau apabila kegelapan dan keburukan di dunia telah sampai pada puncaknya, Dia mengutus nabi-Nya untuk mengubah kegelapan menjadi cahaya yang terang benderang dan mengubah keburukan menjadi kebaikan. Allah Ta’ala berfirman: ”Dan, sesungguhnya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang dahulu. Dan sesungguhnya telah Kami utus para pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka” (QS Ash-Shafat 72-73). Sunnatullah ini dari dulu sampai sekarang dan untuk masa mendatang tidak pernah dan tidak akan pernah berubah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:”Maka sekali-kali tidak akan engkau dapatkan sesuatu perubahan dalam Sunnatullah; dan tidak pula sekali-kali engkau akan dapatkan sesuatu pergantian dalam Sunnatullah.” (QS Al Fathir 44).

    Namun sangat disayangkan, Sunnatullah ini khususnya pada saat permulaan Allah mengutus nabi-Nya kebiasaan hamba-hamba Allah (Sunnat-ul-Ibaad) selalu menolak atau mencemoohkannya, sebegaimana firman Allah Ta’ala: ”Ah, sayang hamba-hamba-Ku ! Tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.” (QS Yaasin 31), “Dan, tidak pernah datang kepada mereka seorang nabi, melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” (QS Az Zukhruf 8). Tetapi, pada saat nabi/rasul itu wafat, orang-orang yang tadinya menolak itu sadar lalu beriman kepadanya, dan karena kecintaan mereka yang berlebihan, mereka menolak menerima nabi lain yang akan diutus-Nya, sebagaimaan firman Allah: ”Sesudah beliau, Allah tidak akan pernah lagi mengangkat siapa pun yang akan menjadi rasul” (Al Mu’min 35), dan “Allah tidak akan membangkitkan lagi seorang (nabi/rasul) pun.” (QS Al Jin 8).

    Begitu pula yang terjadi di kalangan umat Islam saat ini, hanya karena kecintaan yang berlebihan kepada Nabi Muhammad saw dan perbedaan pendapat dalam ayat suci “khataman-nabiyyiin” serta hadits “laa nabiya ba’di”, timbul satu pemahaman bahwa setelah Nabi Muhammad saw, tidak akan ada lagi nabi, baik yang membawa syari’at ataupun yang tidak membawa syari’at. Memang kita percaya dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan diridhai Allah, berlaku untuk segala bangsa dan sepanjang masa, serta tidak akan berobah-obah sampai akhir zaman (Hari Kiamat). Akan tetapi hal ini, tidak menjamin umat Islam akan tetap bersatu dalam Jemaat dan tidak bercerai-berai, sebagaimana Allah melarangnya (QS Ali Imran 104). Justru sebaliknya, Rasulullah saw pernah bersabda bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan selamat, sedangkan sisanya akan berada dalam api. Mereka pun tidak bisa menjamin bahwa setelah kewafatan Nabi Muhammad saw, tidak akan ada lagi keburukan dan kesesatan. Bahkan sebaliknya, Rasulullah saw telah mengingatkan: ”Akan ada suatu masa ketika kejujuran akan menghilang, kebohongan dan kepalsuan akan merajalela, Islam tinggal namanya dan Al Qur’an tinggal tulisannya” (HR Baihaqi).

    Namun demikian, Allah telah berfirman:”Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang pernah dilahirkan untuk (keselamatan) umat manusia.” (QS Ali Imran 111), maka akan ada suatu golongan dalam Islam yang senantiasa berada dalam kebenaran dan memahami karakteristik Sunnatullah dan Sunnat-ul-Ibaad yang senantiasa bertolak belakang. Allah Ta’ala akan mengutus nabi-Nya yang tidak membawa syariat baru, tidak merobah Al Qur’an dan seutuhnya akan tunduk kepada aturan syariat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad saw serta akan mengikuti Sunnah Rasulullah saw dalam memperkuat dan mengembalikan kejayaan Islam yang kedua kalinya, ketika beberapa golongan Islam lain sedang mabuk dalam keduniawian dan bahkan ada sebagian lagi yang berperilaku sama sekali jauh dari ajaran Islam. Satu golongan Islam yang memiliki pemahaman tersebut, walaupun dinyatakan kafir, di luar Islam, sesat dan menyesatkan oleh beberapa golongan Islam lain, tetapi tetap saja maju bahkan berkembang pesat dan dinamis menyebar ke lima benua di seluruh dunia, berkat perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasulullah saw pun menyertai mereka.

    Kesimpulan:
    (1) Sunnatullah, dari dulu sampai sekarang dan untuk masa mendatang, tidak pernah dan tidak akan pernah berubah, yaitu mengutus nabi-Nya ketika kegelapan dan keburukan sudah merajalela, termasuk setelah Nabi Muhammad saw.
    (2) Begitu pula Sunnat-ul-Ibaad, walaupun bertolak belakang dengan Sunnatullah, tetapi tetap tidak akan berubah, yaitu hamba-hamba Allah senantiasa mencemoohkan dan memperolok-olokan nabi/rasul-Nya.
    (3) Akan ada satu golongan yang senantiasa berada di jalan kebenaran yang mendapat perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala dan mendapat syafa’at Rasulullah saw.
    Wassalam,

    Lagii lagiii dalil yang sudah basi yang pernah dibahas di http://islam.us.to
    Jadi males dech mengomentari bukti-bukti yang sudah basi. Dan Masih bukti-bukti ini juga belum membuktikan pendakwaan ghulam ahmad dan adanya nabi baru lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Yang kreatif dong kalau ngasih bukti kepada saya. Jangan suka asal mencontek dari buku-buku Ahmadiyah saja. Coba berinovasi dengan pemikiran Anda sendiri

  20. Apapun bukti yang Anda berikan, sudah dipatahkan oleh Nabi Anda sendiri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang terkahir

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Ceritanya doktrin makan tuan 😀

  21. Nampaknya ada kesulitan utk memahami penjelasan dr Sinar Galih, menurut pandangan saya hal itu krn argumen selalu disandarkan atas pendapat org lain dan hanya seputar argumen2 textual. Kalau saja para penganut agama di dunia ini hidup/hadir di jaman para pendiri agama itu sendiri atau di jaman para nabi pembawa agama, saya yakin kesulitan yg sama akan ditemukan seperti halnya orang2 pada jaman sekarang begitu sulit menerima suatu pendakwaan dari seseorang dengan mengatas namakan Tuhan.

    Maksud saya, kalau sementara ini sulit sekali menerima penjelasan dr seseorang yg telah mengakui pendakwaan seseorang yg datang dr Tuhan, maka sebaiknya orang tersebut juga bisa kemukakan argumen yg sama ketika dia menerima kebenaran dari sosok/pribadi yang diyakininya benar sebagai seseorang yg datang dr Tuhan.

    Contohnya: Kalau ada seseorang yg pada saat ini merasa beriman dan yakin atas kerasulan/kenabian dr N. Muhammad SAW. maka keyakinannya pun harus dilandasi argumen, mengapa dia begitu yakin bahwa N. Muhammad SAW adalah seorang nabi yg diutus Tuhan?
    Kalau jawaban ini harus dijawab ketika dia hadir pada saat Nabi Muhamad saw. mendakwakan diri pada waktu itu, saya sangat yakin sekali dia akan kesulitan memberikan jawabannya.
    Coba silahkan dikemukakan, dalil apa yg bisa diberikan ttg keyakinan dia thd N. Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan?

    Kalau dia bisa menjawab pertanyaan itu, silahkan bandingkan dgn jawaban yg dikemukkan oleh orang2 yg meyakini pendakwaan seseorang yg menyatakan datang atas nama Tuhan….

    masih belum paham? silahkan tanggapi dulu. Tks

  22. Jawaban orang yang sudah kepepet oleh dalil dari Ahmadiyah yang mengatakan yang terkahir adalah Nabi Muhammad SAW 😀
    Saya tidak bersandarkan pendapat orang lain. Kenyataannya Allah tidak mengatakan adanya Nabi Baru lagi dan Pendakwaan Ghulam bertentangan Al-Qur’an. Tuch, apa saya bersandarkan pendapat orang lain. Pendapat dari ghulam ahmad dan ditulis oleh khalifah Anda tidak ditaati. Percuma bai’at kalau tidak taat 😀
    Silahkan Anda bantu Sinar Galih mencari ayat yg menguatkan pendakwaan Ghulam Ahmad. Bukannya Anda sendiri yang menyandarkan pendapat orang lain yaitu dari pentolan-pentolan Ahmadiyah yang ditulis dalam buku-buku Ahmadiyah 😀

    Coba silahkan dikemukakan, dalil apa yg bisa diberikan ttg keyakinan dia thd N. Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan?

    hee…hee Orang yang ga pernah baca Al-Qur’an kalee sampai belum tahu bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah 😀
    Jadi ga semangat berdiskusi melawan orang yang tidak ngerti Al-Qur’an 😀

  23. Nah itulah seperti apa yg saya bilang, padahal Sinar Galih sdh sangat jelas memberikan argumen ttg keberlangsungan Nabi yg tdk membawa syariat, ada bbrp ayat AQ yg sdh dikemukakan, Satu saja yg saya tukil kembali disini yaitu: AQ. Surah An Nisa : 70 silahkan dibantah ayat itu, tapi saya sarankan, utk memahami ayat ini anda harus faham bahasa Arab terlebih dahulu, kl tdk, maka sia2 saja jawabannya….silahkan

  24. Nah itulah seperti apa yg saya bilang, padahal Sinar Galih sdh sangat jelas memberikan argumen ttg keberlangsungan Nabi yg tdk membawa syariat, ada bbrp ayat AQ yg sdh dikemukakan

    Haaa…haaa Orang yang lagi ngimpi, mana ada di Al-qur’an disebut Nabi yang tidak membawa syariat. Ah…itu mah biasa pembagian fiktif ala Ahmadiyah dengan mendustakan Al-Qur’an dengan maksud MGA diterima kaum muslimin. Saya bukan anak kecil yang bisa dibodohi dengan pembagian fiktif tersebut. Kata Al-Nabiyyin kalau Anda mau mempelajari secara jujur dan teliti, Anda akan menemukannya sebanyak 16 kali dan kesemuanya memakai artikel Alif lam ta’rif sama seperti yang tertulis di Al-Ahzab. Lucu kalau Al-Nabiyyin di al-ahzab diartikan Ahmadiyah adalah Nabi yang membawa syariat sedangkan Al-Nabiyyin pada ayat lainnya tidak diartikan Nabi yang membawa syariat saja. Terbongkar dech model kedustaan ala Ahmadiyah 😀
    Hanya orang yang tidak berakal saja yang bisa dibodohi pembagian fiktif ala Ahmadiyah 😀

    Satu saja yg saya tukil kembali disini yaitu: AQ. Surah An Nisa : 70 silahkan dibantah ayat itu,

    Kalau mimpi itu jangan berkepanjangan Pak. Ayat ini sudah saya bantah, bahkan sudah berikan Ayat dan haditsnya pun Sinar Galih tidak mampu menjawabnya. Wajar sinar galih menulis bukti tsb ke topik lain seolah-olah saya tidak pernah menjawabnya. Di blog ini sudah ditulis bantahannya ayat tersebut. Perkataan Al-Qur’an dan Perkataan Rasulullah dalam Hadits saja dibantah oleh Ahmadiyah. Apalagi manusia biasa. Maklum orang sesat khan memang tidak taat dalam hal kenabian. 😀

    silahkan dibantah ayat itu, tapi saya sarankan, utk memahami ayat ini anda harus faham bahasa Arab terlebih dahulu, kl tdk, maka sia2 saja jawabannya….silahkan

    Bahasa Arab saja tidak cukup pak tapi didukung nahwu shorof 😀 Monggo kalau bapak mau berdebat dengan saya Nahwu shorofnya 😀

    Saya contohkan dech ayat yg dikupas nahwu shorof seperti dibawah ini:


    يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

    Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(QS.2:9)

    يُخَادِعُونَ اللَّهَ

    Kata yukhoodi’uuna adalah fi’il Mudhari yang didalamnya ada Dhomir hum/mereka yang menjadi Fa’ilnya, dan kata Allooha adalah Maf’ulnya, dari kata yukhoodi’uuna itu mengikuti wazan/timbangan yufaa’iluuna.

    وَالَّذِينَ آمَنُوا

    Kata huruf wawu adalah Wawu Athaf, dan kata al-ladziina aamanuu yang terdiri dari Isim Mausul dan Silahnya itu diathafkan oleh Wawu Athaf tersebut kepada kata Allooha yang menjadi Maf’ul.

    وَمَا يَخْدَعُونَ

    Kata huruf wawu adalah Wawu Haal yang artinya padahal, dan kata maa adalah Maa Nafiyah, dan kata yakhda’uuna adalah fi’il Mudhari yang didalamnya ada dhomir hum yang menjadi Fa’ilnya.

    إِلا أَنْفُسَهُمْ

    Kata huruf illaa adalah Adatu Hasrin/alat untuk meringkas, dan kata anfusahum yang terdiri dari Mudhof Ilaih itu adalah menjadi Maf’ul dari fi’il Mudhari yakhda’uuna.

    وَمَا يَشْعُرُونَ

    Kata huruf wawu adalah huruf Athaf, dan kata maa sesudahnya adalah Maa Nafiyah, dan kata yasy’uruun adalah fi’il Mudhari yang di dalamnya ada Dhomir hum yang menjadi Fa’ilnya.

    Paling tidak Anda mengerti soal Nahwu Shorof soal beginian khan sampai nanya ke saya tentang tata bahasa Arab.

  25. >>>hee…hee Orang yang ga pernah baca Al-Qur’an kalee sampai belum tahu bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah 😀
    Jadi ga semangat berdiskusi melawan orang yang tidak ngerti Al-Qur’an 😀

    Jawab: He.he, Kl anda hidup ketika N. Muhamad mendakwakan diri mana ada AQ? ketika itu Beliau SAW hanya mengatakan bahwa Beliau telah diutus oleh Allah, terus bagaimana sdr bisa percaya atas pendakwaan Beliau? memang bbrp ayat AQ telah diturunkan, terus ayat yg mana yg akan sdr yakini bahwa Beliau SAW adalah memang utusan Tuhan? buktinya apa?

    Kalau jawabannya semudah yg sdr kemukakan sekarang, maka tdk mgkn Rasulullah SAW selama 10 mengalami penderitaan…silahkan banyak baca Tarikh Islam

  26. >>Haaa…haaa Orang yang lagi ngimpi, mana ada di Al-qur’an disebut Nabi yang tidak membawa syariat. Ah…itu mah biasa pembagian fiktif ala Ahmadiyah dengan mendustakan Al-Qur’an dengan maksud MGA diterima kaum muslimin. Saya bukan anak kecil yang bisa dibodohi dengan pembagian fiktif tersebut. Kata Al-Nabiyyin kalau Anda mau mempelajari secara jujur dan teliti, Anda akan menemukannya sebanyak 16 kali dan kesemuanya memakai artikel Alif lam ta’rif sama seperti yang tertulis di Al-Ahzab. Lucu kalau Al-Nabiyyin di al-ahzab diartikan Ahmadiyah adalah Nabi yang membawa syariat sedangkan Al-Nabiyyin pada ayat lainnya tidak diartikan Nabi yang membawa syariat saja. Terbongkar dech model kedustaan ala Ahmadiyah

    Saya tdk perlu kutip ayat AQ lagi, silahkan sdr jawab, Syariat Nabi Harun, yahya, dan lain2 termasuk Isa as. menurut sdr nabi jenis apa? dalam AQ kita dapat temui, bahwa Nabi2 setelah Nabi Musa as. semua adalah Nabi yg tdk membawa syariat baru krn para nabi tsb berhukum pada kitab taurat…silahkan baca kembali dengan teliti AQ ttg hal tsb….ayatnya banyak sekali

  27. >>> Saya bukan anak kecil yang bisa dibodohi dengan pembagian fiktif tersebut. Kata Al-Nabiyyin kalau Anda mau mempelajari secara jujur dan teliti, Anda akan menemukannya sebanyak 16 kali dan kesemuanya memakai artikel Alif lam ta’rif sama seperti yang tertulis di Al-Ahzab. Lucu kalau Al-Nabiyyin di al-ahzab diartikan Ahmadiyah adalah Nabi yang membawa syariat sedangkan Al-Nabiyyin pada ayat lainnya tidak diartikan Nabi yang membawa syariat saja. Terbongkar dech model kedustaan ala Ahmadiyah 😀
    Hanya orang yang tidak berakal saja yang bisa dibodohi
    pembagian fiktif ala Ahmadiyah 😀

    Jawab: Dalam Surah Al Ahzab itu saya tdk membahas mengenai masalah An Nabiyiin tp masalah ‘Khaatam’, dan jelas, kata khaataman dlm surah tsb hanya satu2nya dalam bentuk Isim (kata benda), dan arti mnrt kamus adalah Cincin, Cap, atau Stempel….

  28. He.he, Kl anda hidup ketika N. Muhamad mendakwakan diri mana ada AQ? ketika itu Beliau SAW hanya mengatakan bahwa Beliau telah diutus oleh Allah, terus bagaimana sdr bisa percaya atas pendakwaan Beliau? memang bbrp ayat AQ telah diturunkan, terus ayat yg mana yg akan sdr yakini bahwa Beliau SAW adalah memang utusan Tuhan? buktinya apa?

    Kalau jawabannya semudah yg sdr kemukakan sekarang, maka tdk mgkn Rasulullah SAW selama 10 mengalami penderitaan…silahkan banyak baca Tarikh Islam

    Periksa dech tafsir Ahmadiyah sampai mencantumkan bible segala th Muhammad SAW 😀
    Saya sich ga neko2. Al-Qr’an sudah merupakan petunjuk. Nah Anda sendiri saja pecaya kepada Rasulullah. Apa pernah mendengar ayat yang menjelaskan jika terjadi perbedaan pendapat kembali kepada Al-Qur’an, dan hadits. Ga pernah denger ayatnya ya ? Apa jarang membaca Al-Qur’an sampai bertanya seperti itu? 😀 Gitu aja koq repot.
    Al-qur’an itu sebagai wahyu yang mengandung yang mengandung syari’at Allah yang paling akhir yang merupakan pedoman yang lengkap dalam kehidupan manusia di dunia menuju kehidupan akhirat, dan ayat-ayatnyapun pada umumnya sudah jelas jelas pengertiannya, biasanya mendapat penjelasan dari ayat lainnya atau diterangkan secara langsung oelh Rasulullah dalam bentuk sunnah atau melalui hadits-haditas beliau SAW. Nah itu pedoman saya. Maklum sich pedomanmu Wahyu syaitan dari ghulam Ahmad 😀

    Saya tdk perlu kutip ayat AQ lagi, silahkan sdr jawab, Syariat Nabi Harun, yahya, dan lain2 termasuk Isa as. menurut sdr nabi jenis apa? dalam AQ kita dapat temui, bahwa Nabi2 setelah Nabi Musa as. semua adalah Nabi yg tdk membawa syariat baru krn para nabi tsb berhukum pada kitab taurat…silahkan baca kembali dengan teliti AQ ttg hal tsb….ayatnya banyak sekali

    Ga ad hubungannya bro dengan adanya Nabi sesudah Muhammad SAW. Bilang saja kalau akan datang Nabi yang berfungsi sebagai pelanjut syariat Nabi Muhammad SAW. heee…heee Pakai ngatur Allah segala dalam hal menurunkan Nabi. 😀 Manusia ngatur Allah dalam menurukan nabi…capee dech. ga ada aksioma tuch sesudah Nabi Muhammad SAW masih ada lagi Nabi dengan alasan banyaknya Nabi-Nabi Bani Israil yang mengikuti syariat Taurat 😀

    Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk (QS.7.158)

    Dalam Surah Al Ahzab itu saya tdk membahas mengenai masalah An Nabiyiin tp masalah ‘Khaatam’, dan jelas, kata khaataman dlm surah tsb hanya satu2nya dalam bentuk Isim (kata benda), dan arti mnrt kamus adalah Cincin, Cap, atau Stempel.

    Koq plin-plan gitu, sebelumnya ngomong soal Nabi yang membawa syariat. Kemudian saya beri petunjuk banyak ayat yang menggunakan kata Al-Nabiyyin, kemudian plin-plan ke KHAATAMA annabiyyin. Katanya sudah pernah baca Tafsir JAI. Kenapa artinya cuma hanya itu saja dan menghilangkan arti “penutup” 😀 Khan sudah saya beri linknya.
    Jadi kalau Anda mengetikan seperti itu berarti Rasullah adalah sebuah benda yang bernama cincin, Cap, atau Stempel. Buka2 dech haditsnya kala Rasullah sebuah benda 😀
    Memangnya Anda mengenal Rasulullah SAW selama ini itu sebuah benda?
    Btw Khaatama pada Al-Ahzab menurut Anda adalah Isim. Tolong dong sebutkan Isim apa kalau boleh tahu? Kalau hanya nyebut Isim saja sama saja jawaban anak kecil. Maklum sich hawa nafsu yang dikedepankan oleh Anda 😀
    Trus ayat2 yang saya berikan apa sudah ketemu? itu khan berhubungan dengan surat Al-Ahzab. Masak sich nantinya Memetarai, mencincin, mencap hati? 😀 bagaimana ya caranya hati itu dimaterai, dicincin dan dicap 😀
    Paling lucu sudah dibantah oleh pihak Ahmadiyah sendiri dalam buku da’watul amir:

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Masih bebal juga? Ya maklumlah, biasanya pengikut aliran sesat itu bebal-bebal karena sudah meanggap benar perkataan manusia tanpa didukung Al-Qur’an. 😀

  29. Untuk Sdr.Andri

    Ada topik ttg Ahmadiyah sangat menarik yang mungkin Sdr bisa menjawabnya pada topik yang dimuat di link dibawah:

    http://addariny.wordpress.com/2009/07/09/sejarah-keramat-sang-mirza-ghulam-ahmad/

    http://addariny.wordpress.com/2009/06/19/tadzkiroh-dan-akidah-yang-dikandungnya/

  30. >> Saya sich ga neko2. Al-Qr’an sudah merupakan petunjuk. Nah Anda sendiri saja pecaya kepada Rasulullah. Apa pernah mendengar ayat yang menjelaskan jika terjadi perbedaan pendapat kembali kepada Al-Qur’an, dan hadits. Ga pernah denger ayatnya ya ? Apa jarang membaca Al-Qur’an sampai bertanya seperti itu? 😀 Gitu aja koq repot.

    Jawab: AQ itukan isinya pernyataan Textual yg disampaikan Nabi Muhamad SAW…dan kl anda hidup di jaman Nabi saw. AQ itu belum lengkap seluruhnya, pertanyaan saya sederhana, apa yg menjadi landasan keyakinan sdr bahwa pernyataan yg disampaikan Nabi Muhamaad itu benar adanya datang dari Tuhan? kenapa tdk sdr kemukakan saja ayatnya kl memang itu yg menjadi dasar keyakinan sdr terhadap Nabi Muhamad saw.? saya hanya ingin tunjukkan contoh, pernyataan apapun dr seorang utusan Tuhan adalah akan dianggap tdk masuk akal pada masanya…

  31. >> Ga ad hubungannya bro dengan adanya Nabi sesudah Muhammad SAW. Bilang saja kalau akan datang Nabi yang berfungsi sebagai pelanjut syariat Nabi Muhammad SAW. heee…heee Pakai ngatur Allah segala dalam hal menurunkan Nabi. 😀 Manusia ngatur Allah dalam menurukan nabi…capee dech. ga ada aksioma tuch sesudah Nabi Muhammad SAW masih ada lagi Nabi dengan alasan banyaknya Nabi-Nabi Bani Israil yang mengikuti syariat Taurat 😀

    Jawab: Hubungannya sdh jelas sekali, dlm AQ telah dicontohkan ada nabi yg membawa syariat dan ada juga yang tdk membawa syariat seperti nabi2 dikalangan bani Israil yg melanjutkan ajaran Nabi Musa melalui Taurat…..Apa itu kurang jelas!! itu tdk mengada2, AQ sendiri yg mengajarkan kepada kita pembagian itu…kecuali sdr menolak keterangan AQ.

    Kl sdr sdh faham teori ini, makanya seharusnya menurut saya sdr bisa faham ttg keberlanjutan pangkat kenabian yg dimaksud oleh AQ

  32. Ungkapan diatas datangnya dari seorang yang IGNORANCE, karena kepepet terus nuduh orang lain kepepet, kaya maling teriak maling.

    Sedangkan yang dibantahnya adalah (1) Kamus Terkemuka Bahasa Arab, (2) ucapan Nabi Muhammad Rasulullah (Khataman Nabiyyin) saw, dan (3) ucapan Imam Mahdi as yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah saw.Ungkapan diatas datangnya dari seorang yang IGNORANCE, karena kepepet terus nuduh orang lain kepepet, kaya maling teriak maling.

    heee…hee Malu ya karena dalam tafsir Ahmadiyah mengatakan penutup juga, tuch ada ayatnya asalah dari khaatam 😀
    Bukannya Anda sendiri kepepet oleh tafsir resmi Ahmadiyah dan buku da’watul amir (lihat lampiran dong):D

    Saya sudah menjawab dengan jelas dan tegas. Saya tidak mau mempedulikan apa yang Netral sebut “DOKTRIN MAKAN TUAN” ini, karena saya tidak mau masuk ke dalam DEBAT KUSIR, dan ini membuktikan Netal tidak memiliki hujjah yang bisa mematahkan dalil-dalil dari Jemaat Ahmadiyah.
    Wassalam.

    Hiii…hiiii kelihatan malunya karena dipatahkan oleh Nabi dan khalifahnya sendiri sehingga mengungkapkan pertanyaan yang sebenarnya pantas untuk dirinya 😀 sudah dikasih linknya saja masih malas membacanya. Semua doktrin Anda sudah dikupas oleh link2 yang saya berikan. Maklum sudah tidak bisa menahan malu karena dipatahkan oleh Ahmadiyah sendiri dan tidak bisa membuktikan pendakwaan ghulam Ahmad di AL-Qur’an sehingga berusaha mengalihakan perhatian ke arah lain 😀
    jadi dibawah ini apa ya pak? 😀
    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Pendakwaan ghulam Ahmad koq ga mampu dijawab pak dgn Al-Qur’an? ihhhhh MALU Nich yeee 😀

  33. AQ itukan isinya pernyataan Textual yg disampaikan Nabi Muhamad SAW…dan kl anda hidup di jaman Nabi saw. AQ itu belum lengkap seluruhnya, pertanyaan saya sederhana, apa yg menjadi landasan keyakinan sdr bahwa pernyataan yg disampaikan Nabi Muhamaad itu benar adanya datang dari Tuhan? kenapa tdk sdr kemukakan saja ayatnya kl memang itu yg menjadi dasar keyakinan sdr terhadap Nabi Muhamad saw.? saya hanya ingin tunjukkan contoh, pernyataan apapun dr seorang utusan Tuhan adalah akan dianggap tdk masuk akal pada masanya…

    hee…heee saya hidup di zaman sekarang, silahkan kamu berkhayal dizaman sebelumnya dan Al-Qur’an merupakan petunjuk agar tidak tersesat 😀

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.4:59)

    Masih kurang jelas dengan ayat tsb 😀

    Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”(QS.7:158)

    Makin jelas nich ayat siapa yang patut diikuti kalau bukan Rasulullah SAW dan bukan Ghulam Ahmad 😀

  34. Hubungannya sdh jelas sekali, dlm AQ telah dicontohkan ada nabi yg membawa syariat dan ada juga yang tdk membawa syariat seperti nabi2 dikalangan bani Israil yg melanjutkan ajaran Nabi Musa melalui Taurat…..Apa itu kurang jelas!! itu tdk mengada2, AQ sendiri yg mengajarkan kepada kita pembagian itu…kecuali sdr menolak keterangan AQ.

    Kl sdr sdh faham teori ini, makanya seharusnya menurut saya sdr bisa faham ttg keberlanjutan pangkat kenabian yg dimaksud oleh AQ

    Saya faham….. . Sekarang masanya siap pak? Nabi Muhammad SAW. Kitabnya: Al-Qur’an dan bukan taurat. Al-qur’an kitab yang sempurna dan merupakan petunjuk pada masa sekarang. Dan dalam Al-Qur’an tidak disebutkan datangnya nabi baru sesudah Muhammad SAW 😀

  35. >>> Koq plin-plan gitu, sebelumnya ngomong soal Nabi yang membawa syariat. Kemudian saya beri petunjuk banyak ayat yang menggunakan kata Al-Nabiyyin, kemudian plin-plan ke KHAATAMA annabiyyin. Katanya sudah pernah baca Tafsir JAI. Kenapa artinya cuma hanya itu saja dan menghilangkan arti “penutup” 😀 Khan sudah saya beri linknya.
    Jadi kalau Anda mengetikan seperti itu berarti Rasullah adalah sebuah benda yang bernama cincin, Cap, atau Stempel. Buka2 dech haditsnya kala Rasullah sebuah benda 😀
    Memangnya Anda mengenal Rasulullah SAW selama ini itu sebuah benda?
    Btw Khaatama pada Al-Ahzab menurut Anda adalah Isim. Tolong dong sebutkan Isim apa kalau boleh tahu? Kalau hanya nyebut Isim saja sama saja jawaban anak kecil. Maklum sich hawa nafsu yang dikedepankan oleh Anda 😀

    Jawab: Masalahnya sdr kutif surah Al Ahzab, maka saya tekankan, utk surat Al Ahzab itu kaitannya dgn Ayat ‘ Khaataman Nabiyyiin” utk ini saya tdk yakin bhwa sdr sdh baca terjemah dan tafsir AQ yg diterbitkan oleh JAI mengenai surah Al Ahzab ini, krn penjelasannya disana sdh jelas sekali ttg arti khaatam tsb.

    ttg bentuk kata khaataman dalam surah Al Ahzab ini, silahkan para ahli bahasa arab utk cek lagi, dalam ayat itu, kata khaatam dalam kata Khaataman Nabiyyiin’ adalah bentuk Isim, dan hanya satu2nya tertulis dalam AQ, krn yg lain ada dlm bentuk fail…silahkan periksa kembali.

    Menurut sdr artinya adalah Penutup, Ok, itu juga adalah bentuk Isim, tp penutup itu disebut isim fail, sedangkan aturannya kalau itu isim fail maka tulisan arabnya itu harus khaatimun…sedangkan dlm AQ tertulis khaataman…ini namanya Isim ‘ala…..jelas sekali berbeda

    Mgkn sdr tdk faham tentang arti perumpamaan ya, seperti contohnya bahwa nabi Muhamad saw prh dipanggil dengan kata2 Bulan atau Matahari, itu adalah perumpamaan/kiasan, tentu saja bukan dlm arti yg sesungguhnya. Begitu pula ttg Cincin, cincin adalah sebuah perhiasan, tentunya dalam maksud itu pula beliau dimisalkan, krn beliau saw adalah memang perhiasan para nabi.

    Lebih jelas lagi, dlm paramasastra Arab, bila kta khaatam itu diidhofatkan (dirangkaikan) dgn bentuk kata benda dlm bentuk jamak maka artinya adalah ‘ yang faling Afdhal” atau sempurna…dan yg dituliskan oleh Sirna Galih itu adalah sebagian contoh2nya…

    Mudah2an bisa membuka wawasan penjelasan ini

  36. Masalahnya sdr kutif surah Al Ahzab, maka saya tekankan, utk surat Al Ahzab itu kaitannya dgn Ayat ‘ Khaataman Nabiyyiin” utk ini saya tdk yakin bhwa sdr sdh baca terjemah dan tafsir AQ yg diterbitkan oleh JAI mengenai surah Al Ahzab ini, krn penjelasannya disana sdh jelas sekali ttg arti khaatam tsb.

    ttg bentuk kata khaataman dalam surah Al Ahzab ini, silahkan para ahli bahasa arab utk cek lagi, dalam ayat itu, kata khaatam dalam kata Khaataman Nabiyyiin’ adalah bentuk Isim, dan hanya satu2nya tertulis dalam AQ, krn yg lain ada dlm bentuk fail…silahkan periksa kembali.

    Menurut sdr artinya adalah Penutup, Ok, itu juga adalah bentuk Isim, tp penutup itu disebut isim fail, sedangkan aturannya kalau itu isim fail maka tulisan arabnya itu harus khaatimun…sedangkan dlm AQ tertulis khaataman…ini namanya Isim ‘ala…..jelas sekali berbeda

    Mgkn sdr tdk faham tentang arti perumpamaan ya, seperti contohnya bahwa nabi Muhamad saw prh dipanggil dengan kata2 Bulan atau Matahari, itu adalah perumpamaan/kiasan, tentu saja bukan dlm arti yg sesungguhnya. Begitu pula ttg Cincin, cincin adalah sebuah perhiasan, tentunya dalam maksud itu pula beliau dimisalkan, krn beliau saw adalah memang perhiasan para nabi.

    Lebih jelas lagi, dlm paramasastra Arab, bila kta khaatam itu diidhofatkan (dirangkaikan) dgn bentuk kata benda dlm bentuk jamak maka artinya adalah ‘ yang faling Afdhal” atau sempurna…dan yg dituliskan oleh Sirna Galih itu adalah sebagian contoh2nya…

    Mudah2an bisa membuka wawasan penjelasan ini

    Maka dari itu Anda lihat lampiran diatas bahwa khaatama pada ayat Al-Ahzab ini berasal dari kata khatama. Dan kata khatama bisa Anda bisa lihat di lampiran diatas ayat-ayatnya. Menerjemahkan ayat dengan ayat dijamin kebenarannya. Jika pengertian khaatam ada di Al-Qur’an kenapa menggunakan kamus. Apa arti sholat dalam kamus? 😀
    Saya mengakui bahwa khaatam adalah cincin dalam hadits bukhari tetapi Rasulullah bukan sebuah cincin. Dalam hadits tsb Rasulullah bukanlah cincin 😀
    Silahkan Anda rangkai kata cincin di surat al-ahzab. Sama saja Anda menyamakan Rasulullah dengan cincin. Sedangkan Rasulullah bukanlah sebuah cincin.
    Saya ulangi apakah selama ini Anda mengenal Rasulullah SAW itu sebuah cincin?
    Anda bawa kata-kata idhofah. Sekarang saya tanya syarat-syarat dari idhofah itu apa? Anda percaya sama sinar galih sedangkan sinar galih sendiri tidak bisa menjawab apa itu idhofah dan syarat-syaratnya. Bahkan Anda sendiri saya tanya khaatma isim apa, Anda tidak bisa menjawabnya. Apa mungkin sebuah cincin itu paling afdhol dan sempurna dibandingkan manusia menurut Anda?
    Silahkan Anda jawab soal idhofat dan isim? saya tunggu.
    oh ya perlu diingat dalam surat Al-Ahzab yang kita bahas adalah KHAATAMA annabyyin. Khaataman nabiyyin itu hanya pengucapan saja. Sekalin saya tanya kepada Anda KHAATAMA itu wazannya apa? dan Isim apa menurut Anda?
    Percuma Anda bisa menjawab ini itu tetapi dasarnya saja tidak tahu 😀

  37. Untuk Andri baca lampirannya ya biar faham dan dibawah ini perkataan ghulam Ahmad yang ditulis oleh khalifah Ahmadiyah :

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    apa kurang jelas kata-kata itu 😀

  38. “Sesungguhnja mereka (yang dikirim surat), mereka tidak mau menerima surat-surat itu, kecuali bila diatas surat-surat itu dibubuhi cap. Lalu Rasulullah SAW mengambil cap (stempel) yang dibuat daripada perak dan terukir tulisan Muhammadun Rasulullah”

    Apa dalam hadits ini Rasulullah SAW adalah sebuah stempel?

  39. Para ahmadi tidak ada yang berani diskusi di link yg saya beri?

  40. >> Saya mengakui bahwa khaatam adalah cincin dalam hadits bukhari tetapi Rasulullah bukan sebuah cincin. Dalam hadits tsb Rasulullah bukanlah cincin

    Jawab: Bagus itu, minimal sdr sdh mengakui bahwa arti khaatam adalah cincin atau stempel, silahkan siapun dpt membandingkan, huruf per huruf bahwa dalam AQ surah Al Ahzab itu tulisannya memang hrs mengarah dlm arti Cincin/Cap/Stempel, krn memang begitulah tertulis dalam AQ. Sdr sdh kutif tafsir ayat surah alAhzab yg diterbitkan oleh JAI, apalagi sdh jelas apa yg saya tulis pun demikian maksudnya.

    Kutipan hadist itu jelas sekali memang tdk mengatakan bahwa Rasulullah adalah cincin, tp yg saya garis bawahi adalah, khaatam itu artinya cincin …jelas, tentu saja ini berbeda sekali konteksnya dengan khaatam dgn ayat dlm surah Al ahzab.

    Saya tdk prl terangkan syarat2 idhofah, yg jelas kl seseorang faham bahasa Arab, maka dia pasti mengerti ayat ‘khaataman Nabiyyiina’ dalam surah Al Ahzab itu disebut Mudhaf2 ilaihi, atau secara sederhana kl dlm bahasa Indonesia dpt disebandingkan dengan kata majemukl, dimana dalam dua kata yg mandiri saling melengkapi artinya jadi satu kesatuan, Contoh: Bintang Pelajar adalah 2 kata benda yg memiliki makna masing2 tetapi ketika dua kata tsb digabung maka maknanya pun kita semua sdh faham, bintang pelajar adalah artinya murid yg terpandai.

    Nah kalau sdr faham mengenai hal ini, tentu harusnya sdr faham apa yg dimaksud dengan Khaataman Nabiyyiin dalam ayat Surah Al Ahzab itu, penjelasannya sdh sangat jelas, contoh2 dalam bahasa Sastra arab Arab juga sdh ditunjukkan, arti kamus telah nyata, Apalagi?

    Sdr mengutip penjelasan Arti Khaatam dalam Da’watul Amir….bagus kl sdr memang sdh membacanya, tp hrsnya secara logika saja sdr harusnya faham, Buku Da’watul Amir itu ditulis sebagai penjelasan bagi orang yg belum faham mengenai Aqidah Ahmadiyah, bagimana mgkn sdr saya hrs baca lagi? Aneh…kl sdr betul2 sdh baca semua yg ada dalam buku Da’watul Amir, seharusnya sdr pastinya Sudah baca pula penjelasan saya ttg arti khaatam itu terdapat pula dalam buku itu, tp saya sdh tdk aneh dr kebiasaan para penentang dari Jemaat Ahmadiyah, yaitu mengutip sepotong keterangan tp tidak mengutip keterangan/penjelasan yg lainnya, jd seolah2 sepotong keterangan itulah yg menjadi Aqidah Ahmadiyah padahal dalam setiap keterangan pasti penjelasannya mun diterangkan pula…..

    Bagaimana sdr mau sodorkan sepotong2 keterangan dr tulisan khalifah Ahmadiyah? menurut saya, sebaiknya kl sdr mau mengutip keterangan dr buku sumber Ahmadiyah, sebaiknya lengkap dengan konteks bahasannya, krn saya yakin kl saja setiap org baca dengan lengkap tdk mgkn punya kesimpulan seperti sdr….

    jangankan satu Topik bahasan, menurut saya satu konteks bahasan dalam ayat saja sdr sdh keliru memahami dan terlalu cepat menghakimi org yg punya pendapat lain adalah salah

    Yg adil menurut saya, sebaiknya satu sama lain saling menghargai pendapat, Saya sdh lama mempelajari kajian dr Aqidah Ahmadiyah, dan memurut saya penafsirannya pun dapat dipertanggungjawabkan dr segi keilmuan.

    Anda sependapat silahkan, kalau pun tdk sependapat saya kira kenapa harus terdapat kebencian?

  41. >>> Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.4:59)

    Jawab: Ok, kalau menurut sdr itu adalah dalil kebenaran dari Dakwa Nabi Muhamad saw., maka pertanyaan saya adalah apakah sdr akan langsung percaya kepada orang yg menyampaikan kata2 tsb? Klau langsung jawab ‘Yakin”, dasarnya apa? terus apa bedanya dengan pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah bahwa beliau pun datang dari Tuhan utk melanjutkan misi dr Nabi Muhammad saw?

  42. >> Sdr Bani: Para ahmadi tidak ada yang berani diskusi di link yg saya beri?

    Jawab: Ini bukan masalah berani atau tdk, sy sendiri masuk ke blog ini krn ada yg kasih info, utk kasih tanggapan di blog ini pun waktunya agak repot, maklum kuli, jd saya sempat2kan di sela2 kesibukan.
    mudah2an tanggapan saya yg sedikit juga bisa sedikit menambah wawasan ttg Ahmadiyah, tentu saja tidak cukup, mgkn dilain media bisa dipertemukan…

  43. Sdr mengutip penjelasan Arti Khaatam dalam Da’watul Amir….bagus kl sdr memang sdh membacanya, tp hrsnya secara logika saja sdr harusnya faham, Buku Da’watul Amir itu ditulis sebagai penjelasan bagi orang yg belum faham mengenai Aqidah Ahmadiyah, bagimana mgkn sdr saya hrs baca lagi? Aneh…kl sdr betul2 sdh baca semua yg ada dalam buku Da’watul Amir, seharusnya sdr pastinya Sudah baca pula penjelasan saya ttg arti khaatam itu terdapat pula dalam buku itu, tp saya sdh tdk aneh dr kebiasaan para penentang dari Jemaat Ahmadiyah, yaitu mengutip sepotong keterangan tp tidak mengutip keterangan/penjelasan yg lainnya, jd seolah2 sepotong keterangan itulah yg menjadi Aqidah Ahmadiyah padahal dalam setiap keterangan pasti penjelasannya mun diterangkan pula…..

    Bagaimana sdr mau sodorkan sepotong2 keterangan dr tulisan khalifah Ahmadiyah? menurut saya, sebaiknya kl sdr mau mengutip keterangan dr buku sumber Ahmadiyah, sebaiknya lengkap dengan konteks bahasannya, krn saya yakin kl saja setiap org baca dengan lengkap tdk mgkn punya kesimpulan seperti sdr….

    jangankan satu Topik bahasan, menurut saya satu konteks bahasan dalam ayat saja sdr sdh keliru memahami dan terlalu cepat menghakimi org yg punya pendapat lain adalah salah

    Yg adil menurut saya, sebaiknya satu sama lain saling menghargai pendapat, Saya sdh lama mempelajari kajian dr Aqidah Ahmadiyah, dan memurut saya penafsirannya pun dapat dipertanggungjawabkan dr segi keilmuan.

    Silahkan Anda baca buku da’watul amir mengenai syair tesebut semuanya. Saya tidak mengutip syair tersebut sepotong-sepotong. Silahkan Anda buktikan sendiri. Sudah jelas dissitu tertulis Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi Terakhir. Anggap saja Nabi Anda itu orang yang plin-plan yang tidak pantas dianggap Nabi 😀
    Bilang saja MALU kalau doktrin Anda sudah dipatahkan Nabi Anda sendiri…. MALU NI YEEE….Maklum Doktrn makan tuan 😀

    Ok, kalau menurut sdr itu adalah dalil kebenaran dari Dakwa Nabi Muhamad saw., maka pertanyaan saya adalah apakah sdr akan langsung percaya kepada orang yg menyampaikan kata2 tsb? Klau langsung jawab ‘Yakin”, dasarnya apa? terus apa bedanya dengan pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah bahwa beliau pun datang dari Tuhan utk melanjutkan misi dr Nabi Muhammad saw?

    Anda sependapat silahkan, kalau pun tdk sependapat saya kira kenapa harus terdapat kebencian?

    Haaa,,,,,jelas saja percaya seperti Anda sendiri percaya bahwa Rasulullah SAW sebagai Rasul Allah. Itupun kutipan kitab suci yang berasal dari Allah. Jadi apa Anda menyangkal hal tersebut? Apakah Anda menganggap Al-Qur’an bukan kitab sucii? Apa mulai ragu dengan kebenaran Al-Qur’an? ckkckckckckck
    Sedangkan MGA mana dalil pendakwaannya bisa dibuktikan melalui Al-Qur’an? Apa Anda membuktikannya dengan wahyu yang ada di tadzkirah? Capeee dechhhh
    Banyak orang yang mengaku Nabi trus untuk mengujinya Anda menggunakan apa? Menggunakan wahyu-wahyu yang ada di Tadzkirah? 😀 gitu aja koq repot

    Anda sependapat silahkan, kalau pun tdk sependapat saya kira kenapa harus terdapat kebencian?

    Anda sama seperti sinar galih, kalau sudah kepepet ngandalin cuma buruk sangka kepada seseorang. Tidak ada didalam benak saya sedikitpun untuk membenci Ahmadiyah. Saya hanya sebatas memberi pengetahuan saya kepada Anda yang mungkin Anda tidak pernah menerimanya ketika menjadi ahmadi. Saya menganggap Anda sebagai saudara seagama. Sebagai saudara seagama saya patut menyampaikan kebenaran yang saya ketahui kepada saudarnya. Jika Anda menolak kebenaran tersebut itu hak Anda. Karena dalam Al-Qur’an disebutkan tidak ada paksaan dalam Agama?

  44. Bagus itu, minimal sdr sdh mengakui bahwa arti khaatam adalah cincin atau stempel, silahkan siapun dpt membandingkan, huruf per huruf bahwa dalam AQ surah Al Ahzab itu tulisannya memang hrs mengarah dlm arti Cincin/Cap/Stempel, krn memang begitulah tertulis dalam AQ. Sdr sdh kutif tafsir ayat surah alAhzab yg diterbitkan oleh JAI, apalagi sdh jelas apa yg saya tulis pun demikian maksudnya.

    Kutipan hadist itu jelas sekali memang tdk mengatakan bahwa Rasulullah adalah cincin, tp yg saya garis bawahi adalah, khaatam itu artinya cincin …jelas, tentu saja ini berbeda sekali konteksnya dengan khaatam dgn ayat dlm surah Al ahzab.

    haaaa….haaa GE ER duluan. Memang khaatam adalah cincin sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an yang pernah saya tunjukkan ayatnya kepada Anda mengartikan khaatma adalah penutup bedasarkan ayat-ayat lainnya 😀 baca dilampiran atas ayat-nya dan silahkan Anda artikan yang pernah Anda di ayat2 tersebut yaitu Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65. Silahkan pengertian Anda di cross check dengan ayat-ayat tersebut. Bagusnya Anda mengakui Rasulullah bukan sebagai cincin tapi kenapa di Al-Ahzab Anda mengartikan Rasulullah sebagai Cincin/benda……Koq plin-plan gitu 😀
    Rasulullahh adalah Rasullah dan CINCIN PARA NABI…..bukankah jelas Rasulllah SAW Anda mengartikan sebagai benda 😀
    Ya itulah bedanya non ahmadi dengan ahmadi. Non Ahmadi dalam menerjemahkan ayat Al-Qur’an berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Non Ahmadi mendahulukan Al-Qur’an ketimbang lainnya karena Al-Qur’an merupakan dalil tertinggi. Sedangkan Anda sendiri kamus dijadikan patokan. Manusia Anda yakini pasti benar dan tidak mungkin salah 😀 Jadi pak dalam kamus arti SHOLAT itu apa?

    Saya tdk prl terangkan syarat2 idhofah, yg jelas kl seseorang faham bahasa Arab, maka dia pasti mengerti ayat ‘khaataman Nabiyyiina’ dalam surah Al Ahzab itu disebut Mudhaf2 ilaihi, atau secara sederhana kl dlm bahasa Indonesia dpt disebandingkan dengan kata majemukl, dimana dalam dua kata yg mandiri saling melengkapi artinya jadi satu kesatuan, Contoh: Bintang Pelajar adalah 2 kata benda yg memiliki makna masing2 tetapi ketika dua kata tsb digabung maka maknanya pun kita semua sdh faham, bintang pelajar adalah artinya murid yg terpandai.

    Nah kalau sdr faham mengenai hal ini, tentu harusnya sdr faham apa yg dimaksud dengan Khaataman Nabiyyiin dalam ayat Surah Al Ahzab itu, penjelasannya sdh sangat jelas, contoh2 dalam bahasa Sastra arab Arab juga sdh ditunjukkan, arti kamus telah nyata, Apalagi?

    Haaa….haaa jawaban yang kepepet. Bilang saja ga ngerti soal idhofhat. Kalau Anda ngerti idhofat pasti jawabannya ga begitulah 😀 ketahuan ga ngerti tata bahasa arab dan hanya bisa mencontek. Ditanyakan khaatama isim apa saja tidak ngerti. Lihat tuch dilampiran saya mengartikan khaatama berdasarkan ayat Al-Qur’an. lucunya orang yang mengerti tata bahasa arab koq menyebut Mudhof2 ilaihi. Apa sudah bener tuch tulisan itu 😀 khaatama saja tidak tahu isim apa…idhofhat saja tidak tahu syaratnya ….ehhh menyebut sesuatu saja juga salah dengan menulis mudhof2 ilaihi 😀 Tuch sudah bukti Anda sendiri tidak mengerti dengan Apa yang Anda contek dari buku-buku Ahmadiyah. Anda ini diiIbaratkan seperti kerbau yang dituntun kekiri ya ikut kekiri ke kanan ikut ke kanan 😀

  45. Nabi terkahir dengan penutup para nabi apa bedanya bro. Baca di awal-awal penjelasan JAI…..
    kata khatama menurut Anda ada atau tidak?
    Kalau orang yang mengeti tata bahasa seperti Anda pasti mengatakan “ada”. Jika mengaatakn tidak ada berarti Anda hanya bisanya mencontek tetapi tidak bisa menerangkan apa yang diconteknya 😀

  46. >> Silahkan Anda baca buku da’watul amir mengenai syair tesebut semuanya. Saya tidak mengutip syair tersebut sepotong-sepotong. Silahkan Anda buktikan sendiri. Sudah jelas dissitu tertulis Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi Terakhir. Anggap saja Nabi Anda itu orang yang plin-plan yang tidak pantas dianggap Nabi 😀

    Jawab: tentu saja saya sdh baca syair tsb, hanya masalahnya, pengertian sdr tentang nabi terakhir dalam syair itu jauh berbeda dgn saya, oleh sebab itu saya sarankan juga sdr baca penjelasan lain dari buku Da’watul Amir tsb, jangan cuma syair saja…ok

  47. >> Haaa,,,,,jelas saja percaya seperti Anda sendiri percaya bahwa Rasulullah SAW sebagai Rasul Allah. Itupun kutipan kitab suci yang berasal dari Allah. Jadi apa Anda menyangkal hal tersebut? Apakah Anda menganggap Al-Qur’an bukan kitab sucii? Apa mulai ragu dengan kebenaran Al-Qur’an? ckkckckckckck

    Jawab: Yang saya pertanyakan adalah, bagaimana sdr meyakini Ayat yg disampaikan oleh Nabi Muhamad saw itu benar2 datang dr Tuhan? sdr bisa buktikan? apakah bukannya sdr cuma ikut2 kata orang saja? saya tdk yakin kl sdr ada pada jaman tsb, hanya dengan disampaikannya ayat tsb langsung beriman kepada Nabi Muhamad saw.
    Tentu saja saya percaya pada AQ tp indikator keyakinan saya terhadap kebenaran Nabi Muhamad saw tdk melulu hanya dr tinjauan tekstual AQ seperti sdr, krn kalau hanya itu saya yakin sperti sdr skrg ini, yg lsg anti pati terhadap pernyataan2 tekstual. Kalau pendekatannya hanya tekstual, maka menurut saya keyakinannya tsb pastilah sangat subjektif, setiap kaum/agama pasti akan menyatakan bahwa pernyataan pendirinya adalah Benar dan datang dari Tuhan…

  48. >>Sedangkan MGA mana dalil pendakwaannya bisa dibuktikan melalui Al-Qur’an? Apa Anda membuktikannya dengan wahyu yang ada di tadzkirah? Capeee dechhhh
    Banyak orang yang mengaku Nabi trus untuk mengujinya Anda menggunakan apa? Menggunakan wahyu-wahyu yang ada di Tadzkirah? 😀 gitu aja koq repot

    Jawab: Karena beliau menyatakan sendiri sebagai penggenapan khabar ghaib dr AQ, tentu saja bisa di buktikan dr AQ, banyak ayat2nya…saya kira buku2 yg sdh diterbitkan banyak mengenainya…Tapi kalau cara pandang sdr terhadap kebenaran hanya sebatas itu, ribuan bukti pun saya tdk yakin sdr mau terima….

  49. >> Anda sama seperti sinar galih, kalau sudah kepepet ngandalin cuma buruk sangka kepada seseorang. Tidak ada didalam benak saya sedikitpun untuk membenci Ahmadiyah

    Jawab: Syukurlah kalau memang tidak ada kebencian, hanya dr nada tulisan2 sdr, terus terang menurut saya, sdr masih menyimpan rasa tidak suka terhadap Ahmadiyah, mudah2an penilaian salah.

    Yg saya tahu, tdk ada satu pun ajaran ahmadiyah yg mengajarkan kebencian terhadap seorang manusia pun, apa pun keyakinannya, sebagaimana berbedanya pun keyakinan itu, kami harus tetap menghormati, dan yg saya tahu ini adalah ajaran AQ.

  50. tentu saja saya sdh baca syair tsb, hanya masalahnya, pengertian sdr tentang nabi terakhir dalam syair itu jauh berbeda dgn saya, oleh sebab itu saya sarankan juga sdr baca penjelasan lain dari buku Da’watul Amir tsb, jangan cuma syair saja…ok

    Bagus dong kalau sudah baca….. Nah yang bergelar SAW siapa lagi kalau bukan Nabi Muhammad SAW? belum pernah tau? 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Nabimu koq plin-plan gitu. Jangan nanti juga ga yakin dirinya Nabi 😀
    Maklum khan plin-plan…..haregene soal agama masih plin-plan….echaaa dech 😀

    Yang saya pertanyakan adalah, bagaimana sdr meyakini Ayat yg disampaikan oleh Nabi Muhamad saw itu benar2 datang dr Tuhan? sdr bisa buktikan? apakah bukannya sdr cuma ikut2 kata orang saja? saya tdk yakin kl sdr ada pada jaman tsb, hanya dengan disampaikannya ayat tsb langsung beriman kepada Nabi Muhamad saw.
    Tentu saja saya percaya pada AQ tp indikator keyakinan saya terhadap kebenaran Nabi Muhamad saw tdk melulu hanya dr tinjauan tekstual AQ seperti sdr, krn kalau hanya itu saya yakin sperti sdr skrg ini, yg lsg anti pati terhadap pernyataan2 tekstual. Kalau pendekatannya hanya tekstual, maka menurut saya keyakinannya tsb pastilah sangat subjektif, setiap kaum/agama pasti akan menyatakan bahwa pernyataan pendirinya adalah Benar dan datang dari Tuhan…

    Wakakakakaka ….Anda sendiri percaya kepada Al-Qur’an tetapi menanyakan hal itu kepada saya. Sudah terjawab oleh Anda sendiri 😀
    Banyak orang yang mengaku sebagai Nabi dengan mengatasnamanakan Tuhan, kenapa Anda tidak mempercayai Nabi palsu tersebut? Nabi palsu tsb mengatasnamakan Tuhan lho. Apa belum pernah denger? Orang yang katrok kalau ga perneh denger?
    Anda itu mengakui kebenaran Al-Qur’an tetapi dalam prakteknya Anda menolak apa yang terdapat dalam Al-Qur’an 😀

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.4:59)

    Anda percaya Al-Qur’an, apa ayat tersebut kurang penjelasannya?

  51. Syukurlah kalau memang tidak ada kebencian, hanya dr nada tulisan2 sdr, terus terang menurut saya, sdr masih menyimpan rasa tidak suka terhadap Ahmadiyah, mudah2an penilaian salah.

    Yg saya tahu, tdk ada satu pun ajaran ahmadiyah yg mengajarkan kebencian terhadap seorang manusia pun, apa pun keyakinannya, sebagaimana berbedanya pun keyakinan itu, kami harus tetap menghormati, dan yg saya tahu ini adalah ajaran AQ.

    Tidak ada alasan saya untuk membenci Ahmadiyah. Kita disini hanya saling bertukar ilmu. Kita saudara sesama Islam. Tidak pantas sesama beragama Islam saling membenci

  52. >>Rasulullahh adalah Rasullah dan CINCIN PARA NABI…..bukankah jelas Rasulllah SAW Anda mengartikan sebagai benda 😀

    Jawab: Kalau merujuk arti dalam bahasa arab yg memang begitulah artinya…tapi saya sdh jelaskan dalam penjelasan selanjutnya mengenai maksud arti tsb, ungkapan itu hanya kiasan, dan AQ banyak sekali memberi kiasan2 terhadap seseorang atau suatu kaum

  53. Kalau merujuk arti dalam bahasa arab yg memang begitulah artinya…tapi saya sdh jelaskan dalam penjelasan selanjutnya mengenai maksud arti tsb, ungkapan itu hanya kiasan, dan AQ banyak sekali memberi kiasan2 terhadap seseorang atau suatu kaum

    Jawaban orang kepepet yang sudah mentok 😀
    Jadi ga nyambung dengan Idhofat …..wakakakakakka 😀
    Pada akhirnya jawaban Anda menikam jawaban Anda sendiri 😀

  54. >> aaa….haaa jawaban yang kepepet. Bilang saja ga ngerti soal idhofhat

    Jawab: tdk kepepet, saya hanya tdk mau berkepanjangan membahas masalah istilah krn saya yakin banyak pembaca yg tdk faham istilah bahasa arab, tp saya yakin bila org tsb faham bahasa arab pasti mengerti apa yg saya maksud, sedangkan utk yg kurang faham sdh saya tunjukkan padanan bentuk katanya dalam bahasa indonesia berikut contohnya, saya kira cukup obyektif drpd membahas hal2 yg malah mangaburkan maksud yang akan disampaikan….

  55. >>Bagus dong kalau sudah baca….. Nah yang bergelar SAW siapa lagi kalau bukan Nabi Muhammad SAW? belum pernah tau

    Jawab: Lho kan sdh disampaikan, betul skali syair tsb tertuju utk Nabi Muhamad saw, tp seperti penjelasan saya, pengertian nabi terakhir yang sdr fahami adalah berbeda dengan yg saya fahami. Oleh sebab itu saya sdh sarankan utk membaca semua isi buku da’watul amir tsb. Kl saja sdh membacanya, menurut saya seharusnya sedikitnya bisa memahami pengertian Nabi Terakhir tsb…

  56. tdk kepepet, saya hanya tdk mau berkepanjangan membahas masalah istilah krn saya yakin banyak pembaca yg tdk faham istilah bahasa arab, tp saya yakin bila org tsb faham bahasa arab pasti mengerti apa yg saya maksud, sedangkan utk yg kurang faham sdh saya tunjukkan padanan bentuk katanya dalam bahasa indonesia berikut contohnya, saya kira cukup obyektif drpd membahas hal2 yg malah mangaburkan maksud yang akan disampaikan….

    waakakakaka …..faham bahasa arab koq ga ngerti idhafat. Jadi ga nyambung pak kalau cincin itu kiasan dihubung-hubungan dengan idhafat 😀
    Sudah terbukti jawaban yang kepepet tuch: D

    kalau Anda faham bahasa Arab koq tidak tahu kalau khatama bisa ditemui pada ayat-ayat Al-Qur’an. coba apa maksud dari Ayat 2dibawah ini:

    Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65.

    Sambil dijawab ya pak pertanyaan dibawah ini:D
    Jadi KHAATAMA itu isim apa? 😀
    Syarat idhofat itu apa? 😀

  57. Lho kan sdh disampaikan, betul skali syair tsb tertuju utk Nabi Muhamad saw, tp seperti penjelasan saya, pengertian nabi terakhir yang sdr fahami adalah berbeda dengan yg saya fahami. Oleh sebab itu saya sdh sarankan utk membaca semua isi buku da’watul amir tsb. Kl saja sdh membacanya, menurut saya seharusnya sedikitnya bisa memahami pengertian Nabi Terakhir tsb…

    Waaakakakakakakaa Jawaban orang yg sudah kepepet…pettt…peeetttt 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Jelas-jelas disebut Nabi Adam nabi yang pertama dan terkahir adalah Ahmad (Muhammad SAW). Sampai jelas sekali menyebut Nama Ahmad yang terdapat di surat ash-shaff 😀
    Ya Maklum kalau sudah kepepet hanya bisa ngeyel untuk menutupi rasa MALU 😀

    Pada intinya khan Nabi Anda itu orang yang plin-plan….. Mengerikan kalau orang plin-plan dijadikan pemimpin. 😀

  58. >> Banyak orang yang mengaku sebagai Nabi dengan mengatasnamanakan Tuhan, kenapa Anda tidak mempercayai Nabi palsu tersebut? Nabi palsu tsb mengatasnamakan Tuhan lho. Apa belum pernah denger? Orang yang katrok kalau ga perneh denger?
    Anda itu mengakui kebenaran Al-Qur’an tetapi dalam prakteknya Anda menolak apa yang terdapat dalam Al-Qur’an 😀

    Jawab: Nah itulah jawabannya….Sdr sdh meyakini Nabi Muhamad saw hanya berdasarkan pernyataan Beliau SAW dalam AQ cuma sdr tdk bisa buktikan kenapa sdr percaya begitu saja ucapan Beliau SAW?
    Kalau sdr hanya percaya atas dasar suatu pernyataan maka menurut saya seharusnya sdr tdk akan menolak setiap pengakuan seorang pendaksw toh?
    Nah kalau pertanyaan tsb ditujukan pada saya, sdh jelas, saya telah melakukannya yaitu saya juga mempercayai pernyataan dr pendiri jemaat ahmadiyah

    Masalah pernyataan itu benar atau salah itu adalah soal yg lain, AQ sdh memberikan petunjuknya pula dengan jelas. Tp yg jelas, AQ sdh memberikan petunjuk ttg itu, dan saya kira, setiap org Islam mudah saja membedakan apabila pernyataan itu palsu atau benar

  59. jangan2 nanti ragu2 kalau dirinya seorang Nabi 😀

  60. Nah itulah jawabannya….Sdr sdh meyakini Nabi Muhamad saw hanya berdasarkan pernyataan Beliau SAW dalam AQ cuma sdr tdk bisa buktikan kenapa sdr percaya begitu saja ucapan Beliau SAW?
    Kalau sdr hanya percaya atas dasar suatu pernyataan maka menurut saya seharusnya sdr tdk akan menolak setiap pengakuan seorang pendaksw toh?
    Nah kalau pertanyaan tsb ditujukan pada saya, sdh jelas, saya telah melakukannya yaitu saya juga mempercayai pernyataan dr pendiri jemaat ahmadiyah

    Masalah pernyataan itu benar atau salah itu adalah soal yg lain, AQ sdh memberikan petunjuknya pula dengan jelas. Tp yg jelas, AQ sdh memberikan petunjuk ttg itu, dan saya kira, setiap org Islam mudah saja membedakan apabila pernyataan itu palsu atau benar

    Saya sepakat dengan tulisan yang tercetak tebal. Jadi Al-Qur’an sudah memberikan petunjuk….otomatis Anda sudah bisa memberdakan pendakwaan ghulam Ahmad yang bermacam-macam itu benar atau tidak berdasarkan Al-Qur’an. Jadi Anda setidaknya bisa memberikan bukti pendakwaan ghulam Ahmad yang bermacam-macam melalui Al-Qur’an 😀
    Jadi surat apa dan ayat apa yang bisa membenarkan pendakwaan MGA.
    MGA juga mengakui khalifatullah (Wakil Tuhan), tolong berikan ayatnya?
    Apa juga arti dan penjelasan ayat-ayat dibawah ini:
    Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65.

  61. Pendakwaan ghulam ahmad bisa dilihat di lampiran link ini:

    https://muhammadinsan.wordpress.com/2009/04/27/tafsir-al-jumuah-623/

  62. >> jawaban orang kepepet yang sudah mentok 😀
    Jadi ga nyambung dengan Idhofat …..wakakakakakka 😀
    Pada akhirnya jawaban Anda menikam jawaban Anda sendiri 😀

    Jawaban: Lho, kepepet sebelah mananya? memang sdh jelas pengertian khaataman nabyyiin kalau diberi arti secara kamus adalah Cincin Para Nabi, itu artinya …padahal sdr menurut saya sdr sendiri tdk bisa buktikan secara kamus utk memaksakan arti khaataman nabiyyiin dgn penutup nabi2 krn memang tdk sesuai….

    tentang idhofat, bukan kah sy sdh jelaskan pula, karena ini adalah bentuk kata kiasan maka arti yg lebih luas lagi, apabila kata khaatam ini di rangkaikan (idhofatkan) dengan bentuk jamak An Nabyiin, maka artinya adalah yg paling sempurna/yg paling afdhal, contoh2nya sdh disampaikan oleh Sirna Galih

    Wah, kalau sdr tdk faham jg mengenai penjelasan saya, ya itu bukan tanggung jawab saya….

  63. Lho, kepepet sebelah mananya? memang sdh jelas pengertian khaataman nabyyiin kalau diberi arti secara kamus adalah Cincin Para Nabi, itu artinya …padahal sdr menurut saya sdr sendiri tdk bisa buktikan secara kamus utk memaksakan arti khaataman nabiyyiin dgn penutup nabi2 krn memang tdk sesuai….

    haaaa.hahaaa dengan kamus. Sudah menjamin kamus lebih benar daripada Al-Qur’an? wakakakakakakaka
    Coba Anda artikan menurut kamus Arti sholat itu apa? 😀
    baca tulisan Anda ini:
    September 2, 2010 pada 7:28 am
    Masalah pernyataan itu benar atau salah itu adalah soal yg lain, AQ sdh memberikan petunjuknya pula dengan jelas. Tp yg jelas, AQ sdh memberikan petunjuk ttg itu, dan saya kira, setiap org Islam mudah saja membedakan apabila pernyataan itu palsu atau benar.

    padahal sdr menurut saya sdr sendiri tdk bisa buktikan secara kamus utk memaksakan arti khaataman nabiyyiin dgn penutup nabi2 krn memang tdk sesuai….

    Silahkan dicoba kalau tidak sesuai ayat-ayat berikut:
    Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65.

    MALU YA untuk membahas ayat tersebut….Saya menafsirkan Al-Qur’an tidak berdasarkan kamus tetapi berdasarkan ayat Al-Qur’an.

    Anda sepertinya orang yang plin-plan….coba Anda baca tulisan Anda ini:

    September 2, 2010 pada 7:28 am
    Masalah pernyataan itu benar atau salah itu adalah soal yg lain, AQ sdh memberikan petunjuknya pula dengan jelas. Tp yg jelas, AQ sdh memberikan petunjuk ttg itu, dan saya kira, setiap org Islam mudah saja membedakan apabila pernyataan itu palsu atau benar.

    Apa mejilat air ludah sendiri dgn tulisan Anda tersebut? Apa Al-Qur’an sudah benar Al-Qur’an Anda terjemahkan dengan kamus ciptaan manusia 😀 wakakakakakaka
    Plin-plan lageeeee 😀
    Baca yang tercetak tebal dan jangan plin-plan dengan apa yang Anda tulis.

    tentang idhofat, bukan kah sy sdh jelaskan pula, karena ini adalah bentuk kata kiasan maka arti yg lebih luas lagi, apabila kata khaatam ini di rangkaikan (idhofatkan) dengan bentuk jamak An Nabyiin, maka artinya adalah yg paling sempurna/yg paling afdhal, contoh2nya sdh disampaikan oleh Sirna Galih

    Wah, kalau sdr tdk faham jg mengenai penjelasan saya, ya itu bukan tanggung jawab saya….

    haaaaaa…haaaa memberi penjelasan tapi tidak mengerti syarat-syarat Idhofat itu apa…..wakakakakaka. Mana nyambung kata kiasan dengan idhafat 😀
    Nah khaatama itu isim apa Ardi? 😀
    Jadi sebenarnya yang tidak faham itu Anda. Saya mengerti idhofat dan syaratnya. jadi Cincin itu menurut Anda benda yang sempurna, paling baik dan paling afhdal. Berarti cincin lebih afhdal, sempurna & paling baik dibandingkan manusia, kelihatan Anda tidak mengerti syarat-syarat idhofat. Anda mencontek tetapi tidak mengerti apa yang Anda contek……wakakakaka ….MALU YA…. Anda menjawabnya seadanya kerena menutupi rasa malu saja 😀
    Semakin Anda ngeyel semakin Anda mempertontonkan kebodohan Anda kepada para pembaca 😀

  64. Saya kira sdr sendiri tdk bisa menjelaskan secara bahasa bahwa arti khaataman nabiyyiin itu sdh dibenarkan secara bahasa.
    Saya kira, drpd sibuk menolak teori yg dikemukakan oleh JA, hrsnya sdr jg bisa buktikan bahwa arti khaataman nabiyyin yg sdr fahami ini sdh sesuai dr segi tata bahasa dan kamus.

    Kelihatannya sdr sulit sekali utk memahami penjelasan yg berulang2 ya, OK, sy ulangi secara ringkas ttg pengertian Ahmadiyah mengenai Khaataman Nabiyyiin:

    1. arti dr kata khaatam itu adalah : Cincin, Stempel, Materai, bagian terakhir
    catatan: kl mau diartikan penutup kita harus rubah dlu kata khaatam menjadi khaaatim krn penutup adalah bentuk isim fail, sedangkan khaatam (dgn tanda fatah) adalah disebut Isim ‘ala

    2. Dalam contoh2 bahasa arab penggabungan (idhofat) kata khaatam dengan kata benda jamak artinya selalu yg paling afdhal atau yg paling sempurna.
    Dlm bahasa indonesia padanannya adalah kata majemuk, dimana dua buah kata benda yg punya arti masing2 digabungkan sehingga punya satu kesatuan arti, contohnya: Bintang Pelajar kalau digabungkan artinya adalah murid terpandai

    3. Pengertian Nabi Terakhir jg bisa dipakai tetapi dalam pengertian yg dimaksud adalah Nabi Terakhir yg membawa syariat, karna berdasarkan AQ kenabian yg bukan syariat dapat saja datang bila Tuhan menghendaki, contoh yg paling jelas kenabian yg tdk membawa syariat setelah Nabi Muhammad saw adalah kedatangan Isa Almasih as. yg kedatangannya sdh dinubuwahkan oleh Nabi Muhamad saw sendiri

    semoga penjelasan ini bisa difahami…

  65. >>jadi sebenarnya yang tidak faham itu Anda. Saya mengerti idhofat dan syaratnya. jadi Cincin itu menurut Anda benda yang sempurna, paling baik dan paling afhdal. Berarti cincin lebih afhdal, sempurna & paling baik dibandingkan manusia, kelihatan Anda tidak mengerti syarat-syarat idhofat.

    Jawab. dr sini jelas sdr salah memahami, tentu saja yg dimaksud paling sempurna itu apabila kata khaatam digabung dengan kata annabiyyiin..kalau kita mau artikan Cincin Nabi2, maka yg dimaksud adalah, krn cincin adalah sebuah perhiasan, maka pengertian disini adalah Khaataman nabiyiin adalah perhiasan para nabi

    Diulang lagi deh…

  66. Saya kira sdr sendiri tdk bisa menjelaskan secara bahasa bahwa arti khaataman nabiyyiin itu sdh dibenarkan secara bahasa.
    Saya kira, drpd sibuk menolak teori yg dikemukakan oleh JA, hrsnya sdr jg bisa buktikan bahwa arti khaataman nabiyyin yg sdr fahami ini sdh sesuai dr segi tata bahasa dan kamus.

    Kelihatannya sdr sulit sekali utk memahami penjelasan yg berulang2 ya, OK, sy ulangi secara ringkas ttg pengertian Ahmadiyah mengenai Khaataman Nabiyyiin:

    1. arti dr kata khaatam itu adalah : Cincin, Stempel, Materai, bagian terakhir
    catatan: kl mau diartikan penutup kita harus rubah dlu kata khaatam menjadi khaaatim krn penutup adalah bentuk isim fail, sedangkan khaatam (dgn tanda fatah) adalah disebut Isim ‘ala

    haaaa…haaa Anda mengartikan khaatan juga bagian terakhir padahal bagian akhir itu termasuk penutup juga 😀
    haaa….haaa jangan ngantuk bro…..Dalam Surat Al-Ahzab itu yang dibahas adalah KHAATAMA. Katanya ngerti bahasa arab, kenapa tidak tau kalau pada ayat tersebut yang dibahas adalah adalah KHAATAMA. Coba sebutkan isim fa’il itu wazaannya apa dan isim ‘ala itu wazannya apa? 😀

    2. Dalam contoh2 bahasa arab penggabungan (idhofat) kata khaatam dengan kata benda jamak artinya selalu yg paling afdhal atau yg paling sempurna.
    Dlm bahasa indonesia padanannya adalah kata majemuk, dimana dua buah kata benda yg punya arti masing2 digabungkan sehingga punya satu kesatuan arti, contohnya: Bintang Pelajar kalau digabungkan artinya adalah murid terpandai

    haaa….haaa itu contoh yang bagus, kenapa pengertian Cincin para nabi koq tidak nyambung dengan contoh yang Anda berikan. Apa tidak tau kalau idhofhat itu kata yang umum dikenal. Apa pada zaman Rasulullah para sahabat mengenal kata “CINCIN PARA NABI”? Coba Kuatkan dalil Anda kalau para sahabat mengenal cincin para Nabi itu pengertiannya seperti yang diartikan. 😀
    Semua orang sudah tahu kalau BINTANG PELAJAR adalah MURID TERPANDAI. Sedangkan CINCIN PARA NABI, apa Umat Islam tau artinya seperti yang Anda tulis? wakakakakakkaa tidak pernah ada yang mendengar kecuali Ahmadiyah sendiri. Karena Ahmadiyah sendiri yang merekayasanya 😀
    Apa ada dalam idhofat pengetiannya lebih dari satu…….. Apakah paling afdhol itu pasti sempurna? Apakah paling baik itu pasti sempurna?..
    Jadi syarat2 idhofat itu apa? 😀

    3. Pengertian Nabi Terakhir jg bisa dipakai tetapi dalam pengertian yg dimaksud adalah Nabi Terakhir yg membawa syariat, karna berdasarkan AQ kenabian yg bukan syariat dapat saja datang bila Tuhan menghendaki, contoh yg paling jelas kenabian yg tdk membawa syariat setelah Nabi Muhammad saw adalah kedatangan Isa Almasih as. yg kedatangannya sdh dinubuwahkan oleh Nabi Muhamad saw sendiri

    semoga penjelasan ini bisa difahami…

    Mana ada dlm ayat tsb menyebut Nabi yang membawa syari’at? Kalimat yang mana? Al-nabiyyiin? hahahahahahaha ada 16 kali disebut Al-Qur’an ttg Al-Nabiyyin ?
    Kalau Anda mengartikan Nabi yang membawa syariat, mau tidak mau Anda juga mengartikan CINCIN PARA NABI juga harus nabi yang membawa syariat. Jadi Paling afhdol, paling mulia, sempurna hanya Nabi yang membawa syariat saja sedangkan yang tidak membawa syariat itu tidak sempurna, tidak paling Afhdhol, dan tidak paling baik. 😀
    Kalau Rasulullah adalah paling afhdol, paling baik, sempurna artinya tidak ada satupun yang menyamai sifat2 ini seperti beliau SAW. Namun nyatanya MGA mengakui dirinya adalah Muhammad SAW (Lihat buku menjawab kesalahpahaman, MA. Suryawan). Bisa Anda lihat di lampiran. Wakakakakaka Doktrin makan Tuan 😀

    dr sini jelas sdr salah memahami, tentu saja yg dimaksud paling sempurna itu apabila kata khaatam digabung dengan kata annabiyyiin..kalau kita mau artikan Cincin Nabi2, maka yg dimaksud adalah, krn cincin adalah sebuah perhiasan, maka pengertian disini adalah Khaataman nabiyiin adalah perhiasan para nabi

    Diulang lagi deh…

    Haaa,,,,haaa apa syarat dari idhofat itu pak? Sejak kapan para sahabat dan umat Islam sekarang ini mengenal CINCIN para nabi/perhiasan para nabi adalah paling afdhol, paling baik sempurna para nabi.
    Anda masih syarat2 dan mengerti arti idhaofat. maklum cuma nyontek saja 😀

  67. khaatam berasal dari kata khatama dan khatama bisa Anda temui di ayat2 berikut:

    Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65.

    Ckkc.ckckckckc ckkk…ayat2 Al-Qur’an saja masih disangkal apalagi Rasulullah SAW. ckkckckckckckc

    Sholat itu dalam kamus apa artinya apa pak?

  68. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum cep Andri,
    Cep Andri jangan terganggu dengan “doktrin makan tuan” yang sering diulang-ulang di beberapa thread oleh PAKAR DEBAT KUSIR seperti ini:
    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.
    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Karena sudah saya jawab dengan simpel begini:
    diantaranya, yang pertama (Syari’at) Adam as dan terakhir (Syari’at) Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua (inilah arti dari kata Khataman-Nabiyyin).
    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Karena PAKAR DEBAT KUSIR itu kepepet tidak punya dalil lagi tentang arti Khataman-Nabiyyin, kemudian dia ulang-ulang, bukan hanya di thread ini saja tapi di beberapa thread sambil mengatakan “kepepet yah?”, padahal dia yang kepepet. Persis seperti MALING TERIAK MALING.

    Cep Andri,
    Di dalam Khutbah Jum’at 27 Agustus 2010, Hadhrat Khalifatul Masih V atba, Amir-ul-Mumini, Imam Jemaat Ahmadiyah Internasional mengutip ucapan Hadhrat Masih Mau’ud begini:”Jadi, pada saat kegelapan ruhani dan ketika orang-orang cenderung kepada agama, itu adalah tanda bahwa seorang pembaharu akan segera turun dari langit. Pada saat seperti ini, dua macam perubahan akan terjadi. Pertama adalah Tazkiyah Nafs (pensucian jiwa) yang akan dianugerahkan kepada orang-orang, sebagai hasil dari hikmah yang mereka miliki. Yang kedua adalah meskipun hikmah mereka dipertajam, tetapi jiwa tidak mampu mencapai kebenaran, hal inilah yang membuktikan bahwa: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka; dan bagi mereka ada azab yang pedih disebabkan mereka berdusta” (QS Al Baqarah 2:11).

    Jadi, Allah Ta’ala Sendiri, bukan kita, yang mengatakan bahwa orang-orang seperti PAKAR DEBAT KUSIR:”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka; dan bagi mereka ada azab yang pedih disebabkan mereka berdusta” (QS Al Baqarah 2:11).

    Semoga bermanfaat buat cep Andri.
    Wassalam.

  69. >> Saya sepakat dengan tulisan yang tercetak tebal. Jadi Al-Qur’an sudah memberikan petunjuk….otomatis Anda sudah bisa memberdakan pendakwaan ghulam Ahmad yang bermacam-macam itu benar atau tidak berdasarkan Al-Qur’an. Jadi Anda setidaknya bisa memberikan bukti pendakwaan ghulam Ahmad yang bermacam-macam melalui Al-Qur’an 😀
    Jadi surat apa dan ayat apa yang bisa membenarkan pendakwaan MGA.
    MGA juga mengakui khalifatullah (Wakil Tuhan), tolong berikan ayatnya?
    Apa juga arti dan penjelasan ayat-ayat dibawah ini:
    Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65.

    Jawab: tentu saja, AQ sdh jelas memberi petunjuk ttg nabi yg benar dan yg palsu, dan menurut pandangan saya pendakwaan beliau tdk ada yang salah…

    Sy kira tdk perlu saya kutip ayat AQ ttgkebenaran da’wa dr pendiri Jemaat Ahmadiyah, karena toh sdr sendiri meyakini Nabi Muhamad saw hanya dengan pernyataan dlm AQ yg sdr kutip saja toh…

    Saya tegaskan kembali, pernyataan seseorang yg mengaku datang dr Tuhan, tdk cukup menjadi bukti bahwa dia adalah benar datang dr Tuhan, kalau sdr merasa cukup hanya dgn pernyataan ayat AQ yg sdr kutip saja, tentunya begitu pula seharusnya sdr bisa percaya pula dgn pengakuan Pendakwa lain….bedanya apa?

    Terus maksud kutipan2 ayat tsb apa? kl sdr ingin menggaris bawahi kata khatam dalam ayat tsb terus maksudnya bagaimana? atau maksud sdr mau bandingkan dgn ayat khaataman nabiyyiin? dlm konteks ayat itu arti yg tepat utuk ayat2 itu adalah mencap atau mematerai…terus apa yg salah? kenapa artinya itu yg cocok, krn khatam dlm ayat2 itu dalam bentuk kata kerja, sdengkan dalam khaataman nabiyyin adalah bentuk kata benda…so, jd apa kendalanya mnrt sdr?

  70. Betul jg kata bpk Sirna Galih, sdr netral ini berkali2 bilang kepepet, padahal argumen beliaupun sebetulnya sangat lemah sekali utk dipertanggung jawabkan pemaknaannya… ya sudahlah

  71. Assalamu’alaikum cep Andri,
    Cep Andri jangan terganggu dengan “doktrin makan tuan” yang sering diulang-ulang di beberapa thread oleh PAKAR DEBAT KUSIR seperti ini:
    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.
    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Bilang saja MALU karena dokrtin yang dibawakan adalah doktrin yang sudah usang yangmampu dipatahkan didalam blog ini dan di http://islamic.us.to bahkan ada doktrin makan tuan. 😀

    Karena sudah saya jawab dengan simpel begini:
    diantaranya, yang pertama (Syari’at) Adam as dan terakhir (Syari’at) Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua (inilah arti dari kata Khataman-Nabiyyin).
    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Karena PAKAR DEBAT KUSIR itu kepepet tidak punya dalil lagi tentang arti Khataman-Nabiyyin, kemudian dia ulang-ulang, bukan hanya di thread ini saja tapi di beberapa thread sambil mengatakan “kepepet yah?”, padahal dia yang kepepet. Persis seperti MALING TERIAK MALING.

    Wakakakaka…..Makin KEPEPET saja…..Sebelumnya memberikan jawaban yang berubah-ubah namun bisa dipatahkan. Malah Tambah malu AHMAD khan terdapat dalam surat Ash-shaff dan dalil ini dijadikan datangnya Nabi Ahmad. Dan Ahmad menurut Ahmadiyah adalah MGA. Jika disitu ditulis Syariat berarti MGA Nabi yang membawa syariat 😀
    Tidak ada dalam buku doktrin tersebut tertulis syariat (saya beri tanda tercetak tebal). Malu ni yee dengan cara berbohong untuk nutupi rasa malu 😀
    MALUUUUUU NI YEEE karena DOKTRIN MAKAN TUAN jadi mendustakan apa yang tertulis dibuku tersebut 😀
    MALING berteriak MALING ini paling tepat ditujukan sinar galih 😀

    Cep Andri,
    Di dalam Khutbah Jum’at 27 Agustus 2010, Hadhrat Khalifatul Masih V atba, Amir-ul-Mumini, Imam Jemaat Ahmadiyah Internasional mengutip ucapan Hadhrat Masih Mau’ud begini:”Jadi, pada saat kegelapan ruhani dan ketika orang-orang cenderung kepada agama, itu adalah tanda bahwa seorang pembaharu akan segera turun dari langit. Pada saat seperti ini, dua macam perubahan akan terjadi. Pertama adalah Tazkiyah Nafs (pensucian jiwa) yang akan dianugerahkan kepada orang-orang, sebagai hasil dari hikmah yang mereka miliki. Yang kedua adalah meskipun hikmah mereka dipertajam, tetapi jiwa tidak mampu mencapai kebenaran, hal inilah yang membuktikan bahwa: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka; dan bagi mereka ada azab yang pedih disebabkan mereka berdusta” (QS Al Baqarah 2:11).

    Jadi, Allah Ta’ala Sendiri, bukan kita, yang mengatakan bahwa orang-orang seperti PAKAR DEBAT KUSIR:”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka; dan bagi mereka ada azab yang pedih disebabkan mereka berdusta” (QS Al Baqarah 2:11).

    Semoga bermanfaat buat cep Andri.
    Wassalam.

    Ayat ini pantas ditujukan kepada non ahmadi dan Ahmadiyah yang mengamalkan hadits palsu, mendustakan ayat-ayat Allah, tidak taat kepada Alllah dan Rasullah SAW 😀 khususnya berusaha mendustakan apa yang ditulis dalam buku-buku doktrin karena kalau tidak didustakan akan DOKTRIN MAKAN TUAN 😀
    MALUUUU NI YEEEE…. MALING TERIAK MALING ini ceritanya 😀

  72. tentu saja, AQ sdh jelas memberi petunjuk ttg nabi yg benar dan yg palsu, dan menurut pandangan saya pendakwaan beliau tdk ada yang salah…

    Sy kira tdk perlu saya kutip ayat AQ ttgkebenaran da’wa dr pendiri Jemaat Ahmadiyah, karena toh sdr sendiri meyakini Nabi Muhamad saw hanya dengan pernyataan dlm AQ yg sdr kutip saja toh…

    Jadi Anda setuju bahwa alat ukurnya adalah Al-Qur’an 😀 silahkan berikan buktinya di Al-qur’an pendakwaan ghulam Ahmad tersebut yang bermacam-macam tidak bertentangan dengan Al-Qur’an bukan hanya modal omong doang 😀

    Saya tegaskan kembali, pernyataan seseorang yg mengaku datang dr Tuhan, tdk cukup menjadi bukti bahwa dia adalah benar datang dr Tuhan, kalau sdr merasa cukup hanya dgn pernyataan ayat AQ yg sdr kutip saja, tentunya begitu pula seharusnya sdr bisa percaya pula dgn pengakuan Pendakwa lain….bedanya apa?

    Terus maksud kutipan2 ayat tsb apa? kl sdr ingin menggaris bawahi kata khatam dalam ayat tsb terus maksudnya bagaimana? atau maksud sdr mau bandingkan dgn ayat khaataman nabiyyiin? dlm konteks ayat itu arti yg tepat utuk ayat2 itu adalah mencap atau mematerai…terus apa yg salah? kenapa artinya itu yg cocok, krn khatam dlm ayat2 itu dalam bentuk kata kerja, sdengkan dalam khaataman nabiyyin adalah bentuk kata benda…so, jd apa kendalanya mnrt sdr?

    Silahkan Anda buktikan ayatnya yang menguatkan pendakwaan MGA ditunjukkan kepada saya, namun sayangnya di Al-qur’an tidak ada yang menguatkan pendakwaan MGA bahkan kedatangan Nabi baru sekalipun 😀

    Betul jg kata bpk Sirna Galih, sdr netral ini berkali2 bilang kepepet, padahal argumen beliaupun sebetulnya sangat lemah sekali utk dipertanggung jawabkan pemaknaannya… ya sudahlah

    Haaa…haaa justru Argumen kamu yang lemah. Diberikan Ayat Al-Qu’ran saja masih dibantah. Al-Qur’an itu dalil tertinggi bro. Sedangkan kamu dalilnya perkataan manusia 😀
    Yang jelas Ahmadi sudah kepepet dengan tulisan di buku da’watul amir:

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

  73. Kata Ardi:

    sedangkan khaatam (dgn tanda fatah) adalah disebut Isim ‘ala

    Isim ‘ala? saya baru denger? Apa pernah ada isim ‘ala dalam tata bahasa arab/nahwu shorof? keliatan ga ngerti tata bahasa arab 😀 ini cuma modal contek saja 😀

  74. >>> Jadi Anda setuju bahwa alat ukurnya adalah Al-Qur’an 😀 silahkan berikan buktinya di Al-qur’an pendakwaan ghulam Ahmad tersebut yang bermacam-macam tidak bertentangan dengan Al-Qur’an bukan hanya modal omong doang 😀

    Jawab: Nah kan diulang lagi! sebelum sdr tanya bukti2 ttg kebenaran HMG, silahkan buktikan keyakinan sdr thd Nabi Muhamad saw.
    berulang2 saya sdh tulis, kl cuma sekedar pernyataan AQ yg sdr sampaikan, berarti sdr tdk punya bukti apa2 yg mendasari keyakinan sdr thd N. Muhamad saw, Sayakan sdh tanya dari awal : “Bagaimana sdr bisa meyakini pernyataan yg disampaikan oleh N. Muhamad saw itu benar2 datang dari Tuhan?”, coba silahkan jawab dulu ini….

    Kalau cuma sekedar pernyataan, sdh saya katakan, bahwa pernyataan HMG as. bahwa beliau pun telah diutus Tuhan pun sdh cukup sebagai bukti kebenaran dakwa beliau….jelas

  75. >> aaa…haaa justru Argumen kamu yang lemah. Diberikan Ayat Al-Qu’ran saja masih dibantah. Al-Qur’an itu dalil tertinggi bro. Sedangkan kamu dalilnya perkataan manusia 😀
    Yang jelas Ahmadi sudah kepepet dengan tulisan di buku da’watul amir:

    Jawab: Nah itulah akibatnya kalau baca cuma sepotong2, kalau sdr baca dengan lebkap, pasti sdr akan malu sendiri, jd menurut saya sdr sdh ambil kesimpulan dr satu bacaan, padahal banyak keterangan lain yg menjelaskan apa yg sdr belum mengerti itu, nah, seharusnya sdr minta penjelasan dulu bukan langsung ambil kesimpulan…ya begitulah akibatnya

    Kalau saya dalilnya perkataan manusia, jd maksudnya dalil sdr perkataan Tuhan? memangnya kapan sdr dapat petunjuk Tuhan?
    Kalau maksudnya itu adalah dalil yg diambil dari AQ, bukankah itu adalah cuma sekedar interpretasi sdr saja? yg menurut saya, interpretasi sdr harus punya argumen yg kuat dan berdasar….jd orang lain pun bisa liat bahwa sdr jg punya logika berfikir

  76. >>Isim ‘ala?

    Jawab: salah tulis bos, kurang satu huruf, maksudnya isim ‘alat.
    Saya tau, sdr ini coba2 mau mengalihkan pembahasan kan? hal sepele saja sdr tanya2…Ism apa, syarat2 idhofat…saya yakin sdr ini cuma mau mengalihkan bahasan toh? :)…fokus saja ke yg kita bahas OK

  77. Ini saya ada sedikit pertanyaan utk sdr Netral…menurut sdr saya dan sirna galih menggunakan perkataan manusia, nah saya mau tanya, Saudar menterjemahkan AQ dr Bahasa arab sampai dengan pengertian yg sdr fahami sekarang ini pake apa?

  78. ah kan diulang lagi! sebelum sdr tanya bukti2 ttg kebenaran HMG, silahkan buktikan keyakinan sdr thd Nabi Muhamad saw.
    berulang2 saya sdh tulis, kl cuma sekedar pernyataan AQ yg sdr sampaikan, berarti sdr tdk punya bukti apa2 yg mendasari keyakinan sdr thd N. Muhamad saw, Sayakan sdh tanya dari awal : “Bagaimana sdr bisa meyakini pernyataan yg disampaikan oleh N. Muhamad saw itu benar2 datang dari Tuhan?”, coba silahkan jawab dulu ini….

    Kalau cuma sekedar pernyataan, sdh saya katakan, bahwa pernyataan HMG as. bahwa beliau pun telah diutus Tuhan pun sdh cukup sebagai bukti kebenaran dakwa beliau….jelas

    Haa…haaa justru Anda yang mengulang-ulang lagi karena Anda sepekat AQ memberikan petunjuk dengan jelas 😀
    khan sudah saya bilang alat ukurnya Al-Qur’an kalau hanya sebatas pengakuan tanpa diukur dengan Al-Qur’an kurang terbukti kebenarannya. Seperti yang Anda tulis:

    September 2, 2010 pada 7:28 am
    Masalah pernyataan itu benar atau salah itu adalah soal yg lain, AQ sdh memberikan petunjuknya pula dengan jelas. Tp yg jelas, AQ sdh memberikan petunjuk ttg itu, dan saya kira, setiap org Islam mudah saja membedakan apabila pernyataan itu palsu atau benar.

    Anda setuju bahwa AQ sudah memberikan petunjuk pula dengan jelas. Trus Alat ukurnya apa untuk membuktikan kenabian MGA? Modal percaya saja 😀
    Menurut Anda dalil tertinggi itu apa?. Keliatan Anda sudah mulai plin-plan dengan apa yang Anda tulis.

    ah itulah akibatnya kalau baca cuma sepotong2, kalau sdr baca dengan lebkap, pasti sdr akan malu sendiri, jd menurut saya sdr sdh ambil kesimpulan dr satu bacaan, padahal banyak keterangan lain yg menjelaskan apa yg sdr belum mengerti itu, nah, seharusnya sdr minta penjelasan dulu bukan langsung ambil kesimpulan…ya begitulah akibatnya

    Kalau saya dalilnya perkataan manusia, jd maksudnya dalil sdr perkataan Tuhan? memangnya kapan sdr dapat petunjuk Tuhan?
    Kalau maksudnya itu adalah dalil yg diambil dari AQ, bukankah itu adalah cuma sekedar interpretasi sdr saja? yg menurut saya, interpretasi sdr harus punya argumen yg kuat dan berdasar….jd orang lain pun bisa liat bahwa sdr jg punya logika berfikir

    hiii…hiii Anda semakin kurang yakin dengan Al-Qur’an dan Al-Qur’an sudah merupakan petunjuk. Kalau model alasan begini biasanya orang yang memiliki faham liberal 😀 Apakah Anda orang liberal? Kalau Anda pengikut Ahmadiyah?

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.4:59)

    Apa itu bukan perkataan Tuhan?
    Apa kurang jelas ayat tsb? Bukankah itu sebuah petunjuk 😀
    Nah Anda sendiri yakin kebenaran tanpa Al-Qur’an, darimana Anda meyakini pendakwaan MGA berasal dari Tuhan? Apakah hanya cukup percaya saja tanpa mengukurnya dengan Al-Qur’an? 😀 Bagaimana cara Anda meyakini MGA hanya dalilnya perkataan manusia? Apakah manusia itu pasti benar menurut Anda?

    ini baca lagi tulisan Anda. Tulisan Anda sudah bisa menjawab tulisan Anda tersebut 😀

    September 2, 2010 pada 7:28 am
    Masalah pernyataan itu benar atau salah itu adalah soal yg lain, AQ sdh memberikan petunjuknya pula dengan jelas. Tp yg jelas, AQ sdh memberikan petunjuk ttg itu, dan saya kira, setiap org Islam mudah saja membedakan apabila pernyataan itu palsu atau benar.

    salah tulis bos, kurang satu huruf, maksudnya isim ‘alat.
    Saya tau, sdr ini coba2 mau mengalihkan pembahasan kan? hal sepele saja sdr tanya2…Ism apa, syarat2 idhofat…saya yakin sdr ini cuma mau mengalihkan bahasan toh? 🙂 …fokus saja ke yg kita bahas OK

    saya tidak mengalihkan pemabahasan. Memang Anda salah dalam menulis. Kalau Cincin itu isim alat tidak sesuai dengan wazannya bro. Saya berikan contoh isim alat: miftaahun=kuci, miizaanun=timbangan. Saya berikan ayatnya yang berkaitan dengan isim alat:
    Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. (QS.6:152)
    pada ayat tersebut takaran adalah miizaana
    Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan
    Anda lihat kedua ayat tersebut, wazannya saja sudah beda dengan surat Al-Ahzab 😀 Saya makin tambah Anda tidak mengerti soal tata bahasa Arab.
    Perlu diketahui idhofat itu mempunyai makna tertentu yang sudah diketahui oleh manusia khususnya Agama Islam. Misalnya , baitullahi=rumah Allah, Maqaama ibraahiimi=Maqam ibrahim, Syahru Romadhaan=Bulan Ramadhan, diinul islaami=Agama Islam Yaumal qiyaamati=Hari kiamat, dll. Dan tidak selalu idhofat itu maknanya bisa berubah. Terkadang tetap seperti halnya kata yaumal qiyaamati=hari kiamat. Orang semua tahu tentang hari kiamat. Jika pada surat Al-Ahzab Anda artikan cincin para nabi maka kalau diidhfatkan itu arti yang sebenarnya adalah Alat mengesahkan para nabi. Kenapa demikian karena semua orang arab bahkan umat Islam tahu bahwa cincin adalah sebuah alat yang dipergunakan Rasulullah SAW untuk mengesahkan surat-surat beliau SAW, Kalau Anda jujur bahwa soal cincin terdapat dalam hadits bukhari. Tidak ada bangsa Arab khususnya para sahabat mengenal cincin adalah paling afhdal, paling mulia, paling baik, sempurna. Itu hanya rekayasa Ahmadiyah saja. Bangsa arab tidak mengenal itu semua. Orang yang mengartikan cincin para nabi dengan paling afhdol, paling baik, sempurna adalah orang yang tidak begitu mengerti tentang tata bahasa arab. Makanya itu kenapa saya selalu bertanya kepada Anda khaatama itu isim apa dan syarat-syarat idhofat itu apa? karena Anda sendiri sebenarnya tidak mengerti tata bahasa arab. Anda hanya mengutip jawaban doktrin Ahmadiyah tanpa mau tahu apakah itu benar atau tidak. Jawaban yang Anda jawab, saya sudah mengetahuinya karena pernah membaca buku-buku Ahmadiyah. Dan selalu jawabannya selalu jawaban usang yang itu-itu saja. 😀

    Ini saya ada sedikit pertanyaan utk sdr Netral…menurut sdr saya dan sirna galih menggunakan perkataan manusia, nah saya mau tanya, Saudar menterjemahkan AQ dr Bahasa arab sampai dengan pengertian yg sdr fahami sekarang ini pake apa?

    heee…hee…Apa Rasulullah tidak pernah mengajarkan apa yang terkandung di Al-Qur’an pengertian tersebut pada para sahabat2nya menurut Anda? Apa para sahabat tidak mengajarkan kepada generasi berikutnya? Apa Anda sendiri tidak pernah berkata soal bahasa arab dan tata bahasa arab?

  79. Kata Ardi:

    Kalau saya dalilnya perkataan manusia

    Kalau Anda dalilnya perkataan manusia kenapa Anda tidak percaya perkataan manusia ini:

    diantaranya, yang pertama (Syari’at) Adam as dan terakhir (Syari’at) Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua (inilah arti dari kata Khataman-Nabiyyin).
    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Ini bukan dari Al-Qur’an lho tetapi dari manusia 😀
    Ada Maling teriak maling 😀

  80. Wahh semakin enak dech diskusinya kalau Anda dalilnya manusia. Silahkan tuch jawab dalil manusia tersebut yang Anda yakini kebenarannya 😀

  81. >> khan sudah saya bilang alat ukurnya Al-Qur’an kalau hanya sebatas pengakuan tanpa diukur dengan Al-Qur’an kurang terbukti kebenarannya

    Jawab: utk memahami pertanyaan saja keliatannya sdr susah ya..Begini deh lebih simpel: Misalkan sdr mengaku jadi nabi, lalu sodara umumkan pengakuan sodara tsb pada khalayak umum, misalkan ” Hai orang2, saya sdah diutus oleh Tuhan, ayp pada beriman pada saya, karena saya dapat wahyu dr Tuhan, begini bunyinya:’ (ambil contoh isinya sama persis seperti dalam AQ: 4 : 59)’

    Nah menurut sdr, bagaimana orng2 bisa percaya pada anda bahwa anda ini benar datang atas nama Tuhan?
    Sederhanakan? dan saya yakin semua orang yg anda seru tersebut akan sepakat mengatakan: anda sdh Gila…

    Nah situasi ini persis dialami oleh Nabi Muhamad saw. saat itu…jadi saya mau tanya sekali lagi, cara sdr m,embuktikannya gimana? bahwa perkataan Nabi Muhamad itu benar, dan juga pernyataan ” wahyu Tuhan yg di katakan Beliau SAw. itu benar juga wahyu dari Tuhan?

    Sederhana kan pertanyaannya? kalau sdr jawab hanya dengan jawaban yg di atas itu, apa perlunya saya jawab lagi pertanyaan sdr ttg kebenaran HMG as.? Kalau sdr minta salah satu petunjuk dr AQ ttg kedatangan HMG as. surah Jumah yg sdr kutip pun itu adalah salah satu buktinya ( terlepas dr penafsiran sdr ttg ayat itu, krn menurut saya, ayat itu sdh cukup jelas sebagai bukti kedatangan HMG as.)

  82. .>> Perlu diketahui idhofat itu mempunyai makna tertentu yang sudah diketahui oleh manusia khususnya Agama Islam. Misalnya , baitullahi=rumah Allah, Maqaama ibraahiimi=Maqam ibrahim, Syahru Romadhaan=Bulan Ramadhan, diinul islaami=Agama Islam Yaumal qiyaamati=Hari kiamat, dll. Dan tidak selalu idhofat itu maknanya bisa berubah. Terkadang tetap seperti halnya kata yaumal qiyaamati=hari kiamat. Orang semua tahu tentang hari kiamat. Jika pada surat Al-Ahzab Anda artikan cincin para nabi maka kalau diidhfatkan itu arti yang sebenarnya adalah Alat mengesahkan para nabi. Kenapa demikian karena semua orang arab bahkan umat Islam tahu bahwa cincin adalah sebuah alat yang dipergunakan Rasulullah SAW untuk mengesahkan surat-surat beliau SAW, Kalau Anda jujur bahwa soal cincin terdapat dalam hadits bukhari. Tidak ada bangsa Arab khususnya para sahabat mengenal cincin adalah paling afhdal, paling mulia, paling baik, sempurna. Itu hanya rekayasa Ahmadiyah saja. Bangsa arab tidak mengenal itu semua. Orang yang mengartikan cincin para nabi dengan paling afhdol, paling baik, sempurna adalah orang yang tidak begitu mengerti tentang tata bahasa arab.

    Jawab: 1. sekarang saya balik tanya, kalau menurut sdr ‘khaatam’ itu bukan Isim alat, jadi Isim apa nama nya? Silahkan juga sdr cari contoh bentuk Isim dari kata khaatam yg artinya penutup…

    2. Ketereangan ttg idhofat itu terlalu banyak, tp utk mudahnya bagi orang yg tidak memahaminya, saya kutip saja definisinya dr pelajaran Ilmu Nahwu : arti idhofat: ” Menggabungkan dua isim sehingga melahirkan makna baru yang mandiri” (kata majemuk)
    Silahkan diperiksa dalam berbagai buku pelajaran Ilmu Nahwu…Dan utk itu, ayat khaataman nabiyyin adalah bentuk paling sempurna ttg idhofat, contoh2nya pun sdh sdh sering disampaikan., dalam bahasa indonesia juga sudah saya sampaikan, seperti ‘ Bintang Pelajar’, dalam kata majemuk itu artinya adalah Murid yg paling pandai…banyak lagi contohnya.

    Nah biar adil, silahkan kemukakan contohnya utk nabi penutup, yang Isim lho…karena dlm ayat2 AQ yg sdr sodorkan semua dlm bentuk fiil, yg menurut saya pun itu artinya tetap saja memamaterai atau Mencap….silahkan sdr bandingkan dengan terjemahan2 AQ dalam Bahsa inggris, tulisannya adalah ‘set a seal’

    3. Menurut sodara, yg mengartikan yg paling afdhal itu adalah hasil rekayasa Ahmadiyah saja dan bangsa Arab khususnya para sahabat tdk mengenal cincin adalah yg paling afdhal.
    Dalam penjelasan tafsir singkat JA sdh dijelaskan, bahkan kitab2 rujukannya pun sdh dituliskan, diantaranya Lane, Mufradat, Fath, dan Zurqani. Tambahan pula contoh2 penulisan kata khaatam yg dirangkaikan dgn kata benda Jamak, artinya adalah memang yg terbaik.

    Silahkan sodara cari bentuk kata yg sepadan berikut contohnya kalau pengertian sodara adalah ‘penutup nabi’

    Sodara bilang usang, padahal menurut saya pun argumen sodara pun ttg arti Nabi Penutup ini jauh skali dari benar berdasarkan kaidah tata bahasa Arab, dari kamus salah, tata bahasa juga ngawur, contohnya jg tidalk ada. Nah sekarang yg usang itu siapa?

  83. Jawab: utk memahami pertanyaan saja keliatannya sdr susah ya..Begini deh lebih simpel: Misalkan sdr mengaku jadi nabi, lalu sodara umumkan pengakuan sodara tsb pada khalayak umum, misalkan ” Hai orang2, saya sdah diutus oleh Tuhan, ayp pada beriman pada saya, karena saya dapat wahyu dr Tuhan, begini bunyinya:’ (ambil contoh isinya sama persis seperti dalam AQ: 4 : 59)’

    Nah menurut sdr, bagaimana orng2 bisa percaya pada anda bahwa anda ini benar datang atas nama Tuhan?
    Sederhanakan? dan saya yakin semua orang yg anda seru tersebut akan sepakat mengatakan: anda sdh Gila…

    Nah situasi ini persis dialami oleh Nabi Muhamad saw. saat itu…jadi saya mau tanya sekali lagi, cara sdr m,embuktikannya gimana? bahwa perkataan Nabi Muhamad itu benar, dan juga pernyataan ” wahyu Tuhan yg di katakan Beliau SAw. itu benar juga wahyu dari Tuhan?

    Sederhana kan pertanyaannya? kalau sdr jawab hanya dengan jawaban yg di atas itu, apa perlunya saya jawab lagi pertanyaan sdr ttg kebenaran HMG as.? Kalau sdr minta salah satu petunjuk dr AQ ttg kedatangan HMG as. surah Jumah yg sdr kutip pun itu adalah salah satu buktinya ( terlepas dr penafsiran sdr ttg ayat itu, krn menurut saya, ayat itu sdh cukup jelas sebagai bukti kedatangan HMG as.)

    Jawab: 1. sekarang saya balik tanya, kalau menurut sdr ‘khaatam’ itu bukan Isim alat, jadi Isim apa nama nya? Silahkan juga sdr cari contoh bentuk Isim dari kata khaatam yg artinya penutup…

    2. Ketereangan ttg idhofat itu terlalu banyak, tp utk mudahnya bagi orang yg tidak memahaminya, saya kutip saja definisinya dr pelajaran Ilmu Nahwu : arti idhofat: ” Menggabungkan dua isim sehingga melahirkan makna baru yang mandiri” (kata majemuk)
    Silahkan diperiksa dalam berbagai buku pelajaran Ilmu Nahwu…Dan utk itu, ayat khaataman nabiyyin adalah bentuk paling sempurna ttg idhofat, contoh2nya pun sdh sdh sering disampaikan., dalam bahasa indonesia juga sudah saya sampaikan, seperti ‘ Bintang Pelajar’, dalam kata majemuk itu artinya adalah Murid yg paling pandai…banyak lagi contohnya.

    Nah biar adil, silahkan kemukakan contohnya utk nabi penutup, yang Isim lho…karena dlm ayat2 AQ yg sdr sodorkan semua dlm bentuk fiil, yg menurut saya pun itu artinya tetap saja memamaterai atau Mencap….silahkan sdr bandingkan dengan terjemahan2 AQ dalam Bahsa inggris, tulisannya adalah ‘set a seal’

    3. Menurut sodara, yg mengartikan yg paling afdhal itu adalah hasil rekayasa Ahmadiyah saja dan bangsa Arab khususnya para sahabat tdk mengenal cincin adalah yg paling afdhal.
    Dalam penjelasan tafsir singkat JA sdh dijelaskan, bahkan kitab2 rujukannya pun sdh dituliskan, diantaranya Lane, Mufradat, Fath, dan Zurqani. Tambahan pula contoh2 penulisan kata khaatam yg dirangkaikan dgn kata benda Jamak, artinya adalah memang yg terbaik.

    Silahkan sodara cari bentuk kata yg sepadan berikut contohnya kalau pengertian sodara adalah ‘penutup nabi’

    Sodara bilang usang, padahal menurut saya pun argumen sodara pun ttg arti Nabi Penutup ini jauh skali dari benar berdasarkan kaidah tata bahasa Arab, dari kamus salah, tata bahasa juga ngawur, contohnya jg tidalk ada. Nah sekarang yg usang itu siapa?

    waakakakaka katanya percaya kepada perkataan manusia kenapa mengutip Al-Qur’an. Mulai plin-plan ya 😀
    Cara-cara jawaban dari faham liberal diadopsi ke Ahmadiyah…. ckckckckckckck
    Jadi simple saja jawaban saya. Karena Anda percaya kepada manusia maka dalil Anda juga sudah dipatahkan oleh manusia 😀
    Apapun dalil yang kamu berikan sudah dipatahkan oleh manusia dibawah ini: 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Sudah dipatahkan khan oleh perkataan manusia karena Anda berdalil perkataan manusia 😀

  84. >> Sudah dipatahkan khan oleh perkataan manusia karena Anda berdalil perkataan manusia

    JAWAB: :menurut saya sebaiknya sodara jujur saya ga bisa jawab kan? 🙂

  85. >> Sudah dipatahkan khan oleh perkataan manusia karena Anda berdalil perkataan manusia

    JAWAB: :menurut saya sebaiknya sodara jujur saja kalau ga bisa jawab 🙂

  86. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum cep Andri,

    Mubarak cep Andri. Kalau kata anak sekarang mah COOL.

    Saya masih memonitor dialog cep Andri dengan para penentang di thread ini, dan satu kemajuan yang harus disyukuri adalah Netral menulis:
    Tidak ada alasan saya untuk membenci Ahmadiyah. Kita disini hanya saling bertukar ilmu. Kita saudara sesama Islam. Tidak pantas sesama beragama Islam saling membenci.

    Saya belum tahu apakah Netral sadar atau terpancing menulis kalimat itu. Tapi yang jelas kalimat itu sudah mematahkan Fatwa MUI yang mengatakan kita di luar Islam. Sekarang pun dia sudah tidak lagi mengulang-ulang kata sesat. Mudah-mudahan Netral menulisnya dengan sadar. Masya-Allah, Alhamdulillah.

    Insya-Allah, dalam beberapa hari mendatang saya akan masuk lagi di thread Tafsir Surah Az-Zukhruf, Al Jumu’ah dan Ash-Shaff dengan penjelasan-penjelasan tambahan disertai doa agar Allah-u-Syafi menyembuhkan penyakit mereka, Allah-ul-Qadir memberikan taufik kepada kita dan Allah-ul-Hadi memberi petunjuk kepada mereka. Amin.

    Carry-on cep Andri. Wassalam.

  87. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum cep Andri,

    Oh ya, saya ingin menyamakan persepsi saja bahwa kita mah sesungguhnya hanya ingin menyampaikan (tabligh) kebenaran, bukan untuk mencari kemenangan, apalagi kemenangan dalam DEBAT KUSIR.

    Bagaimana dengan Khutbah Huzur atba tentang Laylatul Qadr, sudah dibaca? Saya doakan semoga cep Andri mendapatkan Laylatul Qadr. Amin. Wassalam.

  88. menurut saya sebaiknya sodara jujur saya ga bisa jawab kan? 🙂

    heee…heee menjawab hal tsb mudah bagi saya dan sudah ada yang pernah sudah saya jawab. Khan dalil Anda adalah perkataan manusia jadi saya jawab pula dengan perkataan manusia lagipula Anda menjawab hal tersebut memangnya sudah mendapat petunjuk dari Alllah 😀 us
    Anda harus pegang teguh tuch dalil Anda adalah perkataan manusia agar tidak dianggap plin-plan 😀
    Anda khan hanya percaya perkataan manusia. jadi jawabannya dibawah ini 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

  89. Mubarak cep Andri. Kalau kata anak sekarang mah COOL.

    Saya masih memonitor dialog cep Andri dengan para penentang di thread ini, dan satu kemajuan yang harus disyukuri adalah Netral menulis:
    Tidak ada alasan saya untuk membenci Ahmadiyah. Kita disini hanya saling bertukar ilmu. Kita saudara sesama Islam. Tidak pantas sesama beragama Islam saling membenci.

    Saya belum tahu apakah Netral sadar atau terpancing menulis kalimat itu. Tapi yang jelas kalimat itu sudah mematahkan Fatwa MUI yang mengatakan kita di luar Islam. Sekarang pun dia sudah tidak lagi mengulang-ulang kata sesat. Mudah-mudahan Netral menulisnya dengan sadar. Masya-Allah, Alhamdulillah.

    Insya-Allah, dalam beberapa hari mendatang saya akan masuk lagi di thread Tafsir Surah Az-Zukhruf, Al Jumu’ah dan Ash-Shaff dengan penjelasan-penjelasan tambahan disertai doa agar Allah-u-Syafi menyembuhkan penyakit mereka, Allah-ul-Qadir memberikan taufik kepada kita dan Allah-ul-Hadi memberi petunjuk kepada mereka. Amin.

    haaa…haaa sampai sekarang saya menganggap Ahmadiyah sesat koq 😀
    meskipun Anda mau masuk thread apapun sudah dipatahkan oleh Nabi Anda sendiri 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    😀 😀 😀 😀

    Assalamu’alaikum cep Andri,

    Oh ya, saya ingin menyamakan persepsi saja bahwa kita mah sesungguhnya hanya ingin menyampaikan (tabligh) kebenaran, bukan untuk mencari kemenangan, apalagi kemenangan dalam DEBAT KUSIR.

    Bagaimana dengan Khutbah Huzur atba tentang Laylatul Qadr, sudah dibaca? Saya doakan semoga cep Andri mendapatkan Laylatul Qadr. Amin. Wassalam.

    Heee….heee… Bilang saja kepepet. perkataan debat kusir hanya untuk menghibur diri Anda sendiri karena tidak bisa menjawab baik bpertanyaan2 maupun contoh yang diberikan 😀

    baca baik2 dech tulisan dibawah ini 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

  90. Www. Sama2 pa sinar galih, tadinya saya kira ada hal yg luar biasa dr keterangan2 disampaikannya, tapi ternyata menurut saya beliau ini hanya meniru2 orang2 yg tidak menyukai Ahmadiyah.

    Daripada beliau ini lebih jauh meminta penjelasan dr pihak yg menjadi obyek yg menjadi sasaran tulisannya, dia lebih memilih bertahan dengan argumen2 dengan pikirannya sendiri. Padahal jangankan menuduh orang lain salah, dari pertanyaan2 yg saya berikan pun dia tidak punya landasan sedikit pun tentang keyakinannya terhadap Nabi Muhammad saw, yg “menurut pemikirannya” beliau bela.

    Padahal kalau sedikit saja beliau ini berpikir dan punya sedikit rasa takut akan Tuhan, seharusnya dia banyak bertanya dulu ttg maksud dan tujuan dari berdirinya Ahmadiyah. Beliau ini mgkn tdk menyadari bahwa yg menjadi bahan olok2nya ini adalah seseorang yg menyatakan datang sebagai penggenap janji Tuhan dalam AQ dan wasiat dari Nabi Muhamad saw sendiri (yang katanya sangat diyakini dan dibelanya).

    Dari sikapnya ini saja sdh nampak bahwa beliau ini tidak mengacu pada AQ ketika datang seseorang yg menyatakan datang dari Tuhan, tanpa memeriksa, meneliti dan membuktikan lebih jauh beliau ini lebih suka langsung mencerca dan mengambil kesimpulan sendiri.

    Ketika saya tanyakan ttg keyakinannya terhadap N. Muhamad saw saja apabila beliau hidup dijaman Nabi saw, jawaban beliau sama sekali tidak memiliki argumen yg pasti, dgn mudahnya beliau ini hanya menyatakan dengan ayat AQ, padahal kalau saja dia baca sejarah, penolakan kaum qurais pada saat itu adalah pernyataan Nabi Muhamad saw yg mengatakan bahwa Beliau saw. sdh memperoleh wahyu dari Allah SWT., jd wahyu2 yg beliau sampaikan waktu itu dianggap dusta semata.

    Sikap kaum Qurais ini persis seperti cemoohan sdr. Netral sekarang ini thd pernyataan dari pendiri Jemaat Ahmadiyah. Jadi menurut saya, alih2 beliau ini akan beriman kepada Nabi Muhamad waktu itu, saya yakin sekali, kalau sdr netral ini hidup di jaman Nabi Muhamad saw, beliau pasti berada di baris paling depan utk memerangi Nabi Muhamad saw.

  91. Www. Sama2 pa sinar galih, tadinya saya kira ada hal yg luar biasa dr keterangan2 disampaikannya, tapi ternyata menurut saya beliau ini hanya meniru2 orang2 yg tidak menyukai Ahmadiyah.

    Daripada beliau ini lebih jauh meminta penjelasan dr pihak yg menjadi obyek yg menjadi sasaran tulisannya, dia lebih memilih bertahan dengan argumen2 dengan pikirannya sendiri. Padahal jangankan menuduh orang lain salah, dari pertanyaan2 yg saya berikan pun dia tidak punya landasan sedikit pun tentang keyakinannya terhadap Nabi Muhammad saw, yg “menurut pemikirannya” beliau bela.

    Padahal kalau sedikit saja beliau ini berpikir dan punya sedikit rasa takut akan Tuhan, seharusnya dia banyak bertanya dulu ttg maksud dan tujuan dari berdirinya Ahmadiyah. Beliau ini mgkn tdk menyadari bahwa yg menjadi bahan olok2nya ini adalah seseorang yg menyatakan datang sebagai penggenap janji Tuhan dalam AQ dan wasiat dari Nabi Muhamad saw sendiri (yang katanya sangat diyakini dan dibelanya).

    Dari sikapnya ini saja sdh nampak bahwa beliau ini tidak mengacu pada AQ ketika datang seseorang yg menyatakan datang dari Tuhan, tanpa memeriksa, meneliti dan membuktikan lebih jauh beliau ini lebih suka langsung mencerca dan mengambil kesimpulan sendiri.

    Ketika saya tanyakan ttg keyakinannya terhadap N. Muhamad saw saja apabila beliau hidup dijaman Nabi saw, jawaban beliau sama sekali tidak memiliki argumen yg pasti, dgn mudahnya beliau ini hanya menyatakan dengan ayat AQ, padahal kalau saja dia baca sejarah, penolakan kaum qurais pada saat itu adalah pernyataan Nabi Muhamad saw yg mengatakan bahwa Beliau saw. sdh memperoleh wahyu dari Allah SWT., jd wahyu2 yg beliau sampaikan waktu itu dianggap dusta semata.

    Sikap kaum Qurais ini persis seperti cemoohan sdr. Netral sekarang ini thd pernyataan dari pendiri Jemaat Ahmadiyah. Jadi menurut saya, alih2 beliau ini akan beriman kepada Nabi Muhamad waktu itu, saya yakin sekali, kalau sdr netral ini hidup di jaman Nabi Muhamad saw, beliau pasti berada di baris paling depan utk memerangi Nabi Muhamad saw.

    waakakaka….tidak punya landasan yang kuat.. Menghibur Anda sendiri ya 😀
    bilang saja sudah kepepet 😀
    syarat idhofat saja ga ngerti masih ngerti masih ngeyel juga 😀
    Ini lho dalil perkataan manusia yang tidak sedikitpun kamu bantah karena kamu hanya percaya kepada perkataan manusia 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

  92. JAWAB : 🙂

  93. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,

    Betul cep Andri. Jelas mereka ini meniru-niru para penentang Jemaat Ahmadiyah. Karena Jemaat Ahmadiyah ini ruang lingkupnya Internasional, maka para penentangnya pun memiliki ruang lingkup Internasional pula. Diawali olah Rabitah Alam Al Islami dan ulama-ulama OKI di Arab yang karena Imam Mahdi datangnya bukan dari Arab. Kemudian Khatam-e-Nubuwat di Pakistan. dan di negara kita mah hanya ikut-ikutan atau meniru-niru saja (sambil cari duit dari penjualan buku). Tetapi, saya hanya khawatir negara kita ikut-ikutan terkena azab seperti di Pakistan & Afghanistan.

    Saya suka ungkapan cep Andri yang menganalogikan Khataman-Nabiyyin dengan Bintang Pelajar, wah itu bagus sekali. Karena dia tidak bisa menjawab dia ulang-ulang:

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi & Masih Mau’ud dan Nabi/Rasul Ghairi Tasyri’ wa Ghairi Mustaqil yang memperkuat syari’at Nabi Muhammad saw, tidak mungkin beliau as menulis seperti itu KECUALI DENGAN MAKSUD:
    diantaranya, yang pertama (syari’at) Adam dan terakhir (syari’at) Ahmad (Muhammad saw).

    Kalau pun perspektifnya “kenabian”, maka artinya begini:
    diantaranya, Adam (Nabi Yang Membawa Syari’at Pertama) dan Ahmad (Muhammad saw) (Nabi Yang Membawa Syari’at Terakhir dan Sempurna).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua (Nah ini lah arti Khataman-Nabiyyin, kalau menurut cep Andri mah “Bintangnya Para Nabi”).

    Karena yang menulis sya’ir itu adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, maka kalimat “Namun Ahmad (Muhammad saw)” khusus hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad Rasulullah saw saja, bukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

    Analogi yang mungkin akan diberikan cep Andri begini:
    Seorang Kepala Sekolah baru saja menunjuk seorang Guru bernama Ahmad untuk memberikan penajaman pelajaran “matematika” kepada murid yang dulunya diajarkan oleh Guru Besar bernama Muhammad yang memiliki nama sifat Ahmad.

    Mungkinkah Guru baru yang bernama Ahmad akan menulis “Guru yang terakhir Ahmad (Muhammad)” dan “Tidak ada Guru baru setelah Beliau”? Ya tentu tidak mungkin lah, wong Ahmad adalah Guru baru yang ditunjuk oleh Kepala Sekolah setelah Guru Besar Ahmad (Muhammad) dengan pelajaran yang sama yaitu matematik.

    Betul kan cep Andri? Wassalam.

  94. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Pakar Debat Kusir menulis:
    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sinar Galih menjawab:
    Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi & Masih Mau’ud dan Nabi/Rasul yang memperkuat syari’at Nabi Muhammad saw, tidak mungkin beliau as menulis seperti itu KECUALI DENGAN MAKSUD:
    diantaranya, yang pertama (syari’at) Adam dan terakhir (syari’at) Ahmad (Muhammad saw), atau
    diantaranya, Adam (Nabi Yang Membawa Syari’at Pertama) dan Ahmad (Muhammad saw) (Nabi Yang Membawa Syari’at Terakhir dan Sempurna).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua (Nah ini lah arti Khataman-Nabiyyin atau “Bintangnya Para Nabi”).

    Sssssst, jangan cemburu yah, Jemaat Islam Ahmadiyah sudah sumpai ke Kababir – Arab. Penasaran silahkan browse: http://www.islamahmadiyya.net/
    Wassalam.

    Karena yang menulis sya’ir itu adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, maka kalimat “Namun Ahmad (Muhammad saw)” khusus hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad Rasulullah saw saja, bukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

  95. Kata Andri:

    JAWAB : 🙂

    sudah terbantah oleh perkataan MGA 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

  96. To Sinar Galih:

    sudah terbantah oleh perkataan MGA 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Jadi ga ada yang perlu dicemburui dengan Aliran sesat 😀

  97. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    You have no more idea to argue, haven’t you? If that is the case, then please behave like a muslim as taught by The Holy Prophet pbuh. And, please obey Allah and The Holy Prophet pbuh, then you will gain a peaceful life, because Islam means peace, purity, submission and obedience, as you can read on the followings: http://www.alislam.org/islam/

    After reading the above, you can also browse our Worldwide Islamic Da’wah Activities on the following website: http://www.alislam.org/urdu/rk/

    Wassalam.

  98. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.ahmadiyya-islam.nl/ mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: