Tafsir Surat As Shaff Ayat 7

Oleh: ZK


وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الإسْلامِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.(QS.61:7)

Pendapat Ahmadiyah:
Kata “Dia” kembali kepada Ahmad yaitu Mirza Ghulam Ahmad dan Dia (Mirza Ghulam Ahmad) seolah-olah tidak Islam sehingga diajak/dipanggil kepada Islam

Pendapat dari Kami:
Pertama:
Yang dimaksud orang yang membuat-buat kebohongan terhadapat Allah dan ia dia dipanggil kepada Islam ialah orang yang menolak kebenaran, yang menyebut kebenaran itu sihir, sebagaimana diterangkan dalam kata penutup ayat sebelumnya, dan diterangkan pula dalam kata-kata berikut ini: Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang lalim/zalim. Orang-orang inilah yang diseru kepada Islam, sedangkan Rasulullah SAW adalah penyerunya, sebagaimana diterangkan di tempat lain dalam Al-Qur’an. Lihatlah misalnya Firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran 93 yang berbunyi:


رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu”, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.(QS. Ali ‘Imran 193).

Dan Firman Allah lainnya dalam Surat Thaahaa 108 berbunyi:


يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا

Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.(QS.2:108).

Kepercayaan musyrik itulah yang berungkali disebut bikin-bikinan dalam Al-Qur’an, seperti misalnya dalam Firman Allah dalam Surat Al An’aam 138-139 yang berbunyi:


وَقَالُوا هَذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُهَا إِلا مَنْ نَشَاءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاءً عَلَيْهِ سَيَجْزِيهِمْ بِمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
وَقَالُوا مَا فِي بُطُونِ هَذِهِ الأنْعَامِ خَالِصَةٌ لِذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَى أَزْوَاجِنَا وَإِنْ يَكُنْ مَيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاءُ سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan mereka mengatakan: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki” menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.Dan mereka mengatakan: “Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al An’aam 138-139).
Atau yang diseru kepada kebenaran ialah kaum kafir seperti kaum kristen karena mereka juga membuat kebohongan terhadap Allah dengan ucapan mereka bahwa Nabi Isa adalah putera Allah, dan bahwa beliau bisa menebus dosa mereka.

Kedua:
Menurut tata bahasa arab (nahwu shorof) kata هُوَ adalah kata ganti orang ketiga (Dhomir Ghooib) dimana disini huruf وَ pada kalimatوَهُوَ adalah Wawu Haal dan bukan  Wawu Athaf sehingga Dhomir هُوَ kembali kepada Shahibul Haal yaitu orang yang mengadakan dusta terhadap Allah atau orang kafir. Sehingga Orang kafir yang belum beragama Islam diajak kepada Agama Islam. Kata “هُوَ” (kata ganti orang ketiga/Dhomir Ghooib) tidak pernah sekalipun diartikan Dia seolah-olah tidak Islam. Jika pihak ahmadiyah memberi arti sebagaimana pengertian tersebut maka semua kata هُوَ/ “Dia” dalam Al-Qur’an seluruhnya juga harus diartikan pula “Dia seolah-olah tidak Islam”. Akal anda menerima hal ini?

Ketiga:
Pihak non ahmadi tidak pernah sekalipun beranggapan kata هُوَ/ “Dia” dalam Surat As shaff ayat 7 ini adalah Ahmad/Muhammad SAW karena seperti yang diterangkan pada penjelasan kedua bahwa huruf wawu dalam surat tersebut bukanlah wawu athaf akan tetapi wawu haal.

Keempat:
Orang yang sudah beragama Islam seperti Mirza Ghulam Ahmad tidak mungkin diajak/diseru kembali kepada Islam. Orang yang diajak/diseru kepada Islam hanyalah orang-orang yang belum beragama Islam yaitu orang kafir.

Semoga apa yang ditulis ini berguna bagi Anda semuanya

Iklan
%d blogger menyukai ini: