Kenabian Terakhir dalam Pandangan Para Ahli

0cbe4232Oleh : TN

Pendapat Para Ahli tentang Makna khaatam:

  1. Ibnu Faris, salah seorang ulama besar dalam Ilmu Bahasa berpendapat bahwa makna asli dari khaatam adalah mengakhiri sesuatu. Dalam bahasa Arab disebutkan Khatamtul ‘amala bermakna “aku menyelesaikan pekerjaan”. Demikian pula jika menyatakan khatamal qari’u ash-shurata berarti “pembaca al-Qur’an mengkhatamkan (menuntaskan) surah yakni ia membaca surah tersebut sampai akhir. Dengan demikian, kata khaatam bermakna “menutup sesuatu” karena pekerjaan terakhir dalam menjaga sesuatu adalah dengan jalan menutup wadah atau tempatnya. Kata khaatam baik dengan hutuf ta yang berharakat fathah maupun kasrah bermakna demikian karena sudah menjadi kebiasaan mengakhiri surat atau tulisan dengan stempel atau cincin yang menjadi stempel. Mengecap surat berarti bahwa surat tersebut telah berakhir. Nabi Muhammad SAW disebut sebagai khaatamul anbiya karena Nabi terakhir utusan Allah dan yang dimaksud dengan khitamuhu misk yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah sesuatu yang terakhir yang tercium ketika meminum minuman tersebut adalah wangi kesturi. (Sumber: Al-Maqayis, huruf kha, ta, mim)
  2. Baca lebih lanjut

Kenabian Terakhir berdasarkan Tafsir

f30c633f

Oleh: TN

Dalam kitab-kitab yang mu’tamad, arti “khataman Nabiyyin” adalah:

  1. Dalam Tafsir Khazen, pada jilid V, halaman 218 arti “khataman Nabiyyin” ialah: Kenabian telah tertutup, tak ada lagi nabi sesudah beliau”.
  2. Dalam Tafsir Nasaffi pada jilid III, halaman 2 artinya:”akhir Nabi, tiada seorang juga lagi Nabi sesudah beliau”.
  3. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, pada jilid III, halaman 493 artinya:”Nabi tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW, begitu juga Rasul tidak ada lagi”. Baca lebih lanjut

Berapa tahunkah ghulam ahmad sebagai nabi?

e0ee058aOleh: RD

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya (QS.69:44-45)

Kedua ayat ini menegaskan bahwa Alquran itu benar-benar berasal dari Allah SWT, bukan buatan Muhammad, bukan syair-syair yang disusun dan bukan pula khayalan-khayalan yang berasal dari perkataan tukang tenung, karena tidak seorang makhluk pun yang sanggup membuat seperti ayat-ayat Alquran itu. Seandainya Muhammad mengatakan sesuatu tentang Kami dan mengucapkan perkataan yang dikatakannya berasal dari Kami, padahal Kami tidak pernah menyatakan atau mengatakannya, pasti Kami pegang tangan kanannya, untuk menerima hukuman dari Kami. Bagi Allah tidaklah berat dan sukar menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat sekalipun, karena Kami Maha Kuasa atas segala sesuatu. Baca lebih lanjut

Maksud Hadits “Khalifah dalam jumlah banyak”

3d525a27Oleh: TN

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Adalah Bani Israil, urusan mereka senantiasa diatur oleh para Nabi, setiap Nabinya telah wafat, maka akan diganti Nabi yang lain. Akan tetapi, tidak ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya banyak.[HR. Imam Bukhari, juz 2, hal. 175].

Hadits ini memberikan pengertian, bahwa setelah Rasulullah Saw wafat tidak ada lagi Nabi dan Rasul baru secara mutlak, baik yang membawa syariat baru maupun tidak. Yang ada hanyalah para khalifah yang jumlahnya banyak. Baca lebih lanjut

Maksud Hadits tentang “Mubasyirat”

f639003fOleh: WK

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Sabda RAsulullah:”Tidak ketinnggalan dari (urusan) kenabian melainkan Mubasyirat. Sahabat-sahabat bertanya: Apa dia Mubasyirat? Sabdanya: Mimpi yang baik. (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Ummu kurz, Sabda Rasulullah:”Telah habis kenabian, tetapi tinggal Mubasyirat (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits-hadits yang semakna dengan apa yang tertulis diatas terlalu banyak diriwayatkan dari Anas, Abith Thufail, Ibnu Abbas, dll. Baca lebih lanjut

Maksud hadits “Perumpamaan Batu Bata Terakhir”

56b7df1eOleh: CT

“Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebuah rumah, diperindah dang diperbagusnya kecuali tempat untuk sebuah batu bata disudut rumah itu. Maka orang-orangpun mengelilingi rumah itu dan mengaguminya, dan berkata: Mengapa engkau belum memasang batu bata itu? Nabipun berkata: Sayalah batu bata terakhir itu, sayalah penutup para nabi.(Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari bi Sharh al-Bukhari, Juz VII (Misr:Mustafa al-Babi al-Halabi, 1959, hal.370) .

Menurut anggapan orang-orang ahmadiyah, hadits ini tidak menunjukkan bahwa sesudah Rasulullah SAW tidak akan datang Nabi lagi. Hadits ini hanyalah menerangkan perumpamaan antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi-Nabi sebelumnya. Sedangkan maksud hadits tsb adalah bahwa nabi-nabi sebelum beliau serta syariat mereka ibarat satu bangunan rumah yang belum sempurna. Setelah datang Rasulullah SAW maka sempurnalah kekurangan nabi-nabi itu. Nabi-nabi beserta syariat mereka. Setelah datang Nabi Muhammad SAW baru ada syariat yang sempurna untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang zaman.
Jika ditelaah komentar Ahmadiyah tentang hadits tsb benar-benar salah. Baca lebih lanjut

Jadikanlah Al-Qur’an Sebagai Sahabat

IBADULSalah satu karunia Allah Ta’ala terbesar yang dilimpahkan kepada kita adalah Kalam-Nya yang mulia Al-Qur’an. Terkandung di dalamnya petunjuk menuju jalan yang lurus dan benar. Dengannya Allah memandu hamba-hamba-Nya kepada jalan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Seorang nashrani pun ketika mendengarkan lantunan ayat-ayat Al Qur’an dengan hati yang jernih maka hidayah Allah pun masuk kedalam relung hatinya tanpa bisa dibendung.

Tak hanya berhenti disitu, ia pun mencucurkan air mata demi mendengarkan kalam Ilahi yang mulia ini. Raja Najasyi adalah contoh yang indah untuk membenarkan klaim tersebut. Ketika beliau mendengarkan Al Qur’an yang dibacakan oleh Ja’far bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu. Baca lebih lanjut