Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Penutup Pintu Kenabian (Bag. 2)

Oleh: ZK

Dalam mengartikan ayat khaatama (al)nnabiyyiina orang-orang ahmadiyah selalu berputar-putar dan berbeli-belit. Ada kalanya mengartikannya dengan “yang paling mulia” di antara semua Nabi, ada kalanya dengan “Cincin para nabi”, adakalanya “Cap atau stempel para nabi”. Dari arti-arti yang selalu berubah-ubah itu, setelah kalah berargumentasi dan terdesak akhirnya mereka terpaksa mengakui, bahwa maksud ayat khaatama (al)nnabiyyiina itu adalah “Nabi terakhir”. Namun demikian mereka tetap berkeras kepala dengan mengatakan bahwa maksud kalimat tersebut adalah “Nabi Terakhir yang membawa syariat saja”. Karena kata Al-nabiyyin dengan artikel alif lam ta’rif, memberi arti tertentu saja yaitu untuk nabi-nabi yang membawa syariat saja. Adapun Nabi yang tidak membawa syariat seperti Mirza Ghulam Ahmad umpamanya bisa saja datang sesudah Rasulullah SAW.

Sebenarnya pembagian Nabi yang membawa syariat dan Nabi yang tidak membawa syariat itu hanyalah pembagian fiktif yang sengaja diadakan oleh orang-orang Ahmadiyah qadian dengan maksud agar kenabian Mirza Ghulam ahmad dapat diterima oleh kaum Muslimin. Padahal apabila Al-Qur’an dipelajari dan secara jujur dan teliti, orang-orang Ahmadiyan Qadian akan menemukan kata Al-Nabiyyin disebut didalamnya sebanyak 16 kali yang kesemuanya memakai Alif Lam Ta’rif. Bahkan kata bentuk jama’ ini tidak pernah disebut tanpa memakai artikel Alif Lam Ta’rif dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Jadi kata Al-nabiyyin ini sifatnya umum, termasuk Nabi-Nabi yang oleh orang-orang ahmadiyah qadian dikatakan tidak membawa syariat.

Menurut kamus aliran Ahmadiyah Qadian, bahwa kata khaatama itu apabila di mudhafkan pada isim jama’, maka artinya menjadi bukan penutup tetapi artinya menjadi “yang paling mulia”, dll seperti yang ada pada ayat khaatama (al)nnabiyyiina. Kaidah bahasa arab ala ahmadiyah qadiani ini sengaja diciptakan oleh mereka dengan tujuan untuk memalingkan arti ayat khaatama (al)nnabiyyiina dari arti yang sebenarnya sehingga orang-orang yang awam yang tidak mengerti tata bahasa arab dapat menerima arti ayat itu dengan arti yang paling mulia diantara semua Nabi, maka arti khaatama (al)nnabiyyiina dengan arti “penutup para Nabi” tidak berlaku lagi.

Berkaitan dengan arti kata tersebut, orang-orang Ahmadiyah Qadiani tampaknya tidak pernah menghayati do’a yang berbunyi:

Allahumma innii as’aluka min husni al-a’mali khawaatimah

Artinya:

“Ya Allah! Sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu kebaikan amal-amal terakhir (yang menjadi penutup usia hamba)”.

Didalam do’a yang selalu dibaca Rasulullah SAW ini terdapat kata khawatima. Kata tersebut adalah bentuk jamak dari kata Khaatam, atau dari bentuk jamak kata khaatim serta bisa juga bentuk jamak dari kata khaatimah. Jadi dalam dalam do’a ini, kata khaatam di-mudhaf-kan pada bentuk jamak al-a’mali.

Do’a Rasulullah SAW tersebut senada dengan do’a yang lazim dibaca oleh kaum muslimin pada umumnya:

Allahummakhtimlana bihusnil khaatimati wala takhtim ‘alainaallah bisuu’il khaatimah

Artinya:

“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul khaatimah (akhir hidup yang baik) dan jangan Engkau mengakhiri hidup kami dengan su’ul khaatimah (akhir hidup yang tidak baik).” (Lihat Imam Al-Ghazali, dalam Oh Anakku).

Imam Ghazali juga pernah memberikan bekal do’a kepada murid kesayangannya dengan do’a yang sering dibaca Raulullah SAW:

Allahummakhtim bilsa’aadati akhaalanaa

Artinya:

“Ya Allah, akhirilah ajal kami dengan kebahagiaan”.

Untuk lebih jelasnya disini dikemukakan delapan ayat Al-Qur’an yang terdapat didalamnya kata dasar khatama:

1.Dalam Surat Al-Baqarah ayat 7:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Allah telah menutup hati mereka dan pendengaran mereka…..”.

2.Dalam Surat Al-An’am ayat 46:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ

Artinya: “Katakanlah, terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu…”.

3.Dalam Surat Al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya”.

4.Dalam Asy-syura 24:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَإِنْ يَشَأِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَى قَلْبِكَ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Artinya: “Ataukah mereka mengatakan dia (Muhammad) telah mengada-ada suatu kedustaan atas nama Allah. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia menutup hati kamu”.

5.Dalam Surat Yasin ayat 65:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya:”Pada hari kami tutup mulut mereka. Dan berkatakah pada kami tangan mereka memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.

6.Dalam Surat Al-Muthaffifin ayat 25:

يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ

Artinya: “Mereka diberi minum dari arak murni yang ditutup rapat”.

7.Dalam Surat al-Muthaffifin ayat 26:

خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya:”Tutupnya adalah kesturi dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba”.

8.Dalam Surat Al-Ahzab 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya”Tiadalah Muhammad itu Bapak seseorang dari laki-laki kamu, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi”.

Jika dilihat masing-masing 8 ayat tersebut, maka akan ditemukan 5 kata kerja fi’il yang berasal dari kata dasar khatama; tiga diantaranya terdiri dari fi’il madhi dan dua yang lainnya terdiri dari fi’il mudhari. Sedangkan tiga lainnya terdiri dari Isim Maf’ul, mashdar dan as-shifah al-musyabahah yaitu kata khaatama.

Perlu diketahui, khususnya oleh para penganut ajaran Ahmadiyah qadian yang kurang memahami ilmu nahwu dan sharaf, bahwa yang disebut “as-shifah al-musyabahah” seperti kata khaatam adalah suatu sifat yang mempunyai makna yang bersifat tetap. Dengan demikian, arti kata khaatam itu adalah “Penutup”. Adapun suatu sifat yang tidak mempunyai makna tetap dalam bahasa arab disebut isim fa’il, sepeti kata khaatim yang artinya “yang menutup”. Jadi arti khaatama (al)nnabiyyiina adalah “Penutup para Nabi”. Sebab Allah SWT menggunakan kata khatama didalam Kitab Suci-Nya yang semuanya mempunyai arti dasar “menutup”. Dan Rasulullah sendiri yang lebih mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an, telah menjelaskan khaatama (al)nnabiyyiina dengan ungkapan la nabiyya ba’di (tidak ada lagi nabi sesudahku). Dan juga para sahabat memaklumi bahwa arti ayat tersebut adalah “Penutup para Nabi”.

Namun Adapula yang berpendapat lain tentang nahwu shorof tersebut:

Pertama:

Bahwa kata “khaatama” pada Surat Al-Ahzab 40 adalah Fi’il tsulatsi mazid karena khaatama yang berwazan faa’ala mengikuti wazan dari fi’il madhi yaitu fa’ala.

Kedua:

Bermakna fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau) menurut timbangan faa’ala (فاعل) dimana Nabiyyin manshub (difathahkan) dikarenakan dalam posisi maf’ul bihi. Maknanya adalah Aakhiruhum (yang terakhir dari para nabi). [Lihat Ruhul Ma’ani, 16/142].

Ketiga:

bermakna ismun fa’il (kata yang menunjukkan pelaku atau subyek) yang artinya adalah akhir (Aakhiru an-Nabiyyin).
Tidak dipungkiri bahwa kata “خاتم النبيين” para ulama sendiri memiliki qiro’ah (bacaan) yang berbeda. Ada yang membacanya “خَاتِمَ النَّبِيِّينَ” dengan mengkasrah huruf taa’ dan ada yang membaca خَاتَمَ النَّبِيِّينَ” dengan menfathah huruf taa’.
Qiro’ah (Bacaan) yang pertama “خَاتِمَ النَّبِيِّينَ” dengan huruf taa’ yang dikasrahkan maknanya adalah “آخر النبيين” yaitu yang terakhir dari para Nabi. Adapun yang membaca “خَاتَمَ النَّبِيِّينَ” dengan menfathah taa’, bermaknadengan huruf taa’ yang dikasrahkan maknanya adalah “إضافة الفعل إليه . يعني : أنه ختمهم وهو خاتم” mengidhafahkan fi’il (predikat) kepada beliau, maksudnya beliau adalah penutup/segel (para nabi). [Lihat Bahrul ‘Ulum karya as-Samarqondi, III/412].

Bagi kalangan Ahmadiyah Qadian, mereka berpendapat bahwa kata “khaatama” dalam Surat Al-Ahzab 40 tersebut adalah Isim Alat sehingga pengertian khaatama (al)nnabiyyiina jika digandengkan dengan isim jamak bisa berati yang paling mulia, paling Afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Untuk mengetahui kebenaran apakah “khaatama” adalah isim alat atau tidak dan Cincin para nabi bisa diartikan paling mulia, paling Afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Kami jelaskan sebagai berikut:

Pertama:

Kita lihat gambar dibawah ini :


Sumber: Disini

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa Isim Alat berwazan Mif’aalun dan bukanlah berwazan faa’ala. Sehingga kata “Khaatama”  pada Surat Al-Ahzab 40 yang berwazan “Faa’ala” tidak bisa diartikan menurut pengertian Ahmadiyah Qadiani yaitu sebagai Cincin, Meterai, atau Stempel karena  “Khaatama” bukanlah Isim Alat .

Kedua:

Jika alasan Ahmadiyah qadiani bahwa khaatama (al)nnabiyyiina adalah  Jika diidhofahkan akan  menimbulkan pengertian paling mulia, paling Afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Bagaimana mereka mengartikan ayat dibawah ini:

خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya:”Tutupnya adalah kesturi dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba”.(QS.Surat al-Muthaffifin ayat 26)

Bukankah “khitaamuhu Misk” adalah idhofah? Bukankah Khitaamuhu juga berasal dari kata khatama seperti halnya khaatama juga berasal dari kata khatama dalam Surat Al-Ahzab 40. Apakah arti “khitaamuhu misk” itu berarti adalah paling mulia, paling afdhol, paling sempurna, paling baik Kesturi?  Sama halnya pengertian yang telah diungkapkan oleh Ahmadiyah Qadiani bahwa khaatama (al)nnnabiyyiina adalah idhofah sehingga cincin para nabi bisa diartikan paling mulia, paling afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Pengertian yang memang dasarnya bukan berasal dari Al-Qur’an pada akhirnya akan bertentangan pula dengan ayat lainnya.

Namun ada anggapan dari Ahmadiyah pula bahwa pengertian penutup kenabian bisa merendahkan martabat Rasulullah SAW.  Hal ini sangatlah berlebihan karena Surat Al-ahzab 40 menafikan pengklaiman kedudukan Nabi Muhammad sebagai seorang Bapak laki-laki bagi umatnya baik bapak dalam pengertian jasmani maupun bapak dalam pengertian rohani. Penyebutan para Istri Nabi sebagai Ummul Mu’minin atau Ibunya orang-orang yang Mu’min bukan berarti kita memerlukan Abdul Mu’minin atau Bapak orang-orang Mu’minin yang harus dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kedudukan Nabi Muhammad Saw jauh lebih agung daripada sekedar menjadi seorang bapak rohani, untuk itu beliau dinyatakan dalam kalimat penafian “Tetapi dia adalah Rasul Allah”, dan sebagai Rasul Allah, tugas dan fungsionarisnya sangat kompleks dan menyeluruh

Selanjutnya Nabi Muhammad juga dinyatakan sebagai “penutup para Nabi”, ini bukan satu penghinaan atau pelecehan bagi diri Rasul, malah ini menempatkannya dalam kedudukan yang tertinggi sebab beliau telah mendapatkan kemuliaan dari Allah untuk menjadi Nabi pamungkas yang memiliki risalah atau aturan hukum menyeluruh kepada segenap manusia yang sebelumnya terpecah dengan masing-masing Nabi tersendiri pada setiap tempat dan periodenya, disesuaikan dengan kondisi dan situasi mereka masing-masing.

Jika agama Islam sebelum Nabi Muhammad Saw disampaikan oleh Nabi dari masing-masing bangsanya, seperti Musa dan Isa yang hanya diperuntukkan kepada Bani Israel, tetapi Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia disegala tempat di penjuru dunia ini dan disepanjang masa. Dari semenjak Adam yang menjadi Nabi bagi putra-putrinya sendiri, disusul oleh Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Ismail, Nabi Ishaq dan terus hingga kepada Nabi Musa dan Nabi Isa Almasih serta sejumlah besar Nabi dan Rasul yang tidak diceritakan didalam AlQur’an, semuanya diutus hanya kepada bangsa dan golongan mereka sendiri hingga sampai pada diutusnya Nabi Muhammad Saw.

Sebagai Nabi penutup, tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh Muhammad sangatlah berat dan penuh resikonya, dia harus mampu menjadi contoh dan panutan, melebihi para pendahulunya. Muhammad harus bisa bersikap lebih tegas dibanding Musa, memiliki kesabaran dan ketakwaan yang tinggi sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Ibrahim, Ismail dan Ayyub, Muhammad juga dituntut untuk memiliki kekayaan batin melebihi kekayaan yang dimiliki oleh Sulaiman, keperkasaannya dimedan perang harus dapat melebihi kegagahan Daud, penyampaiannya kepada Tuhan pun mesti melebihi penyampaian Adam sewaktu pertama diciptakan juga welas asihnya harus melebihi apa yang telah dipraktekkan oleh Isa Almasih putra Maryam.

Alangkah beratnya amanah pangkat yang dilimpahkan oleh Allah kepada beliau Saw, namun semua itu terbukti mampu dilakukannya dalam hidupnya yang lebih singkat dibanding usia para pendahulunya. Jadi justru dibalik kepenutupan Muhammad atas segala Nabi itu menyimpan hakekat yang teramat agung dan bukan sebaliknya, merendahkan derajatnya.

Oleh karena itu, beliau tidak membutuhkan pembantu atau pengiring yang berupa nabi baru, karena agama yang dibawanya sudah sempurna, beliau juga telah berhasil menanamkan agama itu dengan sukses diantara umat manusia. Dan adapun tugas untuk melanjutkan penetrapan agama dan ajaran-ajarannya kepada umat manusia yang datang kemudian, adalah terletak di atas pundak setiap kaum muslimin. Tiap-tiap kaum muslimin itu pada hakekatnya adalah pendakwah yang harus menyampaikan setiap ajaran agama yang diketahuinya kepada umat manusia yang belum tahu atau belum beriman. Ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Ali ‘Imran 104:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS.Ali ‘Imran 3:104)

Bahwa pada bagian terakhir ayat Surat Al-Ahzab 40 dinyatakan “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, sesungguhnya mengandung pesan dan tujuan yang besar. Persoalan Muhammad sebagai “penutup para Nabi” telah diketahui akan menimbulkan kontroversi dari manusia dengan penafsirannya yang berjuta macam.
Jemaah Ahmadiyyah menolak arti dari “Khatamannabi” sebagai kepenutupan Rasulullah Muhammad Saw sebagai Nabi Allah yang berarti terputusnya rantai wahyu kepada manusia dan pernyataan semacam ini justru merendahkan keagungan Nabi Muhammad dan sebagai penghalang rahmat kenabian kepada umat.

Sesuatu hal yang muskyil sekali apabila rahmat Allah akan menjadi terputus dengan posisi Muhammad selaku Nabi penutup, tidak ada satupun rahmat Allah yang dapat terputus dan tidak ada sesuatu yang mampu menghalangi kehendak-Nya apabila Dia sudah menetapkan perkara sesuatu.

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Qs. fathir 35:2)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Qs. az-Zumar 39:53)

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang (QS.Maryam 19:11)

Selain itu, dalam salah satu riwayat dikatakan bahwa Nabi Saw telah bersabda : “Allah tidak akan mengirimkan Nabi lagi sesudahku, tetapi hanya Mubashshirat” Dia menukas: Apakah al-Mubashshirat tersebut ?. Lanjut beliau : Mimpi yang baik serta petunjuk yang benar.”(Musnad Ahmad, Marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud).
Disini Rasulullah banyak memberikan arahan bahwa sepeninggal beliau Saw, tidak akan pernah ada lagi Nabi yang diutus untuk umat manusia, namun keterputusan wahyu kenabian ini tidak pernah menghalangi wahyu kebaikan bagi diri manusia, selama peradaban masih ada, langit tetap biru dan gunung-gunung tetap menjulang maka selama itu pula akan ada hamba-hamba Allah yang Shaleh yang menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan apa yang sudah diwahyukan Allah melalui Nabi Muhammad Saw.
Allah, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadist lainnya, akan menurunkan Mubassyirah kepada umat Islam selaku perpanjangan dan keterbukaan rahmat Allah Swt sepeninggal Rasulullah Saw. Bila dulu masing-masing kaum masih memerlukan kedatangan Nabi-nabi baru guna meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi terhadap ajaran Nabi sebelumnya, namun dengan turunnya Muhammad Saw yang membawa rahmat bagi seluruh alam, tidak ada lagi yang perlu diluruskan karena ajarannya bersifat universal, menyeluruh dan sangat manusiawi serta ilmiawi.
Risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad tersebar keseluruh dunia oleh para sahabat dan kaum Muslimin yang sudah diatur oleh Allah sebagai “utusan-Nya”,  melahirkan manusia-manusia pandai yaitu ulama yang disebut dalam hadits adalah pewaris para nabi yang akan menyelaraskan Sunnah-Nya sesuai dengan Al-Qur’an. Dengan demikian, dari satu sudut pandang ini, umat manusia tidak lagi memerlukan adanya Nabi-nabi baru, manusia sudah memiliki al-Qur’an, manusia sudah memiliki as-Sunnah, manusia juga sudah diperintahkan untuk merujuk pada para sahababat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in karena mereka adalah sebaik-baik generasi dan manusia pun sekarang sudah punya kemampuan ilmiah untuk membuktikan dan menyebarkan ajaran Islam selaku ulama.
Allah sendiri sudah berfirman dalam Surah al-Maidah ayat 3 betapa Risalah yang dibawa oleh Muhammad Saw sudah lengkap dan sempurna, tidak ada lagi yang perlu ditambah atau direnovasi.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa daripada agama kamu. Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi hendaklah kamu takut kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agama kamu dan telah Ku-cukupkan atasmu ni’mat-Ku, dan Aku telah ridho Islam itu sebagai agama buat kamu.(Qs. al-Ma’idah 5:3)

Ibarat sebuah buku yang sudah diperbanyak dan tinggal lagi pihak penerbit atau pihak agen menyebarluaskan buku tersebut kepada masyarakat untuk kemudian para pembaca atau para cendikiawan memberikan penafsiran yang lebih luas terhadap kandungan isi buku tersebut sesuai dengan konteks keadaan yang berlaku (Dalam konteks agama para pembaca atau para cendikiawan inilah yang kita sebut ulama)
Berdasarkan dalil kesempurnaan agama seperti tersebut diatas, dan selaras dengan proses perkembangan masyarakat manusia yang telah mencapai pula tingkat kesempurnaannya, maka tidak diperlukan lagi kedatangan seorang nabi, karena tugas kenabian telah selesai. Selain daripada itu dapat pula ditambahkan bahwa kedatangan seorang nabi baru menuntut adanya tambahan dalam satu bagian aspek akidah yaitu mempercayai kenabiannya nabi baru itu, padahal akidah Islam sudah tidak memerlukan tambahan apapun.
Kaum muslimin umat Muhammad SAW tidak dapat dipersamakan dengan umat-umat terdahulu dalam kebutuhan kepada datangnya nabi sebagai pemimpin. Adanya banyak nabi yang telah datang kepada umat-umat terdahulu, tidak menjadi aksioma yang menunjukkan adanya banyak nabi pula dalam kalangan umat Muhammad SAW. Malahan sebaliknya, Nabi sendiri dalam salah satu haditsnya menjelaskan sebagai berikut:
“Bani Israil itu dipimpin oleh beberapa nabi, setiap kali seorang nabi meninggal, ia diganti oleh seorang nabi(lain), tetapi tidak ada nabi lagi sesudahku”.(Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Sharh al-Bukhari, juz VII)
Hadits Nabi ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.Al Baqarah 2:129)
Firman Allah tersebut ini, menyatakan isi daripada do’a yang diajukan Nabi Ibrahim kepada-Nya tatkala Nabi Ibrahim selesai membangun atau memperbaiki Ka’bah bersama anaknya Ismail. yang mengandung pengharapan agar kepada segenap umat manusia akan diutus hanya seorang Rasul yang akan membacakan kepada mereka Al-Kitab. Maka dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, tidak ada nabi sesudahnya, terkabullah do’a Nabi Ibrahim itu.

Semoga apa yang ditulis ini bermanfaat bagi Anda.

Iklan
%d blogger menyukai ini: