Gelar Khaatam yang diberikan oleh Manusia

6f7e2622

Oleh: TN

Bagi penganut ahmadiyah bahwa arti khaatam bukanlah penutup dengan alasan bahwa gelar yang disandang oleh manusia seperti Imam Suyuthi mendapat gelar “khaatam-ul-muhadditsin”, Abu tamam, seorang penyair muslim kenamaan diberi gelar oleh pengagumnya sebagai “khaatam-usy-syu’araa” dan masih banyak lagi orang-orang yang terkenal lainnya diberi gelar oleh pengagumnya dengan mengaggunakan insial “khaatam”. Jika khaatam yang ada pada gelar-gelar itu diartikan dengan penutup, menurut ahmadiyah akan menjadi janggal serta bertentangan dengan kenyataan. Menurut ahmadiyah, Apakah setelah Imam Suyuthi tidak ada lagi ahli Hadits di dunia ini? Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Dari kenyataan ini orang-orang ahmadiyah qadiani mengatakan kata khaatam tidak bisa diartikan dengan penutup.

Perlu dipahami bahwa suatu istilah yang lazim dipinjam untuk dikenakan kepada wujud lain, istilah tsb tidak bisa diartikan secara harfiah dan persis seperti pengertian yang berlaku bagi shahibul-istilah karena istilah khaatam yang dipinjam dan dikenakan untuk wujud lain seperti yang dikemukakan oleh orang-orang Ahmadiyah Qadiani tersebut diatas itu tidak bisa diartikan dengan arti yang sama seperti istilah khaatam yang disandang oleh Nabi Muhammad SAW meskipun mempunyai pengertian penutup, sebab sifat khaatam(penutup) yang ada pada Nabi Muhammad SAW itu sifatnya tidak terbatas sampai hari kiamat. Karena beliau SAW sendiri telah menjelaskannya melalui hadits. Sedangkan istilah khaatam(penutup) yang ada pada wujud-wujud lainnya sifatnya terbatas, selama belum ada yang lain melebihi daripadanya. Disamping itu tidak tersirat sedikitpun dalam benak orang yang memberikan gelar itu, bahwa kata “khaatam” yang mereka kenakan mempunyai arti sama dengan istilah “khaatam” yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.

Perlu kita perhatikan lagi di sini, bahwa gelar yang diberikan oleh sang pencipta sangatlah berbeda dengan gelar yang hanya diberikan oleh si hamba. Khaataman Nabiyyin (penutup para nabi) adalah gelarnya Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- yang diberikan oleh Alloh SWT yang maha tahu apa pun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi di masa mendatang. Gelar yang Alloh berikan berdasarkan Ilmu-Nya, yang maha mengetahui segala sesuatu. Gelar pemberian Alloh sangat berbeda dengan gelar pemberian hamba yang serba ciut ilmunya. Ia hanya tahu apa yang disaksikan dan didengarnya. Andaikan saja gelar-gelar seperti khaatam-usy-syu’araa, khaatam-ula’imma, khaatam-ulmujahidiin, khaatam-ul-muhaqqiqin, khaatamul-muhaditsiin, khaatama-tul-huffaaz, khaatam-ulmufassirin, khaatam-ul-wilayah, dll itu dibenarkan, tentunya gelar tersebut hanya berlaku pada saat orang yang memberikan gelar itu masih hidup. Karena gelar tersebut adalah hasil pengamatan dia saja yang tentunya pengamatan tersebut akan berubah sesuai dengan perjalanan masa. Itulah perbedaan antara gelarnya Sang Pencipta dengan gelarnya si hamba yang hina di hadapan-Nya.

Seharusnya Ahmadiyah qadiani tidak gegabah dalam mencerna maksud dan artinya. Sebab yang demikian akibatnya dapat merusak atau bahkan menghancurkan pengertian ajaran agama, terutama yang menyangkut masalah-masalah aqidah.

Iklan

27 Tanggapan

  1. ulasan yang bagus… memang istilah sangat mungkin untuk diselewengkan artinya… apalagi setelah berlalunya waktu… itulah akibatnya jika kita memahami ayat ataupun hadits tanpa melalui pemahaman para ulama salaf… karena mereka adala orang yang paling tahu tentang masalah agama, sudah seharusnya kita merujuk ke tafsir-tafsir mereka… dan menolak semua penafsiran yang bertolak belakang dengan pendapat mereka…
    terima kasih atas artikel-nya… kunjungan balik sangat diharapkan… salam kenal…. wassalam…

  2. Salam kenal juga dari saya

  3. pertanyaan yang selalu menggoda hatiku….
    Mengapa mereka dulu membunuh khalifah?? Bukankah mereka ada di jamannya, mestinya bisa tahu persis, bahwa membunuh sesama muslim itu tidak boleh, apa lagi khalifah.

    Didesaku banyak petani, mereka menanam padi yang bermanfaat bagi banyak orang…..
    Dikotaku banyak orang menebar benci dengan pawai-pawai, bahkan ceramah yang menghalalkan darah….
    Ya Allooh maafkan….

  4. Pertanyaan yang selalu menggoda hatiku…Kenapa Seseorang membela Aliran sesat? kenapa tidak membela Allah & Rasulnya? Yg menggoda hatiku, kenapa ada orang yg memfitnah semacam “dmrhtirto” yg menganggap Islam non ahmadi menghalalkan darah? inilah manusia yg menghalalkan fitnah yg kita tdk tahu apakah dia seorang ahmadi atau bukan?

  5. Percayakah Nabi Isa akan turun? palsu ngga hadisnya?

  6. Percayakah Nabi Isa akan turun? palsu ngga hadisnya?

    Sudah terjawab di https://muhammadinsan.wordpress.com/2009/05/23/kenabian-terakhir-berdasarkan-tafsir/#comment-129

  7. >>Perlu dipahami bahwa suatu istilah yang lazim dipinjam untuk dikenakan kepada wujud lain, istilah tsb tidak bisa diartikan secara harfiah dan persis seperti pengertian yang berlaku bagi shahibul-istilah karena istilah khaatam yang dipinjam dan dikenakan untuk wujud lain seperti yang dikemukakan oleh orang-orang Ahmadiyah Qadiani tersebut diatas itu tidak bisa diartikan dengan arti yang sama seperti istilah khaatam yang disandang oleh Nabi Muhammad SAW meskipun mempunyai pengertian penutup, sebab sifat khaatam(penutup) yang ada pada Nabi Muhammad SAW itu sifatnya tidak terbatas sampai hari kiamat. Karena beliau SAW sendiri telah menjelaskannya melalui hadits

    TANGGAPAN: Khaatam itu bahasa arab, kaidah tata bahasa itu berlaku utk semua bahasa tdk terkecuali bahasa arab, jadi apabila adapengecualian ttg penggunaan kaidah tata bahasa, silahkan dijelaskan secara tata bahasa pula.
    Silahkan perilksa contoh2 penggunaan kata khaatam dlm bahasa arab, akan sulit menemukan bahwa artinya adalah penutup….arti utama dr khaatam dalam kamus adalah Cap atau Cincin, Kl ada yg memberi arti lain, tentu saja hrs kemukakan argumentasi beserta contoh2 penggunaannya
    Menurut pendapat saya dalilnya sangat sederhana tp tanggapannya terlalu emosional dan berlebihan….

  8. TANGGAPAN: Khaatam itu bahasa arab, kaidah tata bahasa itu berlaku utk semua bahasa tdk terkecuali bahasa arab, jadi apabila adapengecualian ttg penggunaan kaidah tata bahasa, silahkan dijelaskan secara tata bahasa pula.
    Silahkan perilksa contoh2 penggunaan kata khaatam dlm bahasa arab, akan sulit menemukan bahwa artinya adalah penutup….arti utama dr khaatam dalam kamus adalah Cap atau Cincin, Kl ada yg memberi arti lain, tentu saja hrs kemukakan argumentasi beserta contoh2 penggunaannya
    Menurut pendapat saya dalilnya sangat sederhana tp tanggapannya terlalu emosional dan berlebihan….

    haaa….haaa menghibur dirinya sendiri karena sudah dipatahkan oleh dalil dari Ahmadiyah sendiri 😀
    Bukannya Ahmadiyah yang emosional karena Menganggap Rasulullah adalah sebuah cincin/meterai/stempel karena hanya bersumberkan kamus 😀 Lebih baik tidak perlu Anda mempertuhankan manusia yang ada di Kamus 😀
    Justru asal kata khaatam ada dalam Al-Qur’an. Apa Anda belum tau?
    Jadi penafsiran yang benar bukan berdasarkan kamus tetapi ayat dijawab dengan ayat 😀

    Periksa dech di tafsir resmi Ahmadiyah surat-surat dibawah ini:

    As-syura 25
    yaasin 65
    A-jatsiyah 24
    At-Tathfif 25
    Al-baqarah 7

    Allah tidak bisa dipersamakan Pak dengan manusia dalam memberi gelar 😀
    Cari dech di hadits kalau Rasulllah sebuah benda yang bernama khaatam/stempel, cincin, meterai 😀

  9. He..he, sdr ini mau menggunakan dalil seolah2 saya tdk pernah baca buku tafsir ahmadiyah.

    Tentang arti khaatam itu silahkan sdr baca terjemah AQ berikut tafsir singkatnya mengenai ayat khaataman nabiyyiin.
    yg diterbitkan oleh JAI

    Jelas sekali, AQ adalah bahasa arab, sebagai salah satu alat penguji kebenarannya adalah tentu saja bahasa AQ tdk akan bertentangan dengan kaidah2 tata bahasa, krn kl saja ada hal yg tdk bersesuaian dgn Kaidah tata bahasa yg telah dipahami oleh bangsa arab maka hal ini akan menjadi celah utk celaan terhadap Nabi Muhamad SAW. perlu diingata, bahwa Nabi Muhamad dikenal sebagai Nabi yg tdk pernah belajar membaca dan menulis, oleh sebab itu lah pendakwaan Beliau SAW. ditentang oleh para cerdik cendikiawan pada saat itu, khususnya Abu Jahal, yg pada waktu itu dikenal sebagai seorang yg paling pandai, oleh krn kepandaiannya abu jahal pernah diberi gelar Abul Hakam…….

    Mudah2an faham dangan ilustrasi ini

  10. He..he, sdr ini mau menggunakan dalil seolah2 saya tdk pernah baca buku tafsir ahmadiyah.

    Tentang arti khaatam itu silahkan sdr baca terjemah AQ berikut tafsir singkatnya mengenai ayat khaataman nabiyyiin.
    yg diterbitkan oleh JAI

    😀 cuma gertak sambal saja….. Keliatan baca tafsir JAI hanya sekilas saja. Silahkan periksa kembali dech. Di tafsir jAhmadiyah ustru diakui arti khaatam selain cincin, meterai, stempel, dll juga diartikan penutup dan Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir 😀
    katanya sudah pernah baca tafsir JAI, kenapa tidak tau soal ini 😀
    Lucu kalau Rasulullah SAW adalah sebuah benda dan lucunya penjelasannya kata kerja dan ga nyambung lagi dari kata khaatam 😀
    baca saja link dibawah ini, apakah Ahmadiyah mengartikan khaatam salah satunya penutup atau tidak? 😀
    https://muhammadinsan.wordpress.com/2009/03/08/muhammad-bin-abdillah-shallallahu-‘alaihi-wa-sallam-penutup-pintu-kenabian/

    Jelas sekali, AQ adalah bahasa arab, sebagai salah satu alat penguji kebenarannya adalah tentu saja bahasa AQ tdk akan bertentangan dengan kaidah2 tata bahasa, krn kl saja ada hal yg tdk bersesuaian dgn Kaidah tata bahasa yg telah dipahami oleh bangsa arab maka hal ini akan menjadi celah utk celaan terhadap Nabi Muhamad SAW.

    Setuju kalau Al-Qur’an alat pengujinya Al-Qur’an pula serta kaidah tata bahasa yang telah dipahami oleh bangsa Arab dan tidak bakalan dipahami oleh Bangsa India seperti MGA 😀

    perlu diingata, bahwa Nabi Muhamad dikenal sebagai Nabi yg tdk pernah belajar membaca dan menulis, oleh sebab itu lah pendakwaan Beliau SAW. ditentang oleh para cerdik cendikiawan pada saat itu, khususnya Abu Jahal, yg pada waktu itu dikenal sebagai seorang yg paling pandai, oleh krn kepandaiannya abu jahal pernah diberi gelar Abul Hakam…….

    Mudah2an faham dangan ilustrasi ini

    Paham banget…. Ahmadiyah pantas seperti Abu Jahal ini, sama-sama bebalnya seperti pengikut Ahmadiyah 😀
    Jadi Pandai bukan dilihat dia menguasai bahasa arab. Orang paling bodohpun yang tidak tersesat lebih pandai daripada Orang pandai tapi tersesat dari jalan Allah 😀

  11. >> baca saja link dibawah ini, apakah Ahmadiyah mengartikan khaatam salah satunya penutup atau tidak? 😀

    Jawab: Aneh, sdr yg mengutip sendiri tp sdr pula yg salah, coba baca baik2, di tafsir JAI itu jelas tertulis nabi terakhir bukan penutup…dan jelas pula dalam penjelasannya Nabi terakhir itu ditempatkan dalam makna ke 2.

    Kl sdr baca semua penjelasan itu berikut asal usul turunnya ayat itu sharusnya sdr faham bahwa pengertian Nabi Terakhir disana adalah Nabi terakhir pembawa syariat, keterangan ini banyak sekali terdapat dalam buku2 yg diterbitkan oleh JAI…sederhana

    Metode penafsiran dr JAi adalah tdk pernah mena’fikan berbagai pengertian bahasa yg terkandung dalam bahasa AQ yg notabene adalah Bahasa Arab, jd makna dr setiap ayat itu pun memiliki maksud2 tersendiri, bukan malah menghilangkan bbrp maknanya, oleh sebab itu tinjauan dr tafsir Ahmadiyah lebih luas pemahamannya krn mengakomodir semua arti dari ayat yg bersangkutan…

  12. >> Paham banget…. Ahmadiyah pantas seperti Abu Jahal ini, sama-sama bebalnya seperti pengikut Ahmadiyah 😀
    Jadi Pandai bukan dilihat dia menguasai bahasa arab. Orang paling bodohpun yang tidak tersesat lebih pandai daripada Orang pandai tapi tersesat dari jalan Allah

    Jawab: Ukuran pandai utk Bangsa Arab pd saat itu salah satunya memang demikian, yaitu pandai baca tulis dan sastra, ini kan sejarah…sdr bisa bantah bahwa pada saat itu Abu Jahal memang ditempatkan kedudukkannya oleh kaum Qurais sebagai org pandai…

    Kalau pada saat itu Nabi Muhamad menyampaikan wahyu yg dr segi tinjauan Bahasa dan sastranya salah/keliru, maka dpt di bayangkan/dipastikan bahwa Beliau SAW akan memperoleh cemoohan, oleh sebab itu dalam bbrp ayat AQ telah menantang utk mengajukan tandingan terhadap ayat2 AQ, tp nyatanya hingga saat ini tdk ada yg mampu

    Jadi tidak mgkinlah Bahasa AQ mengabaikan kaidah2 tata bahasa yg memang sdh berlaku dr sejak jaman dahulu kala dikenal dan dipelajari oleh bangsa arab

  13. Aneh, sdr yg mengutip sendiri tp sdr pula yg salah, coba baca baik2, di tafsir JAI itu jelas tertulis nabi terakhir bukan penutup…dan jelas pula dalam penjelasannya Nabi terakhir itu ditempatkan dalam makna ke 2.

    Kl sdr baca semua penjelasan itu berikut asal usul turunnya ayat itu sharusnya sdr faham bahwa pengertian Nabi Terakhir disana adalah Nabi terakhir pembawa syariat, keterangan ini banyak sekali terdapat dalam buku2 yg diterbitkan oleh JAI…sederhana

    Metode penafsiran dr JAi adalah tdk pernah mena’fikan berbagai pengertian bahasa yg terkandung dalam bahasa AQ yg notabene adalah Bahasa Arab, jd makna dr setiap ayat itu pun memiliki maksud2 tersendiri, bukan malah menghilangkan bbrp maknanya, oleh sebab itu tinjauan dr tafsir Ahmadiyah lebih luas pemahamannya krn mengakomodir semua arti dari ayat yg bersangkutan…

    heee…heee ngantuk kali sampai tidak menemukan kata penutup dalam pengertian dalam tafsir JAI 😀
    Jika JAI tidak tidak pernah menafikan berbagai pengertian bahasa kenapa Anda menafikannya. Jadi plin-plan gitu 😀
    Pembawa syariat dari kata apa tuch? Al-nabiyyin? Apa ada kata Al-nabiyyin menyebut Nabi yang membawa syariat? seperti yang saya jelaskan ada 16 kali di Al-Qur’an menyebut kata Al-Nabiyyin dengan menggunakan alif lam ta’rif. Silahkan Anda mengartikannya sesuai keyakinan Anda. Saya yakin akan bertentangan dengan Al-Qur’an. Ya gitulah Ahmadiyah…..kalau menjawab seenak hatinya agar memuaskan non ahmadi dan pengikutnya meskipun itu didasari hawa nafsu 😀
    Jadi Harap dimaklumi dech para pembaca 😀

    Ukuran pandai utk Bangsa Arab pd saat itu salah satunya memang demikian, yaitu pandai baca tulis dan sastra, ini kan sejarah…sdr bisa bantah bahwa pada saat itu Abu Jahal memang ditempatkan kedudukkannya oleh kaum Qurais sebagai org pandai…

    Kalau pada saat itu Nabi Muhamad menyampaikan wahyu yg dr segi tinjauan Bahasa dan sastranya salah/keliru, maka dpt di bayangkan/dipastikan bahwa Beliau SAW akan memperoleh cemoohan, oleh sebab itu dalam bbrp ayat AQ telah menantang utk mengajukan tandingan terhadap ayat2 AQ, tp nyatanya hingga saat ini tdk ada yg mampu

    Jadi tidak mgkinlah Bahasa AQ mengabaikan kaidah2 tata bahasa yg memang sdh berlaku dr sejak jaman dahulu kala dikenal dan dipelajari oleh bangsa arab

    hiii..hiii mengukur kepandaian koq dari menguasai bahasanya. Banyak orang indonesia juga tersesat meskipun dia pandai menguasai bahasanya. Orang yang pandai itu tidak bakalan tersesat. Jika dia tersesat berarti dia orang yang terbodoh diantara orang yang paling bodoh tetapi dia tidak tersesat 😀
    itulah ukuran pandai atau tidaknya seseorang 😀

  14. Nabi terakhir dengan penutup para nabi apa bedanya bro. Kata ngerti tata bahasa 😀
    Baca di awal-awal penjelasan JAI…..tertulis NABI TERAKHIR.
    kata khatama menurut Anda ada atau tidak?
    Kalau orang yang mengeti tata bahasa seperti Anda pasti mengatakan “ada”. Jika mengaatakn tidak ada berarti Anda hanya bisanya mencontek tetapi tidak bisa menerangkan apa yang diconteknya 😀

  15. >>heee…heee ngantuk kali sampai tidak menemukan kata penutup dalam pengertian dalam tafsir JAI 😀

    >>Nabi terakhir dengan penutup para nabi apa bedanya bro. Kata ngerti tata bahasa 😀

    Jawab: saya tidak ngantuk, sdh jelas yg sdr kutip itu adalah Nabi terakhir bukan Nabi penutup kan?

    Saya tdk mau berkepanjangan membahas tentang bedanya nabi terakhir dan nabi penutup, mnrt saya dr segi bahasa saja sdh beda, silahkan saja dipikirkan, tp yg jelas sdr sdh salah kutip, dalam JAI itu tertulis Nabi Terakhir dan bukan Nabi Penutup..OK

  16. >> Jika JAI tidak tidak pernah menafikan berbagai pengertian bahasa kenapa Anda menafikannya. Jadi plin-plan gitu 😀

    Jawab: Sdh sangat jelas dr keterangan penjelasan/tafsir AQ dr JAI sdh merangkum semua arti dr kata khaatam dlm srh Al Ahzab tsb, jd mnrt sdr menafikan yg mana? padahal sdh jelas sdr sendiri cenderung menolak arti khaatam memiliki arti2 lain…jelas

    Dalam berbagai penjelasan lain seharusnya sdr faham, pengertian Nabi terakhir dlm tafsir yg dimaksud adalah kenabian terakhir untuk Nabi yg membawa syariat, artinya menurut kami Tidak akan ada datang lagi seorang nabi yg akan membawa agama baru krn Islam adalah agama yg sempurna….jelas. Sedangkan kenabian yg meneruskan misi dari Islam masih dimungkinkan..dlm AQ ada bbrp ayat yg menyatakan itu.

    Dan ttg kenabian yg meneruskan misi Islam, jelas Nabi Muhammad saw telah memberikan khabar ttg kedatangannya dlm sosok Isa Ibnu Maryam as yg akan datang pd akhir zaman

    Dalam kutipan2 hadist tsb jelas sekali bahwa Nabi Isa as yg akan datang itu dipanggil sebagai nabi dan rasul

    Apakah masih kurang jelas juga?

  17. >>> iii..hiii mengukur kepandaian koq dari menguasai bahasanya. Banyak orang indonesia juga tersesat meskipun dia pandai menguasai bahasanya. Orang yang pandai itu tidak bakalan tersesat. Jika dia tersesat berarti dia orang yang terbodoh diantara orang yang paling bodoh tetapi dia tidak tersesat 😀

    Jawab: lho…saya kan sedang menerangkan fakta sejarah ttg eksistensi Abu Jahal yg dikenal pd saat itu…dan orang yg dikatakan pandai semasa hidup Rasulullah saw. menurut sejarah memang demikian adanya…kenapa jd bawa2 orang Indonesia?

    Sdh jelas saya pun paham dalam pandangan rohani Abu Jahal adalah orang yg tersesat, oleh sebab itu dr semula di kenal sebagai Abu Hakam akhirnya di juluki dengan Abu Jahal. Masalahnya, siapa yg bisa bantah bahwa pada saat itu Abu Jahal memang dikenal sebagai seorang pandai cendikia? tentu saja dalam artian pandai dr segi duniawi, yg salah satu ukuranya adalah dia seorang yg mempunyai kepandaian dalam bahasa dan sastra

  18. saya tidak ngantuk, sdh jelas yg sdr kutip itu adalah Nabi terakhir bukan Nabi penutup kan?

    Saya tdk mau berkepanjangan membahas tentang bedanya nabi terakhir dan nabi penutup, mnrt saya dr segi bahasa saja sdh beda, silahkan saja dipikirkan, tp yg jelas sdr sdh salah kutip, dalam JAI itu tertulis Nabi Terakhir dan bukan Nabi Penutup..OK

    Apa bedanya dengan Penutup para nabi dengan Nabi terakhir. Katanya ngerti tata bahasa arab. Koq seperti orang yang tidak menguasai sama sekali. Silahkan periksa kamus Anda, arti penutup itu apa? 😀
    Belum Mengerti Arti penutup ya…..wakakakaka
    Orang indonesia koq ga ngerti arti penutup 😀 berarti Anda sama dgn contoh abu jahal yang Anda contohkan dong 😀
    Jangan lupa tuch buka ayat2nya 😀

    Sdh sangat jelas dr keterangan penjelasan/tafsir AQ dr JAI sdh merangkum semua arti dr kata khaatam dlm srh Al Ahzab tsb, jd mnrt sdr menafikan yg mana? padahal sdh jelas sdr sendiri cenderung menolak arti khaatam memiliki arti2 lain…jelas

    Dalam berbagai penjelasan lain seharusnya sdr faham, pengertian Nabi terakhir dlm tafsir yg dimaksud adalah kenabian terakhir untuk Nabi yg membawa syariat, artinya menurut kami Tidak akan ada datang lagi seorang nabi yg akan membawa agama baru krn Islam adalah agama yg sempurna….jelas. Sedangkan kenabian yg meneruskan misi dari Islam masih dimungkinkan..dlm AQ ada bbrp ayat yg menyatakan itu.

    Dan ttg kenabian yg meneruskan misi Islam, jelas Nabi Muhammad saw telah memberikan khabar ttg kedatangannya dlm sosok Isa Ibnu Maryam as yg akan datang pd akhir zaman

    Dalam kutipan2 hadist tsb jelas sekali bahwa Nabi Isa as yg akan datang itu dipanggil sebagai nabi dan rasul

    Apakah masih kurang jelas juga?

    haaaaa…haaa mengquote tulisan saya saja hanya bagian tertentu saja. Maklu ga bisa menjawab pertannyaannya…..wakakakakakaka 😀
    Silahkan saja Anda jawab ayat dan pertanyaan saya saya berikan. Bilang saja MALU ga bisa jawab gitu loh 😀
    Katanya ngerti tata bahasa arab koq jadi memble gitu penjelasan tata bahasa arab. Apa yang Anda tulis penjelasan tata bahasa arab. Ayat Al-Qur’an yang saya berikan yang semuanya berasalan dari kata khaatam saja tidak bisa dibantah. Dalil Al-Qur’an dalil tertinggi. Itu bukti ketaatan non ahmadi dibandingkan non ahmadi

    lho…saya kan sedang menerangkan fakta sejarah ttg eksistensi Abu Jahal yg dikenal pd saat itu…dan orang yg dikatakan pandai semasa hidup Rasulullah saw. menurut sejarah memang demikian adanya…kenapa jd bawa2 orang Indonesia?

    Sdh jelas saya pun paham dalam pandangan rohani Abu Jahal adalah orang yg tersesat, oleh sebab itu dr semula di kenal sebagai Abu Hakam akhirnya di juluki dengan Abu Jahal. Masalahnya, siapa yg bisa bantah bahwa pada saat itu Abu Jahal memang dikenal sebagai seorang pandai cendikia? tentu saja dalam artian pandai dr segi duniawi, yg salah satu ukuranya adalah dia seorang yg mempunyai kepandaian dalam bahasa dan sastra

    Ya begitulah contoh tentang Abu Jahal itu tepat ditujukan kepada Anda dan Ahmadiyah karena mengartikan Rasulullah SAW adalah benda dalam Al-Ahzab 😀
    Hanya orang seperti Abu Jahal yang menyamakan Rasulullah SAW adalah benda yang bernama cincin meskipun ada plin-plannya mengakui Rasulullah bukanlah sebauah Cincin. 😀
    Hanya orang seperti Abu jahal saja yang mengakui Rasulullah SAW bukan cincin tetapi menafsirkan Rasulullah adalah sebuah cincin di Al-Ahzab. Lucu sekali nalar orang ahmadiyah 😀

  19. Jadi KHAATAMA itu isim apa? 😀
    Syarat idhofat itu apa? 😀
    Arti surat2 di alquran2 dibawah ini apa menurut Anda:
    Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65.
    wakakakakakakaka ngakunya menguasai nahwu shorof…jadi mudhof2 ilaihi ya…..wakakakakakakkakaa
    Sama saja mempertontonkan kebodohannya didepan umum…..waaakakakakaka

  20. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum cep Andri,
    Sudahlah, jangan terlalu terganggu dengan Pakar Debat Kusir. Karena kita berada dalam Sepuluh Hari Terakhir bulan Ramadhan, saya tampilkan terjemahan Khutbah Jum’at 27 Agustus 2010 dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V atba, Amir-ul-Mu’minin, Imam Jemaat Ahmadiyah Internasional yang di dalamnya sedikit dibahas mengenai tanda kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as dan arti kata Khataman-Nabiyyin. Mudah-mudahan bermanfaat.

    Cep Andri, kita bersyukur, alhamdillah, masih memiliki dan beriman kepada Imam Zaman yang kepadanya Allah Ta’ala & Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bai’at. Coba bandingkan dengan mereka yang masih kebingungan keliling kesana kemari mencari seorang Imam Zaman, karena yang sudah ada mereka tolak. Kalau kita diakhirat nanti kita ditanya malaikat “man imamuka?”, kita bisa menjawab dengan tegas, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as atau Imam yang masih hidup yaitu Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (Khalifatul Masih V atba), Amir-ul-Mu’mini, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional. Alhamdulillah-ir-robbil-‘alamin.

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Laylatul Qadr – Malam Takdir
    Ringkasan Khutbah Jum’at 27 Agustus 2010
    Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V atba, Amirul Mu’minin, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional

    Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V atba, Amirul Mu’minin, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional menyampaikan khutbah tentang Laylatul Qadr (Malam Takdir) dan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan yang dimulai dengan pembacaan Syahadat, Ta’awudz, Al Fatihah dan ayat-ayat suci Al Qur’an berikut:
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ (1) اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةِ الْقَدْرِۚ (2) وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِؕ‏ (3) لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍؕ (4) ‏تَنَزَّلُ الْمَلٰٓٮِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ‌ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ (5) سَلٰمٌ هِى حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (6)
    “Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah , Maha Penyayang (1). Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Laylatul Qadr (Malam Takdir) (2). Dan apakah engkau mengetahui apa Laylatul Qadr itu? (3) Laylatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan (4). Di dalamnya turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhan mereka mengenai segala perintah (5). Damai hingga fajar terbit (6).” ( QS Al Qadr 97:1-6)
    Dalam beberapa hari ini, kita akan memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, di mana, menurut tradisi, Laylatul Qadr akan terjadi. Ini adalah malam ruhani yang istimewa di mana Allah Ta’ala memperhatikan hamba-hamba-Nya dengan cara yang istimewa pula. Muslimin pada umumnya memberikan banyak perhatian dengan makna khusus terhadap sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bahkan orang-orang, yang sebelumnya tidak begitu perhatian dalam dua kali sepuluh hari pertama dalam bulan Ramadhan, berupaya memperbaiki keadaan ruhani mereka dalam sepuluh hari terakhir ini. Para anggota Jemaat kita juga cenderung meningkatkan ibadah mereka kepada Allah dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Hadits membuktikan bahwa Laylatul Qadr jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan itu adalah malam yang luar biasa pentingnya. Namun, dapatkah seseorang menjadi hamba-Allah dan orang beriman sejati dengan hanya melakukan ibadah-ibadah pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, sedangkan ibadah-ibadah pada bulan-bulan lainnya yang tersisa dilakukan dengan acuh tak acuh? Allah Ta’ala menyatakan bahwa Dia menciptakan manusia dan jin agar mereka senantiasa beribadah kepada-Nya. Kekhusyuan ibadah dalam pencarian malam ruhani yang istiwewa pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang dilakukan dengan tujuan untuk menebus ibadah-ibadah seluruh hidupnya akan membawa seseorang jauh dari tujuan dasar penciptaan manusia.
    Jika Allah Ta’ala menghendaki, Dia mewujudkan kasih-sayang istimewa-Nya untuk menghibur hamba-hamba-Nya yang terpilih, dengan menciptakan keadaan ruhani yang istimewa dan dianugerahkan pada malam istimewa itu. Hamba-Nya mengalami keadaan rohani yang menakjubkan. Artinya, memenuhi janji-janji dan kewajiban ibadah kepada Allah Ta’ala, dimana manusia merasakan perkembangan dan peningkatan ruhani setiap saat, memang harus dirasakannya. Ketika orang berpuasa sambil membaca dan merenungkan Al-Qur’an, terutama berpuasa dalam rangka meningkatkan pengabdiannya kepada Allah Ta’ala, sesungguhnya Allah Ta’ala melihat bahwa manusia itu sedang mengamalkan perintah-perintah-Nya menurut kemampuan-terbaiknya, sambil berdoa dan memanggil Allah Ta’ala dan mengingat firman-Nya: “Aku dekat, Aku menjawab doa-doa mereka yang berdoa kepada-Ku”(QS Al Baqarah 2:187). Tuhan tidak hanya mendengarkan doa-doa saja, bahkan Dia menganugerahkan Laylatul Qadr sesuai dengan janji-Nya, kemudian Dia turun ke bumi, mendekati hamba-hamba-Nya. Ketika orang memenuhi janjinya, Allah Ta’ala meningkatkan keadaan ruhani orang itu. Apabila terdapat kekurangan, apapun, itu adalah bagian dari kita, dalam usaha kita dan amal kita. Allah menyediakan bulan yang diberkati ini setiap tahun dengan hari-hari terakhir yang sepuluh dan Laylatul Qadr yang merupakan titik tertinggi untuk mencapai kedekatan dengan Allah Ta’ala. Berapa banyak upaya yang harus senantiasa dilakukan oleh manusia? Pengalaman ruhani pada malam istimewa ini membawa perubahan yang luar biasa dalam diri manusia dan hal itu memang harus terjadi, jika tidak, maka istimewanya malam itu tidak akan terpenuhi. Jika seseorang meyakini bahwa dirinya telah mengalami Laylatul Qadr, maka ibadahnya pada malam itu akan lebih baik daripada ibadahnya selama 1.000 bulan, lalu berpikir bahwa dia tidak lagi membutuhkan lebih banyak ibadah, berarti dia sudah tersesat. Justru, Laylatul Qadr akan membuat orang menjadi hamba-Allah dengan cara meningkatkan ibadahnya, dan dalam situasi seperti itu arus kebaikan Ilahi akan mengalir deras. Allah menyatakan bahwa ketika manusia berusaha untuk mendapatkan kedekatan dengan-Nya, menghormati dan memelihara janji-Nya, Dia mendengarkan doa-doanya dan terus melimpahkan karunia-Nya.

    Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Laylatul Qadr adalah waktu pensucian bagi manusia sehingga ia dapat memenuhi semua perintah Allah Ta’ala. Bulan Ramadhan datang agar kita dapat membawa perubahan seperti itu, mencari Laylatul Qadr pada sepuluh hari terakhir. Rasulullah saw membuat usaha khusus selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan berjuang keras dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Nabi Suci saw senantiasa bangun di malam hari dan membangunkan keluarganya. Tidak hanya untuk meningkatkan ibadah beliau saw dibanding hari-hari biasa, beliau saw juga tidak mau keluarganya sampai kehilangan berkat-berkat dan kasih-sayang Allah Ta’ala dalam sepuluh hari terakhir itu. Bahkan lamanya ibadah selama waktu-waktu biasa serta keindahannya tiada bandingannya, apalagi keadaan ibadah pada sepuluh hari terakhir, sungguh di luar yang dapat kita bayangkan. Jadi, itulah contoh yang telah beliau saw tanamkan untuk kita. Semoga Allah memungkinkan kita untuk menciptakan keadaan seperti itu di rumah kita untuk mempermudah memperoleh pengampunan Ilahi. Amin.

    Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang berpuasa dengan keimanan dan semangat perbaikan diri agar memperoleh keridhoan Allah Ta’ala, maka dosa-dosa sebelumnya akan diampuni, dan orang yang bangun untuk Laylatul Qadr dengan semangat dan keyakinan, maka dosa-dosa sebelumnya akan diampuni. Puasa di bulan Ramadhan adalah kondisional yang harus dilakukan untuk meningkatkan keimanan dan mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala, jika tidak, Allah Ta’ala tidak mempunyai kepentingan dengan orang yang hanya menahan lapar. Pengamalan untuk Laylatul Qadr juga kondisional yang harus dilakukan untuk mendapatkan keridhoan yang istimewa dari Allah Ta’ala, bukan untuk memenuhi kebutuhan duniawi. Keridhoan Allah Ta’ala harus diutamakan dalam doa-doa kita.

    Rasulullah saw mengatakan bahwa Laylatul Qadr harus dicari dalam sepuluh hari terakhir. Jika seseorang lemah dan rentan, dia tidak akan pernah hadir pada tujuh malam terakhir. Jika karena beberapa alasan tertentu seseorang tidak dapat memperoleh berkah Ramadhan, setiap alasan harus dibuang dalam sepuluh hari terakhir. Dalam hadits, Rasulullah saw bersabda, ‘Laylatul Qadr telah dipertunjukkan kepada beberapa orang dari antara kalian dalam tujuh malam pertama dari sepuluh hari terakhir, dan kepada orang lain dalam tujuh malam terakhir’. Hadis ini menjelaskan hadits sebelumnya bahwa tidak ada malam khusus yang ditunjuk, melainkan bisa jatuh pada setiap malam dari sepuluh hari terakhir. Beberapa hadits menyebutkan bahwa untuk mencarinya di malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir.

    Siapa pun yang pernah mengalami Laylatul Qadr, itu karena berkah yang sangat istimewa dari Allah Ta’ala. Satu hal yang paling penting untuk menilai apakah pengalaman ini telah terjadi terhadap seseorang, adalah dengan terus-menerus meningkatnya kualitas ibadah dan ruhani orang tersebut. Ibadah dalam satu malam ini lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan yang berarti lebih dari 83 tahun. Jadi, jika seseorang mengalami Laylatul Qadr berarti ibadah seumur hidup orang tersebut – yang baik bagi seorang mukmin – diterima Allah Ta’ala. Semua doa yang dipanjatkan seseorang baik pada pandangan Allah Ta’ala; Kemudian orang tersebut menerima dan mengamalkan apa yang Dia anggap baik itu. Malam ini, juga memberikan kepada orang beriman tingkat ruhani yang lebih tinggi, dan turunnya malaikat membawa perubahan revolusioner dalam perhubungan orang beriman dengan Allah Ta’ala. Dan ibadah satu malam menjadi sama dengan ibadah seumur hidup. Hal ini karena orang itu telah mencapai tujuan hakiki penciptaan manusia; karena sekali telah mencapai hal ini, orang beriman akan terus berupaya untuk meningkatkan dan mengembangkannya.

    Malam ini memiliki makna yang sangat luas seperti yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Salah satu makna dari ayat Al Qur’an “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Laylatul Qadr (Malam Takdir).” (QS Al Qadr 97:2) adalah diwahyukan-Nya Al Qur’an. Syari’at lengkap lagi sempurna yang diturunkan di bulan Ramadhan, sebagaimana Al-Qur’an juga menyatakan: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan Furqan” (QS Al Baqarah 2:186). Tidak hanya wahyunya yang dimulai di bulan Ramadan, tetapi malaikat Jibril as mengulang-ulang bacaannya setiap bulan Ramadhan bersama Rasulullah saw. Hal ini juga menandakan bahwa suatu kebutuhan zaman akan petunjuk yang sempurna diwahyukan, sebagaimana Al-Quran menyatakan, sudah saatnya ketika, “Kerusakan telah nampak di daratan dan lautan …” (QS Ar-Rum 30:42). Kekacauan yang meliputi dunia telah berada dalam skala yang sangat besar dan tak ada bandingannya, dan pada saat itulah kebutuhan akan sebuah Kitab Ilahi yang sempurna diwahyukan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:
    حٰمٓ (2) وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۛ (3) اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ‌ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ (4) فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ‏ (5) اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَا‌ؕ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ‌ (6) رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (7)ۙ‏
    “Tuhan Maha Terpuji, Maha Mulia (2), Demi Kitab Yang menjelaskan (3), Sesungguhnya, Kami menurunkannya dalam suatu malam yang diberkati; Sesungguhnya, Kami selalu memberi peringatan (4), Di dalamnya diputuskan semua perkara yang bijaksana (5), Dengan perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya, Kami selalu mengutus rasul-rasul (6), Suatu rahmati dari Tuhan engkau. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui (7)” (QS Ad-Dukhan 44: 2-7)
    Jadi, Kitab Ilahi pembimbing yang jelas dan terbuka ini diwahyukan pada saat yang diberkati dan pada malam hari kepada Insan Kamil saw yang gelisah dan sibuk demi kepentingan manusia agar menyembah Satu Tuhan mengingat ke-Maha Kuasaan-Nya, daripada menjadikan seorang anak manusia yang rendah sebagai anak Tuhan dan membuat kematiannya sebagai sumber keselamatan. Pada saat menerima doa-doa Insan Kamil saw tersebut, Syariat sempurna ini diwahyukan-Nya yang bukan hanya menjadi sumber pencerahan di zaman kegelapan 1400 tahun yang lalu, bahkan akan terus berlaku hingga Hari Kiamat, sebagaimana halnya Rasulullah saw akan tetap sebagai Khataman Nabiyyin (Meterai Para Nabi atau Nabi Pembawa Syariat Terakhir). Dan setiap kali putus asa oleh keadaan dunia, hamba-hamba Tuhan akan berdoa kepada-Nya dan memohon agar Dia menghibur mereka untuk memenuhi firman-Nya: ”Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS Ad-Dhukhan 44:7).
    Hadhrat Masih Mau’ud as, seorang pengikut dan pecinta sejati Rasulullah saw yang diutus karena keta’atan yang sempurna kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah saw, mengatakan bahwa hal yang paling indah yang ditemukan dalam Surah Al Qadr adalah bahwa ketika seorang pembaharu turun dari langit, malaikat pun turun bersamanya menarik orang-orang yang bersemangat dan haus akan kebenaran. Jadi, pada saat kegelapan ruhani dan ketika orang-orang cenderung kepada agama, itu adalah tanda bahwa seorang pembaharu akan segera turun dari langit. Pada saat seperti ini, dua macam perubahan akan terjadi. Pertama adalah Tazkiyah Nafs (pensucian jiwa) yang akan dianugerahkan kepada orang-orang, sebagai hasil dari hikmah yang mereka miliki. Yang kedua adalah meskipun hikmah mereka dipertajam, tetapi jiwa tidak dapat mencapai kebenaran, hal inilah yang membuktikan bahwa: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka; dan bagi mereka ada azab yang pedih disebabkan mereka berdusta” (QS Al Baqarah 2:11), sama seperti ketika para nabi Allah terdahulu diturunkan. Ketika malaikat turun bersama Nabi Allah, setiap jiwa ini berkecamuk. Mereka yang memiliki fitrah yang baik akan tertarik menuju kepada kebenaran, tetapi mereka yang cenderung mengikuti cara-cara setan meskipun mereka juga tertarik terhadap masalah-masalah agama, tetapi mereka tidak mengarah kepada kebenaran. Pengaruh orang yang berfitrah baik adalah baik, dan pengaruh orang yang berfitrah buruk adalah buruk. Zaman setiap nabi memiliki Laylatul Qadr pada saat Kitab yang diberikan kepadanya diwahyukan. Laylatul Qadr terbesar adalah pada zaman Rasulullah saw dan Laylatul Qadr ini akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat. Pada saat seorang wakil Rasulullah saw akan segera dikirim Tuhan, jiwa-jiwa manusia berkecamuk lagi. Sesungguhnya, Laylatul Qadr yang ditentukan pada saat diturunkannya seorang wakil Rasulullah saw merupakan cabang atau bayangan dari Laylatul Qadr Rasulullah saw. Selama waktu ini, dan yang akan berakhir hingga Hari Kiamat, berkenaan dengan ini Al Qur’an menyatakan: “Di dalamnya diputuskan semua perkara yang bijaksana” (QS Ad-Dukhan 44:5) pengetahuan ruhani akan tersebar di seluruh dunia. Ini adalah cara Tuhan bagaimana kalam-Nya diwahyukan selama Laylatul Qadr sebagaimana Nabi-Nya datang pada saat seperti ini. Hal seperti ini terjadi juga ketika malaikat-malaikat-Nya turun, dan manusia ditarik untuk menjadi orang-orang shaleh. Malaikat-malaikat mulai bekerja dari malam yang gelap hingga fajar menyingsing untuk menarik orang-orang yang bersemangat kepada kebenaran.

    Memperhatikan tulisan indah Hadhrat Masih Mau’ud as dengan seksama, jika dunia – terutama kaum muslimin – memahami pesan yang disampaikan oleh beliau as, alih-alih menentang, mereka bahkan akan berusaha untuk menjadi pembantu-pembantu beliau as. Karena alasan-alasan yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as itu sangat kuat bagi mereka (a) yang menginginkan kedamaian, (b) yang sedang mencari seorang pembaharu, dan (c) yang sedang menunggu Al Masih seharusnya berpikir serta bercermin sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as katakan bahwa “jika pada saat kegelapan rohani orang-orang cenderung kepada agama, itu adalah tanda bahwa seorang pembaharu akan segera turun dari langit”. Pada saat kedatangan pembaharu tersebut, orang-orang sedang gelisah menunggu orang yang dijanjikan tersebut, tetapi ketika orang dimaksud menyatakan pendakwaannya, sebagian masyarakat menentangnya, sementara beberapa orang menerimanya dan dengan demikian tercapailah kehidupan dunia dan Akhirat. Pada saat terjadinya, ketika muslimin mengumumkan bahwa Khilafat dibutuhkan untuk memelihara dunia Islam. Bagaimana pun, Khilafat bisa ada, apabila Al Masih sudah datang? Pada zaman Rasulullah saw, orang-orang yang berfitrah shaleh dapat mengenali beliau saw, tapi orang-orang seperti Abu Jahal yang menganggap dirinya sangat bijaksana, hancur. Pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as kita melihat contoh Hadhrat Maulana Nur-ud-din ra dan Sahibzada Abdul Lateef syahid ra yang – meskipun berasal dari tempat yang jauh – datang menemui dan menerima beliau as. Sedangkan Maulwi Muhammad Hussain Batalwi yang sangat dekat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, tetap terhalang untuk memperoleh karunia Allah Ta’ala. Mereka yang tidak memiliki kapasitas untuk menerima keshalehan, mereka menjadi sombong dan takabur, dan kebijaksanaan yang mereka miliki juga menjadi negatif, dan karena sikap negatif mereka keadaan ruhani mereka pun secara perlahan akan menjadi rusak (fasik). Keadaan mereka yang menolak Hadhrat Masih Mau’ud as pada zaman ini juga sama. Dalam asumsi mereka, mereka membuat pernyataan yang “shaleh”, tetapi mereka tidak memiliki pengaruh, karena mereka adalah pencela seorang yang telah dikirim oleh Allah Ta’ala.

    Saudara Tahir Nadeem telah menulis aneka berita tentang para Ahmadi Arab di dalam harian Al Fazl. Menulis tentang peristiwa menjelang penerimaan Saudara Hani Tahir, seorang pecinta kehidupan yang bekerja sangat keras, dia menceritakan bahwa awalnya ia mencoba berbagai macam cara untuk menolak argumentasi Ahmadiyah. Dia kemudian membaca beberapa buku yang membawanya kepada seorang sarjana agama yang menurutnya memiliki kemampuan untuk mematahkan argumentasi tersebut. Namun semua yang dia lakukan hanyalah mengejek buku-buku tersebut. Saudara Hani mengatur sebuah perdebatan antara sarjana agama tersebut dengan Saudara Mustapha Thabit dimana ia tidak dapat memenuhinya. Akhirnya dia meninggalkan sang sarjana dan Allah Ta’ala membimbingnya ke pangkuan Ahmadiyah. Meskipun memiliki pengetahuan agama yang cukup, mereka yang menolak Hadhrat Masih Mau’ud as kehabisan nalar. Saat ini juga, mereka yang mengaku tahu agama mengikuti praktek-praktek setan. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah jelaskan bahwa periode Laylatul Qadr yang dianugerahkan kepada Rasulullah saw berlaku sampai Hari Kiamat, dan melalui hal inilah orang-orang yang memiliki fitrah shaleh akan mendatangi pesan kebenaran. Namun, celakalah mereka yang kehilangan jalan. Masa Laylatul Qadr telah dibentuk lagi secara bayangan karena kedatangan wakil beliau saw; yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as. Pada zaman sekarang ini, kita dapat mencapai Laylatul Qadr dengan menilai dan mengenal Laylatul Qadr semacam ini.

    Ada berbagai macam keadaan manusia: (a) mengikuti ajaran agama Islam dengan benar, (b) memanfaatkan kebaikan (ikhsan) Ilahi berdasarkan fitrah shaleh, atau (c) menganggap dirinya sebagai pemelihara agama dengan menciptakan penindasan dan kekejaman atas nama agama, (d) juga menggunakan penemuan-penemuan tertentu untuk menginjak-injak nilai-nilai moral manusia, sedangkan penemuan-penemuan lainnya bermanfaat bagi orang yang beriman dan menjadi sumber untuk menyebarkan firman Tuhan. Semua aspek positif dan negatif ini adalah bukti kedatangan seseorang yang diutus oleh Allah Ta’ala, dan Laylatul Qadr. Perlu dicatat di sini bahwa Allah Ta’ala menyatakan bahwa turunnya malaikat-malaikat akan terus berlangsung sampai ‘terbit fajar’. Para malaikat telah diturunkan dari zaman Rasulullah saw, ketika Islam dalam kemenangan. Itulah masa ‘terbit fajar’ yang tidak dapat dan tidak akan kembali. Ini terjadi ketika agama disempurnakan. Namun, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as katakan, kondisi ini akan terus terwujud pada zaman ‘wakil’ seperti bayangan beliau saw. Cahaya ini akan menetap selama tiga puluh tahun pada zaman Khilafat Rashidah. Secara bertahap kegelapan rohani menyebar dan akan diikuti dengan kegelapan menyeluruh. Pada zaman ini, sekali lagi ‘terbit fajar’ ini telah muncul dengan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as dalam bentuk bayangan. Ini adalah zaman yang mengikuti ‘terbit fajar’ yang terwujud pada saat kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as. Agar dapat memperoleh manfaat dari zaman baru yang telah tiba ini, untuk memelihara kemenangan yang ditakdirkan untuk Islam Ahmadiyah dari pengaruh semarak dunia dan untuk melanjutkan peningkatan kadar kerohanian, Tuhan mengingatkan kita tentang Laylatul Qadr setiap tahun di bulan Ramadhan.
    Dengan satu cara pada zaman Rasulullah saw, Laylatul Qadr berakhir pada saat beliau saw meninggal dengan dan diwahyukan-Nya Al Qur’an di waktu ‘terbit fajar’, tetapi dengan cara lain hal ini akan berlanjut dengan pesan untuk Ummat Manusia agar melaksanakan kewajiban mereka yang tertuang dalam Al-Qur’an pada bulan Ramadhan dan menuai keuntungan dari malam yang sangat istimewa ini. Dengan menciptakan suasana rohani ini berulang, Allah Ta’ala telah memberikan berkah yang sangat besar dan istimewa. Seandainya, dalam mensyukuri hal ini, kita dilepaskan dari kewajiban kita, kita akan terus memanfaatkan kebaikan yang dilimpahkan oleh Rasulullah saw. Semoga Allah selalu menganugerahkan berkah-berkah-Nya kepada kita. Sementara itu, para pencela kita, dalam anggapan mereka, sambil mengganggu kita mereka berharap untuk melihat kita dalam kegelapan, mereka berharap akan kehancuran kita, dan mereka – dalam prasangka mereka – berharap untuk penderitaan kita, tetapi Jemaat Ilahi ini tidak akan sia-sia dan tidak akan dapat mereka hancurkan. Semoga pelecehan yang telah berlangsung lama di Pakistan membawa kita kepada Laylatul Qadr dan semoga kita melihat perwujudan ‘terbit fajar’ dalam bentuk pemeliharaan kedamaian dan kemenangan. Amin.
    Wassalam.

  21. Assalamu’alaikum cep Andri,
    Sudahlah, jangan terlalu terganggu dengan Pakar Debat Kusir. Karena kita berada dalam Sepuluh Hari Terakhir bulan Ramadhan, saya tampilkan terjemahan Khutbah Jum’at 27 Agustus 2010 dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V atba, Amir-ul-Mu’minin, Imam Jemaat Ahmadiyah Internasional yang di dalamnya sedikit dibahas mengenai tanda kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as dan arti kata Khataman-Nabiyyin. Mudah-mudahan bermanfaat.

    Cep Andri, kita bersyukur, alhamdillah, masih memiliki dan beriman kepada Imam Zaman yang kepadanya Allah Ta’ala & Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bai’at. Coba bandingkan dengan mereka yang masih kebingungan keliling kesana kemari mencari seorang Imam Zaman, karena yang sudah ada mereka tolak. Kalau kita diakhirat nanti kita ditanya malaikat “man imamuka?”, kita bisa menjawab dengan tegas, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as atau Imam yang masih hidup yaitu Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (Khalifatul Masih V atba), Amir-ul-Mu’mini, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Internasional. Alhamdulillah-ir-robbil-’alamin.

    haaa…haa memiliki Imam zaman tetapi seorang Nabi palsu….ya gak tertarik lah 😀

    Hadhrat Masih Mau’ud as, seorang pengikut dan pecinta sejati Rasulullah saw yang diutus karena keta’atan yang sempurna kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah saw,

    Namun sayangnya tidak taat kepada Allah dan Rasulullah SAW 😀

  22. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    Pakar Debat Kusir menulis:
    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“
    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sinar Galih menjawab:
    Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi & Masih Mau’ud dan Nabi/Rasul yang memperkuat syari’at Nabi Muhammad saw, tidak mungkin beliau as menulis seperti itu KECUALI DENGAN MAKSUD:
    diantaranya, yang pertama (syari’at) Adam dan terakhir (syari’at) Ahmad (Muhammad saw), atau
    diantaranya, Adam (Nabi Yang Membawa Syari’at Pertama) dan Ahmad (Muhammad saw) (Nabi Yang Membawa Syari’at Terakhir dan Sempurna).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua (Nah ini lah arti Khataman-Nabiyyin atau “Bintangnya Para Nabi”).

    Karena yang menulis sya’ir itu adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, maka kalimat:
    “Namun Ahmad (Muhammad saw)”
    khusus hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad Rasulullah saw saja, bukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

    Ssssst, jangan cemburu yah, Jemaat Islam Ahmadiyah sudah sampai di Canada loh. Penasaran, silahkan browse: http://www.ahmadiyya.ca/

    Wassalam.

    Wassalam.

  23. To sinar Galih:

    sudah terbantah oleh perkataan MGA 😀

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).“

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Jadi tidak ada yang perlu dicemburui dengan Aliran Sesat 😀

  24. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    You have no more idea to argue, haven’t you? If that is the case, then please behave like a muslim as taught by The Holy Prophet pbuh. And, please obey Allah and The Holy Prophet pbuh, then you will gain a peaceful life, because Islam means peace, purity, submission and obedience, as you can read on the followings: http://www.alislam.org/islam/

    After reading the above, you can also browse our Worldwide Islamic Da’wah Activities on the following website: http://www.alislam.org/gallery2/v/album99/album100/JalsaUK2010/

    Wassalam.

  25. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.ahmadiyya.at/ mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

  26. Kesimpulan hasil diskusi dengan pihak Ahmadi:

    1. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti berupa Al-Qur’an maupun hadits bahwa Ghulam Ahmad adalah Manusia seperti Isa, Muhammad, Krisna, Masiodarbahmi, budha, dll. Bukti pendakwaan ghulam Ahmad bisa dilihat di buku ahmadiyah “Menjawab seruan Ahmadiyah”.

    2. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti bahwa ada lagi Nabi baru sesudah Nabi Muhammad SAW baik di Al-Qur’an maupun hadits.

    3. Pihak Ahmadi tidak bisa memberikan bukti di Al-Qur’an bahwa Ghulam Ahmad adalah khalifatullah/wakil tuhan menurut pengakuan Ghulam Ahmad di bukunya “Menghapus Suatu Kesalahpahaman(Ek Ghalati Ka Izala)”. Pengakuan khalifatullah/wakil tuhan adalah pengakuan orang yang sesat karena Allah tidak memiliki Wakil. Para Nabi sampai Nabi terakhir Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah mengaku dirinya adalah Wakil Tuhan.

    4. Pihak Ahmadi memberikan argumen yang lemah dalam membantah penjelasan dari pihak non ahmadi terutama dalam mengartikan khaatama Annabiyyin dengan Cincin/Meterai/Stempel Para Nabi karena para sahabat tidak pernah mengartikan khaatama Annabiyin dengan Cincin Para Nabi tetapi penutup para Nabi. Para sahabat adalah sebaik-baik generasi yang tidak bisa dibandingkan dengan Mirza Ghulam Ahmad yang sesat. Pengertian Penutup Para Nabi dikuatkan oleh ayat-ayat Al-Qu’ran diantaranya Surat Al-Baqarah ayat 7, Surat Al-An’am ayat 46, Surat Al-Jatsiyah ayat 23, Surat Asy-syura ayat 24, Surat yasin ayat 65. Bahkan Bangsa Arab maupun non Ahmadi tidak mengenal Rasulullah SAW sebagai Cincin para Nabi karena Rasulullah SAW bukanlah sebuah Cincin/Materai/Stempel karena Cincin yang dipergunakan Rasulullah hanya sebagai alat untuk mengecap surat-suratnya.

    5. Ajaran Ahmadiyah telah dipatahkan oleh tulisan Nabi dan khalifah Ahmadiyah di dalam buku Da’watul Amir

    diantaranya, yang pertama Adam dan terakhir Ahmad (Muhammad saw).

    Namun Ahmad (Muhammad saw) paling bersinar dari semua.

    Sumber: “Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal.204

    Pada kalimat tersebut tidak tertulis sedikitpun ada kata syariat. Apabila dalam kata tersebut terdapat kata syariat berarti Nabi Ahmad yang akan datang akan membawa syariat dan ini akan bertentangan dengan pengakuan MGA bahwa dirinya adalah Nabi yang tidak membawa syariat. DOKTRIN MAKAN TUAN 😀

  27. سْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ
    Assalamu’alaikum,
    http://www.ahmadiyya.no/ mengucapkan:
    EID MUBARAK 1 SYAWAL 1431H
    MAAF LAHIR BATIN
    Wassalam.

    Wa alaikumus salam Wr Wb

    Mohon Maaf lahir dan batin

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: